Bela tidak pernah berniat mencari masalah. Ia hanya ingin melarikan diri sejenak dari rumah yang penuh pertengkaran, dari hidup yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Bersama dua temannya, ia masuk ke sebuah klub malam—tanpa tahu bahwa malam itu telah disiapkan untuknya.
Kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan.
Kesadaran berubah menjadi kehilangan kendali.
Sementara itu, seorang pria yang tak dikenalnya juga sedang lari dari hidupnya sendiri—dari tekanan keluarga, tuntutan pernikahan, dan masa depan yang terus dipaksakan. Malam itu hanyalah pengalihan baginya. Bagi Bela, malam itu adalah awal dari segalanya.
Takdir mempertemukan dua orang asing dalam cara yang salah.
Dan dari kesalahan itu, lahir konsekuensi yang tak bisa dihindari.
Sebuah kisah tentang pilihan, manipulasi, dan bagaimana satu malam dapat mengikat dua jiwa—hingga bertahun-tahun kemudian, ketika rahasia itu kembali menuntut jawaban.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranti Septriharaira M.T (202130073), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 : Lima Belas Menit di Kamar Tuan
Jantung Bela mulai berdegup kencang, dentumannya seolah bergema di koridor rumah yang sunyi senyap itu. Berada di dalam satu ruangan yang tertutup dengan lawan jenis di tengah malam buta memberikan atmosfer yang mencekam sekaligus intim. Seolah-olah ruangan itu tengah terbakar oleh api hasrat yang tak kasat mata, meski keduanya sekuat tenaga berusaha menahan diri dan menjaga kewarasan.
Mereka saling diam dalam langkah yang kaku, sampai akhirnya Raka memecah keheningan dengan suara baritonnya yang rendah. "Ke arah atas," ucapnya singkat.
Bela mengerutkan kening. Ia merasa heran, kenapa hanya untuk sekadar ke toilet ia harus diajak mendaki ke lantai atas? Bukannya toilet biasanya tersedia di lantai dasar untuk tamu? Namun, rasa mules yang kembali menyerang membuat Bela memilih untuk membungkam pertanyaannya. Ia hanya mengekor di belakang punggung tegap Raka, melewati deretan lukisan dan pajangan mewah hingga mereka berhenti di depan sebuah pintu besar yang nampak sangat privat.
"Oh, ini WC-nya ya, Pak?" tanya Bela cepat, suaranya sedikit bergetar karena sudah berada di ambang batas pertahanan.
Bela menatap pintu itu dengan saksama. Rasanya aneh jika ini adalah sebuah toilet. Pintu itu lebih pantas menjadi pintu kamar utama, apalagi Raka harus melakukan tap kartu kode untuk membukanya. Namun Bela berusaha berpikir positif.
Begitu kunci elektronik itu berbunyi
'klik'
Raka menoleh sedikit ke arah belakang. "Bukan, ini kamar tidur saya," jawabnya datar.
Jawaban itu seperti sambaran petir. Bela tersentak, refleks mundur satu langkah dengan wajah yang memucat karena takut. Pikirannya langsung melayang ke hal-hal negatif.
'Kenapa dia bawa gue ke kamarnya, di saat istrinya baru aja pergi?'
Raka yang melihat reaksi berlebihan Bela justru tertawa kecil. Tawa yang langka, namun entah kenapa terdengar sedikit mengejek bagi Bela. Bela kembali mendongak, menatap Raka dengan tatapan tajam yang tersembunyi.
'Apa-apaan orang ini! Malah ngajak ke kamar sambil ketawa!' makinya dalam hati dengan dongkol.
"Toilet tamu lagi rusak, terus toilet di kamar satunya kuncinya dibawa sama Melani," jelas Raka kemudian, suaranya kini lebih lembut seolah ingin meredakan ketakutan Bela.
"Ohh... hehehe. Iya, Pak. Nggak apa-apa ya, kan, Pak?" tanya Bela memastikan, rasa mulasnya seolah sedikit mereda akibat kejutan jantung sebelumnya.
