bertemu dengan pria yang super duper nyebelin udah mah dia yang di tabrak ke mobil sekarang dia yang harus ganti rugi
itu yang di alami Ara bertemu dengan yoga pria yang paling nyebelin versi dia
ehh harus bertemu lagi dengan pria nyebelin dalam ikatan pacar(sewaan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Septiayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LDR
Hari-hari pertama tanpa Yoga terasa… aneh bagi Bella.
Apartemen terasa lebih sepi, meskipun tidak benar-benar kosong. Tidak ada suara langkahnya, tidak ada suara napasnya saat tidur, tidak ada suara keluhan kecilnya saat Bella cerewet.
Yang ada hanya… rasa rindu yang mulai muncul pelan-pelan.
Siang itu, Bella memutuskan keluar.
“Daripada kepikiran terus…” gumamnya pelan sambil mengambil tas.
Ia mengingat pesan Yoga semalam sebelum berangkat.
“Aku udah kirim kartu ke kamu. Pakai aja kalau mau apa-apa.”
Bella sempat menolak.
“Ngapain sih, aku masih bisa sendiri.”
Namun Yoga hanya menjawab santai, “Aku tenang kalau kamu pakai itu.”
Dan akhirnya…
Bella menuruti.
Mall siang itu cukup ramai.
Bella berjalan pelan, melihat-lihat etalase toko. Awalnya hanya ingin sekadar jalan-jalan, tapi tanpa sadar langkahnya berhenti di beberapa tempat.
Toko baju.
Ia mengambil satu dress.
Melihat ke cermin.
“Bagus nggak ya…” gumamnya.
Lalu tanpa sadar ia tersenyum kecil.
Biasanya…
Yoga yang akan komentar.
“Yang itu lebih bagus.”
Bella menghela napas kecil.
Akhirnya ia tetap membeli.
Di kasir, ia mengeluarkan kartu dari dompetnya.
Kartu milik Yoga.
Ia sempat diam beberapa detik.
Lalu bergumam pelan, “Jangan marah ya kalau aku beneran pakai…”
Transaksi selesai.
Bella berjalan lagi.
Tas.
Sepatu.
Beberapa barang kecil.
Tidak berlebihan, tapi cukup banyak.
Setiap kali membayar, ia selalu merasa sedikit canggung.
Namun di sisi lain…
ada rasa hangat.
Seolah… Yoga tetap ada di dekatnya.
“Dia nyuruh sendiri sih…” bisiknya, sedikit tersenyum.
Di tempat lain—
Bandung.
Udara sedikit lebih sejuk.
Suasana kantor pusat terasa tegang.
Di ruang meeting besar, Yoga duduk di ujung meja, wajahnya kembali dingin seperti dulu.
Aura CEO-nya kembali terasa.
Di depannya, beberapa orang duduk dengan ekspresi serius.
Salah satunya Hans, direktur kantor cabang.
“Jelaskan,” ucap Yoga singkat.
Hans menelan ludah. “Proyek sempat terhambat karena beberapa kendala teknis dan—”
Yoga memotong. “Saya tidak butuh alasan.”
Suasana langsung hening.
Tatapan Yoga tajam.
“Angka tidak bergerak. Target tidak tercapai. Itu fakta.”
Hans mulai gugup. “Kami sedang berusaha memperbaiki—”
“Berapa lama masalah ini terjadi?”
Hans terdiam.
“Jawab.”
“…sekitar dua bulan.”
Yoga langsung menyandarkan tubuhnya, rahangnya mengeras. “Dua bulan… dan tidak ada laporan jelas ke pusat?”
Tidak ada yang berani menjawab.
Yoga membuka berkas di depannya, lalu melemparkannya ke meja.
“Dana keluar. Progress tidak ada. Ini bukan sekadar ‘kendala’.”
Hans mulai berkeringat. “Kami—”
“Ini korupsi.”
Satu kalimat itu membuat ruangan semakin dingin.
Semua orang menunduk.
Yoga menatap satu per satu.
