Liana hamil anak pria lain, tapi Morgan—suami kontrak yang selalu ia maki—justru yang menggagalkan aborsinya dan mengaku sebagai ayahnya. 'Hiduplah untuk anak itu,' ucap Morgan dingin, meski hatinya hancur melihat istrinya merindukan pria yang telah membuangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak di Ruang Gelap
Malam di Jakarta tidak pernah benar-benar sunyi, namun di dalam rumah mewah milik keluarga Shine, kesunyian itu terasa mencekam. Liam Shine berdiri mematung di balik jendela kaca setinggi langit-langit, menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip seperti berlian yang terserak. Namun, pikirannya tidak seindah pemandangan di depannya.
Jam dinding menunjukkan pukul 02:15 pagi.
Ini adalah malam ketiga dalam minggu ini Liana belum menginjakkan kaki di rumah. Liam, sang CEO muda yang dikenal bertangan besi di dunia properti, merasa otot-otot lehernya menegang. Sebagai kakak sekaligus pengganti orang tua bagi Liana, ia merasa gagal. Ketegasan yang ia gunakan untuk memimpin ribuan karyawan seolah tumpul saat berhadapan dengan adik perempuannya yang baru menginjak usia 18 tahun itu.
Langkah kaki Liam membawanya menuju kamar Liana. Ruangan itu berantakan; baju-baju bermerek berserakan di lantai, aroma parfum mahal bercampur dengan bau pengap yang asing. Di atas meja rias, sebuah benda persegi panjang menyala. Ponsel Liana tertinggal.
Liam meraih ponsel itu. Jarinya ragu sejenak, namun rasa takut akan keselamatan adiknya mengalahkan privasi. Ia menggeser layar. Tidak terkunci.
"Sialan," desis Liam, suaranya parau karena amarah yang tiba-tiba membuncah.
Layar itu menampilkan percakapan grup dan pesan pribadi yang membuat darah Liam mendidih. Puluhan foto Liana di sebuah kelab malam—The Abyss—tampak jelas. Di sana, adiknya sedang menenggak cairan bening langsung dari botolnya, dikelilingi oleh asap rokok dan pria-pria yang tampak seperti pemangsa. Namun, yang paling menyakiti mata Liam adalah pesan-pesan dari satu nama, Derby.
Derby: Bawa baju yang paling tipis malam ini, Sayang. Aku jemput jam 11. Jangan sampai kakakmu yang sok suci itu tahu.
Liana: Dia sedang sibuk dengan proyek barunya. Dia tidak akan peduli.
Derby: Good. Aku ingin melihatmu 'nakal' malam ini.
Tangan Liam gemetar. Ia meremas ponsel itu hingga buku-buku jarinya memutih, seolah ingin menghancurkan perangkat itu berkeping-keping. Bukan hanya pesan itu yang membuatnya marah, tapi fakta bahwa Derby—seorang pengangguran yang dikenal sebagai berandalan di sekolah Liana dulu—telah meracuni pikiran adiknya hingga sejauh ini.
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil yang meraung terdengar dari halaman bawah. Liam bergegas menuju balkon. Sebuah mobil modifikasi berwarna hitam pekat berhenti di depan lobi. Pintu terbuka, dan seorang gadis turun dengan langkah terhuyung. Itu Liana. Ia mengenakan gaun mini yang sangat terbuka, jauh dari citra adik kecil yang selama ini Liam jaga.
Seorang pria berambut acak-acakkan keluar dari kursi pengemudi. Derby. Pria itu merangkul pinggang Liana dengan posesif, sempat membisikkan sesuatu di telinga gadis itu yang membuatnya tertawa cekikikan sebelum mereka berciuman secara vulgar di depan pintu masuk.
Liam tidak bisa menahannya lagi. Ia berbalik, melangkah keluar kamar dengan langkah-langkah lebar yang menggetarkan lantai marmer koridor.
BRAK!
Pintu utama terbuka sebelum Liana sempat memasukkan kunci. Ia tersentak, hampir terjatuh jika tidak berpegangan pada bingkai pintu. Matanya sayu, napasnya berbau alkohol yang menyengat.
"Masuk," perintah Liam singkat. Suaranya rendah, namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan.
Liana memutar bola matanya, mencoba bersikap acuh tak acuh meskipun tubuhnya oleng. "Oh, hai, Kakakku yang terhormat. Masih bangun jam segini? Tidak ada rapat yang harus kau hadiri?"
"Aku bilang masuk, Liana Shine!" bentak Liam. Suaranya menggelegar di ruang tamu yang luas, membuat asisten rumah tangga yang mengintip dari kejauhan segera menghilang karena takut.
