Mo Yuyan, 16 tahun—putri angkat Ketua Sekte Abadi, yang dikenal sebagai gadis lembut, patuh, dan selalu menunduk.
Namun, semuanya berubah malam itu ...
Malam ketika dia dituduh mencuri pusaka sekte, dikhianati oleh orang-orang yang dia anggap keluarga … lalu dibuang ke dalam Jurang Pemakan Jiwa untuk mati!
Akan tetapi, Takdir membuatnya kembali!
Bukan sebagai Mo Yuyan yang dulu, melainkan sebagai Mo Yuyan yang baru.
Dimana sosok jiwa asing dari masa ribuan tahun ke depan mengambil alih raganya. Sosok yang dingin, angkuh, cerdas, dan terlalu tenang untuk seorang gadis yang baru menginjak dewasa.
Jiwa itu tersenyum dan mulai menghitung semuanya.
Sekte Abadi bahkan tidak menyadarinya, jika mereka ...
Baru saja membangkitkan seorang 'Ratu Racun' berjiwa psikopat dari masa depan.
"HUTANG INI AKAN AKU TAGIH SEMUANYA! KALIAN SEMUA AKAN MUSNAH!"
"ARRRGHHHH!!!!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 05; Kembali Ke Sekte Abadi!
***
Mo Yuyan memejamkan matanya sambil mengucapkan kata 'keluar', saat membuka matanya, dia sudah berada di luar ruang dimensinya, dimana dirinya sekarang berada di reruntuhan kuno Istana Racun.
Yang membuatnya terasa berbeda adalah, kabut yang berada disekelilingnya terasa lebih jinak.
Duan Xue keluar beberapa detik setelahnya dengan wajah pucat.
Dia melihat penampilan Mo Yuyan yang sudah berubah, seperti pada saat dia menemukan Mo Yuyan dalam jurang itu.
"Jika kamu mati pas sampai di Sekte itu, aku tidak mau tahu ya ,,," ujar Duan Xue kembali.
Mo Yuyan menoleh sambil tersenyum tipis.
"Percayalah kepadaku, Duan .. aku tidak akan mati semudah itu! Lagipula ... jika aku mati, maka kamu adalah orang pertama yang akan aku bawa ke Neraka ... Hahahahaha!"
Duan Xue: "......."
Nenek Du berdiri disamping Mo Yuyan dengan wajah datar, lalu dia membenarkan letak jubah hitam yang dipakainya.
Aura wanta tua itu sangat sulit untuk diprediksi, sehingga tingkat kekuatannya sangat sulit untuk ditebak.
Dari luar dia terlihat masih gagah, padahal usianya sudah mencapai ribuan tahun di dunia itu.
"Nenek benaran mau ikut ke Sekte Abadi?" tanya Duan Xue.
"Tentu saja aku harus ikut! Aku akan memastikaan, jika cucuku tidak diintimidasi oleh manusia-manusia serakah itu ..." jawab Nenek Du sambil tersenyum misterius.
Mo Yuyan langsung memutar bola matanya, saat mendengar jawaban Nenek Du.
"Jangan terlalu dramatis, Nek ..." ujar Yuyan.
Nenek Du menatap Mo Yuyan dengan tatapan lembutnya.
"Kamu masih terlalu muda untuk tahu seberapa busuk dunia ini, Yuyan ..." ujar Nenek Du.
Mo Yuyan menyeringai tipis ...
"Oh, baiklah ... aku tahu, Nek ..."
☣
Mereka melakukan perjalanan ke Sekte Abadi melalui jalur tercepat, yang memakan waktu sekitar setengah hari.
Mereka berjalan melewati lembah, melintasi hutan lebat, dan akhirnya memasuki jalur batu yang dipenuhi oleh pilar berwarna putih dengan ukiran awan.
Begitu mereka smpai di depan gerbang Sekte, Mo Yuyan berhenti melangkah.
"Kenapa berhenti?" tanya Duan Xue.
Mo Yuyan menatap gerbang itu dengan wajah datar.
