Alderza Rajendra, seorang siswa tampan yang banyak digemari para siswi di sekolahnya. Kehadirannya tersebut, selain membuat kericuhan diantara para cewek-cewek di sekolahnya, ia juga menimbulkan rasa takut diantara para cowok maupun cewek di sekolah itu.
Seorang teman ceweknya yang juga merupakan teman sekelasnya, sering kali menjadi bahan bully-an oleh dia dan juga genk nya. Sebagai ketua, Alderza tentunya tidak pernah ngasih ampun dalam membully cewek tersebut.
Namun suatu hari, Alderza berhenti. Semua perilaku kekerasan dan cacian yang ia berikan pada cewek tersebut menghilang. Semua dikarenakan satu rahasia besar yang membuat dirinya hancur seketika.
Rahasia tersebut berasal dari Aily Marsela teman sekelasnya yang selalu ia sakiti.
novel ini banyak sekali terinspirasi dari novel Teluk Alaska karya Eka Aryani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Saputra 0416, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2. Hukuman
Happy Reading
Setelah upacara berakhir, seluruh siswa pun berhamburan kembali ke segala arah. Ada yang pergi ke blok IPA, blok IPS, dan bahkan ada yang pergi ke kantin untuk membeli minuman sama seperti Wulan dan Aily yang baru kembali dari kantin sehabis membeli minuman.
Aily pergi menuju kelas bersama Wulan. Entah kenapa di benaknya masih tidak percaya bahwa Wulan mau menjadi temannya. Rasanya seperti salju yang muncul di tengah-tengah gurun, sangat tidak mungkin.
"Wulan…" Panggil Aily pelan.
"Hmm?"
"Kamu kok gak ngomong gue-lo sih sama aku?" Tanya Aily dengan polosnya yang membuat Wulan sangat gemas terhadap sifat lucunya itu.
"Kenapa ya? Aku biasanya sih ngomong gue-elo sama siapapun. Tapi waktu sama kamu, rasanya beda gitu. Aku juga bingung."
Aily mengangguk tanda paham. Kemudian, mereka pun akhirnya sampai di depan pintu kelas. Seketika Aily mengernyitkan keningnya ketika melihat coretan tipe-x di mejanya.
Banyak sekali coretan-coretan tipe-x yang ada di mejanya. Padahal, tertulis dengan jelas di peraturan sekolah bahwa, siswa maupun siswi dilarang mencoret-coret fasilitas sekolah.
Mereka pun menatap tulisan yang ada di meja tersebut.
Aily ❤ Alderza
Aku cinta banget sama Alderza
Tapi Alderza selalu aja nolak aku
Padahal dia itu segala-galanya buatku
Bajingan!!!!
Aily melotot kaget melihat tulisan-tulisan itu. Cewek itu berani bersumpah kalau ia tidak pernah menulis hal tersebut.
Apalagi sampai menulis ia mencintai Alderza dan bahkan berkata kasar seperti itu. Dan ia berani bertaruh bahwa mejanya sejak tadi pagi masih bersih tak bernoda sama sekali.
Ada apa ini? Bagaimana ini bisa terjadi?
Aily benar-benar sudah tidak bisa menahan amarahnya kali ini. Biasanya, ia bisa bersabar dan sedikit melawan pada Genk Alderza. Tapi kali ini, ia sudah tidak bisa lagi.
"Woy liat tuh, Aily ternyata suka sama Alderza!" Teriak Sinta yang membuat semua murid yang ada di kelas melihat ke arah Aily.
"Diem-diem suka juga lo ternyata. Dasar cewek gatel!" Balas Aily.
Mereka berdua terus tertawa begitu kencang, sehingga menarik perhatian murid-murid lain yang sebelumnya tidak menghiraukan mereka, kini berbalik memperhatikan ke arah Aily.
"Huuu kaciannya, ditolak mulu sama Alderza. Makanya, jadi orang tuh tau diri, tipe cewek Alderza itu ya bukan kayak lo!" Ejek Sinta.
"Gak nyadar diri lo, gak punya kaca ya?!"
