NovelToon NovelToon
Darah Ratu 1000 Tahun

Darah Ratu 1000 Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Perperangan / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Naomihanaaya

Seorang Raja Vampir yang kehilangan ratunya di medan perang, lalu menunggu 1000 tahun untuk menemukan reinkarnasi istrinya di dunia manusia. Namun ketika ia menemukannya kembali, sang ratu tidak lagi mengingat masa lalu mereka, sementara ancaman perang antara bangsa vampir dan manusia serigala kembali muncul.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naomihanaaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Kedatangan Raja

Malam turun perlahan, menyelimuti langit dengan warna gelap yang pekat.

Bulan menggantung tinggi, namun cahayanya terasa dingin. Tidak hangat. Tidak menenangkan.

Seperti pertanda bahwa sesuatu yang besar… sedang bergerak.

Di dalam aula utama istana keheningan terasa menekan tidak ada suara selain langkah kaki yang menggema pelan di lantai marmer hitam.

Edward berdiri di tengah ruangan tegak diam

Namun aura di sekelilingnya tidak pernah benar-benar tenang.

Kekuatan itu ada terasa mengisi setiap sudut ruangan Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda tatapannya tidak sepenuhnya fokus seolah pikirannya berada jauh dari tempat ini

Seorang prajurit berlutut di hadapannya.

“Semua wilayah perbatasan sudah kembali terkendali, Yang Mulia.”

Edward tidak langsung menjawab beberapa detik berlalu.

Lama cukup lama untuk membuat prajurit itu menahan napas akhirnya Edward mengangguk.

“Pergi.”

Satu kata dingin tegas.

Prajurit itu langsung menunduk dalam sebelum pergi tanpa berani menoleh lagi Kini aula kembali sepi hanya tersisa dua sosok Edward dan Henry.

Henry berdiri tidak jauh dari belakang Edward tatapannya tajam, memperhatikan perubahan sekecil apa pun dari rajanya.

Ia mengenal Edward lebih lama dari siapa pun di istana dan ia tahu raja itu tidak pernah terlihat seperti ini tanpa alasan.

“Ada sesuatu yang berubah.”

Henry akhirnya berbicara suaranya tenang, namun penuh keyakinan

Edward tidak menoleh Namun ia menjawab.

“Dia bangkit.”

Henry langsung mengangkat kepalanya.

“Segelnya?”

“Retak.”

Jawaban itu singkat.

Namun cukup untuk membuat udara terasa lebih berat, Henry menghela napas pelan.

“Seberapa jauh?”

Edward menutup matanya sesaat seolah merasakan sesuatu yang tidak terlihat.

“Kekuatannya… sudah keluar.”

Ia membuka matanya kilatan merah samar muncul.

“Dan itu tidak bisa disembunyikan lagi.”

Henry terdiam pikirannya langsung bekerja.

“Kalau begitu… mereka pasti sudah merasakannya.”

Edward tidak menjawab Namun ekspresinya sudah cukup.

“Raja Serigala…”

Henry melanjutkan pelan.

“dan pihak lain.”

Edward berbalik perlahan tatapannya tajam.

“Ini bukan lagi tentang satu pihak.”

Ia melangkah maju.

“Ini tentang keseimbangan yang mulai runtuh.”

Suasana berubah lebih tegang lebih nyata

Edward berjalan menuju ujung aula langkahnya tenang Namun setiap langkah membawa keputusan besar.

Henry mengikuti di belakang.

“Jadi… keputusanmu?”

Edward berhenti tanpa menoleh.

“Aku akan pergi.”

Henry sudah menduga Namun tetap saja kalimat itu memiliki arti besar.

“Ke hutan itu?”

Edward mengangguk pelan.

“Dia di sana.”

Henry menyilangkan tangannya.

“Dan kau tidak akan menunggu?”

Edward tersenyum tipis Namun senyum itu tidak mengandung kehangatan.

“Hanya orang bodoh yang menunggu ketika sesuatu yang penting sedang dalam bahaya.”

Henry tertawa kecil.

“Kalau begitu… aku ikut.”

Edward tidak menjawab Namun langkahnya kembali berjalan dan itu sudah cukup.

Tak lama kemudian ruang strategi istana dipenuhi oleh para petinggi semua berdiri dalam diam menunggu.

Pintu besar terbuka.Edward masuk semua langsung berlutut.

Aura kekuasaan itu langsung terasa tidak perlu diperlihatkan tidak perlu dijelaskan semua sudah tahu siapa yang berdiri di hadapan mereka

Edward berdiri di depan tatapannya menyapu seluruh ruangan.

“Dengarkan.”

Suaranya tidak keras Namun jelas dan tidak bisa diabaikan.

“Aku akan meninggalkan istana untuk sementara.”

Suasana langsung berubah beberapa wajah terlihat tegang Namun tidak ada yang berani memotong

Seorang pria maju sedikit Panglima perang tubuhnya tinggi tatapannya tegas.

“Apakah ada ancaman langsung, Yang Mulia?”

Edward menatapnya.

“Tidak di sini.”

Jawaban itu membuat panglima itu mengerti.

Ini bukan tentang istana ini tentang sesuatu yang lebih besar Edward melangkah mendekat berhenti tepat di depan panglima itu.