"Kenapa aku seperti mencium bau da-rahku sendiri di sekitar Sekte ini? Apakah selama ini mereka mengambil da-rahku untuk melakukan sesuatu?" ujar Mo Yuyan dengan nada dingin.
Tubuh Duan Xue menegang, saat dia mendengar ucapan Mo Yuyan.
Nenek Du menyentuh bahu Mo Yuyan dengan lembut.
"Sudahlah, tenangkan dirimu ... Kta bisa mencari tahu nanti. Untuk sekarang, masuklah kesana layaknya Mo Yuyan yang lemah, bukan sebagai Ratu Racun ..." ujar Nenek Du mengingatkan Mo Yuyan.
Mo Yuyan menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Baiklah, Nek ...."
Lalu dia menoleh ke arah Duan Xue.
'Kamu tidak mau masuk?" tanya Mo Yuyan.
"Kenapa aku harus ikut masuk? Tempat itu adalah tempat yang palng tidak aman di dunia ini ..." jawab Duan Xue.
Mo Yuyan mendekat ke arah Duan Xue, lalu dia menatap segel budak yang ada dileher pemuda itu.
"Bukankah kamu juga masih ada urusan dengan Sekte Abadi?" tanya Mo Yuyan.
"I-iya juga, sih ..." jawab Duan Xue, canggung.
"Kalau begitu, kita berada didalam kapal yang sama sekarang ,,," ujar Mo Yuyan.
Duan Xue memutar matanya, malas.
"Cih! Siapa yang ingin satu kapal denganmu?! Kapalmu itu bocor halus, tahu!" sahut Duan Xue.
Mo Yuyan menyeringai tipis, saat mendengar jawaban Duan Xue.
"Tenang saja ... Ada Nenek yang akan menambal kebocoran itu ... Hahahaha!"
"Dasar gadis gila!"
"Terima kasih pujiannya ..."
☣
Begitu mereka masuk ke dalam wilayah Sekte Abadi, beberapa murid Sekte yang berjaga disana langsung menoleh.
Mata mereka terbeliak sempurna, saat melihat dengan jelas gadis yang berjalan di depan itu.
"I-ITU A-ANAK KETUA SEKT~?!!"
'M-MO ... YUYAN ...?!"
"Bukankah dia dikabarkan sudah tiada?"
Mo Yuyan langsung meminkan peran 'gadis lemah', saat mendengar bisik-bisik itu.
Dia menjatuhkan tubuhnya, napasnya pun terdengar tersengal-sengal.
Brugh!
"T-tolong aku ..."
"A-aku ... masih ... hidup ..."
Duan Xue yang melihat akting Mo Yuyan hampir saja terjungkal ke arah depan, untung saja lenganya ditahan oleh Nenek Du.
"Aktingnya ,,. Terasa nyata ..." gumam Duan Xue, yang hanya bisa didengar oleh Nenek Du.
"Hey, kalian! Bantu dia cepat! Gadis ini aku temukan di jurang dalam keadaan yang tidak baik. Dia masih hidup ..." ujar Nenek Du yang sudah berjalan ke arah Mo Yuyan.
Salah satu murid Sekte menatap Nenek Du curiga.
"Anda siapa?" tanya murid itu, waspada.
"Saya hanyalah seorang Tabib kelana ... Nama saya Du," jawab Nenek Du sambil tersenyum.
Mo Yuyan menundukkan kepalanya, karena dia sedang menahan tawanya, saat melihat akting Nenek Du.
"Baiklah ... kalian tunggu sebentar disini, kami akan lapor dulu kepada Ketua Sekte!" ujar salah satu murid yang siap berlari.
"Tunggu dulu!" ujar Mo Yuyan mencegahnya.
Mo Yuyan membuat tubuhnya gemetar, seolah-olah dia ketakutan.
"Jangan kabarkan kepada mereka jika aku kembali ... Bawa saja aku ke Aula Utama Sekte ..." ujar Mo Yuyan dengan suara penuh harap.
