NovelToon NovelToon
Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Fantasi Timur / Roh Supernatural
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Pewaris Tubuh Suci Legendaris adalah novel fantasi kultivasi yang mengikuti perjalanan Shou Wei, seorang pemuda yang sejak kecil dianggap biasa, lemah, dan tidak menonjol, tetapi ternyata menyimpan rahasia besar dalam tubuhnya. Di balik kehidupannya yang penuh penindasan dan kehilangan, tersimpan benih kekuatan langka yang perlahan membawanya ke jalan berbahaya: jalan warisan kuno, formasi legendaris, tubuh naga, dan konflik antar dunia.

Cerita ini menyuguhkan banyak tempat skala dunia: sekte-sekte manusia, negeri demon, pulau-pulau melayang, kerajaan asing, hingga dunia lain yang memiliki teknologi, formasi, dan kekuatan jauh melampaui bayangan manusia biasa. Pertarungan yang dihadapinya bukan lagi sekadar soal hidup dan mati, melainkan soal masa depan banyak dunia.

Perpaduan cerita antara kultivasi, pertarungan, formasi, warisan kuno, intrik politik, dunia demon, perjalanan lintas dunia, dan rahasia takdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Stone Reed Town

Subuh berikutnya, Qingshui Ferry masih diselimuti kabut saat Shou Wei meninggalkannya.

Ia tidak membawa banyak hal. Hanya pisau pendek, beberapa batu roh kecil, potongan kulit formasi, gulungan Mistwater Breathing Method, tiga jarum besi dari Bo De, dan token kayu dari Tua Yu. Semua itu muat dalam kantong kain lusuh di pinggangnya. Tidak cukup untuk disebut bekal, tapi cukup untuk memulai perjalanan berikutnya.

Tua Yu tidak mengantarnya sampai jauh.

Lelaki tua itu hanya berdiri di atas rumah perahunya, menggigit batang rumput kering, satu mata menyipit memandang kabut sungai.

“Naik ke perahu paling belakang,” katanya. “Jangan banyak bicara. Perahu dagang benci penumpang yang punya lebih banyak pertanyaan daripada uang.”

Shou Wei mengangguk.

“Dan satu lagi,” tambah Tua Yu.

Shou Wei menoleh.

Kalimat lelaki tua itu keluar lambat, seperti batu yang dijatuhkan ke air. “Kalau suatu hari nanti kau cukup kuat sampai orang-orang mulai bicara terlalu sopan di depanmu, jangan percaya wajah mereka.”

Shou Wei memandangnya sebentar, lalu membungkuk tipis.

“Itu nasihat yang mahal.”

Tua Yu mendengus. “Bagus. Berarti jangan sia-siakan.”

Tak ada ucapan perpisahan lain. Orang seperti mereka tidak membutuhkan itu.

Perahu dagang ke utara tidak besar—lebih panjang dari perahu nelayan biasa, dengan lambung kayu lebar dan atap kain di tengah untuk menutup muatan. Karung gandum, peti ikan asin, garam, kain kasar, dan dua kandang kecil berisi unggas memenuhi sebagian besar ruang. Penumpangnya tidak banyak. Seorang perempuan tua dengan dua keranjang obat kering. Dua pemuda pembawa barang. Seorang pria bermata sempit yang tampak seperti juru tulis gagal. Dan satu sosok berjubah cokelat yang duduk di pojok belakang, wajahnya tertutup caping anyaman.

Shou Wei memilih tempat dekat sisi lambung, cukup jauh dari orang lain.

Saat perahu mulai bergerak, ia menatap kabut yang menelan pelabuhan kecil Qingshui Ferry sedikit demi sedikit. Tempat itu bukan rumah. Bahkan bukan tempat aman. Namun di situlah ia mulai bernapas seperti kultivator yang sesungguhnya. Di situlah ia memperoleh manual pertama dan pelajaran pertama tentang cara hidup di dunia luar.

Kini ia bergerak lagi.

Air sungai membelah kabut dengan suara lembut. Burung-burung kecil terbang rendah di atas permukaan air. Di tepian, hutan dan tanah basah silih berganti lewat. Beberapa kali mereka melewati perahu lain—nelayan, perahu dagang kecil, dan sekali sebuah rakit datar yang membawa kandang besar tertutup kain hitam. Dari dalam kandang itu terdengar geraman berat yang bukan milik hewan biasa.

Beast transport, pikir Shou Wei.

Ia menutup mata dan mulai mengatur napas secara diam-diam.

