Deskripsi
Bagi Keylara Putri—atau Lara—hidup seharusnya sederhana. Lulus SMA, dan kuliah di Jakarta . Namun semua berubah saat orang tuanya memutuskan pindah ke luar negeri demi ekspansi bisnis besar. Lara keras kepala menolak ikut. Pilihannya hanya satu: tinggal bersama Arka Pratama—pamannya yang dingin, tegas, dan terakhir ia temui saat masih SD. Pertemuan kembali itu membuat Lara dan Arka terlibat sebuah konflik yang melibatkan perasaan satu sama lain,apa yang akan terjadi jika mereka harus tinggal diatap yang sama???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Moment yang canggung
Malam itu Arka masih berkutat dengan pekerjaannya di ruang kerja. Lampu meja menyala temaram, menyinari tumpukan berkas dan layar laptop yang sejak tadi tak berhenti menampilkan angka dan grafik. Sebenarnya tubuhnya sudah memberi sinyal lelah—bahunya terasa berat, pelipis berdenyut pelan—namun Arka bukan tipe yang mudah menyerah pada rasa capek. Menunda pekerjaan bukanlah kebiasaannya.
Akhirnya, ia berhenti sejenak. Punggungnya bersandar pada kursi. Arka memejamkan mata, berniat hanya memberi jeda beberapa detik pada pikirannya yang penat.
Di ruangan sebelah, Lara masih sibuk mengerjakan tugas. Jemarinya bergerak cepat di atas laptop hingga ia terhenti pada satu halaman: formulir biodata kampus. Matanya menyipit membaca kolom yang belum terisi—data wali dan tanda tangan.
“Oh iya…” gumamnya pelan.
Tanpa banyak pikir, Lara menutup laptopnya dan berdiri. Wali resminya saat ini adalah Arka. Dan setahunya, pamannya itu masih di ruang kerja.
Lara berjalan pelan menyusuri lorong. Ia mengetuk pintu ruang kerja Arka satu kali. Tak ada jawaban. Mengetuk lagi—tetap sunyi. Dengan ragu, Lara membuka pintu sedikit dan mengintip ke dalam.
Arka terlihat duduk bersandar di kursinya,dengan mata terpejam. Wajahnya tampak tenang, jauh dari kesan dingin yang biasanya melekat. Membuat Lara terpaku sejenak.
Entah dorongan apa yang membuatnya melangkah masuk. Pintu ditutupnya perlahan agar tak menimbulkan suara. Ia mendekat, berhenti hanya beberapa langkah dari Arka, lalu tanpa sadar mengamati pria itu lebih lama.
Lara harus mengakui—pamannya itu memang terlahir dengan anugerah ketampanan. Bahkan saat tertidur seperti ini, garis wajah Arka terlihat tegas namun tenang. Alisnya rapi, hidungnya mancung, dan… bulu matanya.
Panjang. Tebal. Terlalu sempurna untuk seorang pria.
Ini momen langka, pikir Lara. Jarang sekali ia bisa melihat Arka sedekat ini.
Tanpa sadar, tangannya terangkat perlahan. Jemarinya bergerak ragu, seolah ingin memastikan sesuatu. Tinggal sedikit lagi jarinya menyentuh bulu mata itu—
Tiba-tiba mata Arka terbuka.
Refleks, tangannya langsung menangkap pergelangan Lara. Gerakan mendadak itu membuat Lara kehilangan keseimbangan. Tubuhnya oleng, lalu jatuh terduduk—tepat di pangkuan Arka.
Waktu seolah berhenti.
Jarak mereka kini nyaris tak ada. Lara bisa merasakan hangat tubuh Arka, napasnya yang stabil, dan detak jantungnya sendiri yang tiba-tiba tak karuan. Arka pun terdiam, jelas tidak mengantisipasi posisi seperti ini.
Mata mereka saling bertaut.
Arka mendekatkan wajahnya perlahan. Lara refleks menutup mata, pipinya terasa panas, jantungnya hampir melompat keluar. Dalam kepalanya hanya ada satu pikiran kacau yang tak berani ia lanjutkan.
Namun yang terjadi bukanlah ciuman.
Arka justru berbisik, suaranya rendah dan dekat di telinga Lara,
“Lara… kamu mau duduk di pangkuanku sampai kapan?”
Lara tersentak. Matanya langsung terbuka. Wajahnya memerah seketika.