Beberapa murid yang ada di sana saling menatap, lalu mereka menganggukan kepalanya.
Saat mereka berjalan menuju ke aula utama, Duan Xue melirik penuh tanya ke arah Mo Yuyan.
"Kenapa kamu melarang mereka melaporkan kedatanganmu? Kamu takut, ya?" tanya Duan Xue.
Mo Yuyan menjawab pertanyaan Duan Xue dengan suara berbisik.
"Bukan begitu ... Aku hanya ingin menikmati wajah panik mereka semua saat melihatku masih hidup ..."
Duan Xue: " .... "
☣
Tidak lama kemudian, kedatangan mereka membuat aula utama Sekte Abadi gempar.
Para Tetua langsung berlarian ke dalam aula utama, begitu pula para murid Sekte itu.
Dan di kehadiran terakhir, muncullah seorang pria paruh baya yang masih tampan memakai jubah putih keemasan.
Wajah tampannya terlihat tegas, dan tatapannya sangat dingin.
Dialah Ketua Sekte Abadi, ayah angkat Mo Yuyan.
Mo Yuyan menatap pria paruh baya itu dengan tatapan tajam, karena dia tidak memandang pria itu sebagai ayahnya sekarang, tapi sebagai seseorang yang mungkin tahu rahasia dibalik kematian dirinya.
Ketua Sekte Mo melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah Mo Yuyan.
"Y-Yuyan ....?!?"
"A-ayaaah ..."
Suasana aula menjadi hening, saat melihat pertemuan anak angkat dan ayahnya itu.
Beberapa Tetua Sekte saling bertukar pandang, seolah-olah menanyakan satu hal yang sama.
"Bukankah jasadnya sudah ..." bisik salah satu Tetua Sekte kepada rekannya.
Rekannya langsung menginjak kakinya dengan kencang, tanda agar dia menutup mulutnya.
Ketua Mo menatap Nenek Du ...
"Saya dengar, Anda yang telah menyelamatkan putri saya?" tanya Ketua Mo.
"Benar sekali, Tuan ..." jawab Nenek Du sambil membungkukkan tubuhnya.
"Dimana Anda menemukan putri saya?" tanya Ketua Mo kembali.
"Saya menemukan dirinya sekarat di bawah jurang 'Pemakan Jiwa', Tuan ..." jawab Nenek Du.
Ketua Mo terkejut mendengar jawaban Nenek Du, lalu dia menoleh kembali ke arah Mo Yuyan.
"Apakah itu benar, Yuyan? Kenapa kamu sampai bisa berada disana? Apa yang ayah tidak ketahui disini?" tanya Ketua Mo bertubi-tubi.
Sebelum mengangkat kepalanya, Mo Yuyan berusaha untuk mengendalikan emosinya, agar matanya kembali normal.
"A-aku ... Aku dijebak ..." jawab Mo Yuyan dengan suara terbata.
"Dijebak?! Dijebak oleh siapa, Yuyan?!" tanya Ketua Mo dengan tubuh menegang.
Mo Yuyan menggigit bibirnya, seolah-olah dia sedang merasa ketakutan.
"A-aku ... Aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas, ayah .... A-aku ..."
Nenek Du langsung menyela mereka dengan penjelasannya.
"Gadis ini terkena racun 'Hilang Ingatan', Tuan. Jadi, banyak hal penting yang ada diotaknya telah terhapus oleh racun tersebut ..." ujar Nenek Du, menjelaskan dengan kepala tertunduk.
Ketua Sekte Mo mengepalkan tangannya dengan erat, berusaha untuk meredam emosinya.
"Siapa yang berani melakukan hal keji itu terhadap ..."
Sebelum dia menyelesaikan ucapannya, pintu aula Sekte terbuka dengan keras.
Brak!
Seorang gadis cantik seusia Mo Yuyan masuk dengan memakai pakaian berwarna putih.
Rambut indahnya tergerai, dan ada sebuah gambar bunga teratai kecil di tengah-tengah alisnya.
