NovelToon NovelToon
My Possession Hot Daddy

My Possession Hot Daddy

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Sepuluh tahun Aluna (20) hidup dalam "sangkar emas" milik Bramantyo (35), wali tunggal sekaligus sahabat mendiang ayahnya. Bagi Aluna, Bram adalah pelindung yang ia panggil "Daddy". Namun bagi Bram, Aluna adalah obsesi yang ia rawat hingga matang.
Saat Aluna mulai menuntut kebebasan, kasih sayang Bram berubah menjadi dominasi yang gelap. Tatapan melindunginya berganti menjadi kilat posesif yang membakar. Di antara rasa hormat dan hasrat terlarang, Aluna harus memilih: tetap menjadi putri kecil yang penurut dalam kuasa Bram, atau melarikan diri dari jerat pria yang takkan pernah melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Tanda kepemilikan

Pagi di kediaman Bramasta selalu dimulai dengan kesempurnaan yang mencekik leher. Sinar matahari yang menembus jendela kaca setinggi empat meter di kamar utama menyinari wajah Aluna yang mulai kembali merona. Panas tubuhnya sudah turun berkat perawatan intensif semalam, namun kelemasan masih menggelayuti sendi-sendinya, membuat raga mungil itu seolah terbuat dari porselen mahal yang bisa retak hanya dengan satu sentuhan kasar.

Ia terbangun dalam dekapan Bram yang tidak beranjak sedikit pun sejak fajar menyingsing. Pria itu sudah rapi dengan kemeja kerjanya yang berwarna biru gelap, aromanya wangi kayu cendana dan kekuasaan. Namun, ia tetap membiarkan Aluna menggunakan lengan kekarnya sebagai bantal, seolah-olah jadwal rapat miliaran rupiah di kantornya tidak lebih penting daripada napas teratur gadis di pelukannya.

"Daddy..." gumam Aluna manja, suaranya masih serak dan berat. Ia menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Bram, menghirup aroma maskulin yang selama bertahun-tahun selalu berhasil menidurkan logikanya.

"Sudah merasa lebih baik, Sayang?" suara Bram terdengar rendah, bergetar tepat di dada Aluna. Tangannya yang besar mengusap punggung Aluna dengan gerakan ritmis yang protektif—gerakan yang seolah menegaskan bahwa dunia di luar sana, dengan segala kebisingan dan ancamannya, tidak akan pernah bisa menyentuh Aluna selama ia berada dalam lingkaran lengan ini.

Aluna mengangguk kecil, memejamkan mata menikmati usapan itu. Dalam kondisi pemulihan yang rapuh ini, memori tentang ketegangan di kampus, tatapan tajam Anwar yang mengintimidasi, dan perasaan terisolasi di ruang VVIP seolah terkubur di bawah lapisan kenyamanan luar biasa yang diberikan Bram. Ia merasa sangat beruntung memiliki seseorang yang begitu memuja dan menjaganya. Ia tidak menyadari bahwa di balik pintu kamar yang tertutup rapat, Anwar sedang berdiri mematung, memegang sebuah tablet yang terhubung langsung dengan tim keamanan di lapangan, menunggu instruksi terakhir untuk menunjukkan sebuah "pertunjukan" dominasi yang telah disiapkan Bram dengan sangat rapi.

Sementara itu, di sebuah kedai kopi kecil yang terletak di sudut tersembunyi dekat gerbang belakang kampus, Rio sedang duduk sendirian. Di depannya, dua orang pria berbadan tegap dengan setelan safari abu-abu—orang-orang pilihan dari divisi keamanan khusus Bramasta Group—berdiri dengan posisi yang menutup akses jalan keluar bagi siapa pun yang ingin mendekati meja Rio.

Di atas meja kayu yang kusam itu, terletak sebuah tablet digital yang menyala terang. Layarnya tidak menampilkan data keuangan atau ancaman tertulis, melainkan sebuah siaran langsung (live streaming) dari kamera tersembunyi di kamar Aluna.

