NovelToon NovelToon
SILENT PROTOCOL: GHOST IN THE GRID

SILENT PROTOCOL: GHOST IN THE GRID

Status: sedang berlangsung
Genre:Agen Wanita / Identitas Tersembunyi / Action / Fantasi / Cintamanis / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

Raka adalah seorang "Hantu". Mantan operator elit dari unit rahasia yang keberadaannya tidak pernah diakui oleh negara. Setelah memalsukan kematiannya, ia hidup dalam bayang-bayang sebagai konsultan keamanan independen, memastikan rahasia-rahasia gelap korporasi tetap terkunci rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GARIS PANTAI

06:00 AM. Pesisir Selatan Yunani, Enam Bulan Kemudian.

Suara ombak Laut Mediterania menyapu pasir putih dengan irama yang menenangkan, jauh lebih lembut daripada deburan ombak Arktik yang hampir merenggut nyawa mereka. Matahari baru saja mengintip dari cakrawala, menyentuh dinding dinding putih bangunan tua di tepi pantai dengan cahaya emas yang hangat.

Di sebuah rumah kecil yang dibangun dari batu dan kayu tua, aroma kopi segar dan roti panggang mulai merayap keluar dari jendela yang terbuka. Di teras yang menghadap langsung ke laut, Raka berdiri diam. Ia tidak lagi mengenakan jaket taktis atau pelindung tubuh. Hanya kemeja linen biru muda yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan bekas luka di lengannya yang kini telah memudar menjadi garis garis putih samar.

Tangannya tidak lagi memegang senjata. Ia memegang sebuah buku tua berjudul The Odyssey.

Langkah kaki ringan terdengar dari dalam rumah. Tanpa menoleh, Raka tahu siapa itu. Ritme langkah itu telah terukir permanen dalam sistem sensorik alaminya.

Liana muncul, mengenakan gaun pantai tipis berwarna putih. Rambutnya sudah sedikit lebih panjang, tertiup angin laut yang membawa aroma garam. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Raka dari belakang, menyandarkan pipinya di punggung pria itu yang kokoh.

"Kau bangun terlalu pagi lagi, Kapten," bisik Liana, suaranya masih serak khas orang baru bangun tidur sebuah suara yang bagi Raka jauh lebih indah daripada melodi apa pun.

Raka meletakkan bukunya di meja kayu, lalu berbalik dalam pelukan Liana. Ia merapikan beberapa helai rambut yang menutupi mata wanita itu. "Kebiasaan lama sulit mati, Li. Aku masih sering memeriksa perimeter sebelum matahari terbit."

Liana mendongak, menatap mata Raka yang kini terlihat lebih jernih, kehilangan tatapan hantu yang dulu menghantuinya. "Tidak ada perimeter yang perlu diperiksa di sini, Raka. Hanya ada tetangga kita, Pak Kostas, yang sedang menyiapkan perahunya, dan kucing oranye nakal yang baru saja mencuri sisa ikan kita semalam."

Raka tersenyum tipis sebuah senyuman yang kini muncul jauh lebih mudah. Ia menarik Liana lebih dekat, mencium keningnya lama. "Aku hanya ingin memastikan bahwa surga ini tidak berubah menjadi simulasi lagi."

Liana menarik tangan Raka, menuntunnya untuk duduk di kursi rotan panjang. Ia duduk di pangkuan Raka, melingkarkan lengannya di leher pria itu. "Data Yudha sudah bersih, Raka. Bimo sudah mengonfirmasi dari persembunyiannya di Brasil. Protokol Self Delete itu bekerja sempurna. Tuhan itu sudah mati. Dia tidak akan kembali."

"Aku tahu," gumam Raka, jemarinya membelai garis rahang Liana. "Tapi terkadang aku masih merasa seperti mendengar suaranya di antara desis radio atau dengung kulkas. Aku merasa bersalah karena kita selamat, sementara ribuan jiwa dalam proyek Cocytus itu menghilang selamanya."

Mata Liana melembut, penuh dengan empati yang mendalam. Ia meraih tangan Raka, menempelkannya ke dadanya sendiri, tepat di atas jantungnya yang berdetak kuat. "Mereka tidak menghilang tanpa arti, Raka. Mereka bebas. Kau membebaskan mereka. Dan sebagai gantinya, mereka memberikan kita kesempatan ini. Jangan sia siakan kesempatan ini dengan terus menoleh ke belakang."

Liana mencondongkan tubuh, mencium bibir Raka dengan lembut. Ciuman itu tidak lagi terasa seperti pelarian atau keputusasaan. Itu adalah ciuman yang tenang, penuh dengan rasa syukur dan janji masa depan. Raka membalasnya dengan intensitas yang sama, tangannya mendekap punggung Liana seolah ingin memastikan bahwa wanita ini benar benar nyata, terbuat dari daging dan darah, bukan baris kode.

"Kau tahu apa yang paling kusukai dari hidup baru ini?" tanya Liana di sela ciuman mereka.

"Apa?"

"Melihatmu belajar menjadi manusia yang tidak efisien," Liana terkekeh, mencubit hidung Raka. "Kemarin kau menghabiskan dua jam hanya untuk memperbaiki keran air yang bocor, padahal kau bisa memanggil tukang ledeng dalam lima menit. Kau terlihat sangat serius melakukannya, seolah sedang menjinakkan bom nuklir."

