ini adalah part 2 dari novel "Diremehkan Karena Miskin Ternyata aku punya sistem analisis nilai"
disarankan baca part 1 terlebih dahulu
**
setelah mendapatkan kemampuan sistem, kehidupan Rahmat Pratama berubah drastis. Dia yang awalnya dihina, miskin, dan terlilit hutang, kini telah berdiri di puncak .
Namun, kejayaan itu hanyalah awal dari badai yang sesungguhnya.
Saat Rahmat merasa telah menguasai segalanya, sebuah serangan siber mematikan dari organisasi misterius bernama Black Spider nyaris menghapus seluruh asetnya.
Sertifikat Galeria yang ia bangun dengan darah dan keringat hampir saja berpindah tangan dalam hitungan detik.
Black spider kembali menyerang, bukan dengan fisik melainkan dengan serangan dari dalam.
Rahmat juga menyadari satu kenyataan pahit: Sistem Analisis Nilai miliknya bukan
sekadar keberuntungan jatuh dari langit.
Ada sejarah gelap yang ditinggalkan oleh sang pemilik pendahulu, dan mengenai sang pencipta asli yang kini datang untuk menagih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17—Terbentuknya Tim Trio Star
Alya terdiam kaku. Matanya yang membulat segera menyisir baris-baris tulisan kecil di bagian bawah poster yang tadi ia abaikan karena terlalu gugup. Benar saja, di sana tertulis dengan cetak tebal: Minimal 3 orang per kelompok.
“S-satu orang lagi?” Alya menggigit bibir bawahnya, rona merah di pipinya kini berganti dengan gurat kekecewaan. “Tapi aku tidak punya teman lain yang bisa diajak hal memalukan seperti ini, Rahmat.”
Rahmat menyandarkan punggungnya, menyesap teh botol dinginnya sambil menatap lurus ke arah jalanan. Pikirannya berputar cepat. Jika ia hanya menuruti Alya, Kanaya bisa hancur berantakan. Namun, jika ia menolak, Alya akan merasa terpukul.
Hanya ada satu solusi logis yang bisa menyelamatkan keduanya—sekaligus menciptakan ledakan popularitas yang belum pernah terjadi dalam sejarah SMA Garuda.
“Aku punya ide siapa anggota ketiganya,” ucap Rahmat tenang.
Alya menoleh cepat. “Siapa?”
“ seseorang yang sangat kamu kenal dan memang ahlinya di bidang ini.” Rahmat mengeluarkan ponselnya, mencari sebuah kontak yang belakangan ini sering mengiriminya pesan spam berisi stiker kesal. “Kanaya Arcelia.”
Mendengar nama itu, Alya hampir tersedak kuah baksonya. Sebagai fans kanaya itu sendiri, mendengarkan bahwa dia akan setim dengannya buat gadis itu menggila sekaligus malu bukan main.
“Apa?! Kamu bercanda? Dia itu idol nasional! Kenapa dia mau bergabung dengan amatir sepertiku? Lagian aku malu kalau kanaya lihat performaku yang gak seberapa!"
Rahmat tersenyum tipis, sebuah seringai penuh percaya diri. “Justru karena dia idol. Bayangkan dampaknya. Seorang idol nasional, primadona sekolah, dan... yah, aku. "
"Kita bukan cuma bakal ikut pentas seni, Alya. Kita bakal menguasai panggung sekolah dan juara!"
[ DING! ]
━━━━━━━━━━━━━━━
[STRATEGI TERDETEKSI: THE ULTIMATE TRIO]
Efek: Menggabungkan Faksi Alya dan Faksi Kanaya.
Prediksi Popularitas: 400% (Breaking School Records).
Catatan: Ini adalah jalan pintas untuk menaikkan progress ending, tingkat ketertarikan kedua karakter secara bersamaan.
━━━━━━━━━━━━━━━
Alya tampak ragu, namun ada binar harapan di matanya. “Apa kak kanaya bakal mau?”
“Biar aku yang urus. Anggap saja ini bagian dari ‘melakukan apapun’ yang kujanjikan tadi,” jawab Rahmat santai.
Sementara Alya senyum senyum sendiri. Dia bisa satu tim dengan idol yang sering dia lihat di televisi, itu adalah kehormatan.