"Lihat ini, Nak," ujar salah satu pria itu dengan nada suara yang dingin dan tanpa emosi. "Tuan Besar kami bukan orang yang picik. Beliau tidak ingin membuang-buang peluru hanya untuk bocah ingusan sepertimu, atau menghancurkan bengkel ayahmu yang tidak seberapa itu. Itu terlalu rendah bagi harga diri seorang Bramasta. Beliau hanya ingin kau melihat kenyataan pahit ini dengan mata kepalamu sendiri."

Rio menatap layar tablet itu. Jantungnya berdenyut nyeri, seolah ditusuk sembilu, melihat Aluna yang tampak begitu damai, bermanja-manja di pelukan Bram. Pria yang ia tahu adalah penjara berlapis emas bagi Aluna. Namun, alih-alih gemetar, memalingkan wajah karena sakit hati, atau memohon ampun agar tidak dihancurkan, Rio justru menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang berderit. Ia menarik napas panjang, lalu sebuah senyuman—senyum meremehkan yang sangat tajam dan provokatif—tersungging di bibirnya.

Ia mendorong tablet itu kembali ke tengah meja dengan ujung jari telunjuknya, seolah-olah benda mahal itu hanyalah sampah yang mengotori mejanya.

"Katakan pada bos kalian," Rio menjeda kalimatnya, matanya berkilat menantang tepat ke arah kedua pria itu. "Seorang tawanan yang mencintai penculiknya adalah fenomena psikologis yang biasa kita sebut Stockholm Syndrome. Tapi, seorang 'penculik' yang merasa perlu membuktikan kepemilikannya kepada mahasiswa seperti aku... itu namanya rasa tidak percaya diri yang akut. Katakan pada Bramasta, jika dia benar-benar yakin memiliki hati Aluna, dia tidak akan merasa perlu pamer di depanku. Dia sedang ketakutan, bukan?"

Kedua anak buah Bram tertegun sejenak. Mereka terbiasa menghadapi lawan yang berlutut ketakutan saat diancam, bukan pemuda nekat yang justru menyerang ego majikan mereka dengan logika yang tajam.

"Kau sedang menantang maut, Rio. Kesabaran Tuan Besar ada batasnya," desis salah satu dari mereka, tangannya refleks meraba alat komunikasi di telinganya.

"Maut sudah lama mengikutiku sejak aku memutuskan untuk tidak membiarkan Aluna sendirian dalam kegelapan itu," jawab Rio dengan ketenangan yang luar biasa. "Silakan laporkan pada majikan kalian: Aku tidak takut. Uang kalian tidak berguna, dan ancaman kalian hanya membuatku semakin yakin bahwa Aluna memang butuh bantuan. Aku tidak akan pergi sejengkal pun."

Laporan tentang pembangkangan mental Rio sampai ke telinga Bram dalam hitungan detik melalui earpiece kecil yang ia kenakan. Bram yang tadinya sedang mengelus lembut rambut Aluna seketika menghentikan gerakannya. Rahangnya mengeras secara dramatis. Urat di pelipisnya menonjol, menahan ledakan amarah yang luar biasa. Bagaimana mungkin seorang mahasiswa biasa, yang tidak memiliki apa-apa, tidak merasa kerdil atau hancur di bawah bayang-bayang kekuasaannya?

Bram menyadari bahwa menghancurkan fisik Rio tidak akan memberikan kepuasan yang ia cari. Ia harus menghancurkan harapan Rio. Ia harus menggunakan Aluna sendiri sebagai senjata paling mematikan untuk membunuh mental pemuda itu.

"Aluna," panggil Bram lembut, namun ada nada dominasi yang sangat kental, nada yang membuat Aluna segera membuka matanya.

"Ya, Daddy?"

"Kau merindukan temanmu? Siapa namanya... Rio? Pahlawan kecilmu yang membawakan buku itu?"

Aluna tersentak. Nama itu seketika memicu detak jantungnya yang tadinya tenang. Gelang emas putih di pergelangan tangannya mengirimkan sinyal kegugupan—getaran frekuensi tinggi—langsung ke tablet di tangan Bram yang ia sembunyikan di balik bantal. "D-dia... Dia hanya orang baik yang membantuku Daddy."

