NovelToon NovelToon
GAMON

GAMON

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:452
Nilai: 5
Nama Author: Vianza

"Cintai aku sekali lagi."

(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)

---

"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Cincin di Jari, Tanda Tanya di Hati

...GAMON...

...Bab 22: Cincin di Jari, Tanda Tanya di Hati...

...POV Bima...

---

...Seminggu Setelah Obrolan di Sofa...

...Tiga Hari Bima Keliling Cari Cincin...

...Dua Jam Lagi Dia Akan Lamar Rina...

---

Kamis – 14.30 WIB

Mall Kota Kasablanka – Lantai Dasar

Bima berdiri di depan etalase toko perhiasan. Matanya nggak kedip. Lampu sorot dari dalam batu-batu cincin itu mancing silau, bikin dia harus nyipitin mata dikit.

Di belakang kaca, deretan cincin kawin. Emas putih, emas kuning, platinum. Ada yang polos, ada yang ada diamondnya. Yang paling mahal—dua baris dari atas—harganya 50 juta. Yang paling murah, 3,5 juta.

Bima nggak liat harga. Dia liat... bentuknya. Lingkaran. Tanpa ujung. Kayak janji. Kayak komitmen. Kayak sesuatu yang nggak boleh putus.

"Mau liat yang mana, Mas?"

Seorang pramuniaga—cewek, rambut diikat tinggi, senyum standar—udah berdiri di samping.

Bima kaget. "Eh, iya. Masih liat-liat."

"Ada yang spesifik?"

"Cincin... buat lamaran."

Pramuniaga itu senyum lebih lebar. "Wah, selamat ya, Mas. Kira-kira budgetnya berapa?"

Bima mikir. Gaji dia sekarang lumayan. Tapi dia juga nyicil rumah. Nabung buat nikah.

"Yang... bagus aja. Yang dia suka."

Pramuniaga itu aga bingung. "Emm, maksudnya?"

"Maksud gue... gue nggak tahu dia suka yang mana." Bima tatap etalase. "Tapi dia suka yang simpel. Nggak neko-neko. Tapi berarti."

Pramuniaga itu ngangguk. Dia buka etalase, ambil beberapa cincin. Satu per satu diletakin di atas nampan beludru hitam.

"Ini yang lagi tren, Mas. Model classic, diamond solitaire. Simpel tapi elegan."

Bima pegang. Dilihat. Dibayangin di jari Rina.

"Boleh liat yang lain?"

"Tentu."

Satu per satu dia lihat. Ada yang terlalu ramai. Ada yang terlalu tipis. Ada yang terlalu mahal—bukan masalah harga, tapi keliatan kayak pamer.

Sampai di cincin kelima.

Bentuknya polos. Emas putih. Tapi di tengahnya ada ukiran kecil—motif dedaunan. Simpel. Tapi detail. Kayak Rina. Sederhana, tapi kalau diperhatiin, banyak detailnya.

"Ini..." Bima pegang cincin itu. "Ini berapa?"

"Yang ini 7,8 juta, Mas. Diskon 10% untuk pembelian pertama."

Bima lihat cincin itu lama. Di dalem kepalanya, dia bayangin Rina buka kotak cincin. Bayangin Rina nangis. Bayangin Rina bilang "iya".

Tapi di bayangan itu, tiba-tiba ada wajah lain. Wajah yang udah lama nggak muncul. Wajah yang—dulu—pernah dia incar cincin juga. Tapi belum sempat dibeli.

Keana.

Bima kedip. Cepat. Buang bayangan itu.

"Mas?" pramuniaga manggil.

"Iya. Ini aja."

"Ukurannya?"

Bima mikir. "Lingkar jari manis... standar cewek. Mungkin 10 atau 11."

"Nanti bisa di-resize kok, Mas, kalau nggak pas."

Bima ngangguk. Ambil dompet. Bayar.

Selesai.

Cincin itu sekarang ada di saku jasnya. Kecil. Tapi berat.

---

18.00 WIB

Apartemen Rina – Lantai 12

Rina lagi di dapur. Bau tumisan—bawang putih, cabai, sedikit kecap—nyampe sampe pintu. Dari ruang tamu, Bima denger suara wajan beradu, suara Rina bersenandung—lagu yang sama kayak kemarin.

