NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Untuk Sang Jendral

Pengantin Pengganti Untuk Sang Jendral

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Keluarga / Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Era Kolonial / Mengubah Takdir
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

"Aku tidak mau menikah dengan laki-laki itu, Kak. Tolong gantikan aku."

Violet tahu ia seharusnya menolak. Tapi dua puluh dua tahun ia menjadi anak pungut di rumah orang mengajarinya satu hal: hutang budi tidak pernah benar-benar lunas.

Maka ia berdiri di pelaminan itu. Mengenakan gaun yang bukan untuknya, membawa nama yang bukan miliknya sejak lahir, menikahi laki-laki yang bahkan tidak menoleh padanya sampai akad selesai diucapkan.

Jenderal Muda Adriel Voss. Kejam, dingin, dan menyimpan kehancuran di balik setiap keputusannya. Pernikahan ini seharusnya menjadi awal penderitaan Violet.

Yang tidak ia duga, justru di rumah laki-laki itulah untuk pertama kali ada seseorang yang melihatnya sebagai manusia, bukan sekadar bayangan yang mengisi ruang kosong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#16

Sementara Adriel masih menatapnya dengan datar, Violet mulai tergagap karena menyadari situasi yang tengah terjadi, di sisi lain suara dessahan Teresa dan Diego di telepon masih bisa terdengar yang sontak membuat wajah Violet memerah panas, karena canggung dan tak seharusnya Adriel mendengar hal tak pantas seperti itu.

Violet hendak mengambil ponsel nya kembali, namun tangan Adriel malah semakin menjauh, menghindarinya dari jangkauan, Violet sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan pria itu.

"Tuan... tolong kembalikan ponsel saya. "

"Siapa yang kau telepon?"

Violet menunduk, wajahnya meringis. "Tuan, tidak sepenting itu untuk tahu siapa yang sedang menelpon atau di telpon oleh saya, " ujarnya, karena menurut nya, Adriel sudah terlalu jauh ikut campur dengan urusannya.

Wajah Adriel tidak berubah sama sekali, tidak ada kemarahan juga setelah apa yang diucapkan Violet. Matanya mengindetifikasi sendiri nama yang tertera di layar ponsel, lalu menekan ikon merah, pertanda sambungan akhirnya terputus.

Lalu setelah itu, dia menatap kembali gadis di depannya. "Benarkah, jadi saya tidak boleh tahu siapa yang kau telepon di dalam kediaman saya ini? jika ada indikasi bahaya apakah saya harus diam saja?! "

Sebenarnya tidak ada nada ngegas dalam ucapan Adriel, tapi di pendengaran Violet entah mengapa terdengar seperti itu hingga ia merasa terpojokkan.

"Tuan, sebelumnya saya sudah berjanji untuk tidak menerima siapapun dari keluarga Hartawan kesini tanpa seizin anda. "

"Ya, tapi janji saja tidak cukup. Siapa yang menjamin kau tidak akan mengingkari nya? "

Tatapan pria itu terlihat tajam di mata Violet yang mulai mengabur, lalu sedetik, dua detik kemudian Violet tidak bisa lagi membendung air matanya.

Ia sudah cukup capek dengan drama Teresa saat ini, desakan dari keluarga Hartawan yang memintanya kembali, dan baru saja mendapatkan kabar Teresa yang membuatnya begitu kecewa lalu tuduhan tanpa bukti dari Adriel membuat Violet rasanya ingin menangis sekencang- kencang nya.

Kenapa hidup nya tak pernah tenang satu hari saja? kenapa selalu saja ada masalah? kenapa harus ia yang menanggung semuanya?

Sementara Adriel yang melihat pemandangan itu, mulai diliputi kebingungan, ia tidak sampai mengira Violet akan menangis seperti ini.