“Aku menyerahkan istana padamu.”

Kalimat itu jatuh seperti beban berat Namun jelas.

Panglima itu langsung berlutut satu kaki.

“Dengan kehormatan dan nyawa saya, Yang Mulia.”

Edward menatapnya dalam memastikan menilai dan kemudian mengangguk

“Perkuat pertahanan.”

“Tidak ada yang masuk tanpa izin.”

“Dan jika ada ancaman—”

Ia berhenti sejenak matanya berubah dingin.

“Habisi sebelum mereka mendekat.”

Panglima itu menunduk lebih dalam.

“Dipahami.”

Henry berdiri di samping mengamati Ia tahu Edward tidak pernah meninggalkan sesuatu tanpa kendali.

Bahkan dalam keadaan seperti ini setelah semua selesai ruangan kembali kosong.

Edward berdiri di balkon istana menatap ke arah kegelapan jauh ke arah hutan ke arah tempat di mana semuanya mulai berubah.

Angin malam berhembus jubahnya bergerak pelan Namun ia tidak bergeming.

“Alana…” bisiknya sangat pelan.

Untuk pertama kalinya nama itu keluar dengan nada yang berbeda bukan dingin bukan datar Namun penuh arti.

Henry muncul di belakangnya.

“Semua sudah siap.”

Edward mengangguk.

Tanpa menoleh.

“Berangkat.”

Dalam sekejap mereka menghilang seperti bayangan yang ditelan malam.

Perjalanan mereka cepat sangat cepat melintasi hutan, lembah, dan bayangan gelap Namun bagi Edward itu masih terasa lambat terlalu lambat.

Energi itu semakin terasa semakin jelas semakin kuat Namun, juga tidak stabil.

Henry melirik ke arah Edward.

“Kau merasakannya?”

Edward menjawab singkat,

“Ya.”

“Dan itu bukan hanya kebangkitan biasa.”

Edward tidak menjawab Namun matanya menunjukkan semuanya

“Kalau dia kehilangan kendali…”

Henry menggantung kalimatnya Edward langsung memotong.

“Dia tidak akan.” Nada suaranya tegas

Tanpa keraguan Namun di dalam dirinya ia tahu itu bukan jaminan beberapa saat kemudian mereka berhenti di tepi hutan.

Udara terasa berbeda lebih dingin lebih berat dan penuh dengan sisa energi

Edward menatap ke depan tatapannya tajam.

“Dekat.”

Beberapa bayangan muncul para pengawal mereka berlutut.

“Yang Mulia.”

Edward tidak membuang waktu.

“Di mana mereka?”

“Sebuah gua, di bagian timur hutan.”

Edward langsung bergerak tanpa menunggu.

Langkahnya cepat Pasti dan semakin dalam ia masuk.semakin kuat aura itu terasa

Di dalam gua Arlan masih duduk di samping Alana tidak bergerak sejak tadi

Kakek berdiri di sudut paman dan bibi di dekatnya tidak ada yang berbicara karena semua tahu ini bukan situasi biasa

Dua pengawal vampir berjaga di pintu Namun tatapan mereka gelisah apa yang mereka lihat sebelumnya tidak bisa diabaikan

Tiba-tiba angin berubah dingin menekan

Kakek mengangkat kepalanya matanya menyipit.

“Dia datang…”

Langkah kaki terdengar pelan Namun setiap langkah membawa tekanan dan kemudian Edward muncul

Semua mata langsung tertuju padanya.

Tidak ada yang bergerak tidak ada yang berbicara Ia melangkah masuk tatapannya langsung tertuju pada satu hal Alana

Waktu terasa berhenti Arlan langsung berdiri refleks melindungi.

“Berhenti.”

Edward berhenti tatapannya beralih untuk pertama kalinya mata mereka bertemu.

“Menjauh darinya.” kata Arlan.

Edward tidak marah tidak tersinggung ia hanya menatapnya dalam tenang

“Jika aku ingin menyakitinya…”

Edward berkata pelan.

“dia tidak akan berada di sini sekarang.”

Keheningan jatuh

Arlan tidak menjawab Namun tangannya perlahan mengendur.

Edward melangkah lagi dan kali ini tidak ada yang menghentikannya ia berdiri di samping Alana menatap wajahnya lama

Lalu perlahan ia mengangkat tangannya berhenti di atas kalung hijau itu

Sisa energi masih terasa halus namun berbahaya.

“Segelnya… benar-benar mulai terbuka…”

bisiknya.

Henry mendekat.

“Yang Mulia…”

Edward tidak menoleh.

“Aku tahu.”

Ia menarik napas pelan dan untuk pertama kalinya ekspresinya berubah tipis.Namun nyata Kekhawatiran karena ia tahu ini baru awal dan setelah ini tidak akan ada yang sama lagi.

Perang yang selama ini tertahan akhirnya akan datang dan kali ini pusatnya bukan kerajaan bukan kekuasaan.

Namun seorang gadis Alana yang bahkan belum tahu siapa dirinya sebenarnya dan di tengah keheningan gua itu takdir mulai bergerak perlahan Namun pasti menuju sesuatu yang tidak bisa dihentikan lagi.

1
Naomi🌸
😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!