Bima duduk di sofa. Tangan kiri megang kotak cincin di saku jas. Tangan kanan di paha. Jari-jarinya gerak-gerak nggak karuan.

Ini waktunya.

Tapi kenapa perutnya mules?

"Sayang!" teriak Rina dari dapur. "Lo udah siap? Aku tinggal goreng ikan!"

"Udah." Suara Bima agak serak. "Santai aja."

Bima berdiri. Jalan ke arah dapur. Berhenti di ambang pintu.

Rina lagi sibuk. Rambut diikat asal. Beberapa helai lepas nempel di pelipis—basah keringetan. Dia pake celemek motif bunga-bunga—beli di pasar minggu. Tangannya lincah muter-muterin ikan di wajan.

Dari belakang, Bima lihat bahu Rina naik turun, cara dia bergeser dari satu kaki ke kaki lain, cara dia tiup tangan kena minyak panas.

Sederhana. Tapi nyata.

Bima maju. Deket dari belakang. Tangannya melingkar di pinggang Rina.

Rina kaget. "Wah! Ngagetin aja!" Tapi dia senyum. "Lo kenapa?"

"Nggak. Cuma mau deket."

Rina berhenti masak. Matiin api. Balik badan. Hadap Bima.

"Lo kenapa, sih? Dari tadi keliatan aneh."

Bima tatap dia. Matanya—cokelat, hangat, dengan bintik emas yang kena lampu dapur—bikin Bima lupa kata-kata.

"Rin."

"Hmm?"

"Gue... mau ngomong sesuatu."

Rina nunggu. Matanya aga waspada.

"Tapi jangan di dapur. Di ruang tamu aja."

Rina bingung. Tapi nurut. Lepas celemek. Lap tangan. Ikut Bima ke ruang tamu.

---

18.30 WIB

Ruang Tamu

Matahari mulai turun. Jingga masuk lewat jendela. Debu-debu nari-nari. Persis kayak minggu lalu. Tapi suasana beda.

Bima duduk di sofa. Rina di sampingnya—agak deket. Tangannya dipegang Bima.

"Rin, gue mau tanya sesuatu."

Rina nggak jawab. Cuma nunggu. Matanya mulai basah—padahal Bima belum ngomong apa-apa.

Bima tarik napas. Dalam.

"Gue tahu akhir-akhir ini gue susah. Gue tahu lo capek. Gue tahu lo nangis di kamar mandi."

Rina kaget. Bima tahu?

"Gue nggak buta, Rin. Gue cuma... kaku. Susah ngomong. Tapi gue lihat lo. Setiap hari."

Bima ngeloyor turun. Berlutut di lantai. Satu lutut. Kayak di film-film.

Rina tutup mulut. Udah mewek.

Bima ambil kotak cincin dari saku. Buka pelan-pelan. Cincin itu keliatan—emas putih, ukiran dedaunan, kena cahaya jingga dari jendela.

"Rina Amalia."

Suaranya serak. Tangan sedikit gemetar.

"Gue nggak akan bilang gue sempurna. Karena gue nggak. Gue nggak akan bilang gue nggak punya masa lalu. Karena gue punya."

Dia tatap Rina. Matanya juga basah.

"Tapi gue mau janji. Bukan janji jadi suami sempurna. Tapi janji bakal terus belajar. Belajar jadi lebih baik. Belajar buat lo. Belajar buat kita."

Rina udah nangis. Air mata jatuh tanpa suara.

"Rin, lo mau nggak... jadi istri gue?"

Diam.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

Rina nggak bisa ngomong. Dia cuma angguk. Cepet-cepet. Kayak takut kalau lambat, Bima bakal berubah pikiran.

Bima senyum. Ambil cincin. Pasang di jari manis Rina. Pas. Persis. Kayak emang udah ditakdirin.

Rina liat cincin itu. Air mata jatuh. Dia lihat Bima. Lalu dia tarik Bima—yang masih berlutut—ke pelukan.

"Iya, Bim. Iya."

Mereka berpelukan di sofa. Di ruang tamu. Dengan cahaya jingga yang makin pudar.

