NovelToon NovelToon
Lentera Di Balik Luka

Lentera Di Balik Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Bagi Jati, kesetiaan adalah harga mati. Namun, sebuah kecelakaan tragis merenggut kejantanannya, membuat pernikahan yang ia bangun bersama Mila berubah menjadi neraka dingin tanpa suara tangis bayi. Di tengah kehampaan itu, Mila memilih jalan pintas yang menyakitkan: berselingkuh dengan Andre demi mendapatkan keturunan yang tak bisa diberikan Jati.
Puncak kehancuran Jati terjadi saat Mila dengan terang-terangan memamerkan pengkhianatannya di depan mata, bahkan menghina kekurangan fisik Jati demi uang belanja. Di titik terendah hidupnya, saat ia merasa bukan lagi seorang lelaki, Jati bertemu dengan Lintang.
Lintang hanyalah seorang janda yang bekerja sebagai tukang pijat keliling untuk menyambung hidup. Pertemuan yang diawali dengan ketidaksengajaan di taman itu perlahan membuka mata Jati. Di balik sentuhan tangan Lintang yang sederhana, Jati menemukan penawar luka yang tak terduga—sebuah harapan bahwa harga diri seorang pria tidak hanya ditentukan oleh fisik, melainkan oleh ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Hujan turun seolah langit ikut menumpahkan amarah yang sejak tadi tertahan.

Di depan gerbang rumah mewah yang kini terkunci rapat bagi mereka, Mila berdiri mematung dengan sisa air mata yang bercampur dengan air hujan.

Andre, yang menyadari situasi sudah tidak lagi menguntungkan, segera menarik tangan Mila menuju mobilnya.

"Ayo pergi dari sini, Mila! Sebelum Jati benar-benar memanggil keamanan," ajak Andre dengan nada cemas.

Tanpa tujuan pasti, Andre membawa Mila ke rumah kontrakannya yang terletak di sebuah gang sempit.

Bangunan itu sangat jauh dari kata mewah. Sederhana, pengap, dan hanya memiliki ruang tamu kecil yang merangkap ruang makan.

Suara air hujan yang menghantam atap seng terdengar memekakkan telinga, menciptakan suasana yang semakin suram.

Mila duduk di atas sofa yang sudah kempis, memeluk dirinya sendiri yang gemetar karena kedinginan dan syok.

"Bagaimana ini, Andre? Jati benar-benar menceraikan aku. Dia bilang rumah itu mau dijual," isak Mila, wajahnya yang cantik kini tampak kuyu.

"Aku nggak punya apa-apa kalau nggak sama dia!"

Andre duduk di sampingnya, melepaskan jaketnya yang basah dan mencoba merangkul bahu Mila untuk menenangkannya. Namun, tatapan mata Andre tidak lagi seperti dulu.

Ada kilat kegelisahan karena wanita yang ia harapkan membawa kekayaan kini justru kehilangan segalanya.

"Sudah, tenang dulu, Mila. Jangan dipikirkan sekarang," ucap Andre, meski suaranya terdengar ragu.

"Kamu masih punya aku, kan? Kita bisa tinggal di sini sementara. Jati mungkin cuma emosi sesaat, nanti kalau dia sudah tenang, kita coba bicara lagi soal pembagian uang rumah itu."

"Tapi dia sudah talak tiga, Andre! Dia nggak main-main," Mila membenamkan wajah di telapak tangannya.

"Sttt... sudah. Yang penting sekarang kamu aman di sini," bisik Andre sambil mengelus rambut Mila.

Di tengah kesederhanaan rumah Andre yang pengap, Mila mulai merasakan penyesalan yang sangat dalam.

Ia merindukan kasur empuknya, harum aromaterapi di rumah Jati, dan kenyamanan yang selama ini ia injak-injak.

Ia baru menyadari bahwa cinta Andre mungkin tidak akan cukup untuk membiayai gaya hidupnya yang tinggi.

Sementara itu, di rumahnya yang tenang, Jati justru merasa damai dalam kesendiriannya, menantikan hari esok di mana sosok Lintang akan datang membawa kehangatan yang sesungguhnya.

Pagi itu, suasana di kediaman Jati terasa sangat sibuk namun dingin.

Jati berdiri di tengah ruang tamu, mengamati beberapa pria tegap yang merupakan anak buahnya mulai mengosongkan rumah.

Tidak ada lagi keraguan di matanya; yang tersisa hanyalah tekad untuk menghapus semua jejak pengkhianatan dari hidupnya.

"Buang semua barang milik Mila. Semuanya. Jangan ada satu pun yang tersisa di rumah ini," perintah Jati tegas, suaranya menggema di ruangan yang mulai kosong.