Raka tertawa pelan, suara baritonnya yang hangat membuat Liana tersenyum lebar. "Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang hasilnya bisa kusentuh secara fisik, Li. Bukan sesuatu yang menghilang saat listrik padam."

Mereka berdiri bersama, menatap ke arah sebuah bangunan kecil di ujung jalan setapak, tepat di samping rumah mereka. Di sana, sebuah papan kayu tua yang baru dicat tergantung rapi. Tulisannya belum ada, tapi warnanya sudah pasti Biru Laut.

"Hari ini kita akan menulis namanya di papan itu," kata Liana penuh semangat.

"Kau sudah memutuskan namanya?"

Liana mengangguk mantap. Ia menatap Raka dengan mata yang berbinar nakal namun penuh cinta. "Aku ingin menamainya The Ghost and The Queen. Bagaimana menurutmu?"

Raka menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Terlalu dramatis. Bagaimana kalau Liana's Library?"

"Membosankan," protes Liana sambil menarik kemeja Raka agar pria itu menatapnya lagi. "Bagaimana kalau... Analogue Heartl? Sebagai pengingat bahwa di dunia yang penuh digitalisasi ini, detak jantung kita tetap analog."

Raka terdiam sejenak, meresapi makna nama itu. Ia menarik Liana ke dalam dekapan yang erat, menghirup aroma rambutnya yang kini berbau matahari dan kebebasan. "Aku suka itu. Analogue Heart."

Mereka berdiri di sana cukup lama, hanya menikmati kehadiran satu sama lain tanpa perlu suara. Di kejauhan, Pak Kostas melambaikan tangan dari perahunya, dan kucing oranye yang mereka bicarakan tadi muncul, mengeong menuntut sarapan di kaki mereka.

"Raka," panggil Liana pelan.

"Ya?"

"Terima kasih sudah memilih untuk tetap tinggal. Terima kasih sudah tidak menyerah saat aku menyuruhmu menekannya."

Raka menjauhkan sedikit tubuhnya, menatap wajah Liana dengan intensitas yang membuat wanita itu tersipu. "Aku tidak pernah punya pilihan, Li. Sejak aku bertemu denganmu di Unit 09, jalanku selalu menuju padamu. Kau adalah satu satunya misi yang tidak akan pernah selesai."

Raka berlutut dengan satu kaki di atas dek kayu teras itu. Ia merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah cincin perak sederhana. Bukan cincin berlian mewah, melainkan cincin yang ia tempah sendiri dari potongan logam kecil sisa kapsul pelarian mereka sebuah simbol bahwa keindahan bisa lahir dari reruntuhan.

"Liana," suara Raka bergetar, sesuatu yang jarang sekali terjadi. "Aku bukan pria yang pandai merangkai kata. Aku tidak punya masa depan yang pasti, dan masa laluku penuh dengan bayangan. Tapi aku punya sisa waktu hidupku, dan aku ingin menghabiskannya untuk menjagamu, mencintaimu, dan berdebat soal warna cat toko buku bersamamu. Maukah kau menikah denganku?"

Air mata kebahagiaan akhirnya tumpah di pipi Liana. Ia menutup mulutnya dengan tangan, lalu mengangguk berkali kali. "Ya! Seribu kali ya, Kapten Bodoh!"

Raka menyematkan cincin itu di jari manis Liana, lalu berdiri dan mengangkat tubuh Liana, memutarnya di udara sambil tertawa lepas. Di bawah langit Yunani yang cerah, suara tawa mereka menyatu dengan suara ombak, menciptakan simfoni kehidupan yang baru.

Setelah momen emosional itu, mereka kembali ke dalam rumah untuk menyiapkan sarapan yang sebenarnya. Raka dengan cekatan menggoreng telur keahlian baru yang ia banggakan sementara Liana duduk di meja makan sambil memandangi cincin di jarinya dengan senyum yang tidak hilang hilang.

"Bimo pasti akan menangis saat melihat ini," kata Liana sambil tertawa.

"Dia akan menuntut untuk menjadi saksi nikah dan meminta kita menyediakan prasmanan seberat satu ton," sahut Raka sambil meletakkan piring di depan Liana.

Saat mereka makan dalam ketenangan yang manis, sebuah tablet tua di sudut ruangan tiba tiba menyala. Hanya sebentar, sebuah garis hijau statis muncul di layar, menyerupai bentuk gelombang detak jantung, lalu menghilang.

Raka dan Liana saling pandang. Mereka tahu, dunia luar mungkin masih memiliki rahasia. Bayang bayang masa lalu mungkin tidak akan pernah benar benar hilang sepenuhnya. Namun, mereka tidak lagi takut. Karena sekarang, mereka memiliki satu sama lain, dan mereka memiliki Analogue Heart sebuah cinta yang tidak bisa dihapus oleh kode mana pun di dunia.

"Makan telurmu, Raka," kata Liana lembut, menggenggam tangan Raka di atas meja. "Kita punya papan nama yang harus dicat hari ini."

Raka tersenyum, mengeratkan genggamannya. "Siap, Ratu ku."

Matahari pun naik lebih tinggi, menerangi jalan setapak menuju toko buku biru mereka, memulai babak baru dalam hidup dua hantu yang akhirnya memutuskan untuk berhenti bersembunyi dan mulai mencintai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!