NovelToon NovelToon
Psikopat Itu Suamiku

Psikopat Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Steak-nya hampir dingin," suara Arka memecah kesunyian. Nadanya lembut, namun ada tekanan yang tak kasat mata di sana.
​Alya menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "Aku... aku tidak terlalu lapar, Mas."
​"Kau tahu aku tidak suka penolakan, bukan? Aku sudah menyingkirkan 'gangguan' kecil di kantormu tadi pagi agar kita bisa makan malam dengan tenang. Jangan buat pengorbananku sia-sia."
​Alya membeku. Gangguan kecil? Maksudnya Pak Rendi, rekan kerjanya yang hanya menyapanya di lobi?
​"Mas... apa yang kau lakukan pada Pak Rendi?" suara Alya nyaris hilang.
"Dia hanya sedang beristirahat panjang, Alya. Sekarang, makan dagingmu, atau aku harus menyuapimu dengan cara yang lebih... paksa?"
​Detik itu, Alya sadar. Pria yang tidur di sampingnya setiap malam bukan sekadar suami yang protektif.
Akankah Alya bisa bertahan dengan pernikahannya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Keriaan di taman bermain itu mendadak berubah menjadi suasana mencekam. Di tengah tawa Arkan yang sedang melompat di istana balon, wajah Alya tiba-tiba memucat. Ia mencengkeram lengan kursi plastik yang didudukinya hingga buku-buku jarinya memutih. Sebuah rasa sakit yang tajam dan panas menjalar dari pinggang bawahnya, diikuti dengan perasaan basah yang tak terbendung.

​"Mas... Rangga..." rintih Alya, suaranya tercekat di tenggorokan.

​Rangga, yang radar proteksinya selalu aktif, langsung menangkap perubahan itu. Ia melihat ke bawah dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Cairan bening bercampur sedikit darah sudah membasahi lantai di bawah kaki Alya. Jumlahnya sangat banyak, jauh lebih banyak daripada saat persalinan Arkan dulu.

​"Ketubannya pecah!" seru Rangga. Suaranya yang menggelegar membuat beberapa pengunjung menoleh.

​"ARKAN! KEMARI SEKARANG!" teriak Rangga dengan nada komando yang tidak boleh dibantah. Arkan yang sedang berlari langsung berhenti, wajah kecilnya tampak bingung melihat Ayahnya yang tampak seperti singa yang sedang dalam kondisi darurat.

​Tanpa menunggu Arkan mendekat, Rangga langsung menyambar tubuh Alya ke dalam gendongannya. "Arkan, pegang jas Ayah! Jangan lepas!"

​Iring-iringan SUV hitam melesat membelah kemacetan Jakarta dengan sirine yang meraung-raung. Di dalam mobil, Rangga mendekap Alya yang terus mengerang kesakitan. Celana Rangga sudah basah kuyup terkena air ketuban Alya yang terus mengalir deras.

​"Sakit, Mas... perutku rasanya mau pecah..." tangis Alya pecah.

​Rangga menciumi kening Alya yang bersimbah keringat dingin. "Tahan, Sayang. Sebentar lagi. Jangan tinggalkan aku, Alya! Tetap sadar!" Rangga menatap supirnya dengan mata merah.

"LEBIH CEPAT! JIKA TERJADI SESUATU PADA ISTRI DAN ANAKKU, KAU ADALAH ORANG PERTAMA YANG AKAN KUKIRIM KE NERAKA!"

​Arkan duduk di sudut kursi, memeluk tas punggungnya dengan mata berkaca-kaca. Ia belum pernah melihat Ayahnya sepanik ini. Ia hanya bisa berdoa dalam hati kecilnya agar Ibu dan adik-adiknya baik-baik saja.

​Setibanya di Rumah Sakit Medika Jakarta, tim medis yang sudah dihubungi Rangga sejak di mobil langsung menyambut mereka dengan brankar darurat. Dokter spesialis kandungan, dr. Handoko, segera melakukan pemeriksaan cepat di ruang observasi.