Bram tersenyum, sebuah senyuman yang sangat tampan namun memancarkan aura iblis yang haus darah. Ia meraih ponsel pribadinya, melakukan panggilan video ke anak buahnya yang saat ini sedang berdiri tepat di depan wajah Rio.

"Arahkan kamera pada pemuda itu. Pastikan dia melihat setiap gerakan yang aku lakukan," perintah Bram dengan nada dingin yang membuat bulu kuduk Aluna berdiri.

Lalu, Bram memutar ponselnya agar Aluna bisa melihat layar. Di sana, Aluna membelalakkan mata melihat Rio sedang duduk di sebuah kedai, dikelilingi pria-pria menyeramkan.

"Lihat, Sayang. Temanmu ini sepertinya sangat terobsesi padamu. Dia mengabaikan peringatanku dan lebih memilih mencari masalah," bisik Bram tepat di telinga Aluna, tangannya kini beralih mencengkeram tengkuk Aluna dengan lembut namun memaksa agar wajah gadis itu tetap menghadap kamera.

"Rio... kenapa dia di sana?" lirih Aluna, matanya mulai berkaca-kaca.

Bram tidak menjawab. Ia justru mendekatkan wajahnya ke wajah Aluna. Ia sengaja melakukan ini tepat di depan lensa kamera agar Rio bisa menyaksikan "pertunjukan" ini secara real-time.

Dengan gerakan yang penuh penekanan, Bram mencium bibir Aluna dengan sangat dalam dan lama. Sebuah ciuman yang tidak mengandung kelembutan, melainkan klaim kepemilikan mutlak. Tangannya yang besar memegang rahang Aluna, memastikan gadis itu tidak bisa memalingkan wajahnya.

Aluna yang masih dalam kondisi lemas dan terkejut hanya bisa terdiam dengan mata membelalak, tangannya tanpa sadar mencengkeram kemeja Bram untuk mencari pegangan di tengah badai emosi yang melandanya. Ia merasa malu, takut, dan bingung di saat yang bersamaan.

Di kejauhan, melalui layar ponsel yang dipegang anak buah Bram, Rio menyaksikan pemandangan itu tanpa berkedip. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol seperti tali baja. Ia tahu Bram sedang memprovokasinya. Ia tahu Bram sedang memamerkan kemenangannya sebagai "pemilik" sah raga Aluna.

Namun, bukannya memalingkan muka karena cemburu atau hancur, Rio justru bangkit dari kursinya. Ia mendekati kamera ponsel itu, menatap langsung ke mata Bram melalui lensa seolah-olah jarak ribuan kilometer itu tidak ada.

Rio memberikan senyum meremehkan yang paling tajam—sebuah senyuman yang menyiratkan bahwa ciuman Bram hanyalah sebuah kepalsuan.

Ia menggerakkan bibirnya tanpa suara, namun Bram yang ahli dalam membaca gerak bibir bisa menangkapnya dengan jelas: "Dia tetap akan lari darimu, karena kau adalah penjara, bukan rumah."

Bram melepaskan ciumannya dengan kasar, napasnya memburu bukan karena gairah, melainkan karena amarah yang memuncak hingga ke ubun-ubun. Ia mematikan sambungan video itu dengan satu sentuhan kasar pada layar ponselnya.

"Kau lihat, Aluna? Dia hanyalah orang asing yang lancang dan tidak tahu diri," ucap Bram sambil mengusap bibir Aluna dengan ibu jarinya, gerakannya sangat kuat seolah-olah ingin menghapus jejak tatapan Rio yang baru saja menembus privasi mereka.

Aluna tertunduk dalam-dalam, wajahnya memerah padam karena malu dan bingung. Air matanya jatuh membasahi sprei sutra. Ia merasa seperti sebuah trofi atau barang jarahan yang sedang dipamerkan di depan musuh.

