Genre: Sistem, Sport, Tactical.
Sub-Genre: Romance, Drama, School, Slice of Life, Friendship.
Arc 1 : Kebangkitan Calon Pelatih Trainee (Chapter 1 — 21) - (22.691 kata)
Arc 2 : Asisten Pelatih yang Diremehkan (Chapter 22 - ... ) - (Ongoing)
Dari gelandang tengah SMA Hangzhou menjadi seorang pelatih muda? Dibekali Sistem Kepelatihan, Xiao Han merajut kembali mimpinya, setelah dokter memvonisnya tak bisa menjadi pesepak bola lagi karena cidera. Mampukah ia menapaki sepak bola sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
Stadion Huanglong kini benar-benar sunyi. Lampu-lampu besar mulai dimatikan satu per satu, menyisakan beberapa titik cahaya di pintu keluar dan area parkir. Bayangan bangunan itu membesar di kejauhan, seperti raksasa yang sedang beristirahat setelah seharian bergemuruh.
Xiao Han dan Shen Yuexi berjalan berdampingan. Langkah Xiao Han pincang, lebih lambat dari biasanya, tapi ia tidak terburu-buru. Di sampingnya, Shen Yuexi juga berjalan lambat, menyesuaikan, seperti yang selalu ia lakukan.
“Kau tidak bertanya apa yang Ye Chen bicarakan denganku?” kata Xiao Han memecah keheningan.
“Kau akan cerita kalau kau mau.” Shen Yuexi menatap lurus ke depan. “Aku tidak perlu bertanya.”
Xiao Han tersenyum kecil. Selalu seperti itu. Selalu.
Mereka melewati pintu keluar utama, melewati stan makanan yang sudah tutup, melewati tempat parkir yang nyaris kosong. Hanya ada beberapa mobil masih terparkir di sudut, mungkin milik petugas kebersihan atau panitia yang belum pulang.
“Han,” Shen Yuexi berhenti tiba-tiba.
Xiao Han menoleh.
“Kau ... kau tidak kecewa?”
“Kecewa tentang apa?”
“Semua analisamu di babak kedua. Aku melihat wajahmu saat di tribun. Kau terlihat kosong, kadang aku heran, ini hanya sepak bola. Tapi ini sama seperti aku dengan karate.”
Xiao Han terdiam. Ia tidak tahu Shen Yuexi bisa membaca wajahnya sejelas itu. Tapi mungkin ia seharusnya tahu. Gadis ini selalu bisa.
“Awalnya aku kecewa,” akuinya. “Aku pikir semua pengalamanku sebagai pemain akan membuat segalanya mudah. Aku pikir dengan hanya pernah menjadi calon bintang, aku bisa langsung menjadi pelatih yang hebat, seperti dalam novel-novel sistem olahraga yang kubaca, tapikan ... itu hanya novel, mana mungkin aku punya sistem.”
Ia menatap stadion di belakang mereka, raksasa yang mulai gelap.
“Tapi hari ini aku belajar sesuatu. Sepak bola tidak bisa dijelaskan hanya dengan formasi dan angka. Ada sesuatu di dalamnya yang tidak bisa diukur statistik tertulis. Dan itu ... itu membuatku lebih tertarik.”
Shen Yuexi menatapnya, tidak menyela.
“Aku gagal hari ini,” lanjut Xiao Han. “Aku tidak membaca perubahan taktik Zhejiang. Aku tidak memprediksi bagaimana Guangzhou bisa runtuh. Aku hanya mencatat apa yang terjadi, tanpa mengerti mengapa. Tapi aku tahu, suatu hari nanti, aku akan mengerti. Bukan karena sistem. Tapi karena aku belajar.”
“Kau berubah,” kata Shen Yuexi.
“Kau sudah bilang itu tadi.”
“Bukan begitu maksudku.” Shen Yuexi menggenggam tangannya. Tangannya dingin, atau mungkin tangan Xiao Han yang dingin, ia tidak tahu. “Dulu, saat kau gagal, kau akan menangis. Saat kau cedera, kau akan diam di kamar berhari-hari. Tapi sekarang, kau bilang ‘aku akan belajar’ dengan wajah yang ... yang tidak aku kenal.”
Xiao Han tidak melepaskan genggaman itu. “Wajah apa?”
