Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Kemurkaan dan Kerapuhan
Siluet mereka akhirnya jelas. Sekelompok kavaleri berseragam hitam-perak Kekaisaran, sekitar tiga puluh orang, dengan seekor kuda yang lebih besar di depan membawa seorang komandan berbaju zirah lengkap. Di sampingnya, seorang lelaki tua berjubah abu-abu dengan tongkat kristal—pasti si Trace-Seeker. Yang membuat nafasku tersendat: tanah basah bekas salju itu tidak menimbulkan debu, membuat kedatangan mereka terasa sunyi dan lebih mengancam.
Mereka berhenti dalam formasi setengah lingkaran, sekitar lima belas meter dariku. Komandan itu, seorang pria dengan wajah berparut dan mata tajam seperti elang, menatapku seolah aku adalah binatang buruan.
"Rian, sang Pembangkit Terlarang," ujarnya, suaranya dalam dan berwibawa, menggemakan di tebing. "Namamu sudah menghiasi daftar buronan tertinggi Kekaisaran."
Aku menelan ludah, berusaha tetap tenang. "Komandan... aku hanya ingin berbicara. Aku bukan ancaman bagi siapapun."
"Seseorang dengan kekuatan untuk membangkitkan yang mati, melanggar hukum alam tertinggi, dan disebut sebagai 'Pembangkit Sempurna'... bukan ancaman?" ujarnya sarkastik. "Kau adalah penyakit yang harus dibersihkan demi tatanan dunia."
"Tatanan dunia?" balasku, sedikit emosi mulai menyala. "Dunia mana? Aku bahkan bukan dari dunia ini! Aku tersesat ke sini! Atas dasar apa kalian menuduhku sebagai ancaman untuk sebuah 'tatanan' yang bahkan bukan milikku?"
"Kekuatanmu bisa meruntuhkan kekuasaan Kekaisaran!" geramnya, wajahnya memerah. "Bayangkan jika musuh-musuh kami memiliki mayat hidup yang tak terhitung jumlahnya sebagai tentara! Bayangkan jika para pemberontak bisa membangkitkan pahlawan mereka yang telah gugur! Keseimbangan kekuatan akan hancur!"
"Aku tidak ingin meruntuhkan kekaisaranmu!" teriakku, frustrasi. "Aku cuma ingin pulang! Aku cuma ingin hidup damai! Aku bahkan tidak peduli dengan politik atau perang di dunia ini!"
"Perkataan seorang pengecut yang menyembunyikan kekuatan destruktif!" hardiknya. Dia tak lagi mendengarkan. Matanya penuh dengan keyakinan fanatik bahwa aku adalah iblis yang harus dimusnahkan. Dia melihat ke arah penyihir tua di sampingnya. "Serang! Bawa mayatnya jika perlu!"
Segalanya terjadi terlalu cepat. Si penyihir tua mengacungkan tongkatnya. Sebuah peluru energi merah menyala melesat darinya. Aku bahkan tidak punya waktu untuk bereaksi. Peluru itu menghantam bahuku dengan daya tembus yang mengerikan.
"ARRGGHH!"
Sakit yang tak terkira. Aku terjatuh, meraih bahu yang robek dan berdarah. Dunia berputar. Ini bukan seperti di film. Lukanya nyata, perih, dan mengucurkan darah yang sangat merah.
Itu adalah bukti nyata. Mereka tidak segan membunuhku.
Dan itu adalah sebuah kesalahan besar bagi mereka.
Segalanya berubah dalam sekejap.
Sebelum komandan itu bisa memerintahkan serangan kedua, angin berhenti.
Bukan berhenti biasa. Tapi seperti alam itu sendiri menahan napas. Suara ombak, desau angin, bahkan napas para tentara—semuanya lenyap dalam kesunyian yang tiba-tiba dan mencekam.
Lalu, dari arah belakangku, Ratri berubah.
Tubuhnya yang remaja tiba-tiba memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan, memaksaku memicingkan mata. Saat cahaya mereda, yang berdiri di sana adalah wujud dewi aslinya. Tinggi, agung, dengan rambut peraknya yang memanjang berkibar-kibar meski tidak ada angin. Tapi yang paling mengerikan adalah matanya. Warna emasnya sekarang bersinar seperti matahari cair, memancarkan kemurkaan abadi.
