NovelToon NovelToon
CINTA DI TEPI DOSA

CINTA DI TEPI DOSA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dosen / Balas Dendam
Popularitas:640
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Nazwa Adzira Putri, atau sering di panggil Zira, adalah seorang wanita yang dulunya berselimut cahaya. Dengan nama pena Nana, dia menginspirasi banyak orang dengan kata-katanya yang bijak dan agamanya yang kuat. Namun, kebenaran pahit tentang ayahnya - seorang yang mengkhianati ibunya dengan perselingkuhan, merobek tirai kesucian itu. Luka itu membawanya ke jurang kegelapan, meninggalkan hijab dan agamanya, dan masuk ke dunia malam yang gelap. Tapi, di tengah-tengah badai itu, ada secercah harapan. Nathan Fernandez, anak kyai yang sholeh dan dingin, menjadi sosok yang menarik perhatiannya. Mata teduh dan menenangkan itu menjadi tempat pelariannya, dan tanpa disadari, cinta mulai tumbuh, membawa harapan baru di tengah-tengah kegelapan. Penasaran dengan kelanjutan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Keesokan harinya, saat pagi menjelang, Nathan dan Zira mulai bersiap-siap untuk melakukan perjalanan ke Bandung. Sebelum berangkat, mereka meluangkan waktu untuk berpamitan kepada Mama Sarah dan Aryan, menunjukkan rasa hormat sekaligus ungkapan perpisahan sementara yang penuh kehangatan.

Mama Sarah dan Aryan sudah menunggu di ruang tamu, "Hati-hati di jalan, ya, Nathan dan Zira," ucap Mama Sarah dengan nada lembut.

Zira dan Nathan membungkuk, "Iyah, Ma. Kami akan hati-hati," ucap Nathan.

Aryan yang berdiri di sebelah Mama Sarah, "Selamat jalan, kak! Bawa oleh-oleh, ya!" ucap Aryan dengan nada gembira.

Zira tersenyum, "Iyah, dek. Kakak akan bawa yang enak-enak," ucap Zira dengan nada manis.

Nathan dan Zira kemudian berpamitan dan meninggalkan rumah Mama Sarah, menuju ke mobil yang sudah siap untuk berangkat ke Bandung.

Setelah masuk ke mobil, Zira dan Nathan memasang sabuk pengaman, "Siap, mas?" tanya Zira dengan nada gembira.

Nathan tersenyum, "Siap, dek. Let's go to Bandung!" ucap Nathan, sambil memutar kunci mobil dan mulai berangkat.

Selama perjalanan, Nathan mengajak istrinya untuk ngobrol agar suasana tidak membosankan. "Kamu pasti bakal suka di Bandung, Dek. Di sana ada banyak santri, dan kamu juga bisa ikut belajar bareng mereka," ujar Nathan.

"Aku tuh ikut buat liburan, Mas, biar bisa rileks dan lepas dari urusan mata kuliah. Eh, malah suruh belajar lagi di sana," balas Zira.

Nathan tertawa kecil sambil berkata dengan nada santai, "Haha, maaf ya, Dek. Mas cuma pengen kamu bisa belajar sesuatu yang bermanfaat. Kan kamu masih kuliah, jadi mas pikir waktu di Bandung ini bisa dimanfaatkan juga buat belajar."

Zira menggerutu dengan manja, "Iya sih, Mas. Tapi Zira juga butuh refreshing dong, masa belajar terus." Mendengar itu, Nathan merasa Zira mulai lebih terbuka padanya. Ia pun bertekad untuk perlahan membantu mengatasi trauma yang dialami istrinya.

"Tenang aja, nanti kalau mas ada hari libur, kita jalan-jalan keliling Bandung, ya," ujar Nathan penuh perhatian.

Zira langsung tersenyum, "Benar nih, mas? Janji, ya?" ucap Zira dengan nada gembira.

Nathan membalas senyum, "Janji, dek. Mas janji kita akan buat kenangan indah di Bandung," ucap Nathan dengan nada lembut, sambil memelati tangan Zira.

Nathan yang tengah serius mengemudi tidak menyadari tatapan Zira. Ia pun berkata dengan nada santai, "Dek, kita mampir dulu ke rest area untuk sholat dhuhur."

Zira segera tersadar dari lamunannya dan menjawab dengan cepat, "Iya, Mas," sambil tersenyum. Nathan lalu mengarahkan mobilnya ke rest area terdekat.

Setelah masuk ke rest area, Nathan parkir mobil di tempat yang strategis, "Dek, mas akan sholat dulu, kamu tunggu di mobil atau ikut?" ucap Nathan dengan nada lembut.

