Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kursi yang Kosong
Pagi itu kantor tampak sama sepert biasanya. Komputer menyala, suara keyboard terdengar bersahutan dan aroma kopi memenuhi ruangan.
Satu kursi di dekat jendela tetap kosong. Meja itu milik Naya.
Sudah hampir satu bulan ia tidak masuk kerja sejak kepergian kekasihnya.
Di lantai tertinggi gedung perusahaan, ruang kerja Adrian Wijaya, CEO perusahaan tersebut, dipenuhi cahaya matahari pagi. Ia duduk di kursinya sambil membaca laporan rutin kehadiran karyawan. Hal itu bukan tugasnya, biasanya bagian HR yang menangani, tetapi akhir-akhir ini ia sering memeriksanya sendiri.
Jarum jam menunjukkan pukul 08.45.
Adrian berhenti pada satu nama.
Naya Pramesti, tidak hadir.
“Lagi?” ucapnya pelan.
Ia menutup map itu perlahan.
Tangannya bergerak menekan tombol interkom di meja.
“Pak Arga, bisa ke ruangan saya?”
Tak lama terdengar ketukan pintu.
“Masuk.”
Arga, kepala staf administrasi masuk dengan sikap formal.
“Selamat pagi Pak.” Sapanya sopan.
“Pagi, silahkan duduk.”
Arga duduk dengan hati-hati, mencoba menebak alasan pemanggilan itu.
Adrian tidak langsung bicara. Ia membuka kembali map laporan kehadiran dan memutarnya sedikit ke arah Arga.
“Naya,” kata Adrian singkat. ”Sudah berapa lama tidak masuk?”
Arga menarik napas kecil.
“Hampir sebulan, Pak.”
Ruangan itu menjadi sunyi beberapa detik.
“Kondisinya bagaimana?” tanya Adrian
“Sepertinya belum baik, Pak.“jawab Arga. “Sejak Damar meninggal, Naya seperti menutup diri. Orangtuanya bilang dia jarang keluar kamar. Informasi ini saya tahu dari Nadira, tetangga sekaligus sahabat Naya, Pak.”
Adrian bertanya dengan nada tegas. Tatapannya tak lepas dari wajah lawan bicaranya.
“Dia tidak resign?”
“Tidak Pak.”
Arga menunggu, tetapi Adrian tidak langsung melanjutkan.
“Alamatnya dimana?” tanya Adrian tiba-tiba.
Arga sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu.
Melihat ekspresi bawahannya, dia langsung membenarkan ucapannya, "Maksud saya, mohon konfirmasi alamat lengkap Naya untuk keperluan kunjungan. Pastikan saya menerima detail alamatnya?"
“Baik Pak.”
Adrian mengangguk kecil.
“Terimakasih Pak Arga. Ini cukup, silahkan,”
Arga berdiri dan keluar ruangan, meninggalkan Adrian yang kembali menatap jendela di belakang kursinya.
Di benak CEO itu terlintas bayangan Naya, duduk di meja kerja, fokus pada layar komputer, sesekali tersenyum kecil ketika Damar datang menjemput di lobby kantor.
"Apa tangisan saat itu masih sama?" gumamnya sendiri.
_
Sore harinya, langit mulai berwarna jingga ketika sebuah mobil hitam berhenti di ujung jalan Perumahan Mawar Blok D.
Adrian mematikan mesin mobil.
Ia tidak pernah datang sebelumnya ke tempat itu.
Dari kejauhan, ia melihat rumah dengan pagar putih. Halamannya kecil, dengan pot bunga yang tampak kurang terawat.
Lampu teras belum menyala.
Ia hanya duduk di dalam mobil.
Menunggu.
Sepuluh menit berlalu.
Pintu rumah terbuka perlahan.
Naya keluar.
Langkahnya pelan, seolah setiap gerakan membutuhkan tenaga. Ia mengenakan sweater abu-abu longgar dan celana rumah. Rambutnya diikat sederhana.
Wajahnya jauh berbeda dari Naya yang Adrian kenal di kantor.
Lebih pucat.
Lebih kosong.
"Nay!" ucap Adrian saat melihatnya kembali.
Naya duduk di teras dan diam. Angin sore berhembus lembut. Naya memandang halaman tanpa fokus.
“Dam....” bisiknya pelan.
Ia tersenyum kecil. Lalu tiba-tiba matanya berkaca-kaca.
“Aku capek....”
Air matanya jatuh perlahan.
Adrian menatap dari dalam mobil, dadanya terasa berat. Tangannya menggenggam setir tanpa sadar. Lalu spontan ingin membuka mobilnya, namun tangannya tertahan, "tidak perlu sekarang..." ucapnya pelan.
Ia tidak bermaksud mengganggu. Hanya ingin memastikan. Bahwa Naya masih bertahan.
Tak lama, seorang wanita keluar dari rumah membawa selimut tipis.
“Jangan terlalu lama di luar sayang,”Ibunya menyampirkan selimut di bahu Naya.
Naya mengangguk pelan.
Ibunya kembali masuk setelah memastikan putrinya baik-baik saja.
Naya menatap langit yang mulai gelap.
“Kenapa sepi sekali.....” gumamnya.
Beberapa menit kemudian, ia berdiri dan masuk kembali ke rumah. Pintu tertutup pelan diikuti lampu teras yang menyala.
Adrian menghela napas panjang.
“Syukurlah..... semoga ke depannya lebih baik”katanya hampir tak terdengar.
Ia menyalakan mesin mobil dan pergi perlahan.
_
Keesokan paginya , kantor kembali sibuk.
Adrian kembali memanggil Arga sekali lagi.
“Pak Arga. Tolong perpanjang cuti Naya.”
Arga mengangguk.
“Baik Pak.”
“Pastikan pekerjaannya tetap aman.” Lanjut perintah Adrian.
Setelah Arga keluar, Adrian berjalan menuju jendela. Dari lantai atas, ia bisa melihat hampir seluruh kota.
Namun pikirannya tetap ada satu rumah sederhana di perumahan Mawar.
Arga melangkah dengan tegas , di ruang administrasi dua staf berbicara pelan. Namun masih jelas terdengar.
“Naya belum kembali juga, pasti dia sangat terpuruk.”
“Kasihan ya,,,,aku masih ingat Damar sering jemput dia,”
Percakapan itu berhenti ketika Arga lewat.
“Kembali kerja,” katanya tegas.
Dua staf itu buru-buru duduk tegak kembali, berpura-pura sibuk dengan berkas di meja.
_
Di ruang CEO, Adrian membuka laptop dan menulis email singkat kepada HR.
“Pastikan Naya tidak menerima tekanan pekerjaan. Distribusikan tugasnya sementara.”
Ia berhenti mengetik. Lalu menambahkan satu kalimat lagi.
“Prioritaskan kesejahteraan karyawan.”
Ia keluar sebentar dan melihat kursi kerja Naya masih kosong. "semoga kamu segera kembali," katanya dalam hati dengan senyum yang jarang ia tunjukkan.
Tetapi untuk pertama kalinya sejak berminggu-minggu ia tidak merasa cemas.
Karna ia tahu, pemulihan membutuhkan waktu dan tidak selalu terlihat besar.