Liana mendengus, ia masuk dan melempar tas desainer-nya ke atas sofa kulit. "Jangan teriak-teriak. Kepalaku sakit."
"Kamu tahu jam berapa ini?" Liam berdiri tepat di depan adiknya, bayangannya yang tinggi besar menyelimuti tubuh mungil Liana. Ia mengangkat ponsel yang tadi ia temukan. "Dan apa-apaan ini? 'Nakal'? Kelab malam? Menenggak vodka seperti air putih? Apa ini yang kau pelajari selama ini?"
Liana tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar kosong dan rapuh. Ia menatap kakaknya dengan mata merah. "Kenapa baru sekarang kau peduli? Selama ini kau hanya peduli pada gedung-gedungmu, pada saham-sahammu! Jangan sok jadi ayah, Kak. Ayah sudah tidak ada! Dia mati dan meninggalkan aku dengan kakak yang kaku sepertimu!"
PLAK!
Suasana seketika hening. Liam terpaku, menatap telapak tangannya sendiri yang baru saja mendarat di pipi Liana. Ia tidak bermaksud melakukannya, tapi rasa frustrasi itu sudah mencapai puncaknya.
Liana memegang pipinya yang mulai memerah. Tidak ada tangisan. Yang ada hanyalah tatapan kebencian murni yang diarahkan pada kakaknya.
"Pukul saja lagi, Kak. Itu yang biasa dilakukan orang hebat sepertimu, kan? Memaksa semua orang mengikuti kemauanmu?" Liana berdesis, suaranya tajam seperti belati. "Aku mencintai Derby. Dia satu-satunya orang yang membuatku merasa hidup, bukan sekadar pajangan di keluarga Shine!"
"Laki-laki itu ... Derby ... dia hanya sampah, Liana!" Liam menunjuk pintu dengan telunjuk yang gemetar karena amarah yang tertahan. "Dia hanya menginginkan uangmu, menginginkan tubuhmu! Dia akan menghancurkanmu!"
"Setidaknya dia tidak mengatur hidupku!" teriak Liana. Ia berbalik dan berlari menuju kamarnya. Suara dentuman pintu yang dibanting terdengar begitu keras, menyisakan kesunyian yang mencekam bagi Liam yang masih berdiri di ruang tamu.
Liam jatuh terduduk di sofa kulitnya. Ia menelungkupkan wajah di kedua telapak tangannya. Ia tahu, jika ini dibiarkan, Liana akan jatuh ke lubang yang tak bisa kembali. Derby bukan sekadar pacar; pria itu adalah racun. Liam butuh seseorang yang tidak bisa dimanipulasi oleh Liana. Seseorang yang cukup kuat untuk menjaga adiknya, namun memiliki integritas yang tak tergoyahkan.
Pikiran Liam melayang pada satu nama. Seorang pria yang ia kenal sejak masa kuliah, pria yang selalu hidup dalam aturan, presisi, dan logika. Seseorang yang dingin, namun mampu melindungi apa yang menjadi tanggung jawabnya.
Liam mengambil ponselnya sendiri. Dengan jari yang masih sedikit gemetar, ia mencari satu nama di kontak yang sudah lama tidak ia hubungi secara personal.
Morgan Bruggman.
Ia menekan tombol panggil. Meski jam menunjukkan pukul 02:45, ia tahu Morgan—si dosen gila kerja itu—mungkin masih terjaga di depan tumpukan jurnal ekonominya.
"Halo, Morgan," ucap Liam saat sambungan terhubung. Suaranya kini terdengar sangat lelah, hampir putus asa. "Maaf menghubungimu jam begini. Aku butuh bantuanmu. Bukan sebagai rekan bisnis, tapi sebagai sahabat."
Di seberang telepon, terdengar suara bariton yang tenang, kaku, namun penuh perhatian. "Ada apa, Liam? Suaramu terdengar kacau."
Liam menatap ke arah kamar Liana yang tertutup rapat. "Hanya kau yang bisa menjinakkan anak ini, Morgan. Aku ingin kau melakukan sesuatu yang gila untukku."
Liam terdiam sejenak, mengambil napas panjang sebelum mengucapkan kalimat yang akan mengubah hidup mereka bertiga selamanya.
"Aku ingin kau menikahi adikku."
Kesunyian panjang terjadi di seberang telepon. Liam tahu, di saat itu juga, badai yang lebih besar baru saja dimulai.
Liam menutup telepon setelah membuat janji temu esok pagi. Di lantai atas, Liana sedang menatap foto Derby di ponsel cadangannya, bersumpah tidak akan pernah tunduk pada kakaknya. Ia tidak tahu bahwa dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, ia akan dipertemukan dengan pria yang akan menjadi penjara sekaligus pelindungnya selama lima tahun ke depan.