“A-aku—maaf!” serunya gugup sambil buru-buru bangkit dari pangkuan Arka. Ia mundur satu langkah, hampir tersandung oleh karpet. “Aku nggak bermaksud bangunin paman. Aku cuma—”
Arka mengamati tingkah Lara yang panik, bibirnya hampir mengulas senyum. Ada rasa gemas yang muncul tiba-tiba, tapi ia menahannya rapat-rapat.
“Ada perlu apa?” tanyanya datar, seolah kejadian barusan tak pernah terjadi.
Lara mengangguk cepat, lalu menyerahkan formulir yang sedari tadi ia genggam. “Ini… formulir dari kampus. Perlu tanda tangan wali.”
Arka mengambilnya, menandatangani tanpa banyak bicara. Setelah selesai, ia menyerahkan kembali kertas itu.
“Makasih, paman,” ucap Lara cepat, lalu berbalik. “Aku… aku permisi dulu.”
Begitu keluar dari ruangan, Lara berhenti sejenak di lorong. Tangannya mengepal kecil.
“Kenapa aku nutup mata sih tadi…” gumamnya pelan, mengutuk diri sendiri sambil menutup wajahnya yang panas.
Sementara itu, Arka kembali duduk di kursinya. Tangannya terangkat, menyentuh pelipis. Napasnya sedikit lebih berat dari sebelumnya.
Ia menatap kosong ke arah pintu yang baru saja ditutup Lara.
Bukan tidak apa-apa, pikirnya.
Ia menghela napas panjang, menyadari satu hal yang membuat dadanya terasa aneh—
Tadi… ia benar-benar sempat terpikir untuk mencium Lara.
Dan kesadaran itu membuat Arka terdiam jauh lebih lama dari yang ia rencanakan.
Di dalam kamarnya, Lara menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur seperti orang kalah perang. Lampu belum dimatikan, tas masih tergeletak sembarangan, tapi pikirannya jauh lebih berantakan dari semua itu.
Ia menatap langit-langit kamar. Terlihat Kosong. Tapi kepalanya? Terasa ramai saat ini.
“Kenapa… aku nutup mata?” gumamnya pelan.
Lara memutar badan, menenggelamkan wajahnya ke bantal lalu mendengus frustasi. Otaknya kembali memutar ulang kejadian barusan seperti adegan slow motion yang kejam.
Apa yang dipikirin paman Arka pas aku nutup mata?
Dia mikir aku ngarep?
Atau mikir aku aneh?
Atau… jangan-jangan dia sama kagetnya?
Lara duduk tiba-tiba.
“Dan kenapa juga aku kepikiran nyentuh bulu matanya?!” protesnya pada diri sendiri. “Itu BULU MATA, Lara. BULU. MATA.”
Ia menjambak rambutnya sendiri, lalu menghempaskan punggungnya lagi ke kasur.
Dan belum selesai di situ.
“Kenapa juga harus jatuh di pangkuannya?”
“Kenapa nggak jatuh ke lantai aja kek orang normal?”
“Kenapa refleks aku malah nutup mata, bukan minta maaf?!”
Satu per satu pertanyaan itu berjatuhan di kepalanya tanpa jawaban.
Lara memejamkan mata, tapi bukannya tenang, justru wajah Arka yang kembali muncul—jarak yang terlalu dekat, suara rendahnya, bisikan yang bikin jantungnya hampir copot dari tempatnya.
Dadanya menghangat. Lalu perih.
Ia memeluk bantalnya erat-erat.
Kenapa aku begini sih…
Kenapa kalau sama paman Arka aku selalu kehilangan kendali?
Lara tahu satu hal dengan sangat jelas: perasaannya pada Arka bukan sekadar kagum, bukan sekadar rindu masa kecil. Tapi ia juga tidak tahu harus menamai perasaan itu apa.
Cinta?
Sayang?
Atau hanya obsesi lama yang belum pernah sembuh?
Yang ia tahu, malam ini kepalanya penuh dengan kata "kenapa".
Dan semakin ia mencoba mencari jawabannya, semakin Lara merasa frustasi—bukan karena Arka, tapi karena dirinya sendiri.
Akhirnya, Lara menarik selimut menutupi kepalanya.
“Besok… aku harus gimana sih ngadepin dia…” bisiknya lirih, nyaris putus asa.
Pagi itu Lara bangun dengan perasaan campur aduk.
Hal pertama yang ia lakukan bukan membuka ponsel, tapi… menghela napas panjang.
“Tenang, Lara. Tarik napas. Hembuskan,” gumamnya sendiri sambil menatap langit-langit kamar.