"Kau berani melukainya?" suaranya bukan lagi suara remaja, tapi gema yang menggetarkan udara, seolah-olah bumi sendiri yang berbicara. "Kau berani menyakiti Pembebasku?"
Dia tidak melambaikan tangan atau mengucapkan mantra. Dia hanya memandang kelompok tentara itu.
Dan tanah di bawah kaki para tentara hidup.
Akar-akar pohon tua dari dalam tanah menyembul dengan kecepatan yang tidak wajar, tebal seperti ular raksasa. Mereka melilit kaki kuda dan para tentara, mencengkeram dengan kekuatan yang menghancurkan tulang. Teriakan kesakitan dan erangan memecah kesunyian saat kaki-kaki mereka remuk dalam lilitan akar yang tak terlihat ujungnya.
Sang komandan berteriak memerintahkan serangan. Anak panah dan panah bersinar dari para penyihir bantuan melesat ke arah Ratri.
Tapi Eveline sudah bergerak.
Dengan kecepatan yang membuatnya terlihat seperti bayangan, dia melesat ke depan. Pedangnya yang sederhana berubah menjadi blur yang mematikan. Setiap ayunannya pasti, efisien, dan sadis. Dia tidak menusuk jantung atau leher. Tangannya yang kuat mencabik perut, memutus tendon, meremukkan tenggorokan. Dia bergerak melalui barisan tentara seperti badai kematian, meninggalkan jejak mayat dan tentara yang terluka parah dengan cara-cara yang mengerikan—tubuh terbelah, anggota tubuh terpental, kepala terpelintir ke arah yang tidak wajar.
Penyihir tua itu, si Trace-Seeker, mencoba membidikku lagi, tapi Ratri hanya meliriknya.
Tongkat kristal di tangan penyihir itu meledak menjadi serpihan-serpihan tajam yang justru menusuk tubuhnya sendiri dan para tentara di sekitarnya. Dia berteriak kesakitan sebelum sebuah akar raksasa menjulur dari tanah dan menghancurkan kepalanya seperti buah anggur yang diremuk. Darah dan otak berceceran.
Kekacauan total. Kengerian mutlak.
Aku terduduk, masih memegang bahu yang terluka, tak percaya dengan apa yang kulihat. Ini bukan pertempuran. Ini pembantaian. Ratri, dengan ekspresi dingin dewi yang menghakimi, dengan mudahnya merobek-robek formasi tentara itu tanpa menyentuh mereka. Eveline, mesin pembunuh sempurna, membersihkan sisa-sisanya dengan kekejaman yang membuatku mual.
Seorang tentara muda, mungkin masih remaja, berhasil menerobos dan mendekatiku dengan pedang teracung. Matanya penuh ketakutan. Sebelum aku atau siapa pun bisa bereaksi, sebuah akar tajam menembus dadanya dari bawah, mengangkat tubuhnya yang ringkas ke udara sebelum melemparkannya ke jurang.
"STOP! RATRI, EVELINE, STOP!" teriakku sekuat tenaga, suaraku pecah oleh keputusasaan.
Tapi mereka tidak mendengarkan. Amarah dan naluri perlindungan mereka sudah lepas kendali.
Aku melihat Ratri, di tengah keganasannya, terkena panah penyihir yang menyala di lengannya. Lukanya kecil, tapi dari sana bukan darah yang keluar, tapi cahaya keemasan.
Tanpa pikir panjang, dengan luka di bahuku yang masih perih, aku merangkak mendekatinya. Dengan sisa kekuatan, aku merobek ujung bajuku dan mencoba mengelap luka kecil di lengannya itu.
Dia terkejut, menatapku. Kemarahannya mereda untuk sesaat.
"Luka... kecil," bisiknya, suara dewinya masih bergema.
