NovelToon NovelToon
The Adgof

The Adgof

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Romantis / Tamat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Setelah kecelakaan tragis empat tahun lalu, Lyodra Taylor terbangun dari koma panjang di Chicago dalam keadaan amnesia total. Keluarganya, yang menyimpan dendam dan mengira kecelakaan itu adalah sabotase bisnis, memilih memalsukan kematian Lyodra dan menghapus seluruh masa lalunya—termasuk rahasia bahwa ia sempat hamil dan keguguran saat kecelakaan terjadi.
Di sisi lain, Archello Dominic, sang kekasih yang hancur karena mengira Lyodra telah tiada, berubah menjadi pria yang dingin dan menutup diri. Di bawah tekanan ibunya, Archello terpaksa bertunangan dengan Oliver Bernardo, seorang gadis baik hati yang tidak tahu apa-apa tentang konspirasi besar di balik perjodohan mereka.
Tanpa mereka sadari, kecelakaan itu sebenarnya adalah skenario manipulatif kakek Oliver demi ambisi bisnis keluarga. Di tengah bayang-bayang masa lalu yang membeku dan kebohongan yang rapi tersusun, Archello mulai berjuang antara kesetiaannya pada memori Lyodra atau membuka hati bagi ketulusan Oliver.

🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#29

Malam itu, kamar utama Mansion Dominic yang biasanya menjadi saksi bisu kemesraan kini terasa seperti medan perang yang membeku. Lyodra duduk di tepi ranjang, memunggungi Archello dengan bahu yang naik-turun menahan emosi. Meskipun insiden di kantor tadi berakhir dengan Oliver yang diseret keluar oleh keamanan, bayangan bibir suaminya yang bersentuhan dengan wanita itu terus berputar seperti kaset rusak di kepala Lyodra.

Sebagai ibu hamil, hormonnya membuat segalanya terasa sepuluh kali lebih menyakitkan. Ia merasa dikhianati, bukan oleh niat Archello, tapi oleh kenyataan bahwa "wilayah kekuasaannya" telah dijamah.

"Sayang... ayolah, sudah satu jam kau mendiamkanku," bujuk Archello, mencoba mendekat dan menggeser duduknya agar bisa menyentuh lengan Lyodra.

Lyodra dengan cepat menepis tangan itu, persis seperti anak kecil yang sedang merajuk hebat. "Jangan sentuh aku! Pergi saja sana, minta cium lagi pada Oliver-mu itu. Bibirmu sudah kotor!"

Archello menghela napas berat. Ia merasa sudah melakukan segala cara—meminta maaf berulang kali, membawakan air hangat, bahkan berjanji akan mengganti seluruh furnitur kantornya agar tidak ada jejak Oliver. Namun, kelelahan setelah seharian bekerja dan menghadapi drama membuat kewaspadaan bicaranya menurun.

Maksud hati ingin menenangkan dan bersikap jujur agar tidak ada lagi rahasia, Archello justru mengeluarkan kalimat yang menjadi bumerang paling mematikan dalam sejarah rumah tangga mereka.

"Sayang, dengarkan aku," Archello memegang bahu Lyodra, kali ini sedikit lebih erat. "Bibirku memang dijamah olehnya tadi, dan kau pernah melihat itu sebelumnya di Chicago. Kenapa harus semarah itu sekarang? Aku sama sekali tidak menginginkannya, Ay. Percayalah, ciumannya tadi sangat hambar. Tidak ada rasanya sama sekali."

Lyodra membeku. Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap Archello dengan mata yang membelalak. "Hambar, ya?"

Archello, yang merasa telah memberikan argumen logis bahwa ia tidak menikmati ciuman itu, mengangguk dengan polos. "sering aku rasakan, benar-benar hambar. Dibandingkan denganmu, dia tidak ada apa-apanya."

"Dan kau bilang 'sering'?" pancing Lyodra dengan suara yang mulai meninggi.

"Ya... maksudku, saat lima bulan pertunangan paksa itu, dia memang sering mencoba menciumku," Archello menjawab jujur, merasa bahwa keterbukaan adalah kunci. "Tapi aku bersumpah, aku hampir tidak pernah membalasnya. Cuma dua kali saja seingatku aku pernah membalas, itu pun karena aku sedang mabuk dan sangat merindukanmu, Ay. Aku mengira dia itu kau."

