Menjadi Takara tidaklah mudah. Bagaimana rasanya sahabatmu satu-satunya sekaligus orang yang kamu cintai dalam diam dimiliki oleh jutaan orang di dunia? Dia bersinar terang, terlalu terang hingga Takara tak sanggup melihatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Sekedar Teman Kecil
Malam itu di dorm, suasana terasa lebih santai dari biasanya. Harum sisa kue kering dari Brisbane masih tertinggal samar di udara, memicu obrolan yang sedikit lebih dalam di antara para member.
Jay, yang sejak tadi duduk di sofa sambil memperhatikan Jake yang asyik merapikan beberapa barang pemberian Takara, akhirnya tak tahan untuk tidak melontarkan pertanyaan yang mengganjal di benaknya.
"Jake," panggil Jay, membuat Jake menoleh. "Gue mau tanya serius."
"Apaan?" sahut Jake tanpa menghentikan kegiatannya.
"Emang beneran ada ya, cewek dan cowok sahabatan murni? Maksud gue, tanpa ada perasaan sedikit pun yang terselip?" tanya Jay dengan nada penasaran yang kental.
Jake berhenti bergerak sejenak. Ia menegakkan punggungnya lalu menatap Jay dengan wajah penuh percaya diri. "Ya adalah. Gue contohnya. Gue sama Takara itu udah bareng-bareng dari zaman kita masih ingusan di Brisbane. Dia udah kayak bagian dari hidup gue."
Jay menyipitkan mata, menopang dagunya dengan tangan. "Masalahnya, Jake... Takara itu bukan cuma 'temen kecil'. Dia pinter, dia arsitek sukses yang bisa bikin dewan direksi kita melongo, dan jujur aja, dia sangat menakjubkan."
Jake hanya tertawa kecil, menganggap Jay sedang menggodanya. "Ya emang dia hebat, makanya gue bangga banget punya sahabat kayak dia."
"Bukan itu maksud gue," Jay bangkit berdiri, berjalan mendekati Jake. "Kalau gue jadi lo, dan gue punya sahabat secantik dan semenakjubkan Takara... gue pacarin sih. Gak mungkin gue biarin dia cuma jadi 'sahabat' terus diambil orang lain."
Kalimat Jay barusan telak menghantam pertahanan Jake. Senyum percaya dirinya sedikit memudar, digantikan oleh ekspresi yang sulit dibaca. Selama ini, kata "sahabat" adalah zona nyaman yang Jake gunakan untuk tetap berada di sisi Takara tanpa takut kehilangan.
"Lo nggak ngerti, Jay," gumam Jake, suaranya kini lebih rendah. "Dunia gue rumit. Status gue sekarang... gue nggak mau narik dia masuk ke dalam pusaran yang bikin dia susah."
"Tapi lo bahagia kan kalau di deket dia?" tanya Jay lagi, kali ini lebih lembut. "Gue liat mata lo beda pas tadi ngenalin dia ke kita. Lo nggak cuma bangga, Jake. Lo... kayak nemuin rumah."
Jake terdiam. Ia teringat kembali bagaimana jantungnya berdebar kencang saat menarik Takara masuk ke dalam mobil kemarin, atau bagaimana ia merasa sangat tenang hanya dengan melihat Takara mengomel tentang isi kulkasnya.
———
Kegembiraan Jake yang meluap-luap sejak pagi mendadak luruh menjadi tumpukan kekecewaan yang berat. Ia sudah siap dengan masker, topi, dan jaket paling biasanya agar tidak menarik perhatian. Namun, tepat di pintu keluar dorm, langkahnya dihentikan oleh tangan kekar sang manajer.
"Mau ke mana, Jake?" suara itu terdengar datar namun penuh otoritas.
"Hyung... gue cuma mau keluar sebentar. Janji, nggak lama. Ke galeri seni punya kenalan, tempatnya sepi banget," mohon Jake, matanya memancarkan keputusasaan yang nyata.
"Enggak bisa. CEO baru saja menelepon, jadwal latihan tambahan untuk tur dunia dimajukan sore ini. Dan setelah insiden semalam lo 'menghilang' bawa van manajemen, pengawasan buat lo diperketat. Jangan main-api, Jake."
Jake terdiam. Ia bahkan sampai berlutut, menyatukan kedua tangannya di depan sang manajer. "Sekali ini aja, Hyung. Ini penting banget. Sahabat gue dari Brisbane cuma sebentar di sini..."
