Lima sahabat mendaki Gunung Ciremai untuk merayakan kelulusan, namun terjebak di tengah wabah mayat hidup yang muncul dari balik kabut. Di jalur Linggarjati yang ekstrem, perjalanan perpisahan ini berubah menjadi ujian survival yang brutal. Mereka harus memeras logika, naluri, dan kesetiaan demi bertahan hidup dari kepungan monster sekaligus tipisnya oksigen di puncak tertinggi Jawa Barat.
Mereka bergabung bersama Satria seorang tentara, dan Shakira seorang dokter untuk Bertahan Hidup dari serangan Mayat Hidup.
Jika kalian diposisi mereka apa yang akan kalian lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Suara langkah datang dari arah jalur utama.
Bukan langkah pendaki biasa. Tidak ada suara carrier yang berguncang. Tidak ada suara trekking pole yang menggesek permukaan jalur. Ini langkah orang yang terlatih bergerak di medan yang tidak dikenal. Orang yang tahu cara menempatkan kaki di titik paling efisien tanpa menghasilkan suara yang tidak perlu.
Rehan yang pertama mendengar. Langsung setengah berputar, satu tangan terangkat ke belakang isyarat yang langsung dipahami semua orang untuk diam dan tidak bergerak.
Dari balik tikungan, empat orang muncul.
Seragam lapangan tanpa tanda yang mencolok. Perlengkapan yang jelas bukan perlengkapan SAR biasa. Mereka bergerak dalam formasi yang terbentuk sendiri, dengan cara yang hanya bisa dimiliki orang-orang yang sudah sering bergerak bersama dalam situasi yang tidak normal.
Yang paling depan tinggi. Rahang tegas. Matanya sudah mengecek seluruh situasi dalam tiga detik pertama lima remaja, satu tubuh yang masih sesekali kejang di tanah, satu yang berlutut di sampingnya, satu yang berdiri dengan ranting di tangan.
"Kalian tidak apa-apa?"
Suaranya tenang. Bukan tenang yang dipaksakan tapi tenang yang sudah menjadi default setelah cukup lama menghadapi situasi yang jauh dari normal.
"Kami baik." Rehan menjawab. Suaranya tidak sepenuhnya stabil tapi cukup menjadi jawaban.
Laki-laki itu berjalan maju. Pelan. Tangan di sisi tubuhnya, terbuka gestur universal yang artinya: saya tidak datang untuk menyakiti.
"Siapa yang memukul dia?"
"Gue." Yazid menjawab langsung.
Laki-laki itu menatap Yazid sebentar. Ekspresinya tidak berubah. "Bagus."
Dia mengangguk ke timnya isyarat yang langsung dieksekusi. Tiga orang bergerak ke posisi masing-masing: satu ke sisi Fajar, dua ke perimeter.
"Nama saya Satria." Suara laki-laki itu tegas. "Saya dan tim yang menangani situasi ini dari sini. Kalian tidak perlu melakukan apa pun kecuali mengikuti instruksi saya."
"Kak Satria tahu soal dia?" Zidan bertanya dari posisinya yang masih berlutut.
Satria menoleh ke Zidan. Matanya sempat melihat kondisi Fajar di tanah. "Saya tahu cukup."
"Itu bukan jawaban."
"Untuk sekarang, iya."
Satria berjongkok di sisi Fajar yang berlawanan dari Zidan. Mengecek kondisi dengan gerakan terlatih tanpa sarung tangan yang dilepas dulu, tanpa alat yang dikeluarkan. Hanya mata yang membaca situasi.
Guratan di leher. Warna kulit yang salah. Pola yang terlalu teratur.
Sesuatu di ekspresinya bergerak sangat kecil. Hanya terlihat kalau yang melihat memang sedang mengawasi wajahnya.
Dia berdiri.
"Kalian berlima sudah berapa lama di area yang sama dengan dia?"
"Dari semalam." Runa menjawab. "Sekitar jam sebelas malam."
"Ada yang kena kontak langsung?"
"Tidak."
"Yakin?"
"Yakin."
Satria mengangguk. Matanya bergerak ke masing-masing wajah mereka penilaian yang cepat tapi menyeluruh. Berhenti di Zidan yang masih berlutut di samping Fajar.
"Kamu. Berdiri."
Zidan berdiri.
"Kondisi fisik?"
"Baik."
"Saturasi?"
"Borderline. Kondisi kronik."
"Gejala lain?"
"Pusing dua kali di jalur atas. Konsisten sama kondisi paru-paru saya bang."
Satria menatapnya satu detik lebih lama. Lalu beralih ke yang lain.
