NovelToon NovelToon
Jangan Cintai Aku, Tuan Muda!

Jangan Cintai Aku, Tuan Muda!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Teen
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Lana hanyalah gadis desa bersahaja yang membawa koper tua ke ibu kota demi sebuah cita-cita. Namun, ia tak menyangka bahwa beasiswa dari paman jauhnya datang dengan "syarat" tak tertulis: tinggal satu atap dengan tujuh pria elit di sebuah penthouse mewah.

​Arka sang CEO dingin, Bumi si dokter lembut, hingga Kenzo sang aktor idola—ketujuh sahabat ini memiliki dunia yang terlalu berkilau bagi Lana. Awalnya ia dianggap gangguan, namun perlahan kepolosan Lana memicu persaingan panas di antara mereka. Saat perjanjian persahabatan mulai retak demi satu cinta, siapakah yang akan Lana pilih? Ataukah ia hanya bidak dalam permainan para Tuan Muda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misteri Api di Atas Kaca

Pagi berikutnya di penthouse terasa lebih sunyi, namun bagi Lana, setiap sudut ruangan ini masih menyimpan misteri yang menakutkan. Kejadian microwave kemarin benar-benar membuatnya trauma menyentuh benda apa pun yang berbahan logam atau kaca. Namun, rasa lapar dan keinginan untuk berguna bagi para "kakaknya" jauh lebih besar daripada rasa takutnya.

Lana bangun sangat pagi, bahkan sebelum matahari benar-benar menyengat jendela kaca raksasa di ruang tengah. Ia ingin membuatkan sarapan sederhana sebagai tanda terima kasih. Di dapur, ia menemukan sekantong beras yang tampaknya baru saja dibeli oleh asisten rumah tangga yang datang sebentar kemarin sore.

"Lana mau masak nasi goreng aja buat Kak Arka sama yang lain," gumamnya penuh semangat.

Lana sudah mencuci beras dan menyiapkannya. Sekarang, masalah utamanya adalah menggoreng. Ia melihat ke arah meja dapur yang terbuat dari batu hitam mengilap. Di sana, tertanam sebuah permukaan kaca hitam persegi panjang yang sangat halus. Tidak ada tungku, tidak ada tempat untuk menaruh kayu bakar, bahkan tidak ada besi penyangga seperti kompor gas di rumahnya.

"Loh? Terus Lana masaknya di mana?" Lana menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari pemantik api atau korek gas yang biasa ia gunakan. Nihil. Dapur ini terlalu bersih, terlalu steril, seolah-olah tidak pernah ada api yang boleh menyentuh udara di sini. Lana mencoba meraba permukaan kaca hitam itu. Dingin.

"Apa apinya di dalem kaca ini ya? Tapi gimana cara ngeluarinnya?"

Lana mulai menekan-nekan permukaan kaca itu dengan telapak tangannya, berharap ada percikan api yang muncul. Ia mencoba mengusap-usapnya, lalu mengetuk-ngetuknya dengan jari. "Permisi... Api? Keluar dong, Lana mau masak," bisiknya polos, seolah sedang berbicara dengan makhluk halus.

"Lo ngapain sih, Lan? Lagi ritual manggil jin dapur?"

Lana terlonjak kaget sampai hampir menjatuhkan sutil kayu yang ia pegang. Ia berbalik dan menemukan Arka berdiri di sana, hanya mengenakan celana jogger abu-abu dan kaos tanpa lengan yang memperlihatkan otot bisepnya yang kokoh. Rambutnya berantakan khas orang baru bangun tidur, namun auranya tetap terasa mengintimidasi sekaligus memikat.

"Eh, Kak Arka... Maafin aku, Kak. Lana mau masak nasi goreng, tapi Lana bingung... apinya nggak ada. Di mana ya Kak apinya?" tanya Lana dengan mata bulat yang penuh kebingungan.

Arka berjalan mendekat, langkah kakinya tidak bersuara di atas lantai marmer. Ia menatap permukaan kaca hitam itu, lalu menatap Lana yang tampak sangat mungil di samping meja dapur yang tinggi.

"Apinya nggak bakal keluar kalau cuma lo elus-elus kayak gitu, Lan. Emangnya ini lampu ajaib?" Arka terkekeh pelan, suaranya yang berat di pagi hari terdengar sangat seksi. "Ini namanya kompor tanam induksi. Teknologi terbaru, nggak pakai api biru yang nyambar-nyambar kayak di kampung lo."

"Nggak pakai api? Terus panasnya dari mana, Kak?" Lana benar-benar tidak habis pikir. Baginya, memasak tanpa api adalah hal yang mustahil, sama seperti hujan tanpa awan.

Arka tidak langsung menjawab. Ia justru melangkah lebih dekat, masuk ke dalam ruang pribadi Lana hingga punggung Lana terhimpit di antara meja dapur dan tubuh tegap Arka. Arka berdiri di belakang Lana, persis seperti posisi Rian kemarin, namun kali ini terasa lebih mendominasi.

"Gue ajarin, dengerin baik-baik ya," ucap Arka.

Arka mengulurkan tangannya yang panjang, melingkupi tangan kanan Lana yang sedang memegang sutil. Ia menuntun tangan Lana menuju sebuah simbol lingkaran kecil di atas kaca hitam itu.

"Sentuh yang ini. Ini tombol power-nya. Tekan agak lama sampai bunyi," bisik Arka di dekat telinga Lana.

