Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.
Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 - Fitnah Kedua
Pagi itu dimulai dengan ketukan keras di pintu kamar Alyssa, bukan ketukan biasa yang sekadar memberi tahu, melainkan seperti perintah yang tidak memberi pilihan untuk diabaikan. Suara itu menggema singkat namun cukup membuat dada Alyssa menegang. Ia yang baru saja selesai merapikan tempat tidur menoleh dengan kaget, jemarinya masih menggenggam ujung seprai yang belum sempat dirapikan sempurna.
Tanpa menunggu ketukan kedua, Alyssa berjalan cepat menuju pintu dan membukanya. Di luar, dua pelayan berdiri dengan sikap tegak dan wajah yang tampak lebih tegang dari biasanya, seolah mereka sedang membawa kabar yang tidak menyenangkan. Tatapan mereka tidak berani bertahan lama pada Alyssa, membuat firasat buruk di dalam dirinya semakin kuat.
“Nona, Ibu memanggil Anda sekarang.”
Nada suara pelayan itu kaku, tidak seperti biasanya yang masih menyisakan keramahan. Alyssa hanya mengangguk pelan tanpa bertanya apa pun, meskipun dalam hatinya sudah muncul rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Ia tahu, panggilan seperti ini jarang berakhir dengan sesuatu yang baik.
Langkahnya cepat menyusuri lorong panjang menuju ruang keluarga, namun setiap langkah terasa lebih berat dari sebelumnya. Udara di dalam rumah itu terasa berbeda pagi ini, lebih dingin dan sepi meskipun para staf masih beraktivitas seperti biasa. Ada sesuatu yang tidak terlihat, tetapi cukup jelas untuk dirasakan.
Begitu pintu ruang keluarga terbuka, suasana di dalam langsung menyergapnya dengan tekanan yang tak kasat mata. Ibu Daren berdiri di tengah ruangan dengan ekspresi dingin yang nyaris tak terbaca, sementara beberapa staf rumah berdiri di sisi ruangan seperti saksi yang sudah dipanggil lebih dulu. Daren sendiri sudah ada di sana, berdiri tegak dengan rahang mengeras, dan kehadirannya justru membuat ruangan terasa semakin sempit.
Dan Cassandra berdiri sedikit di samping, dengan ekspresi tenang yang hampir seperti seseorang yang sudah mengetahui akhir dari sebuah cerita. Tatapannya sekilas bertemu dengan Alyssa, lalu berpaling dengan santai, seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Alyssa berhenti di ambang pintu, mencoba menenangkan detak jantungnya yang mulai tidak teratur. Ia menarik napas perlahan sebelum akhirnya membuka suara, berusaha menjaga nada tetap stabil meskipun perasaan tidak enak semakin jelas terasa.
“Ibu memanggil saya?”
Tidak ada jawaban langsung, hanya keheningan yang terasa lebih menekan daripada bentakan. Ibu Daren melangkah mendekat dengan gerakan tenang namun penuh kendali, matanya menatap lurus tanpa sedikit pun kehangatan.
“Ada satu hal yang ingin kutanyakan.”
Alyssa menelan napasnya, mencoba menahan kegelisahan yang mulai naik ke permukaan. Ia memaksa dirinya tetap berdiri tegak, meskipun di dalam hatinya sudah muncul berbagai kemungkinan buruk.
“Apa itu, Bu?”
Wanita itu tidak langsung menjawab, melainkan menatap Alyssa beberapa detik lebih lama seolah ingin membaca sesuatu dari wajahnya. Lalu akhirnya pertanyaan itu keluar, sederhana namun terasa seperti tuduhan yang sudah dipastikan kebenarannya.
“Di mana dokumen itu?”
Alyssa mengernyit, kebingungan yang muncul terlihat jelas tanpa dibuat-buat. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud, dan ketidaktahuannya justru membuat situasi terasa semakin tidak menguntungkan.
“Dokumen?”
“Kontrak kerja sama perusahaan dengan investor utama. Dokumen asli hilang dari ruang kerja.”
Kalimat itu membuat suasana langsung berubah lebih tegang, seperti tali yang ditarik semakin kencang tanpa peringatan. Alyssa membeku sejenak, mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar, sementara semua mata di ruangan itu perlahan tertuju padanya.
“Saya tidak tahu,” jawabnya jujur, meskipun ia sadar jawaban itu mungkin tidak akan cukup.
Ibu Daren tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak membawa kehangatan sama sekali. Justru ada kesan sinis yang sulit disembunyikan, seolah jawaban Alyssa sudah ia prediksi sejak awal.
“Tentu kamu akan bilang begitu.”