Bukannya menjawab, Raka malah melangkah masuk lebih dulu ke dalam kamarnya yang luas. Meski diliputi keraguan yang hebat, Bela terpaksa mengekor masuk. Namun sebagai bentuk pertahanan diri, ia membiarkan pintu kamar tetap terbuka lebar. Setiap langkah yang ia ambil di atas karpet tebal itu membuat jantungnya terasa mau copot. Tangannya dingin, dan kakinya terasa gemetar saat melewati tempat tidur king size yang tertata sangat rapi.
Raka membukakan pintu toilet di sudut kamar dan Bela dengan sigap bergegas masuk. Namun tepat saat pintu akan ditutup, tangan kekar Raka menahan daun pintu itu. Bela mematung, ketakutan kembali menyergapnya.
"Kamu mau gelap-gelapan?" tanya Raka datar.
Barulah Bela sadar bahwa lampu toilet belum menyala. Belum sempat ia bergerak, Raka sudah beralih posisi. Tubuh kekar pria itu seolah merengkuh setengah tubuh Bela dari samping, begitu dekat sampai aroma parfum maskulin Raka dan aroma tubuh Bela seakan bercampur di udara yang sempit.
Raka mendadak merasa dejavu. Aroma ini begitu akrab. Raka sengaja tidak masuk sepenuhnya ke dalam toilet untuk menjaga sopan santun, namun lengannya yang kokoh terjulur melewati pundak Bela untuk menekan tombol lampu di balik dinding dalam. Posisi itu membuat Bela seakan-akan berada dalam kungkungan dada bidang Raka. Bela terpaku, napasnya tertahan saat merasakan panas dari tubuh pria itu.
Usai menyalakan lampu, Raka menarik lengannya dan memberikan senyum simpul yang sulit diartikan.
'Artinya apa, ya?' batin Bela bingung. Ia hanya bisa membalas dengan senyum kikuk sebelum akhirnya masuk ke dalam dan mengunci pintu rapat-rapat.
Bela menghela napas lega. Namun, nasib sial belum beranjak. "Ah, sial!" bisik Bela pelan. Perutnya yang tadi melilit hebat kini malah sembelit. Alhasil, ia terjebak di dalam sana selama hampir lima belas menit. Meski merasa belum tuntas, Bela memaksa diri untuk segera keluar karena sadar ia sudah terlalu lama di kamar pribadi orang lain.
Begitu ia keluar dari toilet, ruangan itu nampak sepi. Raka tidak terlihat. Bela mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Matanya tertuju pada sebuah foto besar yang menggantung tepat di atas kepala tempat tidur, yakni foto pernikahan Raka dan Melani yang tampak sangat serasi dan berkelas. Kamar itu begitu rapi dan nyaman, sampai-sampai Bela berpikir bahwa siapapun yang tinggal di sini pasti akan merasa sangat betah.
'Tik!'
Suara pintu kamar yang terbuka mendadak membuat Bela meloncat kecil. Raka muncul dengan wajah yang nampak panik. Tanpa aba-aba, Raka menutup pintu dan langsung menguncinya dari dalam.
Bela terperanjat. Hari ini rasanya seperti naik roller coaster, emosi bersama pria ini. Raka melangkah lebar mendekati Bela dengan tatapan intens. Bela yang ketakutan terus mundur hingga kakinya menyentuh tepian kasur empuk di belakangnya. Ia jatuh terduduk, dan Raka terus merangsek maju hingga membungkuk tepat di atas tubuh Bela.
Sebelum Bela sempat berteriak, tangan besar Raka sudah membungkam mulutnya dengan kasar. Gerakan itu membuat Bela jatuh terbaring sepenuhnya di atas kasur dengan posisi setengah badan, sementara Raka menumpu tubuhnya tepat di atas Bela dengan tangan yang masih membekap mulutnya.
Dalam posisi sedekat itu, Bela kembali merasakan serangan dejavu. Aroma tubuh ini, posisi ini, dan tekanan tangan ini. Semuanya terasa begitu identik dengan malam yang ia coba lupakan.
"Ssttt! Adik gue datang! Lu tetap di sini dulu, nggak usah keluar," bisik Raka tepat di telinga Bela.
Bela menyadari cara bicara Raka kini tidak formal lagi. Ternyata dugaannya salah lagi! Raka tidak bermaksud macam-macam, ia hanya ingin menyembunyikan keberadaan Bela dari adiknya. Jika Bela ketahuan keluar dari kamar Raka di tengah malam saat Melani pergi, itu akan menjadi skandal besar.