Manajer itu menghela napas, tampak merasa iba namun tetap menggeleng tegas. "Aturannya tetap aturan. Kalau lo ketahuan keluar tanpa izin resmi lagi, bukan cuma lo yang kena masalah, tapi tim arsitek itu juga bisa kena imbasnya karena dianggap 'mengganggu' jadwal artis. Lo mau karir Takara terhambat?"
Mendengar nama Takara disebut sebagai taruhan, nyali Jake menciut. Ia tidak punya pilihan lain.
Sementara itu, di sebuah sudut galeri seni yang estetik dan tenang di pinggiran Seoul, Takara berdiri sendirian. Ia mengenakan coat berwarna karamel yang manis, sesekali merapatkan pakaiannya karena angin musim gugur mulai menusuk kulit.
Ia sudah memesan dua tiket masuk pribadi. Ia sudah membayangkan bagaimana ia akan menjelaskan detail arsitektur galeri ini pada Jake, atau bagaimana mereka akan tertawa mengejek lukisan abstrak yang tidak mereka mengerti, seperti yang sering mereka lakukan di Brisbane.
Lima belas menit berlalu. Tiga puluh menit. Satu jam.
Takara menatap gerbang galeri yang mulai sepi. Orang-orang yang berlalu-lalang menatapnya dengan iba—seorang gadis cantik yang tampak sedang menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Ia menghela napas panjang, uap putih keluar dari mulutnya.
Tring!
Ponsel di kantongnya bergetar. Dengan harapan besar, ia segera membukanya.
📲 Jake: Ra... I'm so, so sorry. Gue bener-bener nggak bisa keluar. Manajer nahan gue di dorm karena ada latihan mendadak.
📲 Jake: Gue udah mohon-mohon sampai sujud, tapi tetep nggak dikasih izin. Maafin gue ya, Ra. Gue ngerasa jadi pecundang banget sekarang karena biarin lo nunggu sendirian di sana.
📲 Jake: Plis jangan marah... Gue bakal cari cara lain buat nebus ini.
Takara menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong. Rasa kecewa itu ada, tentu saja. Namun, yang lebih mendominasi adalah rasa sesak karena menyadari kembali realita yang ada.
Ia berada di Seoul, kota asal mereka, namun tembok yang memisahkan mereka justru terasa lebih tinggi daripada jarak samudra Brisbane-Seoul. Di Brisbane, Jake adalah "Jake"-nya. Di sini, Jake adalah milik agensi, milik penggemar, dan milik jadwal yang tak kenal kompromi.
Takara mengetik balasan dengan tangan yang sedikit kaku karena dingin.
📲 Takara: Nggak apa-apa, Jake. Gue ngerti kok. Namanya juga kerjaan.
📲 Takara: Gue bakal keliling galerinya sendiri aja. Anggap aja gue lagi cari inspirasi buat gedung agensi lo. Semangat latihannya ya!
Ia memasukkan kembali ponselnya. Takara tidak ingin Jake merasa bersalah, tapi ia tidak bisa berbohong bahwa hatinya sedikit retak. Ia berjalan masuk ke dalam galeri sendirian, menatap lukisan-lukisan indah itu tanpa minat.
Takara melangkah menyusuri lorong galeri yang sunyi, namun matanya tidak benar-benar melihat lukisan di dinding. Pikirannya melayang jauh ke Brisbane, ke jalanan Queen Street Mall yang lampunya selalu berpijar hangat.
Ia teringat malam-malam "pelarian" mereka. Saat itu, Jake belum menjadi milik dunia. Mereka bisa duduk di bangku taman pinggir sungai Brisbane sampai jam dua pagi, tertawa terbahak-bahak hanya karena sepotong pizza yang jatuh, atau balapan lari menuju stasiun kereta terakhir tanpa takut ada kamera yang mengintai.
Dahulu, batasan mereka hanyalah jam malam dari orang tua. Sekarang, batasan itu adalah kontrak, manajer, dan jutaan pasang mata penggemar.
"Dulu kita bisa jalan ke mana aja tanpa rencana, Jake," gumam Takara lirih, suaranya menggema di ruangan galeri yang kosong.
Ironisnya, sekarang mereka berada di kota yang sama, di bawah langit yang sama, bahkan hanya terpaut beberapa kilometer. Namun, untuk bertemu selama satu jam saja, Jake harus memohon hingga bersujud, dan akhirnya tetap gagal.
Takara duduk di sebuah kursi panjang di tengah galeri, menatap sebuah lukisan abstrak yang didominasi warna biru kelabu. Lukisan itu terasa dingin, persis seperti perasaannya saat ini. Ia menyadari bahwa mencintai, atau bahkan sekadar menjadi sahabat dekat, seorang bintang besar berarti harus siap menjadi nomor sekian setelah jadwal dan kewajiban.