NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Menyerah Mencintaimu!

Maaf, Aku Menyerah Mencintaimu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:819
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Denzel Shaquille memilih mencintai Leah Ramiro dalam sunyi. Sebagai asisten pribadi kakak Leah, Zefan, ia hanya sanggup menjadi sandaran lembut bagi sang mahasiswi akuntansi. Namun, Jeff Chevalier—dosen Leah yang posesif—datang mengklaim Leah dengan terang-terangan.
​Keadaan makin pelik saat sahabat Leah, Seraphina, mengejar cinta Denzel, sementara Zefan diam-diam memuja Seraphina. Terjebak dalam sandiwara demi tetap dekat dengan Leah, Denzel harus menyaksikan kehancuran hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perbincangan Tegang

Sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela ruang kerja Zefan Ramiro biasanya membawa semangat optimisme, namun pagi ini, cahaya itu hanya menonjolkan garis-garis kelelahan di wajah pria itu. Zefan duduk di balik meja mahagoni besarnya, menatap layar monitor yang menampilkan grafik saham Ramiro Group yang mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi setelah pengumuman kemitraan dengan Chevalier semalam.

Ketukan pelan di pintu terdengar. Leah masuk dengan langkah yang diseret, seolah-olah gaun perak yang ia kenakan semalam masih membebani bahunya dengan beban berton-ton. Ia mengenakan piyama sutra sederhana dan wajahnya polos tanpa riasan, menonjolkan pucatnya kulit dan bayangan gelap di bawah matanya.

"Kau sudah bangun, Leah?" Zefan mendongak, wajahnya seketika cerah oleh senyuman yang jarang terlihat belakangan ini. "Duduklah. Aku baru saja akan memanggilmu."

Leah duduk di kursi kulit di seberang kakaknya. Ia tidak membalas senyuman itu. Matanya terpaku pada sebuah vas bunga lili di sudut meja yang tampak layu.

"Leah, aku tidak tahu harus mulai dari mana, tapi aku ingin berterima kasih padamu," ucap Zefan dengan nada yang sangat tulus, hampir emosional. "Acara gala semalam... itu adalah titik balik. Jeff baru saja mengonfirmasi bahwa termin pertama dana investasi Proyek Kuda Troya akan cair sore ini. Vendor-vendor di Kalimantan sudah setuju untuk menunda tuntutan mereka. Kau menyelamatkan kita, Leah. Kau menyelamatkan ribuan orang yang bergantung pada perusahaan ini."

Leah menelan ludah. Kata-kata "terima kasih" itu terasa seperti cuka yang disiramkan ke atas luka terbuka. "Begitukah, Kak? Jadi harganya adalah aku harus membiarkan pria itu meraba pinggangku di depan umum dan membisikkan ancaman di telingaku?"

Senyum Zefan memudar, digantikan oleh ekspresi bingung dan sedikit defensif. "Ancaman? Apa maksudmu? Jeff memang sedikit... posesif, aku tahu itu. Tapi dia tampak sangat memperhatikanmu semalam. Dia memastikan kau mendapatkan tempat terbaik, dia mengenalkanmu pada semua relasi penting—"

"Dia mengurungku, Kak!" potong Leah, suaranya naik satu oktav, bergetar karena amarah yang sejak semalam ia pendam. "Dia membawaku ke ruang privat dan memberitahuku bahwa aku tidak punya pilihan selain menurutinya jika ingin perusahaanmu selamat. Dia menggunakan nasibmu sebagai cambuk untuk membuatku tetap diam. Dan kau menyebut itu 'memperhatikan'?"

Zefan terdiam. Ia meletakkan pulpennya, jemarinya bertautan dengan tegang. "Aku tahu ini berat bagimu. Aku benar-benar tahu. Tapi dalam bisnis, terkadang kita harus menelan sedikit harga diri demi tujuan yang lebih besar. Jeff adalah pria yang ambisius, dan pria seperti dia memang punya cara yang kasar untuk menunjukkan ketertarikan. Tapi lihat hasilnya, Leah. Kita tidak akan bangkrut. Kita masih punya rumah ini. Kita masih punya masa depan."

"Masa depan siapa, Kak? Masa depanmu? Masa depan perusahaan?" Leah berdiri, berjalan mondar-mandir di ruangan yang terasa semakin sempit. "Pernahkah kau berpikir tentang masa depanku? Setiap kali aku tersenyum pada Jeff, aku merasa sebagian dari diriku mati. Aku merasa seperti barang dagangan yang kau tukar dengan angka-angka di monitor itu."

"Itu tidak adil, Leah!" Zefan ikut berdiri, wajahnya memerah. "Aku melakukan semua ini untukmu juga! Agar kau tetap bisa hidup mewah, agar kau tidak perlu menanggung malu karena keluargamu jatuh miskin! Kau pikir aku suka melihat Jeff bersikap begitu? Tidak! Tapi aku harus realistis!"

"Realisme adalah alasan yang kau gunakan untuk menutupi rasa bersalahmu, Kak," desis Leah. Ia berhenti di depan meja Zefan, menatap kakaknya dengan tatapan yang sangat tajam hingga Zefan harus memalingkan wajah. "Kau berterima kasih padaku karena aku membiarkan diriku menjadi sandera. Kau merasa bebanmu ringan karena sekarang bebanku yang bertambah. Kau bahagia karena perusahaan selamat, tanpa peduli bahwa adiknya sedang tenggelam dalam lumpur."