Namun otaknya jelas tidak ikut tenang.
Adegan semalam terus berputar di kepalanya tanpa izin—
Pasti sekarang paman Arka mikir aku aneh. Atau lebay. Atau—astaga—dia pasti risih.
Lara bangkit dengan wajah kusut, berjalan ke kamar mandi, lalu berdiri cukup lama di depan cermin.
“Bersikap normal Lara. Normal saja,” katanya pada bayangannya sendiri.
Padahal jantungnya sudah berdebar bahkan sebelum keluar kamar.
Di luar dugaan Lara, suasana apartemen pagi itu sunyi tapi tidak tegang.
Aroma kopi dan roti panggang tercium dari dapur. Dan Arka sudah berada di sana.
Berdiri membelakangi Lara, mengenakan kemeja kerja warna gelap dengan lengan digulung rapi. Rambutnya sedikit berantakan—tanda pagi yang belum sepenuhnya rapi.
Lara berhenti di ambang pintu.
Ini dia… momen canggung itu.
Namun sebelum Lara sempat memutar balik, Arka menoleh.
“Oh, pagi,” sapanya santai. Tidak ada nada suara aneh. Tidak ada tatapan aneh. Tidak ada ekspresi yang Lara takutkan semalaman.
Hanya… Arka yang sama seperti biasanya.
Lara berkedip.
“H-hai, Paman,” jawabnya pelan.
Arka melirik sekilas ke arah wajah Lara. Ia menangkap sesuatu—bahu yang sedikit tegang, tangan yang menggenggam ujung sweater, dan tatapan yang terlalu hati-hati.
Ia paham dengan apa yang terjadi pada ponakannya itu.
Dan tanpa disadari Lara, Arka memilih untuk tidak menyinggung apa pun.
“Kamu mau roti atau telur?” tanya Arka sambil kembali fokus ke dapur. “Aku bikin agak kebanyakan.”
Kalimat sederhana itu… seperti tombol reset bagi Lara.
“Oh—roti aja,” jawab Lara cepat, sedikit lega.
Arka mengangguk, lalu meletakkan piring di hadapan Lara seolah tidak ada kejadian aneh semalam.
Tidak ada tatapan intens.
Tidak ada keheningan mematikan.
Tidak ada pembahasan yang membuat Lara ingin menghilang.
Justru Arka mulai bercerita ringan tentang rapat hari ini yang kemungkinan akan membosankan, tentang lift kantor yang kembali rusak, dan tentang supir taksi yang nyaris salah jalan kemarin.
Lara awalnya hanya mengangguk.
Lalu tersenyum kecil.
Lalu—tanpa sadar—tertawa pelan.
Dan di titik itu, Arka tahu: usahanya sudah berhasil.
Di sela makan, Arka berkata seolah sambil lalu,
“Ngomong-ngomong… kalau kamu masih kepikiran soal formulir kampus itu, nanti sore aku bisa cek ulang lagi. Biar nggak ada yang terlewat.”
Nada suaranya profesional. Netral.dan Aman.
Lara mengangguk. “Iya… makasih, Paman.”
Tidak ada lagi rasa canggung maupun ketegangan antara mereka
Semua ketakutan Lara semalam—bahwa Arka akan menjaga jarak, bersikap dingin, atau justru kikuk
tidak terjadi sama sekali. Dan itu membuat Lara… merasa hangat.
Sementara itu, Arka menyesap kopinya perlahan. Dalam hatinya, ia menghela napas.
"Syukurlah dia nggak makin kepikiran", batinnya.
Arka sadar satu hal pagi itu, Bahwa Lara masih rapuh dalam urusan perasaan.
Dan tugasnya sekarang bukan mendorong atau menjauh melainkan membuat Lara merasa aman.
Arka merapikan jam tangannya, lalu melirik jam dinding sekilas.
“Kita berangkat bareng?” tanyanya santai, seolah itu hal paling biasa di dunia. “Kalau nggak, nanti kamu keburu telat.”
Lara sempat terdiam sepersekian detik.
Ajakan itu sederhana. Tidak berlebihan. Justru terlalu normal.
“Iya… boleh,” jawab Lara akhirnya, tersenyum kecil.
Entah kenapa, kalimat sederhana itu saja cukup membuat dada Lara terasa lebih ringan. Seolah Arka secara tidak langsung berkata: semalam tidak mengubah apa pun yang seharusnya membuatmu merasa tidak nyaman.