​Wajah dr. Handoko tampak sangat tegang. "Tuan Rangga, ini darurat. Air ketubannya sudah hampir habis karena pecah dini yang masif. Bayi kembar ini dalam posisi sungsang dan terlilit tali pusar. Kita tidak bisa melakukan persalinan normal. Risikonya terlalu besar bagi Nyonya Alya dan kedua bayinya."

​"Lakukan apa pun! Operasi sekarang!" teriak Rangga, mencengkeram kerah baju dokter itu. "Aku tidak peduli biayanya, aku tidak peduli metodenya! Selamatkan mereka semua!"

​"Kami akan melakukan operasi caesar cito (darurat) sekarang juga, Tuan. Mohon doanya," ucap dokter itu sambil segera mendorong brankar Alya menuju ruang operasi.

​Alya sempat meraih tangan Rangga sebelum pintu besi itu tertutup. "Mas... jaga Arkan..."

​"Aku akan menjagamu juga, Alya! Kau harus kembali padaku!" teriak Rangga sebelum pintu ruang operasi tertutup rapat dan lampu merah bertuliskan 'OPERATING' menyala.

​Rangga berdiri mematung di depan pintu ruang operasi. Napasnya memburu, tangannya gemetar hebat. Ia menoleh ke arah Arkan yang berdiri ketakutan di sampingnya. Rangga sadar, ia tidak bisa membiarkan Arkan melihat kondisinya yang sedang hancur seperti ini.

​Rangga mengeluarkan ponselnya dan memanggil asisten pribadinya yang baru, pria yang ia pilih sendiri setelah kematian tragis Pak Danu di Swiss. Pria itu bernama Yudha. Yudha adalah mantan anggota pasukan khusus yang memiliki loyalitas baja dan ketenangan yang luar biasa—karakter yang sangat disukai Rangga.

​"Yudha, ke sini sekarang. Lantai 5 Ruang Operasi," perintah Rangga singkat.

​Hanya dalam hitungan menit, Yudha muncul dengan setelan safari hitam yang rapi. "Saya di sini, Tuan Rangga."

​Rangga menunjuk ke arah Arkan. "Yudha, bawa Arkan pulang ke mansion. Pastikan dia makan dan istirahat. Jaga dia dengan nyawamu. Jangan biarkan siapapun mendekatinya kecuali tim keamanan lapis satu. Kau mengerti?"

​"Mengerti, Tuan. Mari, Tuan Muda Arkan," ucap Yudha dengan suara yang tenang namun berwibawa.

​Arkan sempat memeluk kaki Rangga. "Ayah... Ibu akan bangun, kan?"

​Rangga berlutut, memeluk putranya sejenak. "Ibu adalah wanita terkuat di dunia, Arkan. Dia akan kembali membawa adik-adikmu. Sekarang pulanglah bersama Yudha."

​Setelah Yudha dan Arkan pergi, lorong rumah sakit itu mendadak terasa sangat sunyi bagi Rangga. Sang Singa yang biasanya menguasai dunia bisnis kini tampak rapuh. Ia mondar-mandir di depan pintu operasi seperti orang gila.

​Ia berjalan ke ujung lorong, memukul dinding beton hingga tangannya berdarah, lalu kembali lagi ke depan pintu. Pikirannya melayang pada segala kemungkinan terburuk. Jika ia kehilangan Alya, maka seluruh kekayaan dan kekuasaannya tidak akan ada artinya lagi. Ia lebih baik kehilangan seluruh aset Dirgantara Group daripada kehilangan satu napas Alya.

​"Jangan ambil dia..." bisik Rangga, menyandarkan kepalanya di pintu kaca yang dingin. "Ambil nyawaku, tapi jangan dia."

​Satu jam berlalu terasa seperti satu abad. Rangga tidak duduk sedetik pun. Setiap kali suster keluar masuk membawa kantong darah atau peralatan, Rangga langsung mencegat mereka dengan tatapan yang menuntut jawaban, namun para suster hanya meminta ia bersabar.