“Wajah orang yang sudah menemukan sesuatu yang tidak bisa diambil darinya.”
Angin malam bertiup lagi. Rambut Shen Yuexi yang pirang panjang berkibar pelan. Wangi vanilla yang selalu ia kenakan sejak kecil terbawa angin, mengelilingi mereka di keheningan stadion yang mulai gelap.
“Yue,” kata Xiao Han.
“Hmm?”
“Terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Untuk semuanya. Untuk datang ke Beijing. Untuk menemukan informasi tentang Hangzhou Xuejun. Untuk membawaku ke sini. Untuk ... untuk tidak pernah berhenti percaya bahwa aku bisa.”
Shen Yuexi tersenyum. Senyum yang sama seperti di ruang inap rumah sakit dua bulan lalu, saat ia membasuh luka Xiao Han dengan kain hangat. Senyum yang selalu ada, di setiap sudut gelap perjalanan Xiao Han.
“Aku tidak melakukan apa-apa,” katanya. “Kau sendiri yang memilih untuk bangkit. Aku hanya... berada di sini.”
Dan untuk pertama kalinya, Xiao Han merasa bahwa berada di sini, di depan stadion yang sunyi, dengan kaki yang masih sakit, dengan misi yang gagal, dengan ketidakpastian yang masih membayang, adalah tempat yang tepat.
Perjalanan pulang ditempuh dengan bus malam yang nyaris kosong. Mereka duduk berdampingan di kursi belakang, Xiao Han di dekat jendela, Shen Yuexi di sampingnya. Lampu-lampu kota berlalu di luar, titik-titik cahaya yang bergerak lambat seperti bintang yang jatuh.
Wei Ying sudah mengirim pesan. Sebuah foto pulpen yang diletakkan di atas meja belajar, dengan caption. Aku sudah siap, Kak Han!
Ye Chen juga mengirim pesan singkat. Jersey nomor 69. Untuk kenang-kenangan. Sampai jumpa di lain waktu.
Xiao Han membalas keduanya dengan stiker sederhana. Lalu ia membuka buku catatannya, membaca ulang halaman terakhir yang ia tulis di stadion.
Level profesional jauh di luar bayanganku. Aku harus belajar lagi.
Ia mengambil pulpen cadangan yang masih tersisa di saku, dan menulis satu baris lagi.
Tapi aku tidak takut.
Di sampingnya, Shen Yuexi mulai mengantuk. Kepalanya perlahan bersandar di pundak Xiao Han. Rambut pirangnya menyentuh pipinya, lembut, wangi vanilla yang akrab. Xiao Han tidak bergerak. Ia membiarkan pundaknya menjadi tempat bersandar, seperti yang selalu Shen Yuexi lakukan untuknya, diam, tanpa pamrih, tanpa pernah bertanya balas.
Bus melaju melewati jembatan layang. Lampu-lampu kota Hangzhou berkelap-kelip di bawah, ribuan titik cahaya yang menyala bersamaan. Di kejauhan, Huanglong Sport Center Stadium mulai redup, raksasa yang tertidur.
Tapi di dalam dada Xiao Han, sesuatu mulai menyala.
Bukan api yang besar. Hanya percikan kecil. Tapi cukup untuk menerangi langkah selanjutnya.
Saat bus berhenti di halte terdekat dari rumahnya, Xiao Han membangunkan Shen Yuexi dengan sentuhan pelan di bahu.
“Yue, kita sudah sampai.”
Shen Yuexi mengerjap, masih setengah sadar. Matanya berkaca sebentar sebelum akhirnya fokus. “Ah ... sudah?”
“Aku antar kau pulang dulu.”
“Tidak usah. Kakimu—”
“Aku antar kau pulang dulu,” ulang Xiao Han. Kali ini nadanya tidak memberi ruang untuk ditawar.
Shen Yuexi terdiam. Lalu ia tersenyum, kecil, hanya sudut bibir yang naik sedikit. “Baik.”
Mereka turun dari bus. Malam semakin larut, jalanan sepi, hanya sesekali ada sepeda listrik melintas dengan suara motor yang berdengung pelan. Xiao Han berjalan di sisi kiri Shen Yuexi, menyesuaikan langkahnya yang pincang dengan langkahnya yang lambat.