Mistwater Breathing Method tidak membutuhkan gerakan besar. Itu salah satu kelebihannya. Selama tubuh tenang dan napas dijaga, ia bisa dijalankan sambil duduk seperti penumpang biasa. Qi kabut pagi di atas sungai lebih tebal daripada di darat. Begitu metode itu mulai bergerak, Shou Wei merasakan dingin halus turun ke paru-paru, lalu ke dada.

Namun kali ini ia lebih hati-hati.

Tidak rakus.

Tidak membiarkan darah naga menarik terlalu banyak qi sekaligus.

Meski begitu, sensasi di dalam tubuhnya tetap lebih kuat daripada sebelumnya. Kabut di sungai seperti sangat mudah tunduk pada irama napasnya. Dingin qi air mengalir ke dalam, menyentuh pusat di dadanya, lalu menyebar ke jalur-jalur sempit yang mulai terbentuk.

Pelan-pelan, tetapi jelas.

Jika Qingshui Ferry memberinya langkah pertama, maka sungai ini memberinya jalan yang lebih lebar.

Ia sedang tenggelam dalam sirkulasi qi saat suara kasar memotong dari samping.

“Bocah. Kau mabuk atau mati?”

Shou Wei membuka mata.

Salah satu pemuda pembawa barang berdiri di depannya sambil memegang gayung kayu. Wajahnya bulat, kulitnya gelap karena matahari, dan bicaranya keras seperti orang yang terlalu sering berurusan dengan buruh.

“Aku bangun,” jawab Shou Wei.

Pemuda itu mendengus. “Kalau bangun, bantu siram papan belakang. Ada muntah ayam.”

Shou Wei tidak protes. Ia mengambil gayung dan bekerja. Dalam dunia seperti ini, orang yang belum punya tempat sebaiknya tidak pilih-pilih pekerjaan selama belum merendahkan dirinya terlalu jauh. Menyiram muntah ayam jauh lebih murah daripada menyiram darah sendiri nanti.

Menjelang siang, kabut mulai menipis. Sungai melebar. Perahu-perahu yang lewat jadi lebih banyak. Di kejauhan mulai tampak tiang-tiang dermaga, atap gudang besar, dan jembatan kayu panjang melintasi cabang sungai kecil.

Lalu muncullah Stone Reed Town.

Dari jauh saja, tempat itu sudah jauh lebih besar daripada Qingshui Ferry. Bukan kota besar, tapi cukup ramai untuk disebut pasar sungai sungguhan. Ada tiga dermaga utama. Menara jaga kayu. Gudang dua lantai. Jalan-jalan papan yang menghubungkan bangunan di atas tanah basah. Dan yang paling mencolok, di bagian tengah berdiri sebuah aula batu rendah dengan atap hijau gelap dan bendera hitam bergambar buluh sungai.

Di sekeliling aula itu berkerumun lebih banyak orang dari bagian lain.

Kultivator juga lebih banyak.

Ada yang membawa pedang. Ada yang berbusur. Ada yang memikul tombak hitam panjang. Ada pula seorang pria pendek gemuk yang duduk di atas punggung beast bersisik seperti kadal air raksasa. Di sudut lain, dua kandang besi berisi burung pemangsa berparuh merah tergantung di tiang kayu.

Stone Reed Town jelas bukan tempat singgah biasa.

Begitu perahu merapat, semua orang turun cepat. Pemuda pembawa barang tadi hendak mengusir Shou Wei dari jalur muatan, tapi lalu hanya melambaikan tangan malas. “Pergi, pergi. Jangan ganggu orang kerja.”

Shou Wei turun ke dermaga dengan gerakan ringan.

Udara di sini berbeda. Lebih padat oleh bau lumpur, ikan asin, arang, obat kering, dan qi yang tidak seragam. Orang-orang di Stone Reed Town bergerak lebih cepat, bicara lebih pendek, dan memandang lebih tajam. Tempat ini tidak punya kemunafikan rapi seperti sekte. Tapi ia punya jenis kelaparan lain—kelaparan pasar.

Shou Wei berjalan perlahan menyusuri tepi jalan papan utama sambil mengamati.

Di sebelah kiri, ada deretan kios kecil:

penjual jimat dasarpedagang obat lukapenjaja besi tuapenukar uang tembaga ke koin perakpenjual daging beast keringDi sebelah kanan, dekat aula batu, tampak area yang lebih “kultivator”:

meja penilaian barangpapan pengumuman misipenjual peta jalur sungaipedagang bahan beastdan satu toko sempit dengan deretan cakram logam, bendera kecil, dan batu ukirFormasi.