Zefan menghela napas panjang, kemarahannya mendadak sirna, digantikan oleh kelelahan yang luar biasa. Ia kembali duduk dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. "Lalu kau mau aku bagaimana, Leah? Membatalkan kontrak itu sekarang? Mengembalikan uangnya dan membiarkan kita semua hancur? Apa itu yang kau inginkan?"

Leah tidak menjawab. Ia tahu itu mustahil. Ia tahu ia sudah terjebak terlalu dalam. Pengorbanan ini sudah dilakukan, dan menariknya kembali sekarang hanya akan membuat segalanya sia-sia.

"Tidak," bisik Leah akhirnya. Suaranya terdengar hampa, seolah-olah energinya baru saja terkuras habis. "Jangan batalkan apa pun. Teruskan saja bisnismu. Pastikan saja pengorbananku ini benar-benar ada harganya. Jangan sampai kau menyia-nyiakannya."

"Leah, aku..." Zefan mencoba meraih tangan adiknya, namun Leah menariknya menjauh.

"Aku akan pergi ke kampus sekarang," ucap Leah datar. "Jangan suruh pengawal Jeff mengikutiku sampai ke dalam kelas. Katakan padanya aku butuh sedikit ruang jika dia tidak ingin aku meledak di depan umum."

Leah berbalik dan berjalan keluar dari ruang kerja itu tanpa menoleh lagi. Di koridor, ia berpapasan dengan Denzel yang sedang membawa beberapa dokumen untuk diserahkan pada Zefan. Langkah mereka berdua terhenti.

Denzel melihat sisa-sisa air mata di sudut mata Leah dan raut wajahnya yang hancur. Ia mendengar sebagian dari perdebatan di dalam tadi karena pintu yang tidak tertutup rapat. Hatinya terasa remuk melihat Leah yang biasanya ceria kini tampak seperti bayangan dari dirinya yang dulu.

"Nona Leah," sapa Denzel, suaranya sangat rendah, hanya bisa didengar oleh mereka berdua.

Leah menatap Denzel, dan untuk sesaat, tembok pertahanannya hampir runtuh. Ia ingin memeluk Denzel, ingin mengadu betapa sakitnya dikhianati oleh kakaknya sendiri demi uang. Namun, ia melihat Seraphina muncul di ujung koridor, melambaikan tangan pada Denzel.

Rasa sakit itu berubah menjadi kekecewaan yang dingin.

"Nikmati waktumu dengan pacarmu, Denzel," ucap Leah sinis, suaranya cukup keras agar Seraphina bisa mendengarnya. "Setidaknya salah satu dari kita di rumah ini bisa memiliki hubungan yang 'normal' tanpa ada kontrak bisnis di belakangnya."

Leah melangkah pergi dengan cepat, meninggalkan Denzel yang berdiri mematung dengan dokumen yang remuk dalam genggamannya.

Denzel menoleh ke arah ruang kerja Zefan yang masih terbuka. Ia melihat Zefan sedang menunduk, menutupi wajah dengan kedua tangannya. Denzel menyadari bahwa di rumah ini, semua orang sedang menderita dengan caranya masing-masing. Zefan menderita karena rasa bersalah, Leah menderita karena pengkhianatan, dan ia sendiri... ia menderita karena harus menjadi penonton bisu dari kehancuran wanita yang ia cintai.

Perbincangan tegang pagi itu tidak menyelesaikan apa pun. Ia justru mempertegas garis pemisah antara mereka semua. Zefan yang kini merasa memiliki hak untuk "menggunakan" Leah demi perusahaan, dan Leah yang mulai memandang keluarganya sendiri sebagai musuh yang harus dihadapi.

Denzel masuk ke ruang kerja Zefan, meletakkan dokumen di atas meja dengan suara debuman kecil.

"Tuan Zefan," panggil Denzel.

Zefan mendongak, matanya merah. "Ya, Denzel?"

"Jangan pernah berterima kasih padanya lagi untuk hal seperti itu," ucap Denzel, suaranya mengandung ancaman yang samar namun sangat terasa. "Itu bukan bantuan yang ia berikan dengan sukarela. Itu adalah luka yang ia terima demi Anda. Jangan membuatnya merasa bahwa luka itu adalah sesuatu yang patut dirayakan."

Zefan terpaku mendengar perkataan asistennya. Ia baru menyadari bahwa Denzel—pria yang ia anggap sebagai bawahan yang kaku—justru memahami perasaan adiknya jauh lebih baik daripada dirinya sendiri.

"Aku hanya ingin kita selamat, Denzel," gumam Zefan.

"Kita mungkin selamat secara finansial, Tuan," sahut Denzel sebelum berbalik pergi. "Tapi saya khawatir kita sedang kehilangan jiwa dari rumah ini."

Pagi itu berakhir dengan kebenaran yang pahit: bahwa uang Jeff Chevalier memang bisa membeli waktu bagi perusahaan, namun ia juga mulai membeli kedamaian di hati keluarga Ramiro, satu per satu, sampai tidak ada lagi yang tersisa selain kebencian yang terpendam di balik senyum-senyum formal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!