"Aku tahu," jawabku, suara serak. "Tapi... tetap saja." Bukan karena aku ingin mencuri hati atau terlihat heroik. Tapi karena di tengah semua kekacauan dan kengerian ini, di saat aku menyadari bahwa kekuatanku yang disebut 'sempurna' itu sama sekali tidak berguna dalam pertempuran. Aku hanya bisa membangkitkan orang mati, bukan menjadi pahlawan kuat seperti di anime yang bisa melawan bala tentara sendirian. Aku hanya bisa melihat orang yang mencoba melindungiku terluka, dan melakukan satu-satunya hal yang bisa kulakukan: peduli.
Namun, ketegangan belum berakhir. Masih ada sisa-sisa tentara yang belum lumpuh, dan para penyihir yang masih mencoba melawan dengan sihir penghancur. Ratri dan Eveline kembali fokus pada mereka, sementara aku terduduk di antara mayat dan kehancuran, menyadari betapa berbedanya dunia ini dari khayalanku, dan betapa gelapnya jalan yang harus kutempuh hanya untuk sekadar bertahan hidup.
Dengan napas tersengal, aku mencoba bangkit dari antara tubuh-tubuh yang berserakan. Namun, rasa sakit yang tajam dan dalam di bahuku langsung menjalarmembuatku terjatuh kembali. Aku memandang ke arah luka itu, dan yang kulihat membuat perutku mual. Kulit dan ototku terbelah, membentuk celah menganga yang cukup lebar. Di dalamnya, warna merah darah segar bercampur dengan jaringan yang rusak, dan—yang paling mengerikan—kilau putih tulang bahuku terlihat jelas di dasar luka. Rasanya seperti ada yang terus-menerus menusukku dengan besi panas.
"Jangan bergerak," suara Ratri yang tegas, namun halus, terdengar di sampingku. Wujud dewasa dewinya masih belum surut sepenuhnya, matanya yang keemasan kini dipenuhi kepanikan yang jarang kulihat. Tangannya yang biasanya memancarkan aura kekuatan kini terulur ke arah lukaku, menyala dengan cahaya keemasan lembut.
Aku bisa merasakan kehangatan sihirnya menyentuh kulitku, mencoba merangsang sel-sel tubuhku untuk menyatu, menutup luka itu. Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Cahaya keemasannya seperti memantul, atau lebih tepatnya, 'ditolak' oleh sesuatu di sekitar lukaku. Seolah-olah ada medan energi tak kasat mata yang melindungi area luka tersebut, mencegah kekuatan dewinya untuk masuk dan menyembuhkan.
"Tidak... tidak bisa," bisik Ratri, suaranya bergetar penuh rasa tidak percaya dan frustrasi. "Kekuatanku... tidak berpengaruh. Seperti ada sesuatu yang menolakku."
Aku mendesah, mencoba menahan rasa pusing. "Mungkin... karena kekuatan anomali-ku sendiri," gumamku, menganalisa situasi seperti kebiasaanku. Tubuhku, yang menjadi 'Pembangkit Sempurna', mungkin telah berubah secara fundamental. Mungkin hukum alam yang biasa, termasuk sihir penyembuhan, tidak sepenuhnya berlaku padaku. Atau mungkin, lukanya sendiri 'terkontaminasi' oleh sisa energi sihir penyerang yang bertentangan dengan intiku.
Ratri menarik tangannya, wajahnya dipenuhi rasa bersalah yang dalam. "Maaf, Rian. Aku... aku tidak bisa menyembuhkanmu. Aku tidak berguna."
Melihat ekspresinya yang seperti anak kecil yang gagal, sebuah tawa pendek dan getir terlepas dari bibirku, meski itu membuat lukaku semakin perih.
"Apa maafnya, Ratri?" ucapku, mencoba terdengar ringan. "Ini... ini bukan salahmu. Ini konsekuensi. Jalanku sendiri." Aku memandangi mayat-mayat di sekelilingku, lalu ke arahnya dan Eveline yang kini berdiri di sampingnya, tubuhnya masih dalam mode siaga, berlumuran darah yang bukan miliknya. "Kalian berdua sudah melindungiku dengan cara kalian. Aku yang tidak bisa melindungi diri sendiri."