Mata Shou Wei langsung tertarik ke sana.

Namun ia tidak mendekat dulu.

Tempat semacam itu justru paling berbahaya untuk orang sepertinya. Terlalu banyak orang yang benar-benar paham. Satu kesalahan kata bisa membuat identitas atau nilainya terendus.

Ia butuh masuk ke Stone Reed Town seperti air—tanpa bunyi, tanpa bentuk mencolok.

Langkah pertamanya sederhana: mencari makan dan tempat tidur murah.

Setelah berjalan memutari dua blok jalan papan, ia menemukan penginapan murahan bernama Mud Heron Inn. Bangunannya miring sedikit, papan depannya retak, tapi masih berdiri. Pemiliknya seorang pria tua botak dengan tahi lalat besar di dagu.

“Boleh tidur di gudang belakang,” kata pria itu setelah menatap Shou Wei dari kepala sampai kaki. “Dua tembaga.”

“Aku bisa kerja?” tanya Shou Wei.

“Kalau kau bisa mengangkat ember, potong alang-alang, dan sapu lantai, ya.”

“Berapa dapatnya?”

“Satu makan, satu malam, dan kalau tidak mencuri, mungkin besok masih boleh kerja lagi.”

Shou Wei mengangguk. Cukup.

Sore itu ia bekerja sampai lengan terasa hangat. Bagi tubuhnya sekarang, pekerjaan itu tidak berat. Justru bagian sulitnya adalah menahan diri agar tidak terlihat terlalu kuat. Setelah selesai, ia diberi semangkuk sup akar dan sepotong roti jagung, lalu diizinkan tidur di gudang kecil dekat tumpukan jerami kering.

Namun sebelum malam, ia masih punya satu urusan.

Potongan kulit formasi.

Setelah makan, Shou Wei keluar lagi dan kembali ke area aula batu. Kios-kios masih buka. Lampu minyak mulai dinyalakan. Suasana justru makin ramai. Para rogue cultivators selesai dari urusan siang dan mulai menjual, membeli, atau mencari informasi.

Ia berdiri cukup lama di depan toko formasi tadi sebelum akhirnya masuk.

Toko itu sempit tapi padat. Dindingnya penuh gantungan:

pelat ukirbendera keciljarum pengunci simpulbatu penahan qirantai segelpecahan formasi rusakDi balik meja duduk seorang wanita kurus berusia sekitar tiga puluh tahun, rambutnya disanggul rapi, wajahnya tenang, dan mata sipitnya sangat jeli. Di pergelangan tangannya ada gelang giok hijau pucat. Bukan murah.

Ia melirik Shou Wei sekali, lalu kembali menyusun pelat-pelat tipis di atas meja.

“Kalau mau beli, tunjuk,” katanya. “Kalau cuma lihat-lihat, jangan sentuh.”

“Aku ingin tanya sesuatu.”

“Bertanya mahal.”

Shou Wei mengeluarkan potongan kulit formasi dari balik lengan baju, tapi hanya setengah, cukup untuk menunjukkan pola tanpa memberikannya.

Wanita itu menoleh lagi.

Kali ini lebih penuh.

“Dari mana kau dapat itu?”

“Pasar tepi sungai.”

“Jawaban buruk.” Ia mengulurkan tangan. “Tunjukkan.”

Shou Wei tetap memegangnya beberapa detik sebelum menyerahkan. Wanita itu mengambil kulit tipis tersebut, lalu menaruhnya di bawah lampu minyak yang lebih terang. Matanya menyapu garis dan simpul rusak di permukaannya.

Ekspresinya tidak banyak berubah, tapi ia jelas mengenali sesuatu.

“Minor concealment node,” katanya akhirnya. “Lama. Bukan dari beberapa tahun terakhir.” Jarinya mengetuk salah satu simpul. “Dan bukan buatan amatir.”

Shou Wei diam.

Wanita itu mengangkat mata. “Kau tahu ini apa?”

“Sedikit.”

“Sedikit yang benar, atau sedikit yang sok?”

“Cukup untuk tahu ini bukan potongan sampah.”

Sudut bibir wanita itu bergerak tipis. “Baik. Setidaknya lidahmu tidak tumpul.”

Ia meletakkan potongan itu kembali di meja. “Barang ini tidak lengkap. Nilai pakainya hampir nol. Tapi nilainya sebagai bahan studi ada sedikit.”

