Daripada penasaran, yuk mampir ><
[Update Tergantung Mood]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: "Berdoalah..."
Suasana ruang makan penthouse yang biasanya sunyi dan hanya diisi denting sendok perak, pagi ini mendadak riuh oleh tawa dan percakapan hangat. Kehadiran orang tua Gaby dan orang tua Emrys yang tiba-tiba dari Jakarta membawa aroma rumah yang sangat dirindukan.
Gaby duduk di samping ibunya dengan wajah yang berseri-seri. Ia bercerita dengan menggebu-gebu tentang proyek "Sanctuary" di Oxford, tentang betapa indahnya London di musim semi, hingga betapa serunya mengendarai mobil merah barunya.
Namun, di tengah keriuhan itu, Gaby sangat berhati-hati. Ada satu bab dalam hidupnya di London yang ia segel rapat-rapat. "Bulan kegelapan itu". Ia tidak menceritakan bagaimana Emrys pernah menyita ponselnya, bagaimana pintu kamarnya pernah terkunci secara otomatis setiap malam, atau bagaimana barisan pengawal pernah mengepungnya di lobi. Baginya, ingatan tentang dirinya yang merosot di lantai balkon sambil memeluk lutut adalah rahasia yang hanya dimiliki olehnya dan dinding kamar ini.
"Emrys menjagamu dengan baik, kan, Sayang?" tanya Gemini sembari mengelus rambut putrinya dengan sayang.
Gaby sempat tertegun sejenak. Ia melirik ke arah Emrys yang duduk tegap di ujung meja. Pria itu sedang memotong omelette-nya dengan tenang, namun tatapan matanya sempat bertemu dengan mata Gaby selama sepersekian detik. Sebuah tatapan yang penuh pengertian dan peringatan yang halus.
"Tentu saja, Ma," jawab Gaby dengan senyum termanisnya. "Kak Emrys sangat... protektif. Dia memastikan aku mendapatkan semua yang aku butuhkan untuk kuliahku."
Victor tertawa bangga sambil menepuk bahu putranya. "Bagus, Emrys. Tugasmu memang menjaga adikmu di negeri orang. Jangan sampai dia merasa kesepian atau kesulitan."
Emrys hanya mengangguk sopan. "Dia adik yang penurut, Ayah. Tidak banyak masalah yang dia buat," ucap Emrys datar, namun ada nada sarkasme halus yang hanya bisa ditangkap oleh Gaby.
Sarapan berlangsung dengan penuh kehangatan. Pelayan menyajikan nasi goreng spesial dan kopi aroma nusantara yang sengaja disiapkan untuk menyambut tamu istimewa itu. Gaby merasa seolah beban rahasia di pundaknya sedikit terangkat saat melihat kedua keluarga besar itu bersatu kembali.
Di sela-sela suapan, Gaby merasa jemari Emrys yang duduk di sebelahnya sempat menyentuh punggung tangannya di bawah meja.
Sentuhan jemari Emrys di bawah meja itu terasa kontras dengan suhu ruangan yang hangat. Gaby refleks menoleh, mencari jawaban di wajah sepupunya. Namun, Emrys tetaplah Emrys. Wajahnya sedatar permukaan danau di musim dingin, tak ada emosi yang bocor dari sorot matanya yang tajam saat ia kembali menyesap kopi hitamnya. Seolah-olah kontak fisik tadi hanyalah imajinasi Gaby belaka.
Namun, keheningan singkat itu pecah saat Gaby menyadari suasana di meja makan mendadak berubah. Ia mengalihkan pandangan dan mendapati Ayahnya serta Ayah Emrys tengah memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Ada keheningan yang janggal selama beberapa detik. Tatapan kedua pria paruh baya itu tampak ambigu antara menyelidik, penuh rahasia, atau mungkin mereka sebenarnya tahu lebih banyak daripada yang Gaby bayangkan tentang apa yang terjadi selama sebulan terakhir.
"Gaby," suara Melton memecah kesunyian, nadanya berat namun tenang. "Pala dengar dari kolega Papa di sini, kau sering terlihat bersama putra keluarga Blackwood? Melvin, kalau tidak salah?"