​Tiba-tiba, suara tangisan bayi terdengar dari dalam. Tidak hanya satu, tapi dua suara tangisan yang saling bersahutan, meskipun terdengar sedikit lemah.

​Jantung Rangga berdegup kencang. Ia menahan napas sampai dadanya terasa sakit. Tak lama kemudian, pintu operasi terbuka. dr. Handoko keluar sambil melepas maskernya, wajahnya tampak lelah namun tersenyum tipis.

​Rangga langsung menyergap dokter itu. "Bagaimana? Istriku?! Anak-anakku?!"

​"Tenang, Tuan Rangga. Mukjizat terjadi malam ini," ucap dr. Handoko. "Operasi berjalan lancar meskipun tadi sempat ada pendarahan. Kedua putri kembar Anda telah lahir dengan selamat. Mereka sedikit kecil karena lahir prematur, tapi mereka pejuang yang hebat."

​Rangga merasa lututnya lemas. Ia hampir jatuh jika tidak berpegangan pada kursi. "Alya? Bagaimana dengan Alya?"

​"Nyonya Alya sedang dalam masa pemulihan pasca anestesi. Dia selamat, Tuan. Dia sangat kuat. Anda bisa melihat mereka sebentar lagi setelah dipindahkan ke ruang perawatan intensif."

​Rangga menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Bahunya berguncang. Sang predator itu menangis tersedu-sedu karena lega. Kebahagiaan yang ia rasakan jauh lebih besar daripada saat ia memenangkan tender bernilai triliunan rupiah.

​Beberapa saat kemudian, dua inkubator kecil didorong keluar. Rangga mendekat dengan tangan gemetar. Di dalamnya, ada dua bayi mungil yang sangat cantik, dengan kulit kemerahan dan helai rambut hitam halus.

​"Putri-putriku..." bisik Rangga. "Kalian benar-benar datang."

​Ia menatap melalui kaca inkubator, melihat dua nyawa baru yang merupakan perpaduan antara dirinya dan Alya. Di saat itu juga, keposesifan Rangga kembali bangkit, namun kali ini dengan cara yang berbeda. Ia bersumpah dalam hati, bahwa ia akan membangun benteng yang lebih kuat lagi di Jakarta. Tidak akan ada yang boleh menyakiti ketiga anaknya dan istrinya.

​Yudha menelepon tak lama kemudian. "Tuan Muda Arkan sudah tidur, Tuan. Bagaimana kondisi Nyonya?"

​"Mereka selamat, Yudha. Semuanya selamat," jawab Rangga dengan suara yang kini kembali penuh otoritas. "Siapkan tim keamanan tambahan untuk lantai ini. Mulai besok, tidak ada satu orang pun yang boleh masuk ke ruangan istriku tanpa izin dariku atau darimu. Mengerti?"

​"Siap, Tuan."

​Rangga kembali menatap pintu ruang pemulihan, menunggu Alya sadar.

Bersambung...

1
🖤Qurr@🖤
Luar biasa! Aku suka novel ini!

- Parapgrafnya gak belibet.
Sederhana tapi mudah dimengerti alur ceritanya.
Setiap karakternya mempengaruhi emosi pembaca. /Rose/
Naelong: terimakasi sudah mampir😍
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
Ih, ayah apa seperti kamu, Baskara? Mending kamu aja deh yang mati.
🖤Qurr@🖤
Mas Rangga red flag deh..
Hazelisnut
seru banget ceritanya semalaman aku baca gak berhenti😭🫶🏻
Hazelisnut: sama² kakaknya😘
total 2 replies
Hazelisnut
chapter 2 di mana mau baca😭aku udah gak sabar mau baca selanjutnya
Naelong: insyaallah hari saya up lagi
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
What the heck..?
🖤Qurr@🖤
/Sob/waduh...
🖤Qurr@🖤
🤣seram banget sih
Naelong: nggak seram ko😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!