"Apakah namaku adalah sinonim dari kata perpisahan? Mengapa setiap tangan yang kugenggam, selalu berakhir dengan melepaskan?"
Dina mengira pelariannya ke sebuah kota kecil akan mengakhiri teror Rama, mantan kekasihnya yang obsesif dan kasar. Di sana, ia menemukan perlindungan pada sosok Letda Adrian, seorang perwira muda yang mencintainya dengan tulus tanpa syarat. Adrian adalah satu-satunya orang yang membuat Dina merasa "pulang". Namun, semesta seolah enggan melihat Dina bahagia. Tugas negara memanggil Adrian ke Papua, dan ia pulang dalam peti jenazah yang terbalut bendera. Sekali lagi, Dina ditinggalkan oleh satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Setahun berlalu, namun Dina masih hidup dalam bayang-bayang nisan Adrian. Penyakit lambung kronis akibat trauma batin membawanya pindah ke Bandung demi mencari udara baru. Di sebuah rumah sakit besar, ia kembali bertemu dengan dr. Arga, Sp.PD, dokter spesialis tampan yang dulu merawatnya di masa-masa paling rapuh. Arga jatuh hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGAWAL BARU DIKOTA KEMBANG
Kota Bandung menyambut Dina dengan sisa-sisa hujan sore yang membasahi aspal di sepanjang Jalan Pasteur. Meskipun kota ini menawarkan keramaian yang berbeda dari kesunyian kota kecil tempat makam Adrian berada, bagi Dina, setiap sudut jalanan yang baru tetap terasa sempit oleh kenangan yang ia bawa di dalam tas punggungnya. Sesak itu masih ada, melilit di ulu hatinya setiap kali ia teringat bagaimana satu tahun lalu ia harus kehilangan tumpuan hidupnya.
Pagi itu, rasa perih di lambungnya kembali menyerang, lebih hebat dari biasanya. Mungkin karena kelelahan pindah rumah atau karena stres memulai pekerjaan baru di bagian logistik sebuah perusahaan distributor di Bandung. Dengan langkah gontai, ia memaksakan diri melangkah ke salah satu rumah sakit besar yang cukup ternama di pusat kota—rumah sakit yang kabarnya memiliki fasilitas medis paling lengkap dan dikelola oleh keluarga dokter spesialis.
Dina berdiri di depan meja administrasi dengan wajah pucat. Ia mencoba mengatur napasnya yang pendek-pendek.
"Mas, saya mau periksa ke spesialis penyakit dalam. Apakah ada jadwal yang kosong sekarang?" tanya Dina lirih kepada petugas pendaftaran.
Pria muda di balik meja, yang name tag-nya bertuliskan Bima, melihat jadwal di monitornya dengan teliti. Ia menatap Dina dengan raut khawatir melihat keringat dingin yang mulai membasahi dahi wanita itu.
"Waduh Mbak, dokter senior kami sedang ada tindakan operasi darurat. Tapi, kebetulan ada dokter spesialis penyakit dalam yang jam praktiknya sesuai sekarang, yaitu Dokter Arga. Kalau Mbak pulang lagi atau menunggu dokter lain, kasihan Mbak nanti. Apalagi Mbak bilang sudah ambil cuti setengah hari dari kantor, kan?" ucap Bima mencoba memberi solusi terbaik.
Dina tertegun sejenak mendengarnya. Nama itu... Arga.
Pikiran Dina melayang kembali ke ruang periksa di kota kecil yang dingin itu. Ia teringat dokter muda yang sering memarahinya dengan lembut karena ia jarang makan tepat waktu. Namun, ia segera menggelengkan kepala, mencoba mengusir imajinasi konyol yang mampir di kepalanya. Bandung adalah kota besar dengan ribuan dokter. Lagipula, Suster Sarah bilang dokter itu berasal dari keluarga hebat dan akan bertugas di rumah sakit pusat milik keluarganya sendiri. Dunia ini terlalu luas jika ia berharap bertemu orang yang sama hanya karena sebuah kebetulan nama.
"Mirip ya namanya... tapi nggak mungkin itu dia," batin Dina dalam hati.
"Ya sudah, nggak apa-apa Mas Bima. Saya ambil jadwal Dokter Arga itu saja. Yang penting perut saya bisa segera diperiksa," ucap Dina akhirnya, menyerahkan kartu identitasnya untuk didaftarkan.
Bima tersenyum ramah dan memberikan nomor antrean. "Silakan menuju lantai tiga, ruang melati nomor tujuh ya, Mbak. Dokter Arga sedang menyelesaikan pasien terakhir sebelum giliran Mbak."
Dina melangkah menuju lift dengan perasaan yang tidak karuan. Ada debaran aneh di dadanya yang bukan berasal dari rasa sakit lambungnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin lift; wajahnya yang lelah, matanya yang masih menyimpan duka, dan kerudung sederhana yang ia kenakan.