Gaby nyaris tersedak suapan nasi gorengnya. Ia melirik Emrys, namun pria itu tetap diam, membiarkan Gaby menjawab sendiri.
Victor menimpali dengan senyum yang tidak sampai ke mata. "Keluarga Blackwood punya sejarah yang... menarik dengan keluarga kita di bisnis properti. Emrys, bukankah kau yang paling tahu bagaimana cara menjaga 'aset' keluarga agar tidak jatuh ke tangan yang salah?"
Emrys meletakkan cangkirnya dengan bunyi tek yang pelan namun bergema di ruang makan. Ia akhirnya angkat bicara, suaranya rendah dan penuh otoritas.
"Gaby sedang mengerjakan proyek besar di kampusnya bersama Melvin. Itu hanya urusan akademis," ucap Emrys, matanya beralih menatap Melton dengan tenang. "Selama dia berada dalam pengawasanku, tidak akan ada 'aset' yang berpindah tangan tanpa izinku."
Jawaban itu tampak memuaskan kedua pria tua tersebut, meski ketegangan masih terasa di bawah permukaan. Gaby merasa jantungnya berpacu. Ia sadar bahwa kebebasan yang ia miliki sekarang bukan hanya urusan antara dirinya dan Emrys, tapi juga melibatkan catur besar keluarga Kaito dan Blackwood.
Gemini, ibu Gaby yang menyadari suasana mulai serius, segera mencoba mencairkan suasana. "Sudahlah, ini waktu sarapan. Kenapa bahas bisnis? Gaby, setelah ini temani Mama ke Harrods, ya? Mama ingin lihat koleksi terbaru yang kau ceritakan tadi."
Gaby mengangguk cepat, merasa lega bisa keluar dari tatapan intimidasi ayahnya. Namun, di bawah meja, ia merasakan jemari Emrys sekali lagi menekan punggung tangannya lebih lama, seolah memberikan peringatan sekaligus perlindungan sebelum ia menarik tangannya kembali.
.
.
.
Besoknya
Suasana penthouse mendadak terasa hampa setelah keriuhan orang tua mereka mereda. Aroma parfum ibu Gaby masih tertinggal sedikit di lorong, namun kesunyian yang dingin kembali mengambil alih. Malam itu, Gaby tidak bisa memejamkan mata. Tatapan ambigu ayahnya dan cara Emrys menyebutnya sebagai "aset" terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
Dengan langkah ragu, Gaby berjalan menuju ruang kerja pribadi Emrys. Pintu kayu ek yang berat itu sedikit terbuka, memperlihatkan Emrys yang masih duduk di balik meja mahagoninya, hanya diterangi oleh lampu meja temaram dan binar layar monitor.
Gaby mengetuk pelan, lalu masuk sebelum Emrys sempat menjawab.
"Kak," panggil Gaby pelan.
Emrys mendongak. Ia melepas kacamata bacanya, memijat pangkal hidungnya dengan lelah. "Belum tidur, Gaby? Besok kau ada kelas pagi."
Gaby tidak bergeming. Ia berjalan mendekat dan berdiri di depan meja besar itu, menatap langsung ke mata sepupunya. "Aku butuh penjelasan. Ada apa sebenarnya antara keluarga Blackwood dan Aetherion-Kaito? Kenapa Papa menatapku seperti aku sedang membawa bom waktu saat menyebut nama Melvin?"
Emrys menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, memperhatikannya dalam diam. Suasana ruang kerja itu mendadak menjadi sangat berat.
"Keluarga Blackwood bukan sekadar kompetitor bisnis, Gaby," suara Emrys rendah dan parau. "Dua dekade lalu, kakek Melvin. Silver Jayton Blackwood, hampir menghancurkan fondasi Aetherion di Eropa lewat skema akuisisi yang kotor. Ayahku dan Papamu harus bekerja keras selama sepuluh tahun untuk membangun kembali apa yang dia rampas."
