Karline sengaja bersembunyi di balik masker dan jaket gembel demi ketenangan. Namun, sebuah insiden di kolam renang membongkar segalanya. Di balik penampilan kumuhnya, ternyata ada kecantikan luar biasa yang membuat seisi sekolah lupa cara bernapas.
Dean, sang kapten voli yang populer dan arogan, tidak tinggal diam. Sejak napas buatan itu diberikan, Dean mengklaim Karline sebagai miliknya. Kini, Karline harus menghadapi dunia yang memujanya, sekaligus menghadapi obsesi posesif sang kapten yang tidak sudi berbagi tatapan Karline dengan pria mana pun.
"Lepaskan maskermu. Mulai sekarang, kamu aman di bawah kuasaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Bayang-Bayang yang Mengintai
Pagi itu, suasana di SMA Garuda Kencana terasa berbeda bagi Karline. Meskipun gosip tentang dirinya sudah mulai mereda berkat pembuktian di ruang BK tempo hari, ia tetap merasa ada sepasang mata yang terus mengawasinya dengan penuh kebencian. Namun, Karline memilih untuk mengabaikannya. Ia melangkah menyusuri koridor dengan balutan seragam yang rapi, tas selempang kecil menggantung di bahunya, dan yang terpenting gelang diamond putih dari Dean masih melingkar manis di pergelangan tangannya.
Di sisi lain, Dean tampak sedang berdiri di depan mading bersama Raka. Lebam di rahangnya sudah mulai menguning, tanda proses penyembuhan, namun raut wajahnya tetap tegas. Sejak pertengkarannya dengan Rio, Dean menjadi lebih pendiam namun jauh lebih waspada. Ia sudah tidak lagi terlihat nongkrong bersama gerombolan lamanya di belakang kantin.
Saat melihat Karline berjalan mendekat, mata Dean seketika berbinar. Ia meninggalkan Raka begitu saja dan menghampiri Karline.
"Selamat pagi, Karline. Kamu sudah sarapan?" tanya Dean dengan nada suara yang sangat lembut, sangat jauh berbeda dari suaranya yang biasa terdengar bariton dan memerintah.
Karline tersenyum tipis, jenis senyuman yang kini hanya ia berikan untuk Dean. "Sudah, Dean. Tadi Kak Andhika memasakkan sarapan sebelum aku berangkat. Kamu sendiri bagaimana? Wajahmu sudah tidak sakit lagi?"
Dean menyentuh rahangnya pelan lalu tertawa kecil. "Kalau melihat kamu, sakitnya langsung hilang entah ke mana. Oh iya, nanti pulang sekolah ada waktu? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, bukan tempat kumuh lagi, tapi tempat yang ingin aku tunjukkan padamu sejak lama."
Karline tampak berpikir sejenak. "Aku harus melihat jadwal belajar dulu, Dean. Aku tidak ingin Kak Andhika curiga lagi kalau aku pulang terlalu sore."
"Aku janji akan mengantarmu tepat waktu sebelum kakakmu selesai menyiram mobil," goda Dean sambil mengedipkan sebelah matanya.
Di sudut koridor yang gelap, Clarissa menyaksikan interaksi itu dengan tangan mengepal kuat. Kuku-kukunya yang dicat merah tajam menusuk telapak tangannya sendiri. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Dean, pria yang selama ini menjadi pusat dunianya, kini benar-benar telah berpaling pada gadis yang dianggapnya sebagai musuh.
"Kamu pikir kamu sudah menang, Karline?" desis Clarissa pelan. "Kita lihat saja berapa lama Dean bisa bertahan dengan gadis membosankan sepertimu."
Clarissa kemudian mengeluarkan ponselnya, mengirimkan sebuah pesan singkat kepada seseorang. Ia tahu bahwa meskipun Dean sudah memutus hubungan dengan Rio, Rio masih menyimpan dendam yang membara. Clarissa berniat memanfaatkan situasi itu.
Siang harinya, saat jam istirahat kedua, Karline sedang berada di perpustakaan sendirian untuk mencari referensi buku Olimpiade Kimia tingkat provinsi yang akan datang. Suasana perpustakaan yang sunyi membuatnya merasa tenang. Namun, ketenangannya terusik saat seseorang duduk di hadapannya secara tiba-tiba.
Karline mendongak, mengira itu adalah Dean. Namun, wajahnya seketika berubah kaku saat melihat Rio yang duduk di sana dengan tatapan yang sangat dingin dan tajam.
"Mau apa kamu di sini?" tanya Karline dengan suara rendah, tetap berusaha menjaga sopan santun di perpustakaan.
Rio menyeringai sinis. "Hanya ingin melihat sedekat apa gadis yang sudah berhasil menghancurkan persahabatan sepuluh tahun antara aku dan Dean. Kamu hebat ya, Karline. Dalam waktu singkat, kamu bisa membuat Kapten Voli kita itu jadi seperti budak yang penurut."