Zira tersenyum, "Aku ikut, mas. Aku mau sholat juga," ucap Zira, sambil membuka pintu mobil.

Nathan tersenyum, "Iyah, ayo dek. Kita sholat bareng," ucap Nathan, sambil keluar dari mobil dan menunggu Zira. Bersama-sama, mereka berjalan menuju mushola di rest area.

Di depan mushola, Nathan mempersilakan Zira masuk terlebih dahulu, "Dek, kamu masuk dulu, mas tunggu di luar," ucap Nathan dengan nada sopan.

Zira tersenyum, "Gak apa-apa, mas. Kita masuk bareng aja," ucap Zira, sambil masuk ke dalam mushola. Nathan mengikuti di belakangnya.

Mereka berdua mengambil wudhu dan kemudian menuju ke tempat sholat. Nathan dan Zira sholat Dhuhur berjamaah, dengan Nathan sebagai imam. Suasana yang tenang dan damai membuat Zira merasa lebih dekat dengan Nathan.

Setelah selesai salat, Zira membuka bekal makanan yang sudah disiapkan oleh Mama Sarah untuk mereka santap. Zira kemudian berkata, "Mari makan, Mas. Kamu pasti lapar, kan?"

Nathan tersenyum, "Iyah, dek. Mas laper banget. Mama Sarah masak apa?" ucap Nathan, sambil duduk di sebelah Zira dan melihat isi bekal.

Zira membuka kotak bekal, "Nasi goreng sama ayam goreng, " ucap Zira, sambil menyodorkan makanan kepada Nathan.

Nathan segera mengambil garpu dan mulai makan. "Wah, ini enak banget. Masakan Mama Sarah memang luar biasa," katanya sambil menikmati hidangan di depannya.

Zira tersenyum melihatnya. "Iya, Mas. Masakan Mama Sarah memang selalu enak," balas Zira, ikut mencicipi makanan. Mereka berdua menyantap dengan lahap, tenggelam dalam kenikmatan sajian tersebut. Dalam hati, Zira berfikirbsetelah perjalanan ke Bandung nanti, ia ingin belajar memasak untuk suaminya. Ia juga perlahan-lahan berniat mulai mengenakan hijab dan menjadi istri yang lebih baik.

Zira tersenyum, sambil berpikir, "Mas, nanti kalau kita pulang, Zira mau belajar masak dari Mama Sarah, biar bisa masak enak buat mas," ucap Zira dengan nada manis.

Nathan yang sedang makan, tersenyum, "Wah, keren dek! Mas pasti seneng banget kalau kamu bisa masak enak," ucap Nathan, sambil memelati tangan Zira.

Zira merasa hatinya hangat, "Iyah, mas. Zira mau jadi istri yang baik buat mas," ucap Zira, sambil menatap Nathan dengan mata berkilau.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mereka tiba di Kota Bandung, tepatnya di Pesantren At-Taqwa, tempat tinggal Umi Aisyah. Mobil Nathan pun memasuki kawasan pesantren dan disambut meriah oleh para santri dengan iringan rebana. Suasana terlihat begitu ramai, hingga Zira berseloroh dengan nada sedikit bercanda, "Mas, meriah banget, kayak menyambut presiden."

Nathan tampak tersenyum lebar, mengarahkan pandangannya ke sekeliling seraya berbicara dengan nada santai. "Mungkin karena kita jarang sekali berkunjung ke sini, dek, sehingga keberadaan kita jadi sesuatu yang istimewa bagi mereka. Atau mungkin juga mereka memang senang menyambut tamu, "tambahnya sambil melambaikan tangan ramah ke arah para santri yang beraktivitas di halaman.

Zira yang terlihat antusias langsung mengikuti gerakan Nathan, melambaikan tangannya dengan semangat. "Mereka hebat-hebat sekali, mas. Zira jadi ingin sekali mencoba bermain rebana bersama mereka, "serunya dengan raut wajah ceria yang menggambarkan ketertarikan.

Setelah acara penyambutan selesai, Nathan mengajak Zira masuk ke rumahnya. Di dalam rumah, Putri, adik Nathan, menyambut mereka dengan ramah.

"Assalamualaikum, Bang Nathan dan Mbak Zira. Selamat datang di rumah," sapa Putri.

"Waalaikumsalam, Dek. Di mana Umi dan Abi? Kok rumah tampak sepi?" tanya Nathan.

"Oh, Umi dan Abi sedang menjenguk teman Umi yang sedang sakit di luar pondok, Bang," jawab Putri.

"Ah, ya sudah tidak apa-apa. Lagipula kita juga tiba di sini tidak tentu jamnya, kadang perjalanan macet, kadang lancar," tutur Nathan.