Emrys berdiri, berjalan menuju jendela besar yang menghadap cakrawala London yang kelam. "Bagi mereka, kita adalah target. Bagi kita, mereka adalah ancaman yang tidak pernah benar-benar mati. Persaingan ini sudah mendarah daging, melampaui sekadar angka di atas kertas."
Gaby terdiam, jemarinya meremas ujung piamanya. "Lalu Melvin? Apakah dia juga bagian dari itu?"
Emrys berbalik, menatap Gaby dengan intensitas yang membuat napas gadis itu tertahan. "Melvin adalah bidak paling cerdas yang mereka miliki. Dia dikirim ke Oxford bukan hanya untuk belajar desain, tapi untuk mengamati. Dan saat dia mulai mendekatimu, seluruh alarm di Jakarta berbunyi."
Emrys melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Gaby bisa mencium aroma sisa kopi dan kelelahan dari tubuh pria itu.
"Papamu takut kau menjadi titik lemah kita. Dia takut Blackwood akan menggunakanmu untuk masuk ke dalam pertahanan Aetherion-Kaito. Itulah sebabnya..." Emrys menggantung kalimatnya, matanya melembut namun tetap waspada. "...itulah sebabnya aku bertindak ekstrem sebulan yang lalu. Aku tidak hanya menjagamu dari Melvin, Gaby. Aku menjagamu dari kemarahan keluargamu sendiri."
Gaby menatap kakaknya dengan nanar. Jadi, sangkar emas itu bukan hanya obsesi Emrys, melainkan tameng dari badai yang lebih besar.
"Jadi... apakah proyek 'Sanctuary' ini salah?" bisik Gaby parau.
Kalimat itu menggantung di udara, terasa jauh lebih dingin daripada pendingin ruangan di dalam penthouse. Emrys tidak memberikan kepastian, hanya sebuah peringatan yang dibalut dalam doa yang terdengar sinis.
"Berdoalah dan berharap itu tidak benar," ulang Emrys, suaranya rendah, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri.
Gaby merasakan tenggorokannya menyempit. "Berharap apa, Kak? Berharap Melvin tidak sedang memanfaatkanku? Atau berharap aku tidak jatuh dalam permainannya?"
Emrys melangkah maju, tangannya yang besar terangkat, ragu sejenak sebelum akhirnya mendarat di bahu Gaby. Cengkeramannya tidak menyakitkan, tapi terasa sangat protektif seolah ia sedang menahan Gaby agar tidak jatuh ke jurang yang tak terlihat.
"Keluarga Blackwood tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan, Gaby. Persahabatan, kolaborasi, bahkan tatapan mata... semuanya memiliki harga di dunia mereka," mata Emrys mengunci mata adiknya dengan intensitas yang menyakitkan. "Aku membebaskanmu karena aku ingin kau belajar melihatnya sendiri. Tapi jika proyek ini berubah menjadi senjata untuk menyerang Aetherion, aku tidak akan ragu untuk menghancurkannya. Termasuk siapa pun yang berdiri di belakangnya."
Gaby menelan ludah, merasakan beban sejarah dua keluarga besar ini menindih pundaknya. "Aku akan membuktikan bahwa 'Sanctuary' adalah murni karyaku, Kak. Bukan alat politik siapa pun."
Emrys melepaskan bahu Gaby, kembali ke balik meja kerjanya yang dingin. "Tidurlah. Besok adalah hari besar untuk proyekmu. Pastikan kau tetap waspada, Gaby. Di London, serigala tidak selalu melolong. Terkadang mereka tersenyum di balik sketsa desain."
Malam itu, Gaby kembali ke kamarnya dengan perasaan yang berkecamuk. Ia merebahkan diri di ranjang luasnya, menatap langit-langit di mana lampu indikator CCTV yang dulu menyala merah kini sudah mati. Kamarnya tidak lagi terkunci, tapi ia merasa seolah-olah ada rantai tak kasat mata yang kini mengikat hatinya.
Ia meraih ponselnya, melihat nama "Melvin" di daftar kontak. Apakah pria itu benar-benar mengagumi visinya, ataukah ia hanya sedang memoles kunci untuk membongkar brankas rahasia keluarga Kaito?