Semburat senyum terpancar di wajahnya. Ia ingin sekali marah, tapi hanya buang-buang waktu saja. Pada akhirnya, tetap saja selalu seperti ini.
Ia hanya tersenyum, tersenyum dan tersenyum lagi.
Ia terus teringat dengan apa yang diajarkan oleh Mamanya.
Jangan pernah membalas api dengan api, kamu harus membalasnya dengan air. Karena, jika kamu membalasnya dengan api lagi, api itu akan semakin besar. Lain cerita jika membalasnya dengan air, api itu malah akan padam dengan sendirinya.
Hembusan napas pelan keluar dari bibirnya, menahan setiap emosi yang terus bergejolak dalam dirinya, dan menutupinya dengan senyuman di wajahnya.
"Aily, kamu jangan diem aja dong. Lawan mereka!" Ucap Wulan tidak terima Aily direndahkan begitu saja.
"Santai aja, lagian kalo nanti bu guru nanya juga gak bakalan percaya kok."
"Maksudnya?"
"Kalo aku ditolak sama Alderza, ngapain aku ngaku-ngaku dan bahkan sampe nulis di meja aku. Malu-maluin aja." Balas Aily yang sukses membuat Wulan tersenyum.
"Bagus, untung aja aku yang sebangku sama kamu. Kita lihat aja nanti siapa yang menang."
Wulan mengedipkan satu matanya kepada Aily yang seketika membuat Aily tertawa kecil. Benarkah seorang Aily tertawa? Biasanya ia hanya memperlihatkan senyuman saja, tapi kali ini ia tertawa.
Semua yang ada di ruangan tersebut tercengang melihatnya, termasuk Sinta dan Riska. Dengan wajah yang masam, mereka pun kembali ke tempat duduk mereka.
Tak lama kemudian, bu Asih selalu wali kelas mereka pun masuk ke dalam kelas. Bu Asih merupakan wali kelas dari kelas XII IPS 4 yang juga merupakan guru mapel Matematika yang paling di benci oleh sebagian besar murid di kelas tersebut.
Ia langsung tersenyum kepada Wulan karena tahu ia adalah murid baru di kelas tersebut.
Selang beberapa menit kemudian, Alderza beserta kedua temannya pun masuk ke dalam kelas dan langsung duduk di bangku mereka masing-masing.
"Ada murid baru ya, ayo kenalin diri dulu di depan." Ucap bu Asih sembari tersenyum.
Wulan dengan sangat percaya diri maju ke depan, ia tersenyum kepada seluruh orang yang ada di sana dan berkata.
"Aku Wulan Gabriella, panggil aja aku Wulan. Sebelumnya, aku sekolah di Jakarta Selatan. Alasan aku pindah ke sini, karena dipindahtugaskan nya Papa aku ke Bandung sebagai kepala sekolah baru di SMA ini."
Mereka semua tercengang mendengar hal tersebut. Pantas saja Wulan berani menentang Genk Alderza. Ternyata dia adalah anak dari kepala sekolah yang baru. Sial!
Ini sebuah ancaman baru bagi Genk Alderza. Apalagi melihat kedekatan Wulan dengan Aily.
"Sekarang, kamu boleh cari tempat duduk yang masih kosong, Wulan."
Tanpa sedikit pun keraguan, Wulan berkata. "Di depan bu, bareng Aily."
Sembari tersenyum, bu Asih mempersilahkan cewek pemberani tersebut untuk duduk. Tapi, sebelum Wulan duduk, ia kembali berkata.
"Tapi, meja Aily kotor bu. Ada yang coret-coret mejanya pake tipe-x bu."
Pernyataan Wulan tersebut seketika membuat Sinta dan Riska seperti tersengat lebah. Mereka merasa tersindir atas apa yang Wulan katakan.
Bu Asih melihat tulisan di meja tersebut. Ia menghembuskan napas sejenak dan kemudian beralih menatap Alderza.
"Alderza Rajendra, pulang sekolah kamu harus bersihin kelas ini sendirian selama satu minggu. Dan selama jam pelajaran saya, kamu yang harus maju buat ngerjain tugas yang saya berikan!" Bentak bu Asih.
