Bagas adalah remaja yang baru saja meletakkan toganya. Ia membawa beban berat di pundak: impian untuk mengangkat derajat orang tuanya yang hidup pas-pasan. Namun, dunia kerja tidak semanis janji-janji di brosur sekolah. Bagas harus berhadapan dengan HRD yang minta pengalaman kerja "minimal 5 tahun" untuk posisi pemula, hingga kenyataan pahit bahwa "surat sakti" dari orang dalam lebih kuat dari nilai raport-nya.
Perjalanannya adalah roller coaster emosi. Dari tempat kerja pertama yang toxic abis hingga gajinya habis cuma buat bayar parkir dan makan siang, sampai pekerjaan dengan lingkungan malaikat tapi gaji "sedekah". Puncaknya, ia harus bertahan di bawah tekanan bos yang emosinya lebih labil daripada harga cabai di pasar. Ini adalah cerita tentang jatuh, bangun, lari, dan akhirnya menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah Lebih Kental Dari oli
Saat Bagas menjemput Ibu dan Bapak di pulau, ia menemukan sebuah surat tua di dalam bunker milik Pak Baron. Surat itu mengungkapkan bahwa Pak Baron sebenarnya adalah saudara tiri dari Bapak Suryo yang selama ini merasa bersalah dan mencoba menebus dosanya dengan melindungi Bagas secara diam-diam.
Rahasia yang selama ini tersimpan di balik bayang-bayang mulai tersingkap. Hubungan antara Bagas, Bapak, dan Pak Baron ternyata jauh lebih dalam dari sekadar bos dan bawahan.
Hembusan angin laut di Kepulauan Seribu terasa begitu menyejukkan saat Bagas melangkah turun dari perahu cepat. Di sebuah dermaga kayu yang tersembunyi, ia melihat Ibu dan Bapak sedang duduk tenang sambil menikmati senja. Kelegaan luar biasa menyelimuti hati Bagas, ia telah berhasil menghancurkan ancaman fisik dari Nexus Group. Namun, kejutan terbesar justru menunggunya di dalam bunker tua tempat orang tuanya berlindung.
Pak Baron sedang berdiri di sudut ruangan, menatap sebuah foto hitam putih yang sudah kusam di dinding bunker. Di samping foto itu, ada sebuah kotak kayu kecil yang terbuka.
"Gas, kamu sudah sampai," ujar Pak Baron tanpa menoleh. Suaranya terdengar lebih berat, seolah membawa beban puluhan tahun. "Ada sesuatu yang harus kamu baca. Ini bukan tentang bisnis, bukan tentang mesin. Ini tentang alasan kenapa aku selalu ada di dekatmu, bahkan saat aku berpura-pura membencimu."
Pak Baron menyerahkan sebuah surat tua yang tintanya sudah hampir pudar. Bagas membacanya dengan saksama. Surat itu ditulis oleh kakek Bagas, seorang pria yang dulu bekerja di pelabuhan Tanjung Priok zaman kolonial. Di dalam surat itu terungkap sebuah fakta yang mengguncang dunia Bagas Pak Baron Dan Pak Suryo adalah saudara satu ayah beda ibu.
Dulu, ayah mereka meninggalkan ibu Pak Baron demi menikah dengan ibu Bapak Suryo. Pak Baron tumbuh dalam kemiskinan dan dendam, sementara Bapak Suryo mendapatkan kesempatan untuk sekolah tinggi hingga ke Perancis. Pak Baron yang merasa sakit hati bersumpah untuk melampaui kesuksesan adiknya, namun ia melakukannya dengan cara-cara yang keras dan kotor di dunia logistik.
"Aku yang dulu membocorkan kegagalan riset ayahmu di Perancis ke telinga para petinggi di Jakarta, Gas," aku Pak Baron dengan suara bergetar. "Aku yang membuat ayahmu merasa ketakutan dan memilih hidup bersembunyi di gang sempit. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya berada di bawah."
Bagas tertegun. Ia menoleh ke arah Bapak yang baru saja masuk ke ruangan. Bapak hanya menunduk, tampaknya sudah mengetahui rahasia ini sejak lama.
"Tapi saat aku melihatmu pertama kali melamar kerja di kantorku," lanjut Pak Baron, "aku melihat bayangan adikku yang jenius ada padamu. Aku melihat ketulusan yang tidak pernah aku miliki. Rasa bersalah mulai memakanku. Itulah sebabnya aku mempekerjakanmu, meskipun aku terus menekankanmu dengan cara yang keras. Aku ingin membentukmu menjadi pria yang lebih kuat dari ayahmu, agar kamu tidak mudah hancur seperti dia."
Bagas menatap kedua pria tua di depannya. Yang satu adalah ayah yang membesarkannya dengan cinta dan kejujuran di tengah kemiskinan, yang satu lagi adalah paman yang melindunginya dengan cara yang kasar dan penuh rahasia.
"Jadi, selama ini Bapak tahu kalau Pak Baron itu kakak Bapak?" tanya Bagas pada Bapak Suryo.
Bapak mengangguk pelan. "Bapak tahu, Gas. Itulah sebabnya saat kamu dibilang 'orang dalam' oleh anak buah Pak Baron, Bapak diam saja. Bapak tahu Baron tidak akan benar-benar menyakitimu. Dia hanya sedang berperang dengan egonya sendiri."
Suasana bunker menjadi hening. Hanya terdengar suara ombak yang menghantam dinding karang. Bagas menyadari bahwa perjalanannya dari seorang anak SMK menjadi eksekutif global bukan hanya karena kerja kerasnya sendiri, melainkan ada tangan-tangan tak terlihat yang menjaganya bahkan tangan yang dulu pernah mencoba menjatuhkannya.
Pak Baron mendekati Bagas dan meletakkan tangannya di pundak keponakannya itu. "Nexus Group sudah hancur, tapi warisan keluarga Pratama harus tetap tegak. Aku sudah mengalihkan seluruh aset pribadiku ke yayasanmu. Itu adalah uang 'penebus dosa' atas apa yang aku lakukan pada ayahmu dulu."
Bagas menarik napas panjang. Kemarahan yang sempat muncul karena fakta pengkhianatan masa lalu Pak Baron perlahan luntur. Ia melihat seorang pria tua yang hanya ingin dimaafkan. Bagas menyadari bahwa dendam hanya akan menjadi karat yang merusak mesin masa depan.
"Terima kasih, Pak... maksud saya, Om Baron," ujar Bagas pelan.
Mendengar sebutan "Om", mata Pak Baron berkaca-kaca. Ia memeluk Bagas dengan erat, sebuah pelukan yang sudah ia pendam selama puluhan tahun.
Malam itu, keluarga besar yang baru saja "bersatu" kembali itu duduk bersama di bibir pantai. Tidak ada lagi rahasia. Tidak ada lagi musuh. Namun, di tengah kedamaian itu, Bagas menerima notifikasi di jam tangannya. Sebuah pesan dari sistem keamanan Badan Energi Nasional di Jakarta.
“Peringatan: Upaya sabotase pada purwarupa mesin utama di Laboratorium Nasional. Pelaku teridentifikasi sebagai staf internal.”
Bagas berdiri dengan cepat. "Ular-ular itu belum habis. Mereka tidak menyerang lewat luar lagi, tapi lewat pengkhianat di dalam tim teknisku sendiri."