***
Keesokan harinya di kelas, suasana masih canggung. Kanaya sengaja menyibukkan diri dengan membolak-balik buku paketnya, padahal bukunya terbalik. Rahmat berjalan mendekat, menarik kursi di depan meja Kanaya dan duduk berhadapan dengannya.
“Kana,” panggil Rahmat lembut.
Kanaya tidak menoleh. “Apa? Mau pamer hubungan romansamu!?”
Rahmat terkekeh kecil, lalu meletakkan poster pentas seni yang sudah ditandatangani Alya di atas meja Kanaya.
Mata Kanaya melirik poster itu, dan saat melihat nama Alya di sana, dadanya terasa sesak. Namun, matanya tertuju pada kolom kosong di bawahnya.
“Kami kekurangan satu orang. Dan aku tidak terpikirkan siapapun selain kamu,” ucap Rahmat serius. “Alya punya mimpi ingin mencoba panggung hiburan, dan aku ingin membantunya. Tapi kami butuh mentor, seorang profesional. Kamu satu-satunya orang yang punya aura itu, Kana.”
Kanaya tertegun. Ia menatap Rahmat, mencoba mencari kebohongan di mata pemuda itu. “Kamu... mengajakku? Bukan karena merasa kasihan?”
“Bukan. Aku mengajakmu karena tanpa kamu, grup ini tidak akan sempurna.” Rahmat memajukan tubuhnya, suaranya merendah.
"Kamu serius?" tanya kanaya.
"Mengundang seorang idol nasional kamu kira ini semua bakal gratis?"
"Haha jangan kaku gitu, kayak sama kita ini kawan."
"Hmph!" Dia memalingkan wajah. "Sayang sekali aku tidak semurah itu."
Dia merasa bahwa semua ucapan sudah cukup sampai disini, lalu berdiri dari kursi. Hendak pergi.
[Ding!]
[Analisis sosial aktif!]
[Target: kanaya Arcelia]
[Status: merasa gengsi padahal mau menerima. Status sebagai idol membuat dia bersikeras jual mahal.]
[Bayar dia bukan dengan uang seperti klien, tapi coba traktir dia sesuatu.]
Kanaya merasa bahwa semua ucapan sudah cukup sampai disini, lalu berdiri dari kursi. Hendak pergi.
Namun sebelum dia pergi ucapan selanjutnya dari Rahmat membuat dia berhenti melangkah.
"Kana,kamu suka ice cream?" Tanya Rahmat mendadak
Kanaya yang tadinya memalingkan wajah dengan angkuh, mendadak terhenti. Matanya melirik sedikit ke arah Rahmat, sementara telinganya seolah berdiri tegak mendengar kata "ice cream".
"Es krim?" gumam Kanaya, mencoba menjaga nada suaranya tetap datar meski sistem Rahmat mendeteksi adanya lonjakan dopamin yang drastis di otak sang idol.
"Iya, di dekat perempatan jalan baru ada kedai es krim Italia yang baru buka. Katanya gelato di sana punya tekstur paling lembut. Kalau kamu mau gabung, aku traktir varian apa saja yang kamu mau, khusu kamu. Double scoop, triple, atau satu ember pun aku bayar," tawar Rahmat dengan nada menggoda.
Kanaya terdiam. Pertahanannya goyah. Sebagai idol yang harus menjaga diet ketat demi penampilan di panggung, es krim adalah kelemahan terbesarnya. Tawaran Rahmat bukan sekadar traktiran, itu adalah godaan iman.
[ DING! ]
━━━━━━━━━━━━━━━
[ANALISIS SOSIAL: TARGET TERLUMPUHKAN]
Target: Kanaya Arcelia.
Status: Gengsi vs Kalori.
Persentase Keberhasilan: 98%.
Catatan: Dia sedang membayangkan rasa Salted Caramel di lidahnya.
━━━━━━━━━━━━━━━
"H-hanya es krim? Kamu pikir harga diriku seharga es krim?" Kanaya masih mencoba melawan, meski tangannya sudah mulai meraih pulpen di atas meja.