Putri tersenyum sembari berkata, "Iya, Bang. Umi dan Abi bilang mereka akan segera pulang." Sebelumnya, ia sudah mengabari umi dan abinya lewat pesan bahwa Nathan telah sampai di pondok.

Zira ikut tersenyum, "Gak apa-apa, Put. Kami juga baru sampai. Senang akhirnya kita bisa bertemu."

Nathan pun menambahkan, "Iya juga, Dek. Bang senang bisa ketemu kamu. Kamu sudah makan siang belum?"

Putri menjawab sambil tersenyum, "Sudah, Bang. Umi sempat masak banyak untuk kita sebelum pergi. Katanya takut Abang sampai lebih awal dari yang diperkirakan. Eh, ternyata benar juga kata umi," lanjut Putri sambil tertawa kecil.

Nathan mengangguk, "Umi memang selalu jago memperkirakan sesuatu." Kemudian ia menoleh pada Zira dan bertanya, "Dek, kamu mau makan dulu, atau istirahat dulu?"

Zira segera menjawab, "Makan dulu aja, Mas. Zira lapar lagi nih."

Nathan tersenyum sambil beranjak menuju ruang makan, "Oke, Dek. Ayo kita makan dulu. Putri, kamu ikut makan bareng kami ya," ajaknya.

Namun Putri menggeleng ringan sambil tersenyum, "Putri sudah makan, Bang. Tapi Putri temenin aja ya," katanya sambil berlari kecil mengikuti Nathan dan Zira ke ruang makan.

Sesampainya di meja makan, mereka duduk bersama. Putri kemudian ke dapur untuk mengambil makanan. Ia kembali membawa piring berisi  nasi , sayur SOP , sumur jengkol dan ayam goreng yang sudah disiapkan Umi sebelumnya. "Umi udah masak semua makanan kesukaan Abang dan mbak zira,

" kata Putri sembari menyajikan hidangan ke meja.

Zira memandang makanan itu dengan antusias. "Wah, enak banget ini! Umi kamu memang jago masak," ujarnya sambil mulai mencicipi makanan. Lalu ia menoleh ke arah Putri sambil menggoda, "Kamu pasti makannya dikit banget tadi."

Putri terkekeh pelan dan menjawab, "Iya sih, Bang. Putri tadi cuma makan dikit aja, tapi sekarang mau makan lagi deh, soalnya pengen makan bareng Mba Zira," ujarnya penuh semangat sambil mengambil secuil nasi dan sayur sop dari piring.

Nathan tersenyum mendengar itu, "Hahaha, baguslah kalau gitu, Dek. Makan aja biar gak kelaparan nanti," ucapnya santai sembari memakan makanan nya.

Zira pun ikut tersenyum dan menimpali, "Nah itu lebih baik! Ayo makan bareng kita," katanya sambil tersenyum hangat kepada Putri.

Mereka bertiga pun menikmati waktu makan bersama dengan suasana akrab dan penuh canda tawa di meja makan itu.

Tak lama kemudian, suara deru mesin kendaraan terdengar semakin dekat. Sebuah mobil minibus perlahan keluar dari garasi. Dari mobil tersebut, seorang wanita anggun dengan hijab syar’i turun dengan langkah tenang dan penuh kewibawaan. Senyuman hangat yang ia hadirkan memancarkan rasa akrab dan kenyamanan.

"Assalamualaikum, Nathan! Akhirnya kamu sampai, Nak. Umi sudah menantimu pulang. Umi kira kamu akan tiba malam, ternyata lebih cepat. Umi baru saja menjenguk teman yang sedang sakit," ucapnya lembut namun terdengar semangat, seraya menatap Nathan dengan penuh kehangatan, seolah ingin melepas rindu.

"Iya, Umi. Nathan juga pikir akan tiba malam, tapi ternyata lebih cepat karena jalanan tidak macet," jawab Nathan menjelaskan.

Umi Aisyah kemudian mengalihkan pandangan penuh kasihnya kepada Zira sambil tersenyum ramah. "Bagaimana kabar menantu cantik Umi ini? Ada kabar baik, kan?" tanyanya sambil meraih dan memeluk Zira hangat.

"Alhamdulillah, sehat, Umi," jawab Zira dengan sopan.

Nathan dengan sigap menanggapi pertanyaan yang agak sensitif itu, "Kalau soal itu, doakan saja, Mi."

"Umi selalu berdoa untuk kalian. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah sampai maut yang memisahkan," balas Umi Aisyah penuh harapan dan doa tulus untuk kedua anak kesayangannya.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!