Dia tersenyum lembut ke arah semua orang yang ada disana.
"Kenapa aula utama sangat ramai sekali hari ini, Ketua Mo? Ada apa sebenarnya?" tanya gadis itu dengan senyuman diwajahnya.
Melihat kedatangan gadis itu, para murid Sekte menunduk hormat ke arahnya.
"Kakak Senior Lianhua!"
Mo Yuyan menyipitkan matanya tidak senang, dia merasa ada yang aneh dengan gadis itu.
"Lianhua ...?"
Ketua Sekte Mo menoleh ke arah gadis itu.
"Kamu sudah datang, Lianhua ..."
Lianhua melangkah mendekati Mo Yuyan dan Ketua Sekte Mo, dibalok senyuman lembutnya, ada sebuah kilatan kecil di matanya.
Kilatan kecil antara terkejut dan ... takut.
"Mo .... Yuyan ...?" panggilnya dengan suara berbisik.
"Ya, ini aku ... Kakak Senior Lianhua ..." jawab Mo Yuyan dengan suara lemah.
Lianhua mendekat, lalu dia meraih tangan Mo Yuyan dengan lembut,
"Syukurlah kamu masih hidup dan baik-baik saja ... saat mendengar kabar kamu telah tiada, aku merasa sangat sedih ..." ujar Lianhua dengan wajah prihatin.
Mo Yuyan tersenyum tipis, saat melihat akting gadis didepannya itu.
"Benarkah?" tanya Mo Yuyan.
"Tentu saja benar. Bahkan aku berdoa tiap malam, agar kamu selamat diluar sana ..." jawab Lianhua.
"Kalau benar begitu, maka ... Terima kasih, Kakak Senior Lianhua ..." ujar Mo Yuyan.
Duan Xue menatap Lianhua dengan wajah datar, dia sangat benci 'kepalsuan' yang ada di dalam diri gadis itu.
"Gadis itu penuh kepalsuan ..." bisiknya ditelinga Mo Yuyan.
Mo Yuyan menjawabnya dengan suara berbisik juga.
"Tipikal gadis 'Teratai Putih' memang begitu, jadi jangan heran ..."
☣
Malam harinya, Mo Yuyan akhirnya kembali ke Paviliun lamanya.
Namun yang mengejutkan dirinya adalah ... Paviliun itu sudah bukan miliknya lagi!
Di depan gerbangnya ada sebuah papan kayu baru yang bertuliskan:
'PAVILIUN TERATAI SALJU'
Bukan Paviliun Anggrek Hitam miliknya dulu.
Hebat sekali!
Hanya dalam beberapa minggu, semuanya langsung berubah drastis begini.
Mo Yuyan berdiri di sana sangat lama, sehingga suara Nenek Du membuyarkan semua lamunannya.
"Apakah kamu marah?" tanya Nenek Du.
"Tidak, Nek ..." jawab Mo Yuyan sambil tersenyum.
Lalu, Mo Yuyan menunjuk papan kayu yang ada di depan gerbang itu.
"Aku hanya ingin tahu ... siapa yang berani mengganti nama Paviliun milikku ini ..." ujar Mo Yuyan dengan nada dingin.
Duan Xue menyandarkan tubuhnya di depan gerbang kayu.
"Apakah kamu ingin membunuhnya sekarang?" tanya Duan Xue.
Mo Yuyan memiringkan kepalanya sambil menyeringai.
"Dia adalah target pertamaku ... Dan aku akan menghabisinya nanti ..." jawab Mo Yuyan.
Nenek Du hanya tertawa kecil, saat melihat interaksi dua bocah di depannya itu.
"Itu baru cucuku ... Hehehehe!"
☣
Mo Yuyan melangkahkan kakinya masuk ke dalam Paviliun itu, dan semua barang-barang didalamnya sudah ... berubah.
Kasurnya diganti, meja riasnya hilang, bahkan cermin perak pemberian seseorang telah lenyap.