"Darmawan." Satria memanggil salah satu anggota timnya. "Siapkan tandu. Kita evakuasi sekarang."
"Siap, Pak."
Anggota tim yang dipanggil Darmawan mulai mengeluarkan tandu lipat dari carrier-nya. Yang lain mulai mengambil posisi.
"Kak." Zidan kembali bersuara. "Apa yang sebenarnya terjadi sama dia?"
Satria yang sedang memberi instruksi ke timnya berhenti sebentar. Menoleh ke Zidan.
"Itu yang sedang kami coba cari tahu."
"Bukan jawaban yang saya minta bang."
"Saya tahu." Satria menatap Zidan langsung. "Tapi itu jawaban yang bisa saya berikan sekarang."
Zidan tidak memperdebatkan lebih lanjut. Tapi cara dia menerima jawaban itu dengan mengangguk pelan, dengan cara seseorang yang menyimpan pertanyaan untuk ditanyakan di waktu yang lebih tepat membuat Satria mendapat kesan bahwa ini bukan akhir dari percakapan itu.
Hanya jeda.
"Protokol evakuasinya bagaimana?" tanya Rehan.
"Sederhana." Satria kembali ke mode komandan. "Kalian jalan di antara anggota tim saya. Tidak ada yang tertinggal, tidak ada yang berjalan lebih dari dua meter dari kelompok. Kita turun langsung ke pos pendaftaran."
"Estimasi waktu?"
"Dari sini satu setengah jam dengan kondisi normal. Mungkin lebih karena tandu."
"Dan kalau kondisinya tidak normal?" Yazid bertanya dari belakang.
Satria menatap Yazid. "Kita tangani ketika kondisinya tidak normal. Tidak perlu diantisipasi sebelum terjadi."
Yazid tidak mengatakan apa-apa. Tapi tangannya masih di sisi tubuhnya dengan cara yang tidak sepenuhnya santai.
Darmawan sudah selesai membentangkan tandu. "Siap, Pak."
"Bagus. Kita pindahkan."
Fajar bergerak.
Bukan gerakan kecil.
Bukan getaran atau kejang yang sudah mereka lihat dari tadi.
Seluruh tubuh Fajar melengkung dari tanah dalam satu gerakan punggung terangkat, kepala naik, dengan cara yang tidak punya transisi di dalamnya. Dari tergeletak ke duduk dalam satu detik. Dari duduk ke berdiri dalam satu detik berikutnya.
"MUNDUR!"
Tapi Fajar sudah bergerak sebelum Satria selesai berbicara.
Bukan ke arah yang sama seperti tadi. Kali ini tidak ada kalkulasi panjang, tidak ada pemilihan target dia melesat ke arah anggota tim Satria yang paling dekat, yang belum sempat mengambil jarak yang cukup karena baru saja menurunkan tandu.
Darmawan.
Mulut Fajar menggigit lengan Darmawan. Teratur, dengan presisi yang tidak natural untuk sesuatu yang baru saja bangkit dari kejang.
Satria sudah berada di antara mereka berdua sebelum kontak berlangsung lebih dari dua detik. Mendorong Fajar mundur, menarik Darmawan ke belakangnya.
"Darmawan. Kondisi."
Darmawan melihat lengannya. "Gigitan di kulit, Pak. Lengan kiri. Sarung tangan robek kecil."
"Duduk di sana. Jangan bergerak."
"Pak, saya masih bisa"
"Duduk."
Darmawan duduk di batang pohon yang tumbang di sisi jalur. Matanya tertuju ke Fajar yang sekarang berdiri beberapa meter dari mereka.
Fajar berdiri dengan kepala miring.
Matanya bergerak bukan ke Satria yang paling dekat, bukan ke Harto yang sudah mengambil posisi di sisinya. Ke belakang Satria. Ke lima orang yang berdiri di sana.
Matanya berhenti di Zidan.
Lagi.
Tiga puluh detik berlalu sejak kontak.
Darmawan di batang pohon mulai gemetar.
Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang perlu berbicara semua orang yang ada di area itu melihat hal yang sama dan otak manusia butuh waktu beberapa detik untuk menerima bahwa apa yang dilihatnya benar-benar terjadi.
Darmawan berdiri.
Dengan cara yang salah.
"LARI!"
Satu kata dari Satria. Volumenya berbeda dari semua yang dia ucapkan sejak pertama kali muncul bukan instruksi yang terukur, bukan perintah yang disampaikan dengan tenang. Satu kata yang keluar dari orang yang sudah tahu bahwa situasinya terlalu berbahaya untuk diam.
