"Di ruang sidang aku memenangkan keadilan, tapi di stasiun kereta, aku nyaris kalah oleh rindu."
Afisa Anjani bukanlah lagi gadis rapuh yang menangis karena diabaikan. Tahun 2021 menjadi saksi transformasinya menjadi associate hukum tangguh di Jakarta. Di sisinya, ada Bintang—dokter muda yang kehangatannya perlahan menyembuhkan trauma masa lalu Afisa.
Namun, saat janji suci diucapkan di tahun 2022, semesta justru memberi ujian baru. Afisa dipindahtugaskan ke Semarang untuk menangani kasus-kasus besar yang menguji integritasnya. Jakarta dan Semarang kini bukan sekadar nama kota, melainkan jarak yang menguji Ekuilibrium (keseimbangan) antara karier dan hati.
Di Semarang, Afisa berhadapan dengan dinginnya ruang sidang dan gedung Lawang Sewu, sementara di Jakarta, Bintang bergelut dengan detak jantung pasien di rumah sakit. Keraguan lama Afisa kembali muncul: Apakah Bintang akan bosan? Apakah cinta sanggup bertahan saat komunikasi hanya lewat layar ponsel ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Afisa menghentikan langkahnya tepat di sebelah Guntur. Ia bisa merasakan tatapan Bintang yang setajam silet, menembus dari balik kacamata hitam yang dikenakan pria itu. Senyum puas pasca-sidang yang tadinya menghiasi wajah Afisa perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi waspada yang kembali membentenginya.
Bintang tidak bergerak dari posisinya. Ia hanya melepaskan sedekap tangannya, lalu melambaikan tangan dengan gerakan yang tampak santai namun sarat akan dominasi.
"Ayo, Guntur. Kita hadapi ini," bisik Afisa pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Guntur.
Mereka melangkah mendekat. Guntur tetap menjaga jarak dua langkah di belakang Afisa, membawa tas kulit berisi berkas-berkas kemenangan mereka. Setiap langkah terasa seperti menuju medan laga yang berbeda—dari meja hijau ke meja emosional.
"Tepat waktu, seperti biasa," sapa Bintang saat mereka sampai di depan mobil. Ia segera menegakkan tubuh, membuka pintu depan untuk Afisa, namun matanya tetap tertuju pada Guntur yang berdiri kaku di belakang istrinya. "Bagaimana sidangnya? Aku dengar dari Citra lewat pesan singkat, kalian menang telak di interupsi pertama?"
Afisa mengangguk, mencoba mencairkan suasana. "Iya, argumen teknis yang disusun Guntur sangat membantu. Hakim menerima keberatan kita."
Bintang menaikkan sebelah alisnya, lalu menatap Guntur dengan senyum yang tidak sampai ke mata. "Hebat juga. Ternyata kemampuanmu membaca strategi di lapangan hijau dulu bisa dipakai untuk membaca celah hukum ya, Guntur? Aku terkesan."
"Terima kasih, Mas Bintang. Saya hanya menjalankan instruksi Bu Afisa," jawab Guntur dengan suara rendah dan tetap menunduk hormat.
"Oh ya, Guntur," Bintang merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat kecil. "Tadi aku mampir ke apotek dekat sini. Aku ingat kamu begadang semalaman di kantor. Ini vitamin untuk saraf mata dan daya tahan tubuh. Sebagai suami Afisa, aku tidak mau asistennya tumbang di tengah jalan. Itu bisa merepotkan istriku."
Guntur tertegun. Pemberian itu terasa seperti sedekah yang menghina harga dirinya, namun ia tidak punya pilihan selain menerimanya. "Terima kasih, Mas. Anda sangat perhatian."
"Tentu saja. Aku selalu memperhatikan apa pun yang ada di sekitar Afisa," balas Bintang tajam. Ia kemudian beralih pada Afisa, membelai pipinya dengan lembut. "Ayo masuk, Sayang. Kita makan siang di tempat yang sudah aku reservasi. Kamu pasti lapar setelah berdebat hebat tadi."
Afisa melirik Guntur sejenak. Ada rasa tidak enak yang mengganjal di hatinya melihat Guntur diperlakukan seperti itu. "Guntur, kamu... kamu kembali ke kantor dengan mobil operasional, kan? Sopir kantor sudah menunggumu di gerbang samping."