Dunia seolah berhenti berputar bagi Lyodra. Tangannya yang memegang bantal gemetar hebat. "Dan dua kali kau balas?"

Melihat wajah istrinya yang semakin memerah, Archello mendadak panik. Namun, bukannya berhenti, otaknya yang sedang kelelahan justru melontarkan pertanyaan hipotesis yang sangat gila—sebuah upaya untuk mengetes sejauh mana cinta Lyodra padanya.

Archello menatap Lyodra dengan tatapan polos, persis seperti anak anjing manis yang sedang meminta pengampunan, namun kata-katanya justru seperti belati.

"Ay, aku hanya ingin tahu satu hal... Bagaimana jika memang aku sudah pernah tidur dengan Oliver dulu? Saat aku mengira kau sudah tiada? Apa kau tidak akan memaafkanku?" tanya Archello dengan nada yang sangat serius.

Deg.

Jantung Lyodra seolah merosot ke perutnya yang besar. Ia menatap Archello dengan tatapan tidak percaya. "Pertanyaan gila apa itu, Archello? Apa kau... apa kau memang sudah tidur dengannya?!"

Archello segera tersadar bahwa ia baru saja menggali liang kuburnya sendiri. Ia langsung melambaikan kedua tangannya dengan panik. "Tidak! Tidak, Sayang! Mana ada? Aku bersumpah demi calon anak kita, aku tidak pernah tidur dengannya! Aku hanya ingin tahu reaksimu jika itu terjadi."

"Kau bertanya begitu karena kau merasa bersalah, hah?!" Lyodra mulai memukuli Archello dengan bantal secara bertubi-tubi. "Kau jahat, Archello! Kau jahat! Kenapa kau harus jujur soal dua kali ciuman itu? Kenapa kau harus membayangkan tidur dengannya?!"

"Aduh! Ay, sakit! Hentikan!" Archello mencoba melindungi wajahnya sambil tertawa kecil karena melihat tingkah istrinya yang sangat menggemaskan saat sedang cemburu buta, meski ia tahu ia dalam masalah besar. "Tadi aku hanya berandai-andai! Aku hanya tidur denganmu, Sayang! Seumur hidupku, hanya rahimmu yang pernah kusentuh!"

Lyodra berhenti memukul, napasnya memburu. Ia menatap Archello dengan mata berkaca-kaca. "Berjanjilah padaku... cuci bibirmu itu dengan sabun sepuluh kali. Tidak, seratus kali!"

"Aku akan mencucinya seribu kali jika itu maumu, Ay," Archello menarik Lyodra ke dalam pelukannya, kali ini tidak ada penolakan. Ia mencium kening istrinya dengan sangat lama. "Maafkan aku dan pertanyaan bodohku tadi. Aku hanya milikmu, sepenuhnya milikmu."

Lyodra menyembunyikan wajahnya di dada Archello, bergumam kesal namun hatinya mulai luluh. Di luar, hujan mulai turun membasahi bumi New York, namun di dalam kamar itu, kehangatan mulai kembali meski sisa-sisa kecemburuan masih menyisakan sedikit rasa pahit. Archello menyadari satu hal malam itu: kejujuran memang penting, tapi bagi ibu hamil yang sedang cemburu, terkadang ada beberapa kejujuran yang lebih baik disimpan di dasar laut terdalam.

1
Meris
suka dgn karakter Alexander Dominic
ros 🍂: Ma'aciww sudah mampir kak🥰
total 1 replies
Meris
Suka dgn ketegasan Ello...sbg suami yg bertanggungjawab.
winpar
gmna yh pertemuan mreka????
winpar
smkin seru thor 🥰😍
ros 🍂: Ma'aciww kak🥰
total 1 replies
winpar
ceritanya selalu aj bgus 🥰😍
ros 🍂: ma'aciww kak🫶🥰
total 1 replies
winpar
seru🥰😍
winpar
kk cerita ini msih lnjut kn kk????
ros 🍂: masih kak🙏
total 1 replies
winpar
smga cinta elo dan lyodra kuat mnghdpi neneknya yg jhat
Amy Chacha
sangat suka dengan alur ceritanya gk bertele2 dan kasian lyodra thor pertemukan dengan ello thor kasian lyodra thor
ros 🍂: Sabar kak ini ujian 🤭🥰
total 1 replies
Amy Chacha
lanjut lagi thor up yang banyak
Amy Chacha
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!