Lima orang langsung bergerak.
Bukan ke bawah ke bawah berarti melewati Fajar dan Darmawan yang sekarang berdiri berdampingan dengan cara yang sama persis, kepala miring ke arah yang sama, tatapan yang sama kosongnya. Ke samping ke sisi jalur, ke antara pohon-pohon yang rapat, ke dalam hutan yang tidak ada jalurnya.
Satria dan dua anggota timnya yang tersisa berlari bersama mereka.
Di dalam hutan, berlari berbeda dengan di jalur.
Tidak ada permukaan yang bisa diprediksi. Tidak ada jarak yang bisa diestimasi dengan akurat. Akar yang tidak terlihat, tanah yang tidak rata, ranting yang ada di ketinggian yang salah semuanya ada dan semuanya harus diproses dalam sepersekian detik sambil tubuh terus bergerak.
Salsabilla hampir jatuh di akar besar. Tangan Rehan ada di lengannya sebelum dia sempat sepenuhnya kehilangan keseimbangan sudah di sisi yang benar di momen yang tepat, seperti yang selalu dia lakukan tanpa pernah mengumumkan bahwa dia sedang melakukannya.
Runa berlari dengan ritme yang efisien. Tidak terlalu cepat di awal, karena lari terlalu cepat di awal di hutan tanpa jalur adalah cara paling efisien untuk kelelahan di titik yang paling salah.
Yazid di belakang semua orang. Matanya terus menoleh ke belakang. Menghitung. Membaca jarak.
Zidan berlari.
Paru-parunya protes sejak langkah pertama bukan protes yang bisa diabaikan, tapi protes dari organ yang sudah sering dia abaikan dan sudah tahu persis cara terus berjalan meski biayanya selalu ada.
"Tio." Satria berbicara ke radio sambil berlari. "Ini Satria. Situasi berubah. Dua objek aktif Fajar dan Darmawan. Keduanya mobile. Saya dan tim dalam pergerakan di dalam hutan, timur jalur Linggarjati kilometer tiga. Kirim bantuan. Ulangi kirim bantuan segera."
Suara Tio dari radio: "Konfirmasi, Pak. ETA empat puluh menit."
"Empat puluh menit terlalu "
Dari kanan dari arah yang tidak ada yang awasi karena perhatian semua orang ke depan dan ke belakang sesuatu bergerak di antara pohon-pohon.
Anggota tim Satria yang berlari di sisi kanan formasi, Hendra, tidak sempat bereaksi.
Kontak.
"HENDRA!"
Tapi Hendra sudah berdiri dengan cara yang salah dalam tiga puluh detik.
Tiga.
Sekarang ada tiga yang mengejar.
"TERUS LARI!" teriak Satria. "JANGAN BERHENTI!"
Mereka berlari lebih dalam ke hutan.
Pohon-pohon yang semakin rapat, cahaya yang semakin tipis karena kanopi yang semakin tebal, tanah yang semakin tidak bisa diprediksi. Tidak ada arah yang jelas hanya menjauh dari suara langkah yang terus ada di belakang mereka.
Anggota terakhir tim adalah Satria yang dari tadi berlari di sisi kiri formasi tiba-tiba tersandung di akar dan jatuh.
Sebelum dia sempat berdiri, sesuatu yang bergerak dari antara pohon-pohon sudah berada di atasnya.
Empat.
Satria yang melihat ini berhenti satu detik satu detik yang jelas terasa di semua bagian tubuhnya, di semua bagian kepalanya yang terlatih untuk tidak berhenti dalam situasi seperti ini. Tapi Satria tetaplah manusia. Dan ada hal-hal yang bahkan orang paling terlatih sekalipun butuh satu detik untuk diproses sebelum bisa diterima.
"Kak SATRIA!" Suara Rehan dari depan. "JANGAN BERHENTI!"
Satria berlari lagi.
Hanya dia sekarang.
Lima remaja dan satu letnan yang timnya tinggal menjadi bagian dari sesuatu yang tidak mereka punya nama yang tepat untuk menamainya.
sabar, yakin pasti byk yg mampir
💪💪💪
ambil yg bisa kau bawa, ingat temen"mu😂lari butuh tenaga💪
melirik, melihat dll, klu hrs ditambah awalan/akhiran tambahkan thor, spy bahasa'a enak dibaca
lanjuuuut👉👉👉
wlu cm baca, tp deg"an jg 💪
lanjut lagii
mrk blm saling kenal mosok manggil'a lu gue, yg pasti satria jg lbh tua✌
saran ajaa spy karyamu lbh sempurna💪