"Iya, Bu. Silakan," jawab Guntur.
Saat mobil sedan Bintang melaju meninggalkan area pengadilan, Guntur tetap berdiri di tempatnya. Ia melihat ke bawah, ke arah amplop vitamin di tangannya. Ia tahu benar maksud Bintang: pria itu sedang menegaskan bahwa Guntur hanyalah seseorang yang perlu "dikasihani" dan "dibayar" untuk bekerja, sementara Bintang-lah yang memiliki hak untuk menjaga dan memanjakan Afisa.
Guntur menarik napas panjang, meremas amplop itu dengan perlahan sebelum memasukkannya ke dalam tas. Ia tidak butuh vitamin untuk bertahan; ia hanya butuh hatinya tetap dingin agar bisa terus berdiri di samping wanita itu, meskipun hanya sebagai bayangan.
Di dalam mobil sedan yang melaju tenang menuju pusat kota, keheningan justru terasa bising oleh ketegangan yang tertahan. Bintang menyetir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali mengetuk setir—sebuah tanda bahwa ia sedang memproses sesuatu yang mengganjal di kepalanya.
Afisa membuang muka ke arah jendela, menatap deretan ruko yang berkelebat lewat. Ia masih terngiang cara Bintang memberikan amplop vitamin itu pada Guntur. Itu bukan sekadar kepedulian, itu adalah penghinaan halus.
"Kamu tidak perlu melakukan itu tadi, Bin," suara Afisa akhirnya pecah, pelan namun tajam.
Bintang tidak menoleh. "Melakukan apa? Memberi vitamin? Aku seorang dokter, Fis. Wajar kalau aku peduli pada kesehatan orang-orang di sekitarmu, terutama staf yang kamu paksa lembur semalaman."
"Kamu tahu maksudku," Afisa menoleh, menatap suaminya dengan kecewa. "Kamu sedang merendahkannya. Guntur bukan pengemis, dia bekerja sangat keras untuk kemenangan kita hari ini."
Bintang terkekeh, namun nada suaranya berubah menjadi lebih berat. "Kerja keras atau cari muka, Fis? Aku tahu bagaimana dia menatapmu di depan ruang sidang tadi. Dia menatapmu seolah-olah sembilan tahun terakhir ini tidak pernah terjadi. Seolah-olah dia masih punya hak untuk merasa bangga berdiri di sampingmu."
"Itu hanya perasaanmu saja karena kamu tidak suka dia ada di sini!" balas Afisa mulai emosi.
"Aku memang tidak suka!" Bintang mengerem mendadak karena lampu merah, membuat tubuh mereka sedikit terdorong ke depan. Ia menoleh ke arah Afisa, matanya berkilat di balik kacamata hitamnya. "Aku tidak suka melihat laki-laki yang dulu menghancurkan hatimu tiba-tiba muncul dan menjadi 'pahlawan' di kantormu. Aku tidak suka dia masuk kembali ke duniamu lewat pintu belakang bernama profesionalitas."
Afisa terdiam, dadanya naik turun menahan amarah yang bercampur dengan rasa bersalah.
"Dengar, Fis," suara Bintang melunak, namun tetap terasa posesif. "Aku menetap di Semarang sampai Jumat depan bukan tanpa alasan. Aku akan memastikan dia tahu bahwa posisinya di hidupmu sekarang hanyalah sebatas angka di slip gaji yang kamu tandatangani. Tidak lebih."
"Kamu terlalu berlebihan, Bintang. Kamu malah membuatku malu di depan stafku sendiri," gumam Afisa lirih, ia memalingkan wajah kembali ke jendela, enggan melanjutkan perdebatan.
Lampu berubah hijau. Bintang kembali menjalankan mobil dengan kecepatan sedang. Ia tidak meminta maaf. Baginya, menjaga wilayahnya dari "hantu masa lalu" seperti Guntur bukanlah sebuah kesalahan, melainkan sebuah keharusan.
" kemana panggilan mas itu Fis? Karena ada dia kamu lupa manggil suamimu mas?" tanya Bintang lirih
" Mas aku capek,aku baru datang ke Semarang beberapa hari lalu langsung nanganin kasus besar, dan kamu yang datang kesini dengan kecemburan nggak jelas itu"
" cemburu nggak jelas yaa!!"