Di tengah rasa sakit yang menyiksa, pikiranku justru menjadi jernih. Sebuah kesimpulan terbentuk dengan jelas.
"Kekuatan terbesarku... sekaligus kelemahan terbesarku," ujaku pelan, lebih kepada diri sendiri. Ratri dan Eveline mendengarkan. "Aku bisa menantang kematian, membangkitkan yang sudah tiada. Tapi aku sendiri... tetap rapuh."
Aku menatap luka menganga di bahuku. "Aku bukan pahlawan perkasa. Aku cuma manusia biasa yang kebetulan punya satu kemampuan spesifik yang tidak biasa. Dan di dunia yang keras ini, satu kemampuan saja tidak cukup."
Kesimpulanku sederhana, namun mendasar: Aku tidak bisa mengandalkan kekuatan 'Pembangkit'-ku untuk bertahan hidup sehari-hari. Aku butuh keterampilan lain. Bela diri, strategi, pengetahuan medis dunia ini—hal-hal yang bisa melindungi tubuh fana ini.
"Kita butuh... perban, air bersih, mungkin jarum dan benang untuk menjahit luka ini," ucapku, kembali ke mode praktis. "Penyembuhan untukku harus dengan cara duniawi. Dengan obat-obatan, bukan sihir."
Ini adalah pelajaran yang mahal. Kekuatan besarku tidak membuatku kebal. Justru, itu membuatku menjadi target. Dan untuk bertahan, aku harus belajar menjadi kuat dengan cara yang berbeda. Bukan dengan mengandalkan anomali, tapi dengan mengasah diri, mempelajari dunia ini, dan menerima bahwa di beberapa hal, aku akan selalu sama lemahnya dengan manusia mana pun.
"Tolong bantu aku berdiri," pintaku pada mereka. "Kita harus membersihkan area ini dan mengobati lukaku sebelum infeksi datang. Perang mungkin selesai, tapi pertempuran untuk bertahan hidup baru saja dimulai."
Dengan napas tersengal dan keringat dingin membasahi pelipis, aku menatap luka menganga di bahuku. Sihir Ratri tidak mempan. Artinya, satu-satunya harapan adalah pengobatan konvensional ala dunia ini. Aku harus bertindak cepat sebelum infeksi atau kehilangan darah yang parah terjadi.
"Ratri," ucapku, suara serak menahan nyeri. "Kau harus pergi. Kembali ke pelabuhan Frostwind. Cari toko herbal atau apoteker. Beli apa pun yang mereka gunakan untuk mengobati luka dalam. Akar, daun, salep... apa saja yang bisa membersihkan luka dan menghentikan perdarahan."
Ratri langsung membantah, wajahnya yang dewasa penuh kekhawatiran. "Tidak! Aku tidak bisa meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini! Lihat lukamu!"
"Eveline ada di sini," potongku, mencoba meyakinkannya. Aku menunjuk Eveline yang berdiri tegak dengan tatapan waspada, meski tubuhnya juga penuh coretan darah. "Dia akan menjagaku. Dan kau lupa?" Aku menyentuh kalung 'Echo Stone' yang masih tergantung di leherku. "Kita terhubung. Jika ada bahaya, aku akan memanggilmu. Kau bisa langsung kembali."
Aku melihat keraguan di matanya. "Dan tolong," tambahku, "tetap dalam wujud remaja. Jangan menarik perhatian. Beli obatnya seperti orang biasa, jangan gunakan kekuatan."
Ratri memandangiku lama, seolah menimbang-nimbang. Akhirnya, dengan napas berat, dia mengangguk. "Baik. Aku akan segera kembali."
Dia mengambil beberapa langkah mundur. Tubuhnya yang tinggi dan agung perlahan menyusut, rambut peraknya memendek, hingga yang berdiri di sana adalah gadis remaja bermata emas. Lalu, tanpa angin kencang atau cahaya berlebihan, tubuhnya melayang dengan lembut dari tanah sebelum melesat cepat ke arah cakrawala, meninggalkan jejak kabut keemasan samar yang segera menghilang.