Karline meletakkan pulpennya, ia menatap Rio dengan berani. "Aku tidak menghancurkan apa pun, Rio. Kamu sendiri yang menghancurkannya dengan ego dan sikap burukmu pada adikmu sendiri. Dean hanya memilih untuk menjadi manusia yang lebih baik."
"Manusia lebih baik?" Rio tertawa pelan yang terdengar meremehkan. "Dia itu cuma kasihan padamu. Kamu pikir dia benar-benar menyukaimu? Dean itu suka tantangan, dan kamu adalah tantangan tersulitnya saat ini. Begitu dia sudah mendapatkanmu sepenuhnya, dia akan pergi, sama seperti dia pergi meninggalkan teman-temannya demi kamu."
Karline terdiam. Kata-kata Rio sedikit mencubit hatinya, namun ia segera menepisnya. Ia ingat bagaimana Dean menatapnya di kafe kemarin, bagaimana Dean membelanya di depan umum, dan bagaimana Dean tetap memakai gelang hitam pasangannya.
"Jika kamu datang ke sini hanya untuk meracuni pikiranku, sebaiknya kamu pergi. Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan omong kosong dari orang yang bahkan tidak bisa menghargai darah dagingnya sendiri," ucap Karline tegas.
Rio berdiri, ia membungkukkan tubuhnya ke arah Karline hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Hati-hati, Karline. Di sekolah ini, tidak semua orang senang melihat 'Tuan Putri' sepertimu bahagia. Akan ada saatnya Dean harus memilih antara kamu atau masa depannya di voli. Dan saat itu tiba, aku pastikan dia tidak akan memilihmu."
Setelah Rio pergi, Karline menarik napas panjang. Tangannya gemetar sedikit saat ia kembali memegang pulpennya. Meskipun ia percaya pada Dean, ia tahu bahwa dunia mereka memang berbeda, dan konflik yang terjadi di antara Dean dan teman-temannya adalah beban yang berat.
Sore hari tiba. Dean sudah menunggu di depan gerbang sekolah dengan motornya. Saat Karline keluar, Dean menyadari ada yang berbeda dari raut wajah gadis itu.
"Ada masalah di kelas? Atau soal lombamu tadi?" tanya Dean penuh perhatian saat ia membantu Karline mengenakan helm.
Karline menggeleng pelan. "Tidak ada apa-apa, Dean. Mungkin hanya sedikit lelah."
Dean menatap mata Karline dalam-dalam melalui kaca helm yang terbuka. "Kalau ada seseorang yang mengganggumu, katakan padaku. Siapa pun itu."
"Aku bisa mengatasinya sendiri, Dean. Ayo berangkat, sebelum langit semakin gelap," ajak Karline.
Dean akhirnya menghidupkan mesin motornya. Mereka melaju membelah jalanan kota yang mulai padat. Dean membawa Karline ke sebuah bukit di pinggiran kota yang memiliki pemandangan matahari terbenam yang sangat indah. Mereka duduk di atas rumput hijau, menatap langit yang berubah menjadi gradasi warna oranye dan merah muda.
"Karline," panggil Dean pelan. Ia meraih tangan Karline dan mengelus pergelangan tangan gadis itu, tempat gelang pemberiannya berada. "Aku tahu hubungan kita ini rumit. Banyak orang yang mencoba menjatuhkanmu karena aku. Aku ingin minta maaf untuk itu."
Karline menoleh, menatap profil samping wajah Dean yang tampak begitu tulus di bawah sinar senja. "Kamu tidak perlu minta maaf, Dean. Kamu sudah melakukan banyak hal untukku."
Dean kemudian melepaskan jaket motornya dan menyampirkannya di bahu Karline agar gadis itu tidak kedinginan. Ia kemudian memberanikan diri untuk merangkul bahu Karline, dan kali ini Karline tidak menolak. Ia menyandarkan kepalanya di bahu tegap Dean.
"Aku berjanji, Karline. Apa pun yang terjadi di sekolah, apa pun yang dikatakan Rio atau Clarissa, aku akan tetap di sini. Kamu adalah prioritasku sekarang. Bukan karena kasihan, bukan karena tantangan, tapi karena aku benar-benar menemukan kedamaian saat bersamamu," bisik Dean.
Mendengar pengakuan itu, Karline merasa beban di hatinya terangkat. Ia memejamkan mata, menikmati momen itu. Di bukit yang sepi ini, tidak ada status Kapten Voli atau Primadona Sekolah. Yang ada hanyalah Dean dan Karline, dua remaja yang sedang mencoba menemukan arti kasih sayang di tengah kerasnya dunia sekolah mereka.