“Saya benar-benar tidak tahu.”
“Kamu masuk ke ruang kerja kemarin sore.”
Alyssa terdiam sejenak, mengingat kejadian itu dengan cepat. Ia memang masuk ke sana, tetapi hanya sebentar dan dengan alasan yang jelas. Tidak ada yang aneh saat itu, setidaknya menurutnya.
“Iya, tapi hanya sebentar. Saya diminta mengambil beberapa berkas lama.”
“Dan setelah itu, dokumen ini hilang.”
Kalimat itu seperti potongan puzzle yang sengaja disusun untuk menunjuk satu arah. Alyssa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, sementara tekanan di ruangan itu semakin terasa nyata.
“Saya tidak menyentuh apa pun selain yang diminta,” katanya dengan nada lebih tegas, berusaha mempertahankan dirinya meskipun situasi tidak berpihak.
Cassandra menghela napas pelan, cukup untuk menarik perhatian tanpa terlihat berlebihan. Ia melangkah sedikit maju, ekspresinya tetap lembut seperti seseorang yang ragu untuk berbicara namun merasa perlu.
“Aku sebenarnya tidak ingin ikut campur, tapi aku melihat sesuatu kemarin.”
Alyssa langsung menoleh ke arahnya, firasat buruk yang sejak tadi mengendap kini terasa semakin jelas. Ia tahu arah pembicaraan ini tidak akan menguntungkannya.
“Apa?”
“Alyssa keluar dari ruang kerja dengan membawa map hitam.”
Alyssa langsung menggeleng, penyangkalan itu keluar dengan cepat sebelum tuduhan itu berkembang lebih jauh. Ia tahu betul apa yang ia bawa saat itu, dan itu bukan seperti yang dikatakan Cassandra.
“Itu bukan…”
“Map yang sama dengan yang digunakan untuk menyimpan kontrak itu.”
Nada suara Cassandra tetap tenang, tidak terdengar menyerang, namun justru itulah yang membuatnya terasa lebih meyakinkan. Alyssa mencoba menahan emosinya, tetapi situasi ini terasa seperti jebakan yang disusun dengan rapi.
“Itu bukan map yang sama. Saya hanya membawa berkas lama dari rak samping.”
Cassandra mengangguk pelan, seolah mempertimbangkan kemungkinan itu. Namun ekspresinya tetap sulit ditebak, dan kata-kata berikutnya justru membuat keadaan semakin buruk.
“Mungkin aku salah lihat.”
Kalimat itu terdengar seperti pembelaan, tetapi justru memperkuat kecurigaan yang sudah terbentuk. Alyssa bisa merasakan bagaimana semua orang di ruangan itu mulai condong pada satu kesimpulan.
“Periksa kamarnya.”
Perintah itu keluar tanpa ragu dari ibu Daren, membuat Alyssa langsung membeku di tempat. Ia ingin menolak, ingin menghentikan, tetapi kata-kata itu terasa tertahan di tenggorokannya.
“Bu, tidak perlu…”
“Lakukan.”
Dua pelayan langsung bergerak tanpa menunggu lebih lama, meninggalkan ruangan dengan langkah cepat. Alyssa hanya bisa berdiri diam, tangannya mengepal tanpa sadar, sementara waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya.
Beberapa menit kemudian mereka kembali, dan salah satu dari mereka membawa sesuatu di tangannya. Sebuah map hitam yang tampak begitu familiar dalam konteks yang salah.
Alyssa menatapnya dengan mata membesar, rasa tidak percaya langsung memenuhi pikirannya. Ia tahu pasti benda itu bukan miliknya, tetapi keberadaannya di sana seolah menutup semua kemungkinan pembelaan.
“Itu bukan milik saya.”
Pelayan itu menyerahkan map tersebut kepada ibu Daren, yang langsung membukanya tanpa ragu. Di dalamnya terdapat dokumen yang dimaksud, lengkap dan tidak rusak, namun berada di tempat yang seharusnya tidak pernah menjadi miliknya.
Ruangan itu mendadak sunyi, seolah semua suara ditelan oleh satu kenyataan yang baru saja terungkap. Daren melangkah maju, tatapannya langsung mengunci pada Alyssa dengan intensitas yang sulit dihindari.
“Kamu mau menjelaskan?”
Suaranya lebih rendah dari biasanya, tetapi justru terasa lebih berat. Alyssa menggeleng pelan, mencoba tetap berdiri meskipun dunia di sekitarnya terasa mulai runtuh.
“Saya tidak tahu bagaimana itu bisa ada di kamar saya. Saya tidak mengambilnya.”
“Kamu satu-satunya orang yang masuk ke ruang kerja saat itu.”