Namun, Bram segera merengkuhnya kembali ke dalam pelukan yang sangat erat, memberikan kehangatan yang manipulatif namun terasa sangat nyata di tengah ketidakberdayaan Aluna.

"Jangan pernah berpikir tentang dia lagi, Sayang. Dia tidak selevel denganmu. Kau adalah berlian yang hanya pantas ada di genggamanku. Katakan, Aluna. Milik siapa kau sebenarnya?"

"Aku... aku milik Daddy," jawab Aluna lirih, suaranya pecah oleh isakan yang tertahan.

Malam itu, setelah seharian penuh ketegangan, Rio tetap berdiri di depan gerbang utama kampus yang sudah sepi dan gelap.

Ia tidak membawa senjata, ia tidak memiliki kekuasaan ekonomi untuk melawan balik. Ia hanya memiliki rekaman pembicaraan tadi di ponselnya dan satu tekad yang kini sudah membatu: menunjukkan pada Aluna bahwa ada dunia di mana ia bisa bernapas tanpa harus meminta izin, dunia tanpa pengawasan 24 jam.

Di dalam rumah mewah yang menyerupai benteng itu, Bram berdiri di balkon kamarnya, menatap ke arah kegelapan kota dengan segelas wiski di tangan.

Ia menyadari satu hal yang mengusik ketenangannya dan membuatnya tidak bisa tidur: Rio adalah jenis musuh yang paling berbahaya. Musuh yang tidak bisa dibeli dengan uang, dan tidak bisa ditakuti dengan ancaman kematian.

"Dia adalah pahlawan yang ingin mati dengan terhormat," gumam Bram sambil meneguk wiskinya hingga tandas.

"Kalau begitu, aku akan memberinya panggung untuk hancur dengan caranya sendiri. Aku akan membuat Aluna yang memintanya untuk pergi, dan aku akan membuat Aluna sendiri yang membencinya karena telah 'mengganggu' ketenangan kami."

Bram tidak tahu, bahwa di dalam lubuk hati Aluna yang paling dalam, benih pemberontakan kecil mulai tumbuh.

Aluna masih menyimpan satu ingatan yang tidak bisa dihapus oleh ciuman posesif Bram sekalipun: tatapan mata Rio yang tetap berdiri tegak dan memberikan senyum meremehkan pada "Daddy"-nya yang mahakuasa.

Untuk pertama kalinya dalam hidup Aluna, ia melihat ada seseorang yang tidak gemetar di bawah bayang-bayang Bramasta.

Sangkar emas itu kini memang masih terkunci rapat, namun retakan kecil mulai muncul pada pondasinya.

1
Lfa🩵🪽
yey akhirnya up lagi 😍😍
ollyooliver🍌🥒🍆
aluna terlalu lemah, dia mudah menujukkan rasa cemburu.
Lfa🩵🪽: semangat update nya Thor 🫶❤️‍🔥
total 2 replies
Hilag
semangatt kak 👍Bram Luna lope
Senja_Puan: siap kak💪
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
mengungkapkan cinta dengan gairah? itu bukan cinta..nafsu iya🙃
Yasa: terlalu terobsesi juga Bram nya. Ngeri sih, kalau ada yang kaya gini di dunia asli.

tapi perbedaan usia 15 tahun, masih oke-oke aja.
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
tiga hari sdh berlalu dan bram bekerja diruang kerjanya bahkan menginzinkan aluna menemaninya..kok baru ketahuan bau parfum clara..mereka flu parah kh🙃 kalau anting" wajar gk keliatan. lalu emng masuk akal clara datang kerumah bram tanpa bram ketahui?🙂
Senja_Puan: 2. Untuk yang Clara, sudah dijelaskan ya Kak. Clara ini cukup 'cerdas' dan 'ngeyel' ya, jadi dia tetap datang walau dilarang. Dan Anwar tetap memperbolehkannya masuk karena tahu dia putri rekannya Bram.
total 4 replies
Anom
team second lead a.k Rio😍
Senja_Puan: wah keren kak, sudah siap memilih akmj
total 1 replies
Anom
waduh disadap
Anom
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!