Setelah lima detik yang terasa seperti selamanya dalam tatapan mata yang dalam, Raka menarik dirinya menjauh. Bela segera bangun dan duduk menunduk, merapikan cardigannya yang sedikit berantakan.
"I-iya, Pak," jawab Bela ragu dengan wajah merah padam.
"Lu pikir apaan sih?" tanya Raka memancing, menyadari wajah asisten istrinya yang sudah seperti kepiting rebus.
Bela mendongak sejenak, lalu membuang muka. Ia terlalu malu untuk menjawab. Raka kemudian keluar kamar sebentar untuk mengecek kondisi adiknya, Dika.
Dika sedang mabuk berat dan baru saja diantar oleh tiga temannya. Teman-temannya tidak berani membawa Dika kembali ke asrama polisi karena sedang ada kunjungan atasan, dan mereka juga takut membawa Dika pulang ke rumah orang tuanya karena ayah mereka adalah seorang tentara yang sangat disiplin dan galak. Opsi terbaik hanyalah rumah kakaknya, Raka.
Usai memastikan Dika terkapar pingsan di sofa lantai bawah, Raka kembali masuk ke kamar. Bela masih setia duduk menunggu di tepi ranjang. Dengan gerakan cepat, Raka membuka lemari, meraih sebuah selimut kecil, dan membawanya ke depan Bela.
Ia merentangkan selimut itu di belakang kepala Bela, membuat kedua tangan Raka berada di kedua sisi pundak Bela. Ia membungkus tubuh kecil Bela dengan selimut itu hingga ke bagian depan, sebuah gerakan yang nyaris terlihat seperti pelukan hangat. Bela harus mengakui, intensitas sentuhan fisik dengan pria ini mulai memancing gairah yang selama ini ia tekan dalam-dalam.
"Ikutin gue," ucap Raka sambil merangkul bahu Bela yang sudah terbungkus selimut.
Bela sempat terdiam, merasa keberatan dengan perlakuan yang terlalu akrab ini. Raka yang peka segera menyadari kegelisahan Bela.
"Sorry, nyamannya bagaimana? Lu nggak boleh kelihatan sama Dika," ucap Raka menawarkan negosiasi.
'Iya juga ya? Posisinya gimana supaya gue nggak kelihatan?' Bela jadi bingung sendiri. Ia akhirnya kembali mendekat, memegang ujung baju kaos oblong yang Raka kenakan dengan jari-jarinya yang gemetar.
"Kayak gitu nggak nyaman," ucap Raka pelan. Ia menarik tangan Bela dan melingkarkan setengah ke pinggangnya sendiri. Posisi itu membuat dada Bela secara tidak sengaja bersentuhan dengan sisi tubuh Raka. Meski Raka merasakannya dengan jelas, ia berusaha tetap waras.
Raka merangkul Bela erat, menutupi tubuh wanita itu dengan selimut agar tidak terlihat dari arah sofa tempat Dika berada. Mereka berjalan keluar dengan langkah cepat.
"Mau ke mana, Bang?" tanya Dika dengan suara parau, mendongak sejenak dari sofa sudut.
"Mau taruh karung di gudang," jawab Raka singkat tanpa menoleh, lalu berbisik di telinga Bela, "Ayo, langkah cepat!"
'Karung? Apa gue segendut itu sampai dikira karung' Bela membatin dengan dongkol.
Hingga akhirnya, mereka berhasil mencapai bagasi mobil di garasi yang remang. Bela segera melepaskan rangkulan Raka dan memberikan selimut itu dengan gerakan ketus.
"Makasih ya, Pak. Ini selimutnya. Kebesaran tuh selimut, saya kayak karung jadinya," sindir Bela sambil memperbaiki cardigan dan bajunya yang berantakan karena drama tadi.
Awalnya Raka kaget dengan perubahan sikap Bela yang mendadak ketus, tapi kemudian ia tertawa kecil saat menyadari bahwa asisten baru tersebut tersinggung disebut "karung".
Raka menatap kepergian Bela dengan senyum yang masih tertinggal di bibirnya, menyadari bahwa malam ini baru saja mengubah banyak hal di antara mereka.