NovelToon NovelToon
Sang Legenda Telah Kembali

Sang Legenda Telah Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: ilwa nuryansyah

Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.

Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.

Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.

Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 5

Beberapa hari kemudian...

Pagi itu, sinar matahari musim semi yang hangat menerobos masuk melalui celah gorden sutra di kamar bayi keluarga Eldersheath.

Namun, bagi Ilwa, kehangatan itu tidak mampu mengusir rasa dingin yang menjalar di dalam tulang-tulangnya akibat belenggu *Aura-Lock Syndicate*.

Suara denting sendok perak yang beradu dengan mangkuk keramik kecil terdengar seperti lonceng peringatan di telinganya.

Di hadapannya, Elara duduk dengan wajah yang menunjukkan campuran antara harapan yang rapuh dan kasih sayang yang mendalam.

Di dalam mangkuk itu terdapat cairan kental berwarna hijau gelap dengan aroma tanah yang kuat—obat herbal yang diracik khusus berdasarkan instruksi Saint Benedictus.

"Ayo, Ilwa sayang... buka mulutmu sedikit saja," bujuk Elara dengan nada yang sangat lembut, hampir seperti nyanyian.

"Ini obat dari Saint, ini akan membuatmu merasa lebih kuat. Demi Ibu, ya?"

Ilwa menatap sendok yang mendekat itu dengan pandangan malas.

Di dalam jiwanya, Albus meronta "Obat? Benar-benar penghinaan, Seorang penghancur benua kini harus disuapi cairan berbau aneh ini seperti anak burung yang cacat," batinnya dengan geram.

Namun, saat melihat mata ibunya yang berkaca-kaca, ego Albus yang setinggi langit itu perlahan runtuh.

Dengan enggan, ia membuka mulut mungilnya.

Begitu cairan itu menyentuh lidahnya, rasa pahit yang tajam diikuti oleh sensasi dingin yang menyengat langsung menyebar ke seluruh rongga mulutnya.

Ilwa hampir saja memuntahkannya kembali karena refleks biologis bayi, namun tiba-tiba, indra sensorik jeniusnya mendeteksi sesuatu yang luar biasa.

"Tunggu... rasa ini... aroma ini..."

Albus tertegun.

Sebagai seorang peneliti sihir dan alkimia di kehidupan sebelumnya, ia mengenali komponen-komponen langka yang terkandung dalam ramuan ini.

Meskipun penyakitnya belum bisa disembuhkan secara total, obat ini mengandung tiga jenis tumbuhan legendaris yang di masa hidupnya dulu hanya dianggap sebagai mitos atau tanaman yang sudah punah.

---

Komponen pertama yang dirasakan Ilwa adalah rasa dingin yang menenangkan sarafnya yang meradang.

Ini adalah ekstrak dari *Aether-Leaf Glacialis*( daun embun langit).

Secara visual, tumbuhan ini digambarkan memiliki helai daun transparan yang berkilau seperti kristal es, dengan urat-urat daun yang berpendar biru pucat saat terpapar sinar bulan.

Tumbuhan ini hanya tumbuh di puncak Pegunungan Perak yang udaranya sangat tipis dan mengandung konsentrasi mana murni yang sangat tinggi.

Manfaatnya sangat krusial bagi kondisi Ilwa. *Aether-Leaf* bekerja sebagai pelumas bagi sirkuit mana yang mengeras.

Penyakit *Aura-Lock* membuat jalur energinya menjadi kaku seperti batu, dan tumbuhan ini memberikan efek relaksasi yang luar biasa pada pembuluh energi tersebut.

Meskipun tidak mampu menghancurkan dinding pengunci mana, ia mencegah dinding tersebut menekan saraf fisik Ilwa, sehingga rasa sakit yang ia rasakan saat mencoba bergerak sedikit berkurang.

### 2. **Root of Solaris Mandragora (Akar Mandragora Matahari)**

Komponen kedua memberikan rasa hangat yang menjalar dari kerongkongan hingga ke ujung jari kaki Ilwa.