Sesampainya di depan pintu ruang nomor tujuh, ia duduk di kursi tunggu kayu yang mengkilap. Aroma rumah sakit ini jauh lebih mewah dan modern daripada puskesmas atau rumah sakit di kota kecil dulu, namun dinginnya tetap sama. Saat pintu ruangan itu terbuka dan seorang suster memanggil namanya, Dina menarik napas panjang.
"Ibu Dina, silakan masuk. Dokter Arga sudah menunggu."
Dina berdiri, merapikan bajunya sejenak, lalu melangkah masuk. Namun, tepat saat ia melewati ambang pintu dan melihat sosok pria yang sedang duduk di balik meja besar sambil membaca rekam medis elektronik, langkah Dina terhenti seketika. Pria itu memakai jas putih yang sangat bersih, stetoskop yang mengalung di lehernya tampak baru, dan papan nama di atas mejanya tertulis jelas: dr. Arga, Sp.PD.
Pria itu mendongak, dan untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti berputar di tengah Kota Bandung.
Di tengah keheningan ruang periksa yang modern dan serba putih itu, jantung Dina seolah berhenti berdetak sesaat. Ia terpaku di ambang pintu, jemarinya meremas tali tasnya dengan kuat, seolah meyakinkan diri bahwa sosok di depannya bukanlah halusinasi akibat sakit lambung yang melilit. Pria itu, yang tadinya fokus menatap layar monitor, perlahan meletakkan bolpoinnya. Ia berdiri, menunjukkan perawakan tegap yang jauh lebih berwibawa dalam balutan jas putih yang sangat rapi di rumah sakit besar milik keluarganya ini.
Pelan, namun pasti, pria itu meraih talian maskernya. Ia tiba-tiba melepas maskernya, menampakkan wajah bersih yang kini dihiasi dengan sebuah lengkungan tulus yang sangat familiar. Senyum itu—senyum yang dulu sering kali menjadi satu-satunya pemberi ketenangan bagi Dina di kota kecil yang dingin.
"Saya nggak paham sama rencana semesta, tapi saya senang sekali bisa bertemu Mbak Dina lagi," ucap Dokter Arga, suaranya terdengar lebih dalam dan hangat di ruangan yang luas ini. Ia melangkah sedikit mendekat, menatap Dina dengan binar mata yang tidak bisa disembunyikan. "Walaupun pertemuan kita sayangnya masih harus di rumah sakit dan Mbak masih menjadi pasien saya."
Dina masih mematung, tenggorokannya terasa tercekat. "Dokter Arga... Jadi, benar ini rumah sakit keluarga Dokter?" suaranya hampir berbisik, bergetar antara rasa tak percaya dan haru yang membuncah.
Arga terkekeh kecil, sebuah tawa ringan yang seolah meruntuhkan dinding kecanggungan di antara mereka. Ia mempersilakan Dina duduk di kursi empuk di depan mejanya dengan gerakan tangan yang sangat sopan.
"Iya, Mbak. Ini tempat yang Suster Sarah ceritakan waktu itu. Tapi jujur, selama sebulan saya praktik di sini, pikiran saya masih sering tertinggal di rumah sakit kota kecil itu. Saya sering bertanya-tanya, apakah pasien favorit saya sudah makan tepat waktu? Apakah dia masih sering membiarkan suara-suara di kepalanya menang?" Arga menatap Dina lekat-lekat, menyadari bahwa meski Dina tampak lelah, ada secercah ketegaran baru di matanya. "Mbak Dina pindah ke Bandung? Dan kenapa... kenapa lambungnya kambuh lagi sampai harus ke sini?"
Dina akhirnya bisa mengembuskan napas panjang, sebuah senyum tipis yang tulus untuk pertama kalinya muncul di wajahnya setelah setahun penuh duka. "Saya kerja di sini sekarang, Dok. Mencoba memulai hidup baru seperti saran Dokter. Tapi sepertinya tubuh saya memang punya cara sendiri untuk rindu pada suasana rumah sakit."
Arga kembali tersenyum, namun kali ini tatapannya berubah menjadi lebih profesional sekaligus perhatian. "Kalau begitu, izinkan saya menjadi pengawal kesehatan Mbak Dina di kota ini. Kali ini, saya nggak akan cuma kasih resep obat, tapi saya akan pastikan Mbak benar-benar sembuh. Karena semesta sudah lelah mempertemukan kita hanya untuk melihat Mbak sakit terus."
Tawa ringan pecah di dalam ruangan serba putih itu, memecah ketegangan yang sempat menyelimuti udara sejak Dina melangkah masuk. Suster Winda sampai harus memegang pinggiran meja untuk menahan tawa, sementara Dokter Arga menggeleng-gelengkan kepala dengan sisa senyum yang masih menghiasi wajah tampannya.