---

20.00 WIB

Kamar Tidur

Rina udah tidur. Kecapean. Atau mungkin karena bahagia. Tangannya masih pake cincin itu. Digenggam erat di dada. Kayak takut ilang.

Bima di sampingnya. Masih buka mata.

Dia tatap langit-langit. Retak—nggak ada. Dinding mulus. Cat baru. Pilihan Rina.

Tapi di dalam kepala Bima, retakan itu ada. Dan dia nggak tahu cara nambalnya.

Dia pejam mata. Capek.

---

Malam Itu – 02.30 WIB

Bima mimpi.

Dia di angkringan. Tempat yang sama. Meja kayu yang sama. Bau sate dan gorengan. Lampu-lampu warna-warni.

Di hadapannya, ada Keana.

Dia masih kayak dulu. Rambut panjang. Senyum manis. Tapi matanya—matanya sedih.

"Bim."

Suara itu. Suara yang dulu selalu dia tunggu.

"Lo... bahagia?"

Bima mau jawab. Tapi mulutnya nggak bisa gerak.

"Aku nggak akan ganggu. Aku cuma mau tahu... lo bahagia?"

Bima usaha buat ngomong. Tapi nggak bisa. Kayak ada yang nyekek leher.

Keana tersenyum. Senyum pahit.

"Makasih, Bim. Buat semuanya."

Dia berdiri. Mau pergi.

"KEAN!"

Bima teriak. Tapi suaranya nggak keluar.

Keana jalan. Makin jauh. Makin kecil. Hilang di antara lampu-lampu angkringan.

"KEAN!"

---

Bima bangun.

Duduk tegak di ranjang. Keringetan. Baju nempel di badan. Napas ngos-ngosan. Jantung kayak mau copot.

Gelap. Sepi. Di sampingnya, Rina tidur. Nggak gerak. Napasnya pelan.

Bima tutup muka. Tangannya gemetar.

"Gue... gue mimpi." bisiknya. "Cuma mimpi."

Tapi kenapa dada rasanya sesak? Kenapa air mata mau keluar? Kenapa dia pengen teriak?

Dia lihat Rina. Tidur. Tenang. Cincin di jarinya—nggak lepas.

Bima berdiri. Jalan pelan ke kamar mandi. Nutup pintu. Nyalain lampu.

Dia liat diri sendiri di cermin.

Wajah pucat. Mata merah. Keringet dingin.

"Lo bahagia nggak, Bim?"

Dia tanya ke bayangan sendiri. Tapi bayangan itu nggak jawab.

Dia nunggu. Satu menit. Dua menit.

Nggak ada jawaban.

Bima buka keran. Air dingin. Dia basuh muka. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Tapi perasaan itu nggak ilang. Perasaan bersalah. Perasaan takut. Perasaan gamon.

Dia duduk di tutup kloset. Tangan di kepala. Nangis. Tanpa suara.

Di luar, Rina masih tidur. Nggak tahu apa-apa.

---

04.30 WIB

Bima keluar dari kamar mandi. Mata sembab. Tapi udah nggak nangis.

Dia tidur lagi. Posisi nyender. Jaga jarak sama Rina.

Di gelap, dia berbisik.

"Maaf, Rin."

Nggak tahu buat apa. Tapi dia harus ngomong.

---

Pagi – 07.00

Rina bangun. Senyum. Liat cincin di jari. Bahagia.

Dia lihat Bima. Tidur. Tapi gelisah—alisnya berkerut.

Rina elus pelan dahi Bima.

"Makasih, Sayang." bisiknya.

Bima nggak denger. Dia lagi mimpi apa? Rina nggak tahu.

Tapi di dalam tidurnya, Bima lagi lari. Lari dari bayangan. Lari dari angkringan. Lari dari Keana.

Dan dia nggak pernah bisa lari cukup jauh.

---

Bersambung ke Bab 23: Persiapan Nikah

---

...📝 Preview Bab 23:...

Persiapan nikah dimulai. Rina excited. Bima ikut seneng—di depan orang.

Tapi di sela-sela fitting baju, pilih catering, undangan, Bima sering ilang. Matanya kosong. Pikirannya jauh.

Rina mulai ngerasa ada yang aneh. Tapi dia takut nanya.

Bab 23: Persiapan Nikah—segera!

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!