Sekarang, hanya ada aku dan Eveline di tengah ladang pembantaian yang sunyi. Rasa sakit di bahuku semakin menjadi, berdenyut-denyut seiring dengan detak jantungku. Aku mencoba mencari sandaran—sebatang pohon, batu besar—tapi tidak ada. Hanya tebing di satu sisi dan mayat-mayat di sisi lain.
"Eveline," ucapku, suara sudah lemah. "Aku... butuh sandaran."
Dia langsung mendekat, tanpa ragu. Dengan kekuatan yang dimilikinya, dia dengan lembut memindahkanku, menyandarkan punggungku ke tubuhnya yang kokoh. Dia duduk di tanah, membiarkanku bersandar di antara kakinya, punggungku menempel pada dadanya. Awalnya, sentuhan tubuhnya yang dingin dan kaku melalui pakaian membuatku sedikit merinding, tapi saat ini, itu adalah satu-satunya hal yang mencegahku terjatuh ke tanah.
"Terima kasih," bisikku, menutup mata, mencoba mengatur napas untuk menahan rasa sakit.
Eveline tidak menjawab. Dia hanya diam, menjadi sandaran yang stabil. Tangannya yang kuat menahan bahuku yang tidak terluka, mencegahku tergelincir. Aku bisa mendengar... atau lebih tepatnya, merasakan, ketegangan di tubuhnya. Dia masih dalam mode siaga penuh, matanya yang biru terus mengawasi sekeliling, siap menghadapi ancaman apa pun yang mungkin datang.
Waktu berjalan lambat. Setiap detik terasa seperti jam. Rasa sakit yang tajam dan dalam terus menggerogoti kesadaranku. Aku mencoba fokus pada suara ombak di bawah tebing, pada desau angin yang mulai berhembus lagi, pada kehangatan tubuh Eveline yang meski dingin, setidaknya memberiku sedikit rasa aman.
Di tengah kabut rasa sakit, pikiranku melayang. Aku teringat rumah sakit di Jakarta, pada dokter dan perawat yang dengan terampil menangani luka. Di sini, aku hanya bergantung pada pengetahuan herbalistik dunia ini dan harapan bahwa Ratri akan kembali dengan sesuatu yang berguna.
"Jangan khawatir, Tuanku," tiba-tiba suara datar Eveline memecah kesunyian. "Aku di sini. Tidak ada yang akan menyentuhmu."
Kalimat sederhana itu, diucapkan dengan nada yang sama sekali tanpa emosi, justru memberiku kekuatan. Dia mungkin tidak memiliki jiwa, tapi dia setia. Dan di dunia yang gila ini, kesetiaan adalah sesuatu yang sangat berharga.
Aku memejamkan mata, bersandar lebih dalam, menyerahkan diriku pada perlindungannya sambil berharap Ratri akan segera kembali dengan obat yang bisa menyelamatkan nyawaku. Pertaruhan ini belum berakhir. Kami masih harus bertahan, dan kali ini, pertaruhannya adalah nyawaku sendiri.
Kesadaranku mulai memudar, seperti lilin yang ditelan gelap. Rasa sakit di bahu tak lagi tajam, tapi berubah menjadi beku yang menusuk, seolah es membekukan darahku dari dalam. Penglihatanku mengabur, tepian jurang dan langit kelabu berbaur menjadi satu hamparan buram.
"Eveline...?" panggilku lemah, tapi yang kudengar hanya desing angin yang semakin jauh.
Lalu, segalanya menjadi hitam. Namun, ini bukan ketiadaan. Aku merasa... mengambang. Dalam kekosongan yang sunyi, sebuah Kehadiran muncul. Bukan berupa wujud, tapi suatu Kesadaran yang begitu luas dan dalam, membuatku merasa lebih kecil dari sebutir debu.
"Anak-Ku," sebuah "Suara" yang bukan suara bergema langsung dalam jiwaku, lembut namun penuh wibawa yang tak terbantahkan. "Akhirnya Kita berbicara."
Aku tahu siapa Dia. Sang Maha Kuasa. Entah dari alam mana.
"Kekuatan yang Kau miliki... 'Pembangkit Sempurna'... bukanlah kecelakaan. Ia adalah amanah."