Sambil mengusap air matanya, Violet berucap. "Saya hanya ingin menghubungi adik saya yang sekarang sedang di pelarian, kondisinya saat ini benar- benar membuat saya kecewa, dia telah menghianati kepercayaan saya, setelah semua yang telah saya korban kan, hiks, hiks. Saya hanya berharap hidup nya menjadi lebih baik, tapi tidak! dia malah menghancurkan semuanya. "

Adriel mendengar kan itu dengan mata yang mulai merubah, caranya memandang tidak lagi seperti tadi, sekarang lebih teduh, rumit dan ada iba di sana.

Ia tahu Violet adalah sosok yang lebih mementingkan orang lain di bandingkan dirinya sendiri, hanya mendengar sepenggalan ini saja, Adriel langsung bisa merasakan ketulusan Violet sebagai seorang kakak.

Dia adalah sosok kakak yang baik.

Hanya saja harus mendapatkan sosok adik yang durjana seperti Teresa.

Sebenarnya Adriel sudah memperhatikan sejak awal violet berbicara pada adiknya itu di telepon, apa yang dilakukannya barusan hanya spontan menggertak Violet agar tidak berani macam- macam dibelakang nya.

Tanpa ia sadari, itu malah menambah luka untuk kondisi Violet saat ini.

Seumur hidup nya yang hanya ia habiskan dilapangan membuat Adriel tidak tahu cara menenangkan wanita yang sedang menangis. Namun mendengar isakan Violet yang semakin menyayat ia tak sampai hati.

Lantas dengan perlahan ia mendekat, menarik tubuh mungil itu dalam dekapannya, membiarkan ia menangis di dadanya sebagai sandaran.

Lalu tangan kekarnya mengusap surai panjang itu pelan. Ia pernah melihat sekali Daniel yang menenangkan pacarnya karena cemburu, jadi Adriel mencoba mempraktikkan nya sekarang, berharap cara itu berhasil.

Dan benar saja, ia bisa merasakan nafas gadis itu mulai teratur, isakannya mereda, dan mereka terdiam dalam posisi itu untuk beberapa saat.

Sampai akhirnya, Adriel berbisik. "Maafkan aku, aku tak berniat menambah beban mu. Aku yang salah, aku sungguh minta maaf. "

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Malam itu, setelah kejadian siang tadi kondisi Violet sudah jauh lebih baik. Meski sekarang ia tidak bisa lagi menghubungi adiknya, rasanya tak sanggup menerima kenyataan adiknya sudah terlalu jauh melangkah.

Sekarang ia putuskan untuk mulai ke kehidupan nya, entah gangguan apalagi yang akan muncul, tapi setidaknya violet ingin lebih tenang sekarang.

Bibi Matilda menghidangkan makanan lalu pergi dengan efisiennya yang sudah bisa Violet prediksi waktunya. Mereka mulai makan. Beberapa menit pertama berlalu dengan hening yang sudah mulai terasa familiar, bukan nyaman, tapi familiar.

Lalu Violet mulai membuka obrolan. "Maaf jika siang tadi saya sedikit meledak- ledak. "

Adriel melirik sekilas. "Tidak apa- apa, saya mengerti. "

Violet menggigit bibirnya. "Pasti menurut tuan itu sangat merepotkan--"

"Tidak.Justru kalau kamu menahan semua nya terlalu lama, itu akan berpengaruh untuk kesehatan mu. Penyakit autoimun kau tau? itulah yang akan menyerang mu jika kau terlalu lama memendam emosi. Jadi tidak apa- apa untuk meledak sesekali. "

Violet mendengar kan dengan hati yang entah mengapa, terasa lebih ringan sekarang.

"Violet"

Laki-laki itu memanggil dengan suara yang lebih lembut.

Violet sontak mengangkat wajah, menunggu.

"Kenapa kau mau melakukan itu untuk Teresa, maksud saya berkorban untuk nya? Padahal dia mengambil mobil ayahnya dan uang kamu juga."

Violet tersenyum getir, menunduk sedikit dengan helaan napas yang Adriel sendiri tahu begitu berat.