Lana menekan tombol itu sesuai tuntunan Arka. Tit! Sebuah lampu merah kecil menyala di bawah permukaan kaca.

"Nah, sekarang lo pilih tungku mana yang mau lo pakai. Yang depan atau yang belakang? Gue saranin yang depan aja biar lo nggak kejauhan," lanjut Arka. Tangannya masih belum lepas dari tangan Lana. Ia justru menggeser jemari Lana ke arah simbol tambah (+) dan kurang (-).

"Tinggal lo geser aja jarinya di sini buat atur suhunya. Makin ke kanan, makin panas. Gampang kan?"

Lana merasakan jemari Arka yang hangat dan sedikit kasar di bagian telapaknya menekan jari-jarinya. Ia merasa dadanya sesak karena jarak mereka yang sangat intim. Namun, di dalam kepalanya, Lana hanya berpikir: Kak Arka baik banget, dia sayang banget sama Lana kayak adiknya sendiri.

"Tapi Kak, kok permukaannya tetep item? Nggak merah membara gitu?" tanya Lana, mencoba mengalihkan rasa gugupnya.

Arka tersenyum tipis. Ia meletakkan telapak tangan Lana yang lain tepat di atas area yang mulai memanas, namun tetap menjaga jarak aman agar tidak terbakar. "Coba lo rasain pelan-pelan. Ada hawa panasnya, kan?"

Lana memejamkan mata, merasakan gelombang hangat yang perlahan menyentuh telapak tangannya. "Iya, Kak... anget. Kayak... kayak pelukan Ibu."

Arka tertegun sejenak mendengar ucapan polos itu. Ia menatap puncak kepala Lana yang wangi sampo jeruk murahan, namun entah kenapa terasa lebih harum daripada parfum jutaan rupiah milik pacar-pacar temannya. Arka mempererat genggamannya di tangan Lana, membawa tangan gadis itu untuk meletakkan wajan di atas kompor.

"Inget ya, Lan. Walaupun nggak kelihatan apinya, ini tetep panas. Lo jangan ceroboh. Gue nggak mau tangan lo yang mulus ini kena luka bakar gara-gara lo nggak fokus," Arka memberikan peringatan dengan nada "Gue-Lo" yang tegas, namun ada nada protektif yang sangat kental di sana.

"Iya, Kak Arka. Lana janji bakal fokus. Makasih ya, Kakak udah sabar banget ngajarin Lana yang bego ini," ujar Lana tulus sambil menoleh sedikit ke belakang.

Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa senti. Arka bisa melihat setiap helai bulu mata Lana yang lentik dan binar matanya yang jujur. Arka merasa tenggorokannya kering. Ia ingin sekali mencium kening gadis ini, atau mungkin lebih, tapi ia sadar Lana masih menganggapnya sebagai "Kakak" pelindung.

"Lo nggak bego, Lan. Lo cuma baru tahu aja," gumam Arka. "Yaudah, lanjutin masak nasi gorengnya. Gue mau mandi dulu. Kalau udah mateng, panggil gue. Jangan sampai lo gosongin ya, awas lo kalau nggak enak!"

"Pasti enak dong, Kak! Lana kan jago masak nasi goreng!" seru Lana penuh percaya diri.

Arka mengacak rambut Lana sekali lagi, sebuah gerakan yang sudah menjadi kebiasaannya sejak Lana tiba. "Gue pegang omongan lo. Jangan bikin gue kecewa, bocah."

Arka berjalan menjauh dengan gaya santai, namun sebenarnya jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia melewati ruang makan dan berpapasan dengan Ezra yang baru keluar dari kamar dengan handuk tersampir di bahu.

"Ciee, pagi-pagi udah sesi privat di dapur, Ar? Gak asik lo, curi start mulu," ledek Ezra dengan suara seraknya.

Arka hanya melirik Ezra dengan tajam. "Berisik lo, Zra. Sana mandi, bau lo ganggu selera makan gue."

"Halah, bilang aja lo takut kesaing sama gue," balas Ezra sambil terkekeh sinis. "Gue liat-liat, Lana makin betah ya di sini. Awas lo, jangan sampe lo bikin dia nangis, ntar gue yang ambil alih."

Arka berhenti melangkah, menatap Ezra dengan pandangan mengancam. "Coba aja kalau lo berani touch dia tanpa izin gue. Gue bikin proyek lo mandek semua, mau?"

Ezra mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah namun dengan senyum nakal di wajahnya. "Santai, Bos. Gue cuma bercanda. Galak amat lo kayak macan jagain anaknya."

Sementara itu di dapur, Lana memulai aksinya dengan ceria. Ia menumis bawang merah dan bawang putih yang aromanya langsung memenuhi seisi penthouse. Ia merasa sangat beruntung. Meskipun hidup di antara teknologi yang membingungkan dan pria-pria yang bicaranya "kasar" dengan Gue-Lo, ia merasa sangat disayangi.

Bagi Lana, kehangatan kompor tanam itu sama seperti kehangatan Arka. Sebuah kehangatan yang ia terjemahkan sebagai kasih sayang seorang kakak kepada adiknya yang paling bungsu. Ia tidak sadar bahwa di balik dinding kamar yang tertutup, tujuh pasang mata mulai memperhatikan setiap gerak-geriknya dengan perasaan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar "Kakak-Adik".

1
Bri Anto
sunting mantap
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!