“Berapa?”

“Kalau kubeli, lima koin perak.”

Itu lebih banyak dari yang dibayangkan Shou Wei.

Tapi ia tidak langsung setuju.

Wanita itu melihat keraguan itu dan terkekeh pelan. “Bagus. Anak kecil yang langsung senang saat ditawar berarti gampang ditipu. Namamu?”

“Shou.”

“Aku Lin Suyin.” Ia mengetuk meja dua kali. “Aku tak beli kalau barangnya bermasalah. Jadi jawab benar: kau curi?”

“Tidak.”

“Bunuh pemiliknya?”

“Tidak.”

“Punya bagian lain?”

“Tidak.”

Lin Suyin menatapnya sejenak, lalu bersandar. “Baiklah. Lima koin perak, atau kalau kau mau, tukar dengan satu set alat ukir formasi dasar yang rusak tapi masih bisa dipakai, plus dua koin perak.”

Alat ukir formasi.

Jantung Shou Wei bergerak sedikit.

Ia butuh uang. Tapi alat ukir bisa jadi jauh lebih penting ke depan. Dengan itu, suatu hari ia mungkin benar-benar bisa menggambar ulang simpul-simpul sederhana dan menjual sesuatu yang bernilai.

“Boleh lihat alatnya?” tanya Shou Wei.

Lin Suyin mengambil kotak kayu kecil dari bawah meja. Di dalamnya ada:

satu pena ukir logam tipisdua jarum simpulsatu pisau garis keciltiga batu pengasahdan sepotong pelat tembaga bekas latihanSemua memang usang, tapi bukan sampah.

“Kenapa ditukar murah?” tanya Shou Wei.

“Karena alat ini tak berguna untuk orang yang tak bisa memakainya,” jawab Lin Suyin. “Dan karena aku penasaran apakah kau hanya bocah pembawa keberuntungan... atau sesuatu yang lain.”

Shou Wei menatap alat itu lama.

Lalu ia membuat keputusan.

“Aku ambil alatnya. Dan dua koin perak.”

Lin Suyin mengangguk tanpa komentar. Ia menaruh dua koin kecil di meja, lalu mendorong kotak alat ke depan.

Namun sebelum Shou Wei mengambilnya, wanita itu berkata pelan, “Dengar baik-baik, Shou. Kalau suatu hari kau menemukan potongan lain dari pola seperti ini, jangan bawa ke meja terbuka. Datang malam hari. Ketuk pintu samping tiga kali.”

Itu bukan ajakan ramah.

Itu penanda bahwa ada nilai lebih dalam barang semacam ini.

Shou Wei menyimpan dua koin perak di bagian paling dalam bajunya, lalu memeluk kotak alat kayu itu dengan hati-hati. “Aku akan ingat.”

Saat ia berbalik hendak keluar, Lin Suyin menambahkan, “Dan satu hal lagi.”

Shou Wei menoleh.

“Di Stone Reed Town, pengetahuan lebih cepat dijual daripada darah. Tapi begitu orang tahu kau punya keduanya, yang diburu lebih dulu tetap lehermu.”

Shou Wei memandangnya sebentar, lalu keluar tanpa bicara.

Malam di luar terasa berbeda sekarang.

Ia datang ke Stone Reed Town sebagai bocah pelarian dengan kantong kosong. Dalam satu hari, ia sudah:

menemukan tempat kerjamendapat tempat tidurmenjual potongan formasimemperoleh alat ukirdan mengetahui bahwa pasar ini memang punya ruang untuk orang seperti dirinyaKecil.

Sempit.

Berbahaya.

Tapi ada.

Saat berjalan kembali ke Mud Heron Inn, jari Shou Wei menyentuh sisi kotak alat itu sekali.

Alat ini tua. Murah. Bekas. Tapi baginya, ia terasa lebih berharga daripada koin perak.

Karena untuk pertama kalinya sejak keluar dari tambang, Shou Wei tidak hanya bertahan hidup dengan darah naga dan kewaspadaan.

Kini ia mulai menginjak jalan yang benar-benar miliknya.

Jalan formasi.

Dan dari tempat kecil berlumpur bernama Stone Reed Town ini, jalan itu mungkin akan mulai membuka masa depannya.

1
Muhammad Arsyad
ini...kapan saktinya...lama amat🤭🤭
Simon Semprul
nie cerita pendekar apa misterii si thor /Gosh/
Daryus Effendi
ada b.ingrisnya jadi gak enak bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!