Mo Yuyan menatap datar suasana di dalam Pviliun itu, tangannya mengepal tanda dia sedang mengendalikan emosinya.
Lalu dia menghela napasnya dengan kencang.
"Haaah! Menarik ... Sungguh sangat menarik!" ujar Mo Yuyan.
Duan Xue menatap Mo Yuyan dengan tatapan aneh.
"Apanya yang menarik?" tanya Duan Xue.
Mo Yuyan menyentuh meja disana, jemarinya menyusuri setiap jengkal bentuk meja itu.
"Ternyata ... mereka tidak membunuhku karena benci ..." jawab Mo Yuyan.
Duan Xue mengerutkan keningnya.
"Lalu karena apa?" tanyanya kembali.
"Aku dibunuh karena sudah menghalangi sesuatu ..." jawab mo Yuyan dengan nada dingin.
Nenek Du menganggukkan kepalanya pelan.
"Akhirnya kamu mulai paham, Yuyan ..."
Mo Yuyan berjalan ke arah sebuah lemari kecil disudut ruangan.
Sesampainya disana, dia menekan papan diantara lantai tersebut.
Klik!
Papan itu terbuka, dan memperlihatkan isi di dalamnya.
Duan Xue dan Nenek Du terkejut, saat melihat hal tersebut.
"Kamu ternyata punya ruang rahasia di sini?" tanya Duan Xue.
"Bukan aku ... tapi Mo Yuyan yang asli. Aku hanya akan mengambilnya ..." jawab Mo Yuyan.
Di dalam sana ada sebuah kotak kayu, dan di dalam kotak kayu itu terdapat sebuah kain merah tua dengan simbol Sekte Abadi.
Mo Yuyan membuka lipatan kain itu dengan perlahan.
Di dalam lipatan kain itu terdapat sebuah pecahan giok berwarna putih susu, namun ada garis berwarna ungu tipis di dalamnya.
Nenek Du tercengang melihatnya ...
"I-ini ...."
"Pusaka Sekte ...??"
Mo Yuyan menelan salivanya dengan berat, saat melihat benda itu ditangannya.
Duan Xue mendekat perlahan ke arah Mo Yuyan.
"Aku pernah dengar kabar, jika Pusaka Sekte Abadi menghilang setahun yang lalu ..."
Mo Yuyan mengangkat pecahan giok tersebut, dan giok tersebut tiba-tiba terasa sangat hangat saat menyentuh tangannya.
Mo Yuyan terkejut, seolah-olah giok tersebut mengenali dirinya.
"Jadi, mereka sebenarnya mengincar giok ini ..." gumam Mo Yuyan.
"Dan itu alasan mereka membunuhmu ..." bisik Nenek Du mengingatkan Mo Yuyan.
Mo Yuyan menatap pecahan giok itu sambil tersenyum dingin.
Senyuman yang sangat indah, namun penuh dengan racun.
"Kalau benar begitu ..."
Mo Yuyan menatap ke arah luar jendela, dimana cahaya bulan sedang menerangi seluruh Sekte Abadi malam itu.
"Aku akan membongkar semua kebusukan yang ada di dalam Sekte Abadi ini secara perlahan ..." gumam Mo Yuyan penuh tekad.
"Apakah kamu yakin?" tanya Duan Xue.
"Aku yakin! Aku ingin tahu, apa hubungan tubuh ini dengan Sekte Abadi. Apakah dia benar-benar pemilik asli Sekte ini? Lalu dimana keberadaan orangtuanya? Sampai dia diangkat oleh Kepala Sekte Mo itu ..." jawab Mo Yuyan.
Mo Yuyan menggenggam pecahan giok dengan erat.
"Aku kembali bukan untuk bersantai ..."
"Aku kembali untuk membuat mereka semua ..."
" ... Menyesal, karena sudah terlahir ke dunia ini!"
Nenek Du tersenyum puas, saat mendengar semua ucapan Mo Yuyan.
"Mulai malam ini ..."
"Ratu Racun akan memulai permainannya ..."
☣☣☣