Di Benua Awan Gelap, yang kuat dihormati bagai dewa, dan yang lemah diinjak bagai semut. Shen Yuan, seorang pemuda dengan pembuluh nadi bawaan yang cacat, hidup dalam kehinaan di sudut kota terpencil. Namun, takdirnya berubah ketika kepingan darah dari masa purbakala menyatu dengan jantungnya, memberikannya warisan "Jalan Iblis Penelan Surga".
Dari seorang buangan, ia melangkah di atas lautan darah dan gunung tulang. Ia akan menantang keangkuhan para putra langit, menghancurkan sekte-sekte berusia ribuan tahun, dan menguak tabir kebohongan para dewa yang bertahta di Sembilan Cakrawala. Ini adalah kisah tentang fana yang menggugat takdir, selangkah demi selangkah menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salju Berdarah
Badai salju mengamuk semakin ganas di perbukitan luar Kota Bintang Jatuh. Hamparan putih yang suci itu sebentar lagi akan dinodai oleh dosa dan darah.
Di depan mulut gua yang gelap, Shen Yuan berdiri dengan tenang. Jubah abu-abunya berkibar liar diterpa angin yang membekukan. Di bawahnya, di kaki bukit berbatu tersebut, puluhan pendekar pilihan Keluarga Lin telah membentuk barisan pengepungan yang rapat. Setiap dari mereka memegang obor yang apinya berkobar kemerahan, menolak untuk dipadamkan oleh salju berkat hawa murni yang disalurkan ke dalamnya.
Di garis paling depan, berdiri seorang pria paruh baya dengan jubah keemasan berlambang dua pedang bersilang. Wajahnya keras seperti pahatan batu karang, dan matanya memancarkan kedengkian yang mampu membakar lautan. Ia adalah Lin Kuang, Kepala Keluarga Lin, seorang tiran yang telah mencapai Ranah Pengumpulan Lautan Qi.
"Jadi kau iblis kecil yang mencabut nyawa putraku," suara Lin Kuang menggelegar, menembus deru badai salju dan bergema di telinga Shen Yuan bagaikan guntur. Hawa murni dari pusaran Lautan Qi-nya menekan udara di sekitar bukit, membuat salju yang turun di sekitarnya menguap sebelum menyentuh tanah.
Shen Yuan menyusuri lereng bukit dengan langkah santai, mengabaikan tekanan mutlak tersebut. "Putramu terlalu berisik, jadi aku membungkamnya. Sama seperti caraku akan membungkam seluruh keluargamu hari ini."
"Sombong! Hanya seekor semut di Ranah Penempaan Raga, beraninya kau menggonggong di hadapan langit!" raung Lin Kuang. Ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. "Pasukan Hukuman Darah! Cincang dagingnya perlahan! Aku ingin mendengar jeritannya bergema sampai fajar menyingsing!"
"Laksanakan, Kepala Keluarga!"
Dua puluh pasukan inti Keluarga Lin, yang seluruhnya berada di Ranah Penempaan Raga Lapisan Ketujuh, melesat ke atas lereng secara serentak. Mereka bergerak layaknya kawanan serigala salju yang terlatih, mengayunkan tombak dan golok baja yang telah dilumuri racun pelumpuh tulang.
Melihat kawanan pembunuh itu mendekat, Shen Yuan bahkan tidak repot-repot menggunakan Langkah Bayangan Hantu. Ia hanya berdiri diam, membiarkan Nadi Iblis Penelan Surga di dalam tubuhnya mendidih. Kekuatan dari Ranah Penempaan Raga Lapisan Kedelapan yang baru saja ia capai menuntut pelampiasan!
Wussshhh!
Tiga tombak baja menusuk serempak membelah angin salju ke arah dada, leher, dan perut Shen Yuan.
Traanggg! Traanggg! Traanggg!
Suara logam beradu dengan logam bergema nyaring. Tiga penjaga pilihan itu terbelalak ngeri saat melihat ujung tombak mereka patah menjadi dua bagian begitu menyentuh kulit pemuda tersebut. Tubuh Emas Gelap Shen Yuan yang kini telah didorong oleh esensi dari Akar Darah Naga Matahari benar-benar tidak tertembus oleh senjata fana tingkat menengah ke bawah!
"Apa—"
Sebelum salah satu dari mereka sempat menyelesaikan keheranannya, tangan kanan Shen Yuan melesat ke depan, mencengkeram wajah penjaga tersebut, lalu membantingnya ke bebatuan bersalju dengan kekuatan puluhan ribu kati.
Bum!