"Karena dua puluh dua tahun itu harganya mahal," kata Violet pelan. "Dan saya belum tahu cara berhenti membayarnya."

Lenggang, Adriel kemudian menatapnya lagi. "lalu setelah dia menghianati kepercayaan mu, setelah apa yang dia lakukan dengan pengorbanan mu, kau masih mau membantu nya? "

Violet terdiam, dia menggeleng. "untuk kesana saya masih tidak tahu. "

Adriel memalingkan pandangan, menatap lurus. "Kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk bilang ke saya.

Itu bukan penawaran bantuan, lebih ke sebuah ultimatum yang harus violet lakukan jika sesuatu terjadi padanya.

Violet lantas mengangguk pelan. Baik. Terimakasih."

Lalu mereka kembali terdiam, dengan pikiran masing-masing.

"Ada yang ingin kamu tanyakan," kata Adriel tanpa menoleh dari piringnya. "Dari tadi kamu makan sambil berpikir dan orang yang makan sambil berpikir biasanya punya pertanyaan yang tidak tahu cara memulainya."

Violet meletakkan sendoknya. "Ruangan kecil di antara dua kamar kosong di lantai atas." Ia akhirnya membuka obrolan soal itu. Sesuatu yang ingin ia tanyakan sejak awal menemukan ruang itu, baru bisa ia sampaikan sekarang.

"Perpustakaan." Jawab Adriel lugas.

"Itu kamar siapa sebelumnya."

Hening yang berbeda dari biasanya turun ke meja makan itu. Bukan hening yang kosong tapi hening yang berisi sesuatu yang Adriel sedang memutuskan apakah akan dikeluarkan atau tidak.

"Adik saya," jawabnya akhirnya.

Violet tidak mengira ia akan menjawab. "Di mana dia sekarang."

"Tidak ada."

Dua kata yang bisa berarti banyak hal tapi dari nada yang keluar bersama keduanya, Violet menyimpulkan artinya yang paling berat.

"Maaf," kata Violet pelan.

Adriel tidak menjawab. Ia melanjutkan makannya dengan cara orang yang sudah sangat terlatih untuk menutup sesuatu kembali dengan cepat dan rapi setelah terbuka terlalu jauh.

Tapi Violet sudah melihatnya. Celah kecil itu. Sesuatu yang hidup dan luka di balik semua lapisan dingin yang sudah sangat terlatih itu.

Mereka menyelesaikan makan malam tanpa kata-kata lagi.

Ketika Violet sudah di tangga, Adriel berbicara dari kursinya tanpa menoleh.

"Kamu boleh pakai ruangan itu."

Violet berhenti selangkah.

"Perpustakaan itu," lanjut Adriel. "Kalau mau baca. Tidak ada yang menggunakannya."

Violet berdiri di anak tangga itu beberapa saat, memegang pegangan tangga, dan merasakan sesuatu yang sulit diberi nama tepat di dadanya. Bukan haru, terlalu besar untuk itu. Bukan terkejut juga, karena entah kenapa ia tidak sepenuhnya terkejut.

Lebih seperti perasaan ketika seseorang membuka sedikit pintu yang tidak pernah ia sangka akan terbuka, dan dari celah kecil itu tercium udara yang berbeda dari semua udara yang pernah ia kenal sebelumnya.

"Terima kasih," kata Violet.

Ia naik ke kamarnya.

Berbaring di ranjang, dan menatap langit-langit dengan pertanyaan yang kini bertambah satu dan entah kenapa ia lebih penasaran soal yang itu.

Siapa adik Adriel Voss, apa yang terjadi padanya, dan mengapa ruangannya masih dijaga seperti seseorang yang pergi tapi tidak benar-benar pergi.

*****

BERSAMBUNG

1
Arai Cadella
Aku tinggalkan jejak. Aku suka pemilihan kata-katanya, sederhana namun sampai.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!