Apa? Satu minggu? Kenapa harus cowok itu?
Alderza bahkan sama sekali tidak mengetahui tulisan apa yang ada di meja itu. Ia berani bersumpah bahwa ia sama sekali tidak melakukan apapun.
"Loh, kok gitu sih bu!?"
"Jangan ngebantah!"
Alderza mengepalkan tangannya kesal. Hukuman kali ini, terpaksa harus ia jalani. Mungkin hukuman membersihkan kelas sendirian itu bukan masalah, tapi tugas?
Bu Asih adalah guru Matematika, mata pelajaran yang paling dibenci oleh sebagian besar murid di kelas tersebut.
Alderza masuk ke jurusan IPS justru karena ingin menghindar dari Matematika. Tapi ternyata ia salah, masih ada celah dimana Matematika masih akan terus menghantui hidupnya.
Ia berdecak sebal sembari memicingkan matanya ke arah guru menyebalkan tersebut.
"Oke, siapa takut!" Ucap Alderza tidak punya pilihan lain.
***
Sepulang sekolah, Aily merasakan hal yang mengganjal di hatinya. Terlebih dari ekspresi Alderza, ia tahu bahwa cowok itu sama sekali tidak melakukan hal tersebut.
Dibalik semua tulisan-tulisan itu, Aily tahu betul bahwa Sinta dan Riska lah yang menulisnya.
Wulan saat ini sudah pamit pulang bersama dengan ayahnya. Entah ia menunggu atau langsung pulang, ia sama sekali tidak tahu. Yang pasti Wulan saat ini sedang berada di gerbang sekolah.
Hal yang Aily lakukan selanjutnya adalah kembali ke kelasnya. Ia tahu risiko apa yang menantinya jika ia kembali sekarang.
"Biar aku aja yang sapuin sama pel, kamu bantu angkatin kursi aja." Ucap Aily yang seketika membuat Alderza kaget.
Untuk apa Aily kemari? Sementara teman-temannya malah pergi meninggalkannya. Benar-benar menyebalkan.
Kenapa harus Aily dengan semua keculunannya itu?
Jaket ungu? Tas ungu? Buku ungu? Semua berwarna ungu, seperti bocah saja.
"Aku tau kalau bukan kamu yang nulis." Balas Aily.
"Terus, lo mau pura-pura baik sama gue gitu?"
"Enggak juga."
"Gue gak peduli ya, mendingan lo beresin ini semua sementara gue yang balik sekarang juga." Bentak Alderza sembari menatap Aily dengan penuh kebencian.
Bukannya takut, Aily malah tersenyum dan berkata.
"Oke." Balas Aily lalu mengangkat kursi satu-persatu.
Alderza terkejut, tapi sepersekian detik kemudian, ia menghilangkan ekspresi terkejutnya.
Tanpa ragu, cowok itu pergi meninggalkan Aily yang sedang membersihkan kelas sendirian.
"Kenapa cewek itu gak pernah marah?" Tanya Alderza dalam hatinya.
Kemudian, ia pergi menuju mobilnya dan langsung menancapkan gas menuju tempat ia menongkrong dengan teman-temannya.
"Eh bro, cepet banget dah ke sini aja. Udah beres tah?" Tanya Rafa.
Sementara itu, Bintang sedang asik memperhatikan bokong cewek yang ada di sebrang mereka.
"Si Aily yang beresin." Balas Alderza santai.
"Bagus, biar tau rasa tu bocah!" Ucap Sinta sangat senang.
Entah kenapa terbesit sedikit rasa tidak enak kepada cewek tersebut. Teman-temannya lah yang membuat kesalahan, tapi pada akhirnya cewek tersebut lah yang menanggung akibatnya.
Alderza terdiam, tidak biasanya ia seperti ini. Tidak, bagaiman pun karena cewek itu lah dia akhirnya di hukum seperti ini.
Aily Marsela
Thank you yang udah baca guys. Kalo ada kesalahan kata, atau typo, atau ada yang kurang tepat, mohon untuk di koreksi ya.