Tengkorak penjaga itu hancur berkeping-keping. Tanah berbatu di bawahnya amblas membentuk kawah kecil.
Shen Yuan tidak berhenti. Ia bergerak ke depan, mengabaikan segala sabetan golok yang mendarat di jubahnya. Setiap kali ia mengayunkan tangan atau kakinya, terdengar suara tulang yang remuk dan jeritan keputusasaan. Ia tidak menggunakan jurus hawa murni apa pun, melainkan murni membantai dengan kebrutalan ragawi dari Lapisan Kedelapan.
Dalam waktu kurang dari sepuluh tarikan napas, dua puluh pasukan inti Keluarga Lin telah berubah menjadi tumpukan daging dan darah yang mewarnai lereng bukit tersebut menjadi merah pekat.
Napas Shen Yuan tetap stabil. Ia tidak menelan esensi darah mereka karena kotoran dari pendekar Lapisan Ketujuh sudah tidak lagi sepadan dengan kemurnian fondasinya saat ini. Ia menendang salah satu mayat yang menghalangi jalannya, lalu menatap lurus ke arah Lin Kuang yang kini berdiri membeku dengan wajah sepucat kertas.
"Hanya ini pasukan kebanggaanmu?" Shen Yuan menyeringai, matanya menyala merah di tengah badai.
Lin Kuang menggertakkan giginya hingga berdarah. Ia tidak pernah menyangka bahwa pemuda yang terlihat seperti pengemis fana ini memiliki tubuh fisik yang melampaui iblis purbakala. Bahkan ia sendiri, di Ranah Lautan Qi, tidak berani menerima puluhan serangan senjata tajam dengan tubuh telanjang.
Namun, sebagai penguasa kubu, mundur bukanlah sebuah pilihan.
"Anak haram... kau memang memiliki tubuh yang aneh. Tetapi di hadapan kekuatan Lautan Qi yang meminjam hukum alam, tubuh kerasmu hanyalah cangkang kura-kura yang menunggu untuk dipecahkan!"
Hawa murni Lin Kuang meledak hingga ke puncaknya. Pusaran energi berwarna jingga kemerahan muncul di belakang punggungnya, berputar ganas menyedot hawa dingin di sekitarnya dan mengubahnya menjadi hawa panas yang membakar.
"Jurus Segel Lautan Qi: Pedang Api Pembakar Langit!"
Lin Kuang menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. Hawa murni jingga di punggungnya melesat ke atas, membentuk sebuah pedang raksasa sepanjang tiga tombak yang sepenuhnya terbuat dari api hawa murni yang sangat padat. Suhu di sekitar bukit melonjak drastis, mencairkan seluruh salju dalam lingkup seratus tombak menjadi uap air.
Dengan satu ayunan tangan Lin Kuang, pedang api raksasa itu menebas dari langit, membelah kehampaan, mengincar langsung untuk membelah Shen Yuan menjadi dua.
Jika ini terjadi di Kota Debu Merah saat Shen Yuan masih di Lapisan Ketujuh, ia mungkin harus menelan serangan ini dengan mengorbankan kulitnya yang retak. Tetapi sekarang, ia telah menembus ke Lapisan Kedelapan dan menyerap energi Yang Mutlak!
Shen Yuan tertawa keras. Tawa yang menggetarkan awan kelabu di atasnya.
"Kau ingin bermain api denganku?! Biar kutunjukkan apa itu api yang sesungguhnya!"
Shen Yuan menghentakkan kaki kanannya, meretakkan bukit karang di bawahnya. Ia tidak menghindar. Ia mengulurkan kedua tangannya ke atas, menyambut pedang api raksasa yang turun membelah langit.
Sutra Penelan Surga, Putaran Pembantaian Naga!
Pusaran hawa murni iblis meledak dari telapak tangan Shen Yuan. Namun kali ini, pusaran itu tidak hanya berwarna merah kehitaman, melainkan bercampur dengan kilatan cahaya merah keemasan—sisa-sisa dari Api Naga Matahari yang telah menyatu dengan Dantian-nya.
Saat pedang api raksasa milik Lin Kuang menghantam telapak tangan Shen Yuan, tidak ada ledakan memekakkan telinga. Yang terjadi hanyalah suara desisan yang mengerikan, layaknya tetesan air yang jatuh ke atas besi pijar.
Cshhh!
Mata Lin Kuang membelalak lebar, memancarkan kengerian yang tak terlukiskan. Ia merasakan bahwa pedang api hawa murninya, yang merupakan kebanggaan seumur hidupnya, bukan hanya tertahan, melainkan sedang ditelan oleh pemuda itu!