“Itu bukan berarti saya yang mengambilnya.”
“Lalu siapa?”
Pertanyaan itu menggantung di udara tanpa jawaban yang bisa diterima oleh siapa pun di ruangan itu. Alyssa terdiam, bukan karena tidak memiliki dugaan, tetapi karena ia tahu menyebut nama tanpa bukti hanya akan membuatnya terlihat semakin bersalah.
“Saya tidak tahu.”
Jawaban itu terdengar lemah, bahkan di telinganya sendiri. Daren menatapnya beberapa detik, lalu tertawa kecil dengan nada yang tidak mengandung sedikit pun kehangatan.
“Pertama kalung, sekarang dokumen perusahaan. Berapa banyak lagi yang akan kamu ambil?”
Alyssa mengangkat wajahnya, berusaha menahan getaran dalam suaranya agar tidak terdengar rapuh. Ia tidak ingin terlihat semakin lemah di hadapan mereka semua.
“Saya tidak mengambil apa pun.”
Daren berhenti tepat di depannya, jarak di antara mereka terasa begitu dekat namun begitu jauh dalam makna. Tatapan mereka bertemu, tetapi kali ini tidak ada ruang untuk harapan seperti sebelumnya.
“Cukup.”
Satu kata itu terdengar tegas, seperti pintu yang ditutup tanpa kemungkinan untuk dibuka kembali. Alyssa merasakan sesuatu di dalam dirinya runtuh, perlahan namun pasti.
“Aku sudah cukup bersabar.”
Ia mencoba berbicara lagi, mencoba mencari celah yang mungkin masih tersisa.
“Daren, dengarkan aku…”
“Tidak ada lagi yang perlu didengar.”
Suaranya kali ini lebih keras, memperjelas batas yang sudah ia tarik. Untuk pertama kalinya sejak semua ini terjadi, kemarahannya terlihat begitu jelas tanpa disembunyikan.
“Semua bukti sudah jelas, dan kamu masih berusaha menyangkal.”
“Saya tidak menyangkal, saya mengatakan yang sebenarnya.”
“Tapi tidak ada yang bisa mendukung itu.”
Kalimat itu menjadi penutup yang tidak bisa dibantah, karena memang tidak ada yang berdiri di sisinya. Alyssa terdiam, menyadari betapa sendirinya ia di ruangan yang penuh orang ini.
“Aku tidak peduli apa alasanmu. Mulai sekarang, kamu tidak boleh masuk ke ruang kerja, dan tidak boleh menyentuh dokumen apa pun.”
Alyssa menunduk sedikit, tidak memberikan jawaban karena ia tahu apa pun yang ia katakan tidak akan mengubah keputusan itu. Suasana semakin terasa menekan, seolah semua ruang untuk bernapas mulai menyempit.
“Dan kalau ini terjadi lagi, kamu akan keluar dari rumah ini.”
Kalimat itu diucapkan dengan jelas tanpa keraguan, membuat napas Alyssa seakan tertahan di dada. Ancaman itu bukan sekadar kata-kata, melainkan sesuatu yang bisa benar-benar terjadi kapan saja.
“Saya tidak melakukan ini.”
Kali ini suaranya lebih pelan, tetapi lebih dalam, seolah ia mengatakannya untuk meyakinkan dirinya sendiri. Daren tidak menjawab, hanya berbalik seolah semuanya sudah selesai dan tidak ada lagi yang perlu dibahas.
Ibu Daren tetap diam, keputusan sudah dibuat dan tidak ada ruang untuk perubahan. Cassandra berdiri di tempatnya dengan senyum tipis yang hampir tidak terlihat, tetapi cukup untuk menyampaikan bahwa semuanya berjalan sesuai rencananya.
Alyssa tetap berdiri di tengah ruangan itu, di antara banyak orang yang tidak berpihak padanya. Tangannya mengepal, bukan hanya untuk menahan rasa sakit, tetapi juga untuk menahan sesuatu yang mulai tumbuh di dalam dirinya.
Ia mulai menyadari bahwa semua ini bukan kebetulan, bukan kesalahan sederhana yang bisa dijelaskan dengan logika biasa. Setiap langkahnya seperti sudah diatur, setiap situasi dibentuk untuk menjatuhkannya tanpa memberi kesempatan untuk bangkit.
Dan untuk pertama kalinya, di tengah keterpojokan itu, Alyssa tidak hanya merasa takut. Ada sesuatu yang lain yang mulai muncul perlahan, sesuatu yang mungkin akan mengubah cara ia menghadapi semuanya.
Karena jika ia terus diam, maka ia akan benar-benar kehilangan segalanya.
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
🤔🤔