"Terima kasih sudah mau jadi pengawal kesehatan saya ya, Dokter. Nanti saya tunggu lho piagam penghargaan 'Pasien Favorit'-nya kalau saya sudah benar-benar sembuh," ucap Dina dengan nada seloroh yang membuat suasana mendadak cair.
Arga tertawa lepas, sebuah pemandangan langka bagi para staf di rumah sakit besar itu yang biasanya hanya melihat sang dokter dalam mode serius dan kaku. Ia menatap Dina dengan binar mata yang lebih hangat dari biasanya.
"Mbak Dina ini ya, masih sempat-sempatnya menagih piagam di tengah sakit lambung begitu," balas Arga sambil merapikan catatan medis di depannya. "Tapi baiklah, kesepakatan diterima. Kalau Mbak Dina bisa disiplin makan dan berhenti membiarkan pikiran-pikiran buruk itu menang, saya sendiri yang akan buatkan piagamnya. Pakai bingkai emas, bagaimana?"
Suster Winda ikut menimpali sambil membereskan alat tensi, "Aduh Mbak Dina, baru kali ini saya lihat Dokter Arga tertawa sampai secerah ini di Bandung. Sepertinya 'pasien favorit' memang punya pengaruh beda ya, Dok?"
Arga hanya tersenyum simpul menanggapi godaan asistennya itu. Namun, di balik tawa dan candaan itu, Arga menyimpan sebuah janji di dalam hatinya. Ia tidak hanya ingin menjadi dokter yang meresepkan obat, ia ingin menjadi alasan mengapa Dina tidak perlu lagi merasa "ditinggalkan".
Setelah Dina berpamitan dan keluar dari ruangan, Arga terdiam sejenak melihat punggung wanita itu menghilang di balik pintu. Ia tidak menyadari bahwa di ujung koridor, ibunya—sang pemilik rumah sakit—sedang berdiri menatap interaksi mereka dengan kening berkerut, seolah sedang menilai apakah "pasien favorit" putranya itu pantas berada di lingkungan keluarga mereka yang terpandang.
Ibu Arga, dr. Ratna, masih berdiri mematung di ujung koridor yang elegan itu. Matanya yang tajam di balik kacamata bermerek tidak lepas menatap punggung Dina yang perlahan menjauh menuju apotek. Sebagai salah satu pemilik rumah sakit ini, ia sangat mengenal gerak-gerik putranya. Belum pernah ia melihat Arga tertawa lepas—bahkan sampai melepas maskernya di depan pasien—seperti yang baru saja terjadi.
Suster Winda yang baru saja keluar dari ruangan membawa beberapa berkas, tersentak pelan saat menyadari kehadiran sang atasan di sana.
"Eh, Dokter Ratna. Selamat siang, Dok," sapa Suster Winda dengan sopan, sedikit gugup.
"Siang, Winda," jawab dr. Ratna, suaranya terdengar tenang namun penuh wibawa. Ia melirik sekilas ke arah pintu ruangan Arga, lalu kembali menatap Winda. "Pasien tadi... sepertinya akrab sekali dengan Arga. Siapa dia?"
Suster Winda tersenyum kecil, mencoba memberikan penjelasan yang paling netral. "Oh, itu Mbak Dina, Dok. Pasien lamanya Dokter Arga waktu masih dinas di kota kecil dulu. Sepertinya kebetulan saja mereka bertemu lagi di sini karena Mbak Dina pindah kerja ke Bandung."
Mendengar itu, dr. Ratna mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan. Guratan curiga di dahinya sedikit memudar, digantikan oleh sorot mata yang penuh kebanggaan yang kaku.
"Oh, jadi dia pernah dirawat sebelumnya dan sekarang mencari Arga lagi sampai ke sini?" gumam dr. Ratna pelan, seolah bicara pada dirinya sendiri. "Itu berarti Arga memang kompeten. Pasien sampai merasa perlu mengejarnya ke Bandung hanya untuk mendapatkan pengobatan yang sama. Baguslah kalau standar pelayanannya tidak turun meskipun dia baru pindah."
Namun, di balik kalimat pujian yang bersifat profesional itu, ada kilat lain di mata dr. Ratna. Ia bukanlah wanita yang mudah percaya pada kebetulan. Baginya, seorang pasien yang bisa membuat putranya tertawa hingga melupakan protokol rumah sakit bukanlah sekadar "pasien yang puas dengan kompetensi dokter".
"Winda, pastikan rekam medisnya tetap rapi," lanjut dr. Ratna sebelum berbalik pergi. "Dan pastikan Arga tidak terlalu banyak menghabiskan waktu untuk mengobrol hal-hal yang tidak perlu. Kita punya banyak pasien VIP yang harus ditangani."
Suster Winda hanya bisa mengangguk pelan, merasakan firasat bahwa "pasien favorit" ini mungkin akan segera menghadapi badai yang lebih besar daripada sekadar penyakit lambungnya.
-gagal move on
-Penjelajah waktu, hidup di zaman ajaib