“Saya tidak akan toleransi.”
Nada suaranya rendah… tapi tegas.
“Siapa pun yang terlibat akan saya tindak langsung.”
Hans menunduk dalam. “Kami akan bekerja sama sepenuhnya.”
Yoga berdiri.
“Bagus. Karena mulai sekarang… semua laporan masuk ke saya.”
Ia mengambil map.
“Dan saya ingin hasil dalam waktu dekat.”
Tanpa menunggu jawaban, Yoga keluar dari ruangan.
Langkahnya cepat.
Tegas.
Namun saat sampai di luar…
ia berhenti sejenak.
Menghembuskan napas panjang.
Tangannya refleks mengambil ponsel.
Melihat layar.
Tidak ada pesan baru.
Dari Bella.
Ia tersenyum tipis.
“Lagi sibuk ya…”
Malam hari.
Bella sudah kembali ke apartemen.
Tas belanjaan tergeletak di samping tempat tidur.
Namun Bella tidak tertarik lagi.
Ia duduk di ranjang.
Memegang ponsel.
Menatap satu foto.
Foto dirinya… dan Yoga.
Diambil beberapa waktu lalu.
Saat mereka tertawa bersama.
Bella mengusap layar pelan.
“Kangen…” bisiknya.
Ia bersandar ke dinding.
Menatap foto itu lama.
“Kalau nanti…” ia berhenti sejenak.
“Kalau nanti beneran jadi istri…”
Ia tersenyum kecil.
“Bakal gini terus nggak ya…”
Pertanyaan itu menggantung.
Ada rasa hangat.
Tapi juga takut.
Takut kalau semua ini hanya sementara.
Tiba-tiba—
ponselnya bergetar.
Nama di layar muncul.
Yoga.
Bella langsung duduk tegak.
Cepat mengangkat.
“Halo…”
Di seberang, suara Yoga terdengar.
Lelah… tapi hangat.
“Hai.”
Bella langsung tersenyum. “Kamu baru selesai kerja?”
“Iya.”
“Kamu capek ya…”
“Sedikit.”
Bella menggigit bibirnya. “Makan belum?”
Yoga tersenyum kecil di ujung sana. “Belum. Kamu?”
“Udah.”
“Bagus.”
Hening sebentar.
Namun bukan canggung.
Lebih ke… saling menikmati suara.
“Aku tadi ke mall,” kata Bella pelan.
“Oh ya?”
“Iya… aku beli beberapa barang.”
“Pakai kartu aku?”
Bella langsung salah tingkah. “Iya… tapi nggak banyak kok.”
Yoga tertawa kecil. “Pakai aja.”
Bella mengerucutkan bibir. “Nanti kamu bangkrut.”
“Kalau buat kamu, nggak masalah.”
Bella diam.
Pipinya memerah.
“Kamu jangan gitu…”
“Kenapa?”
“Malu.”
Yoga tersenyum di balik telepon.
“Aku lebih malu.”
Bella kaget. “Kenapa?”
“Aku kangen kamu.”
Hening.
Bella langsung tidak bisa jawab beberapa detik.
“Bella…”
“Iya…”
“Kamu kangen nggak?”
Bella menunduk, memainkan ujung bajunya.
“…kangen.”
Yoga tersenyum.
“Seberapa?”
Bella menghela napas kecil. “Banyak.”
Yoga tertawa pelan. “Aku juga.”
Bella merebahkan tubuhnya di kasur.
Memeluk bantal.
“Cepet pulang ya…”
“Iya.”
“Jangan lama-lama…”
“Iya.”
“Jangan sakit…”
“Iya, Dokter Bella.”
Bella tertawa kecil.
Namun matanya mulai berkaca-kaca.
“Yoga…”
“Hm?”
“Aku tadi lihat foto kita…”
Yoga diam.
“Aku kepikiran…”
“Apa?”
Bella ragu sebentar.
“Kalau nanti… kita masih kayak gini nggak…”
Yoga tidak langsung jawab.
Beberapa detik.