Ini berasal dari Root of Solaris Mandragora(akar mandragona matahari) Visual tumbuhan ini sangat unik; akarnya berbentuk seperti jalinan otot manusia yang berwarna jingga terang, dan jika dicabut dari tanah,

ia akan mengeluarkan panas yang konstan seolah-olah ia menyimpan sepotong kecil inti matahari di dalamnya.

Tumbuhan ini biasanya ditemukan di tengah Gurun Berapi atau di dekat kawah gunung berapi aktif.

Manfaat tumbuhan ini adalah sebagai stimulan vitalitas fisik.

Bagi penderita *Aura-Lock* yang fisiknya cenderung melemah seiring waktu, akar ini berfungsi untuk memaksa sel-sel tubuh tetap aktif dan beregenerasi.

Di kehidupan pertamanya, Albus pernah mencari tumbuhan ini ke berbagai penjuru benua untuk memperkuat pasukannya,

namun ia selalu gagal menemukannya. Ironisnya, sekarang ia meminumnya dalam bentuk bubur obat bayi.

Akar ini membantu memperkuat kepadatan tulangnya yang rapuh akibat tekanan mana internal.

Komponen terakhir adalah yang memberikan aroma tanah yang menenangkan.

Ini adalah Sylph’s Breath Moss (lumut nafas peri)Secara visual, lumut ini tumbuh di batang pohon-pohon kuno di Hutan Terlarang, berbentuk seperti gumpalan kapas hijau yang sangat halus yang tampak bergerak-gerak sendiri seolah sedang bernapas.

Lumut ini dikenal karena kemampuannya menyerap polusi mana dan menjernihkan aliran energi dalam sebuah wadah.

Manfaatnya sangat spesifik: jembatan koneksi. Lumut ini membantu memulihkan kesadaran sensorik Ilwa terhadap mana di sekitarnya.

Meskipun ia tetap tidak bisa mengeluarkan mana dari tubuhnya, lumut ini memperhalus cara tubuhnya "merasakan" energi alam, sehingga saat ia melakukan meditasi, beban mental yang ia tanggung tidak akan seberat sebelumnya.

Ini adalah katalisator yang sangat baik untuk menjaga kewarasan jiwanya di dalam raga yang terkunci.

---

"Pintar sekali putra Ibu," puji Elara sambil mengusap sisa obat di bibir Ilwa dengan kain linen halus.

Ia tersenyum lebar, merasa lega karena Ilwa tidak menolak obat tersebut. "Kau merasa lebih baik, kan? Wajahmu tidak sepucat tadi pagi."

Ilwa tidak menjawab—tentu saja tidak bisa. Namun, ia merasakan sensasi yang lumayan nyaman mengalir di tubuhnya.

Rasa pusing yang menghantuinya sejak mencoba meditasi beberapa hari lalu perlahan menghilang, digantikan oleh kesadaran yang lebih tajam.

"Luar biasa..." batin Ilwa sambil menatap tangannya yang mungil "Keluarga Eldersheath benar-benar memiliki sumber daya yang mengerikan jika mereka bisa mendapatkan tumbuhan-tumbuhan ini hanya untuk seorang bayi yang dianggap 'cacat'. Saint itu... sepertinya dia tidak sepenuhnya memberikan janji kosong."

Meskipun ia masih membenci konsep "berkah dewa", Ilwa harus mengakui bahwa ramuan ini memberinya waktu tambahan.

Tubuhnya yang sebelumnya terasa seperti penjara yang berkarat, kini terasa seperti penjara yang baru saja diminyaki.

"Satu tahun," pikir Ilwa teringat ancaman neneknya, Elisa.

"Aku punya waktu satu tahun sebelum Elisa memisahkanku dari ibuku dan membuangku ke barak pelayan. Dengan obat-obat ini sebagai penopang, aku harus menemukan cara untuk menghancurkan 'gembok' ini dari dalam sebelum hari itu tiba."

Ia menatap ibunya yang sedang merapikan mangkuk obat.