"T-Tidak mungkin! Teknik iblis macam apa ini?!" jerit Lin Kuang, berusaha menarik kembali hawa murninya. Namun usahanya sia-sia. Pusaran di tangan Shen Yuan bagaikan lubang hitam yang rakus, mencabik-cabik pedang api itu dan menyedot seluruh energi jingga ke dalam Nadi Iblisnya.
Hanya dalam tiga tarikan napas, pedang api raksasa yang menutupi langit itu lenyap tanpa sisa.
Shen Yuan mendengus dingin, menghembuskan uap panas dari hidungnya. "Hawa murnimu penuh dengan kotoran fana. Terlalu lemah."
Tanpa memberikan kesempatan bagi Lin Kuang untuk merapal jurus berikutnya, Shen Yuan menghilang dari pandangan.
Langkah Bayangan Hantu!
Sembilan bayangan hitam muncul serentak, mengepung Lin Kuang dari segala arah. Sang Kepala Keluarga yang panik melepaskan pukulan membabi buta ke arah bayangan-bayangan tersebut, menghancurkan batu dan pepohonan di sekitarnya.
"Di sini," bisikan maut terdengar tepat di belakang telinga Lin Kuang.
Sebelum ia bisa berbalik, sebuah telapak tangan yang memancarkan kilau emas gelap dan diselimuti hawa murni iblis menghantam punggungnya dengan kekuatan mutlak.
Tapak Penghancur Nadi!
Bummmmm!
Lin Kuang memuntahkan seember darah bercampur serpihan organ dalam. Hawa murni iblis menembus masuk, langsung merobek pusaran Lautan Qi di dalam Dantian-nya bagaikan pisau panas yang merobek kertas basah.
Tubuh Kepala Keluarga Lin terhempas ke depan, terseret di atas tanah berbatu sejauh belasan tombak, sebelum akhirnya berhenti dalam keadaan mengenaskan. Pusaran hawa murninya hancur lebur. Ia telah menjadi fana yang cacat dalam satu pukulan.
Shen Yuan berjalan perlahan mendekati pria yang sedang meregang nyawa itu.
"K-Kau... kau bukan manusia... Sekte Pedang Langit... tidak akan melepaskanmu..." rintih Lin Kuang dengan sisa napasnya yang putus-putus. "Kami... merampas peta itu dari mereka... dan kini ada di tanganmu... mereka akan melacak darah utusan mereka..."
Shen Yuan menghentikan langkahnya. Matanya menyipit tajam. Jadi benar, Keluarga Lin memang menyergap utusan Sekte Pedang Langit untuk merampas Peta Makam Tuan Tanah Hantu. Dan dengan kematian Lin Kuang di sini, tidak ada lagi yang bisa menutupi jejak bahwa peta itu kini berada di tangan Shen Yuan. Cepat atau lambat, sekte raksasa dari alam menengah itu akan turun tangan memburunya.
Namun, alih-alih gentar, Shen Yuan justru tersenyum buas.
"Biar saja mereka datang. Jika langit mengirimkan semut, aku akan menginjaknya. Jika langit mengirimkan naga, aku akan meminum darahnya," ucap Shen Yuan.
Ia meletakkan telapak tangannya di atas kepala Lin Kuang.
Sutra Penelan Surga, Putaran Puncak!
Esensi darah yang sangat murni dari seorang ahli Lautan Qi disedot secara paksa. Tubuh Lin Kuang mengering dalam sekejap mata, meninggalkan kerangka layu di tengah hamparan salju yang berdarah. Energi murni itu mengalir masuk ke dalam Dantian Shen Yuan, memperkuat fondasinya di Lapisan Kedelapan dan membersihkan sisa-sisa kelelahan dari pertarungan barusan.
Shen Yuan berdiri tegak di atas bukit tersebut, menatap ke arah matahari terbit yang mulai menyibak awan kelabu.
Keluarga Lin dari Kota Bintang Jatuh, kubu tiran yang berkuasa selama ratusan tahun, pagi ini resmi musnah di tangannya. Tuan Mudanya, pengawal pilihan, hingga Kepala Keluarganya sendiri, semuanya menjadi batu pijakan bagi sang Iblis Penelan Surga.
"Makam Tuan Tanah Hantu..." gumam Shen Yuan sambil menepuk Kantong Qiankun di pinggangnya, tempat di mana potongan peta purbakala itu bersemayam.
Langkah selanjutnya telah jelas. Ia harus memecahkan petunjuk di dalam patahan peta tersebut sebelum Sekte Pedang Langit menemukannya. Perjalanan melampaui fana baru saja dimulai.