Lalu suaranya lembut.
“Kalau kamu masih di sini…”
Bella memejamkan mata.
“Aku bakal tetap di sini.”
Hati Bella bergetar.
“Janji?”
“Janji.”
Bella tersenyum kecil, meski air matanya jatuh.
“Baik-baik di sana ya…”
“Kamu juga.”
Malam itu—
mereka tetap terhubung.
Lewat suara.
Lewat rasa.
Dan meski terpisah jarak—
hati mereka justru terasa semakin dekat.
...----------------...
Di sebuah rumah mewah yang dipenuhi suasana dingin dan elegan, Aline duduk santai di sofa panjang. Tangannya memegang gelas jus, sementara matanya fokus pada layar ponsel.
Tak lama, seorang pria masuk—rapi, membawa tablet di tangannya.
“Non, saya sudah dapat informasi terbaru,” ucapnya sopan.
Aline langsung menoleh. “Tentang Yoga?”
“Asisten itu mengangguk. “Iya, Non. Saat ini Tuan Yoga sedang berada di Bandung. Mengurus masalah di kantor cabang.”
Beberapa detik hening.
Lalu—
senyum perlahan muncul di wajah Aline.
Bukan senyum biasa.
Tapi senyum penuh rencana.
“Bandung…” ulangnya pelan.
Matanya menyipit sedikit.
“Sendirian?” tanyanya lagi.
“Sejauh informasi yang saya dapat, iya, Non. Tidak bersama siapa pun.”
Senyum Aline semakin lebar.
Ia meletakkan gelasnya perlahan.
“Bagus.”
Ia berdiri.
Langkahnya pelan tapi penuh percaya diri.
“Ini kesempatan.”
Asistennya diam, menunggu perintah.
Aline berjalan mendekat ke jendela besar, memandang ke luar.
“Bella nggak ada di sampingnya…” gumamnya.
Nada suaranya berubah lebih rendah.
“Berarti… nggak ada yang ganggu.”
Ia menoleh kembali, menatap asistennya.
“Siapkan mobil.”
“Asisten itu sedikit terkejut. “Sekarang, Non?”
Aline mengangguk tanpa ragu. “Sekarang.”
“Baik, Non.”
Asisten itu langsung pergi untuk menyiapkan semuanya.
Sementara itu, Aline berjalan kembali ke meja rias.
Ia duduk.
Menatap pantulan dirinya di cermin.
Tangannya perlahan menyentuh pipinya sendiri.
“Udah lama ya…” bisiknya pelan.
Matanya berubah lebih dalam.
“Aku hampir lupa rasanya… deket sama kamu.”
Ia tersenyum tipis.
Lalu mengambil lipstik.
Mengoleskannya dengan perlahan.
Rapi.
Sempurna.
“Sekarang… aku bakal ingetin lagi.”
Ia berdiri.
Mengambil tasnya.
Langkahnya mantap keluar dari kamar.
Di luar, asistennya sudah menunggu.
“Mobil sudah siap, Non.”
Aline mengangguk. “Bagus.”
Ia berjalan menuju pintu utama.
Namun sebelum benar-benar keluar—
ia berhenti sejenak.
Menatap lurus ke depan.
“Bella…” ucapnya pelan.
Nada suaranya dingin.
“Perempuan itu nggak pantes di samping Yoga.”
Tatapannya tajam.
“Dia cuma… sementara.”
Aline tersenyum tipis.
“Yang beneran ngerti Yoga itu aku.”
Ia melangkah keluar.
Masuk ke dalam mobil.
Pintu tertutup.
Mesin menyala.
Mobil mulai bergerak meninggalkan halaman rumah.
Di dalam, Aline bersandar santai.
Matanya menatap ke depan dengan penuh keyakinan.
“Aku bakal ambil lagi apa yang harusnya jadi milikku.”
Nada suaranya pelan…
tapi penuh ambisi.
Dan perjalanan menuju Bandung pun dimulai—
membawa rencana yang bisa mengguncang hubungan Yoga dan Bella.