"Amanah untuk apa?" batinku, tanpa suara. "Aku tidak memintanya. Aku hanya ingin hidup biasa."
"Hidup 'biasa' jarang sekali diberikan pada mereka yang terpilih," jawab-Nya. "Kekuatan ini diberikan padamu bukan untuk menaklukkan atau menguasai. Tapi untuk memulihkan. Untuk menyembuhkan luka yang tidak bisa disembuhkan oleh waktu atau sihir. Untuk mengembalikan yang terpisahkan oleh maut, bukan dengan kebencian, tapi dengan pengertian dan penebusan."
"Tapi lihat apa yang terjadi!" protesku dalam hati, membayangkan ladang pembantaian yang baru kutinggalkan. "Kekuatan ini justru membawa kekacauan! Orang-orang mati karenanya!"
"Itu adalah konsekuensi, bukan tujuan. Cobaan untukmu. Bagaimana kau menggunakan anugerah sekaligus kutukan ini? Apakah kau akan menyalahgunakannya untuk kepentingan diri? Atau kau akan menemukan cara untuk membawanya pada jalur yang benar? Aku ingin melihatnya."
"Aku tidak mau! Aku tidak sanggup! Aku hanya ingin pulang! Kembali ke Jakarta, ke hidupku yang sederhana!" ratapku, merasa seperti anak kecil yang merengek.
"Jalani dulu, Nak," suara-Nya terasa seperti senyuman penuh kasih yang tak tergambarkan. "Semua ini ada alasannya. Percayalah, nanti kau akan mengerti mengapa kau dikirim ke sana. Mengapa justru dirimu, Rian Saputra, dari antara miliaran jiwa lainnya."
Aku ingin membantah lagi, memohon, tapi Kehadiran itu mulai menjauh. Suara-Nya yang terakhir bergema, lembut namun penuh tekad:
"Tunjukkan pada-Ku... seberapa besar usahamu untuk tetap menjadi 'manusia' di tengah segala kekuatan dan kegelapan yang akan kau hadapi. Jalani hidupmu di dunia itu..."
"RIAN! RIAAAN!"
Suara itu memecah kesunyian. Suara Ratri, panik dan penuh air mata, bercampur dengan gema perintah Sang Maha Kuasa.
"RIAN! RIAAAN! Buka matamu!"
Desisan itu menusuk telingaku. Ada yang mendekapku erat. Aku menarik napas dalam—napas pertama yang terasa bebas tanpa rasa sakit. Aku membuka mata.
Cahaya. Bukan cahaya suram Frostwind, tapi cahaya matahari yang hangat dan cerah. Langit biru membentang di atas. Aku mencium aroma garam dan angin laut. Pasir putih halus terasa di bawah tubuhku.
Aku tidak lagi di tebing. Aku berada di sebuah pantai.
Dan Ratri—dalam wujud remajanya—sedang memelukku erat-erat, wajahnya terkubur di bahuku yang... tidak lagi terluka. Air matanya yang hangat membasahi kulitku. Di belakangnya, Eveline berdiri dengan wajah lega yang jarang kulihat.
"Kau... kau tidak jadi pergi," isak Ratri, suaranya tersendat. "Aku kira... aku kira..."
Dia memelukku seolah-olah aku akan menghilang. Aku masih bingung, mencoba memahami. Lukaku yang menganga itu hilang. Hanya tersisa kulit yang mulus, seolah tidak pernah tertembus sihir mematikan.
Aku tidak banyak bertanya. Aku hanya membalas pelukannya dengan lemah, dan tersenyum. Senyum kecil yang penuh kelegaan dan sebuah pemahaman baru.
"Masih di sini, Rat," bisikku, suaraku serak namun tenang. "Aku masih di sini."
Ternyata, pulau yang kami tuju—yang dilihat Ratri dari kejauhan—menjadi tempat persinggahan kami yang tak terduga. Dan pengalaman 'berbicara' dengan Sang Maha Kuasa itu meninggalkan keyakinan dalam hatiku: perjalananku di dunia ini belum selesai. Ada tujuan yang harus kugenapi. Dan untuk sementara, inilah rumah baruku.