Elara tampak begitu bahagia melihat perkembangan kecil pada anaknya, tanpa menyadari bahwa bayinya sedang menyusun rencana perang internal melawan hukum alam itu sendiri.

Mata Ilwa berkilat di bawah sinar sore; ramuan pahit itu mungkin tidak menyembuhkannya, tetapi ia telah memberikan "api" baru bagi sang jenius untuk terus bertahan.

Dunia mungkin menganggapnya lemah, namun dengan sisa-sisa ilmu dari kehidupan pertamanya dan dukungan sumber daya keluarga Duke, Ilwa mulai melihat celah kecil di dinding yang menguncinya.

Perjalanan masih panjang, namun setidaknya, hari ini ia tidak lagi merasa seperti bayi yang menunggu ajal.

Sore hari di kediaman Duke Eldersheath selalu membawa suasana yang melankolis. Cahaya matahari yang mulai meredup, menyelinap masuk melalui celah-celah jendela besar, membiaskan warna jingga keemasan yang menari di atas lantai marmer.

Di dalam kamarnya yang sunyi, Ilwa perlahan membuka matanya.

Ia baru saja terbangun dari tidur siang yang cukup lelap—sebuah kemewahan bagi jiwa yang biasanya selalu waspada seperti dirinya.

Namun, ada yang berbeda kali ini.

Saat ia mencoba menggerakkan jemari tangannya, rasa berat yang biasanya membelenggu setiap persendiannya seolah sedikit terangkat.

Tubuhnya terasa hangat, sebuah sensasi nyaman yang menjalar dari perut hingga ke ujung kepala.

"Apakah ini efek dari ramuan pahit itu?"batin Ilwa sambil menatap langit-langit kamar yang dihiasi ukiran bunga lili.

"Akar Mandragora dan Daun Glacialis itu... sepertinya mereka bekerja lebih baik dari yang kuduga. Gembok di tubuh ini belum terbuka, tapi setidaknya rantainya tidak lagi mencekik sarafku seerat kemarin."

Merasakan kondisi fisiknya yang sedang berada di titik prima—untuk ukuran bayi yang sakit—Ilwa menyadari bahwa ini adalah kesempatan emas.

Ia tidak boleh membuang waktu. Dalam dunia yang kejam ini, setiap detik tanpa kekuatan adalah kerentanan.

---

Ilwa memejamkan matanya kembali. Ia mulai mengatur napas bayinya yang pendek menjadi ritme yang dalam dan teratur.

Inilah awal dari teknik **Meditasi Koneksi Alam** yang pernah ia kembangkan di kehidupan pertamanya.

Ia mulai memvisualisasikan kegelapan di dalam dirinya.

Dalam benaknya, ia melihat tubuhnya bukan sebagai daging dan darah, melainkan sebagai sebuah bejana yang retak.

Ia mulai memanggil mana yang bertebaran di udara kamar—partikel-partikel energi murni yang tak kasat mata bagi manusia biasa.

"Datanglah..."serunya dalam hening jiwanya.

Secara perlahan, udara di sekitar ayunan Ilwa mulai bergetar halus.

Mana alam yang tertarik oleh gravitasi mental Ilwa mulai mendekat.

Proses ini sangat rumit; Ilwa harus menyaring mana tersebut, membuang kotorannya, dan hanya mengambil intisari yang paling murni agar tidak merusak sirkuit tubuh bayinya yang masih sangat rapuh.

Namun, saat partikel mana itu mulai menyentuh permukaan kulitnya, hambatan itu muncul kembali. **Aura-Lock Syndrome**. Penyakit itu bereaksi seperti dinding baja yang dingin.

Setiap kali Ilwa mencoba memasukkan mana ke dalam pori-porinya, ia merasakan sensasi seperti ditusuk oleh ribuan jarum es yang membeku.

*Argh... sakit sekali!* Ilwa merintih dalam hati.

Keringat dingin mulai membasahi dahi mungilnya.