Anak buahnya dengan cekatan memasukkan pakaian-pakaian mahal, tas branded, dan perhiasan yang pernah Jati belikan ke dalam kantong-kantong besar.

Bagi Jati, benda-benda itu kini tak lebih dari tumpukan sampah yang mengingatkannya pada kepalsuan.

"Tolong hubungi agen properti. Jual rumah ini dengan harga terendah agar cepat laku. Aku tidak butuh untung dari tempat ini, aku hanya ingin rumah ini segera beralih tangan."

Setelah memastikan barang-barang pribadinya sendiri telah dipindahkan ke apartemen, Jati melangkah keluar tanpa menoleh lagi.

Ia menuju apartemennya terlebih dahulu, ingin meletakkan beberapa berkas penting sebelum memulai hari di perusahaan.

Sesampainya di apartemen, suasana sunyi dan tenang menyambutnya.

Ia menaruh tas kerjanya di atas meja marmer, lalu pandangannya tertuju pada jam dinding.

Pukul sembilan pagi. Masih ada beberapa jam sebelum sore tiba—waktu di mana Lintang berjanji akan datang membawa pindang kecap pesanannya.

Anehnya, memikirkan kedatangan wanita sederhana itu membuat rasa lelah Jati sedikit berkurang.

Ia merasa seolah sedang membersihkan jiwanya dari lumpur, dan kehadiran Lintang adalah air bersih yang ia butuhkan.

Jati menarik napas panjang, merapikan kerah kemejanya di depan cermin, dan bersiap menuju kantor.

Hari ini ia bukan lagi Jati yang terpuruk karena cacat fisiknya atau pengkhianatan istrinya. Ia adalah seorang pria yang sedang membangun kembali harga dirinya dari nol.

Di kantor pusat, suasana terasa lebih tegang dari biasanya.

Jati berjalan melewati lobi dengan langkah mantap dan tatapan tajam yang selama ini meredup.

Para staf yang biasanya melihat Jati hanya diam atau tampak lesu, kini terkesiap dan bergegas merapikan posisi duduk mereka.

"Saya ingin laporan audit semester ini ada di meja saya dalam satu jam. Dan batalkan semua vendor yang ada sangkut pautnya dengan keluarga Mila," ucap Jati dalam rapat singkat dengan nada yang sangat berwibawa.

Ketegasannya membuat para manajer tidak berani membantah.

Jati yang dulu telah kembali—pria yang dingin, cerdas, dan tak kenal kompromi.

Sementara itu, di sebuah pasar tradisional yang ramai, Lintang sedang sibuk memilih bahan-bahan terbaik.

Di dalam tas belanjaannya sudah ada ikan pindang segar dan bumbu-bumbu untuk menu kecap kesukaan Jati. Namun, kali ini ia ingin memberikan yang lebih spesial.

"Bu, beli ayam kampungnya satu yang gemuk ya. Mau saya buat sop supaya badan Mas Jati segar," gumam Lintang pada penjual ayam.

Tak lupa ia memilih kentang kualitas bagus untuk dibuat perkedel sebagai pelengkap.

Setelah urusan sayur-mayur selesai, Lintang bergeser ke pojok pasar tempat penjual rempah-rempah.

Matanya dengan teliti memilih jahe merah yang besar, serai yang masih segar, dan kunyit tua.

"Sama telur ayam kampungnya setengah lusin ya, Pak," tambahnya.

Sebagai seorang terapis tradisional, Lintang tahu bahwa luka hati Jati perlu diobati dengan makanan enak, tapi fisik Jati juga butuh asupan herbal.

Ia berniat meracik jamu khusus dari jahe, serai, dan kunyit untuk melancarkan peredaran darah Jati, ditambah kuning telur ayam kampung untuk menambah stamina pria itu.

Sesampainya di rumah, dapur kecil Lintang mulai berasap.

Aroma sop ayam yang gurih beradu dengan wangi pindang kecap yang manis-pedas.

Sambil mengulek kentang untuk perkedel, Lintang membayangkan wajah Jati. Ada rasa iba sekaligus kagum pada pria itu.

"Semoga dengan jamu ini, saraf-saraf Mas Jati bisa cepat pulih," bisiknya dalam hati penuh harap.

Setelah semua masakan matang, Lintang menatanya dengan sangat rapi di dalam wadah-wadah bersih.

Ia mengenakan pakaian terbaiknya yang sederhana namun rapi, siap menuju apartemen Jati sore ini.