"Tentu tidak. Es krim itu cuma pembuka. Kalau kita menang pentas seni nanti, aku akan kabulkan satu permintaanmu, apa pun itu. Mirip seperti janji yang kuberikan pada Alya," tambah Rahmat, memberikan pukulan telak.
Mendengar nama Alya disebut, jiwa kompetisi Kanaya langsung menyala. Sejak awal mereka bertemu, dia tahu bahwa Alya itu cukup dekat dengan Ramat terlebih kejadian kemarin yang diboncengi itu seperti dekriminalisasi perang.
"Satu permintaan apa pun? Benar ya? Jangan menyesal kalau aku minta sesuatu yang aneh nanti!"
"Janji Sultan," jawab Rahmat mantap. "Lagian hal aneh apa? Kalau hal erotis aku menolak keras."
Kanaya langsung menarik poster itu ke hadapannya. Dengan gerakan lincah dan sedikit pamer—seperti sedang menandatangani merchandise fans—ia membubuhkan tanda tangannya yang artistik tepat di bawah nama Alya.
"Oke! Aku terima. Tapi jangan salah paham, ya! Aku bergabung cuma karena aku tidak tega melihat panggung sekolah ini hancur karena penampilan amatir kalian. Sebagai profesional, aku punya tanggung jawab moral untuk mengedukasi kalian berdua!" seru Kanaya sambil melipat tangannya di dada, wajahnya yang memerah berusaha disembunyikan di balik poni rambutnya.
[ DING! ]
━━━━━━━━━━━━━━━
[MISI TERDEKLARASI: THE TRIO LEGENDARY]
Anggota: Rahmat, Alya, Kanaya.
Target: Juara 1 Pentas Seni SMA Garuda.
Hadiah: +25% Ending Progress (Alya & Kanaya)
+ Unlock skill "Master of Performance". (Tuan rumah bisa berada di panggung dengan aura yang memukau, bahkan tanpa latihan anda tidak akan pernah merasa grogi sama sekali)
+Rp 2.500.000.000
Rahmat tersenyum puas. Ia bisa merasakan tatapan Danu dan Raefka dari kejauhan yang seolah ingin meledak melihat Rahmat berhasil menjinakkan dua "bom" tercantik di sekolah dalam satu meja.
Namun, di balik kegembiraan itu, Rahmat melirik ke arah jendela. Bayangan pria ber-hoodie hitam kemarin masih terngiang di kepalanya.
Pentas seni ini akan menjadi panggung besar, dan ia harus memastikan laba-laba itu tidak ikut menari di atasnya.
Terlebih ucapan anisa kemarin. 'penyerang dan pelaku pembunuhan Reno adalah murid Sekolah ini.'
Rahmat tidak bodoh setelah mendengarkan itu, dia mencari semua data murid sekolah ini.
Dia bahkan menggunakan kemampuan sistem analis untuk melihat semua status murid dari kelas 10 kelas 11 kelas 12 semuanya tanpa pandang bulu.
Dan hasilnya nihil. Tidak ada yang berstatus sebagai anggota black spider.
Artinya cuma satu jika asumsi anisa benar maka murid yang ada di sini bukanlah anggota black spider malah lebih parah lagi.
Mr black, bos organisasi itu sendiri.
"Bagus. Nanti sore kita kumpul di parkiran. baru setelah itu kita ke rumahku untuk mulai diskusi konsep panggung," kata Rahmat sambil bangkit dari kursi.
"Rumahmu?" Kanaya mengerutkan kening. "Kenapa tidak di studio sewa saja?"
"Mansionku punya studio kedap suara dan sistem audio yang lebih bagus dari studio mana pun di kota ini, Kana. Temanku yang ahli IT juga akan stand by di sana untuk urusan aransemen musik," jelas Rahmat santai.
Kanaya tertegun. Mansion? Sejak kapan Rahmat punya kehidupan se-kompleks ini? pikirnya.
Saat Rahmat berjalan kembali ke bangkunya, Danu dan Raefka langsung menyergapnya dengan tatapan tidak percaya.
"Mat... lo beneran penyihir ya? Lo baru saja menyatukan dua kutub magnet yang seharusnya saling tolak menolak! Fansnya saja pada ribut" bisik Danu histeris.