Rumah Shen Yuexi hanya dua blok dari halte. Jarak yang biasanya ditempuh lima menit, kini menjadi sepuluh, lima belas, karena Xiao Han tidak bisa cepat dan Shen Yuexi tidak mau mendahului.
Saat mereka sampai di depan pagar rumahnya, Shen Yuexi berbalik.
“Han.”
“Hmm?”
“Nanti, kau akan ke Hangzhou Xuejun?”
Xiao Han mengangguk. “Aku juga harus ... memulai sesuatu.”
Shen Yuexi menggenggam tangannya. Sekali lagi. Tapi kali ini, genggamannya tidak dilepas cepat. Ia menatap Xiao Han, matanya jernih di bawah cahaya lampu jalan.
“Aku akan kuliah di Beijing,” katanya. “Pendaftaran bulan depan. Aku ... aku tidak akan ada di Hangzhou untuk sementara waktu.”
Xiao Han sudah tahu. Ia sudah tahu sejak Shen Yuexi bilang di ruang makan bahwa mereka akan sulit bertemu. Tapi mendengarnya langsung untuk yang kedua kalinya, terasa berbeda.
“Kau tidak usah khawatir tentang aku,” katanya. “Aku sudah bisa mengurus diri sendiri.”
“Aku tahu.” Shen Yuexi tersenyum. “Tapi aku tetap akan khawatir. Itu sudah menjadi kebiasaan, dari kita kecil.”
Xiao Han tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya berdiri di sana, dengan kaki yang sakit, dengan buku catatan di saku, dengan sistem yang diam di sudut pandangnya. Dan Shen Yuexi berdiri di depannya, dengan rambut pirang yang berkibar pelan, dengan senyum yang selalu ada di setiap sudut gelap perjalanannya.
“Han,” Shen Yuexi melepaskan genggamannya. “Nanti, saat kau ke Hangzhou Xuejun, tunjukkan pada mereka siapa dirimu. Bukan Xiao Han mantan pemain yang cedera. Bukan Xiao Han yang dikasihani orang. Tapi Xiao Han yang hari ini duduk di tribun, mencatat setiap detik pertandingan, dan berkata 'aku tidak takut' meskipun dirinya sendiri bilang dia gagal.”
Xiao Han tersenyum. Senyum yang tidak dipaksakan. Senyum yang lahir dari sesuatu yang sudah lama terkubur di dalam dadanya.
“Aku akan tunjukkan.”
Shen Yuexi membuka pintu pagar, melangkah masuk ke halaman rumahnya. Di tengah langkah, ia berhenti, menoleh.
“Han.”
“Ya?”
“Saat kita ke Hangzhou Xuejun nanti, kau akan hebat. Yang terpenting adalah fokus pada penyembuhan kakimu.”
Dan ia masuk ke dalam rumah, meninggalkan Xiao Han di depan pagar, dengan senyum yang masih tersisa di bibir, dengan buku catatan yang berat di saku, dengan mimpi yang mulai menemukan jalannya.
Ding.
Sistem muncul di ujung pandangannya. Kali ini tidak ada misi. Tidak ada peringatan. Hanya satu baris pendek.
[ Teruslah menapaki Sepak Bola ]
[ Jika tidak, aku akan hilang ]
Xiao Han mengabaikannya. Ia menatap langit malam Hangzhou yang mulai diselimuti awan, membayangkan, ia akan melangkah ke Hangzhou Xuejun Middle School, ke tempat di mana ia pertama kali belajar mencintai sepak bola untuk yang kedua kalinya. Ke tempat di mana ia akan memulai sesuatu yang baru.
Bukan sebagai pemain.
Tapi sebagai asisten pelatih, menuju kepelatihan sesungguhnya.
Ia berbalik, melangkah pulang dengan langkah yang lebih mantap dari biasanya. Kakinya masih sakit. Tapi untuk pertama kalinya dalam dua bulan, sakit itu tidak terasa seperti hukuman.
Sakit itu terasa seperti pengingat, bahwa ia masih di sini. Bahwa ia masih bisa berjalan. Bahwa ia masih punya jalan untuk ditempuh.
Dan di ujung jalan itu, lapangan hijau menunggu dirinya sebagai pelatih.