Tubuhnya yang tadi hangat, kini perlahan mendingin karena tekanan energi yang tertahan di permukaan kulit.

Wajah bayinya memerah, giginya—yang bahkan belum tumbuh—terkatup rapat menahan siksaan yang bisa membuat orang dewasa sekalipun pingsan.

*Jangan berhenti! Jika aku menyerah sekarang, aku akan selamanya menjadi sampah yang dibuang oleh keluarga ini!*

---

menggunakan teknik "pusaran" untuk memutar mana di permukaan dinding *Aura-Lock*-nya, mencari celah sekecil mikron yang mungkin terbuka akibat efek obat-obatan sebelumnya.

Rasa sakitnya semakin menjadi-jadi; seolah-olah otot-ototnya sedang ditarik ke berbagai arah dan tulang-tulangnya diperas habis-habisan.

Tiba-tiba, *krak!*

Bukan suara fisik, melainkan suara di dalam kesadarannya. Seberkas energi hangat berhasil menembus dinding penghalang tersebut.

Satu tetes mana murni masuk, diikuti oleh tetesan lainnya.

Ilwa segera menangkap energi itu dan menggiringnya menuju pusat ulu hatinya.

Ia memutar energi tersebut dengan kecepatan tinggi, memadatkannya, menekannya, hingga mencapai titik jenuh.

Di pusat tubuhnya, sebuah percikan cahaya muncul.

Cahaya itu awalnya redup, namun perlahan mengeras dan membentuk bentuk geometris yang sempurna.

**Mana Crystal.**

Ilwa membuka matanya dengan napas yang terengah-engah.

Matanya yang jernih berbinar saat ia melihat ke arah tangannya.

Di udara di sekitarnya, butiran-butiran cahaya kecil berwarna biru kehijauan menari-nari, seolah-olah menyambut tuan baru mereka. Butiran itu adalah sisa mana yang berhasil ia jinakkan.

*Aku berhasil...* Ilwa ingin berteriak kegirangan, namun yang keluar hanyalah suara "Guggg... aaahhh" yang lemah.

Ia bisa merasakannya sekarang. Di dalam dadanya, terdapat sebuah kristal kecil seukuran biji gandum yang berputar perlahan. Itulah sumber kekuatannya, bukti bahwa ia adalah seorang praktisi sihir sekali lagi.

Namun, kegembiraannya sedikit terusik. Ia menyadari bahwa cahaya dari kristal mananya terkadang meredup, lalu terang kembali, seolah-olah sedang berjuang melawan kegelapan yang mengepungnya.

Penyakit *Aura-Lock* itu masih di sana, terus mencoba menekan kristal yang baru lahir itu agar hancur kembali.

"Kristalnya masih tidak stabil,"Ilwa mengamati dengan dahi berkerut.

"Penyakit ini seperti parasit yang terus menghisap energinya. Kekuatanku saat ini mungkin hanya sepuluh persen dari apa yang seharusnya bisa kucapai pada tahap ini. Tapi... ini sudah lebih dari cukup."

Bagi Ilwa, kristal yang tidak stabil ini adalah senjata pertamanya.

Meskipun lemah, meskipun sering meredup, ini adalah pintu menuju kemungkinan yang tak terbatas.

Ia tidak lagi hanya seorang bayi yang menunggu nasib; ia adalah seorang penyihir yang sedang dalam masa pemulihan.

Sore itu, di bawah cahaya senja yang memudar, Ilwa tersenyum kecil di dalam ayunannya.

Sebuah senyuman yang penuh dengan misteri dan ancaman bagi siapa pun yang berani meremehkannya.

Fondasi untuk membalas dendam telah diletakkan, dan tak lama lagi, gembok yang mengunci tubuhnya ini akan ia hancurkan menjadi debu.

bersambung...

1
Orimura Ichika
oke sih
Ilwa Nuryansyah
terimakasih banyak 😄😄
black_rose
Karyamu masterpiece teruskan dan semagattt(っ´▽`)っ
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!