Tepat pukul lima sore, mobil hitam mewah itu kembali berhenti di depan rumah kontrakan Lintang.

Sang pengawal turun dengan sikap yang jauh lebih hormat dari sebelumnya.

Ia membukakan pintu untuk Lintang yang membawa tas jinjing berisi rantang susun dan sebuah botol kaca berisi ramuan herbal yang masih hangat.

Sesampainya di apartemen, suasana terasa sangat tenang.

Sang pengawal menempelkan kartu akses dan mempersilakan Lintang masuk.

"Mbak Lintang, silakan masuk terlebih dahulu. Pak Jati tadi berpesan kalau beliau masih ada rapat penting yang tidak bisa ditinggalkan di kantor. Mungkin sebentar lagi beliau sampai," ucap pengawal itu sebelum pamit untuk menunggu di lobi.

Lintang mengangguk pelan. "Baik, Mas. Terima kasih."

Begitu pintu tertutup, Lintang melangkah menuju dapur bersih yang bernuansa modern itu.

Ia mengamati sekeliling; apartemen itu kini tampak sedikit berbeda.

Ada beberapa koper besar dan tumpukan buku di sudut ruangan, menandakan bahwa Jati kini memang benar-benar tinggal di sini secara permanen.

Dengan cekatan, Lintang mulai bekerja. Ia mengeluarkan piring-piring porselen putih dari rak dan mulai menata hasil masakannya.

Di tengah meja, ia menyajikan Pindang Kecap yang berkilau kecokelatan, dikelilingi oleh Perkedel Kentang yang digoreng garing keemasan.

Sebuah mangkuk besar ia isi dengan Sop Ayam Kampung yang uapnya masih mengepul, menebarkan aroma kaldu yang segar dan gurih ke seluruh ruangan.

Terakhir, ia meletakkan gelas berisi Ramuan Jahe, Sere, dan Kunyit yang telah dicampur dengan kuning telur ayam kampung.

Lintang menutupnya dengan rapat agar suhunya tetap terjaga.

"Semoga Mas Jati suka. Pasti capek sekali seharian di kantor," gumam Lintang sambil merapikan letak sendok dan garpu.

Kemudian ia duduk di kursi pantry, menatap ke jendela besar yang menampilkan kerlap-kerlip lampu kota Jakarta yang mulai menyala.

Dalam kesunyian itu, Lintang merasa aneh. Ia, seorang wanita desa yang hanya mengandalkan tangan untuk memijat, kini berada di sebuah hunian mewah, menunggu seorang pria terpandang pulang untuk menyantap masakannya.

Ada getaran aneh di dadanya dimana sebuah rasa yang sulit ia definisikan.

Ceklek!

Suara pintu terbuka memecah lamunan Lintang. Jati melangkah masuk dengan kemeja yang lengannya sudah digulung hingga siku dan dasi yang sudah sedikit dilonggarkan.

Wajahnya tampak sangat lelah, namun begitu matanya menangkap sosok Lintang yang berdiri menyambutnya, garis-garis tegang di wajahnya seketika melunak.

"Sudah lama menunggu?" tanya Jati, suaranya terdengar berat namun hangat.

1
tiara
sabar papa Jati demi si buah hati 🤭🤭🤭
tiara
selamat pa Jati dan Lintang atas kehamilan Lintang sehat selalu bumil
my name is pho: 🥰🥰 terima kasih kak
total 1 replies
tiara
nikmatilah hasilnya Mila, menyesal pun sudah tiada arti semua orang meninggalkanmu termasuk pacarmu
tiara
ceriitanya menarik tidak terlalu menguras emosi
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
tiara
rasain kamu Mila gatau diri sih, masih syukur dikasih uang masih aja kurang
Dessy Lisberita
bukan emas tpi logam mas kawinya
tiara
lanjuut thor
Dessy Lisberita
kenapa masih nungu unk membuang baju kotor
Dessy Lisberita
semoga normal kembali kejantanan jati
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Sweat/ "dramanya pasti akan semakin intens"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Hey/ "cowok sejati emang harus berani untuk bertanggungjawab"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Scare/ "tanda-tandanya nih..."
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Cry/ "sebagai cowok kami faham seberapa sakit kamu sebenarnya Wak huhuhu"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Puke/ "udahlah hubungan kayak gini mendingan gak usah dipertahanin"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Shame/ "aku dibuat tak bisa berkata-kata"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Panic/ "buta matanya sampai gak sadar"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Angry/ "ini kembarannya Jule kah?"
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
tiara
bagus tinggalkan saja baju kotormu karena sudah tidak bisa dipakai lagi
tiara
mampir thor mulau membaca ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!