NovelToon NovelToon
Kuroda-san No Himitsu

Kuroda-san No Himitsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:89
Nilai: 5
Nama Author: virgilius theodoro

menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22

BAB 22: Benang Merah yang Terputus di Tokyo

Tokyo menyambut kepulangan Hana Asuka dengan rintik hujan musim gugur yang dingin. Kota ini, dengan kepadatannya yang kaku, terasa seperti cermin dari jiwanya sendiri—sibuk namun hampa. Langkah kaki Hana di lobi gedung Asuka Group terdengar tegas, memantul di dinding marmer yang berkilau. Ia tidak lagi menunduk. Blazer hitam yang dipadukan dengan kemeja sutra putih memberikannya aura otoritas yang tak terbantahkan.

Keseharian Hana berubah drastis sejak ia kembali dari Paris. Tidak ada lagi pertemuan rahasia di apartemen mewah atau pelarian ke bengkel Ota yang berdebu. Pagi harinya dimulai pukul 05.00 dengan sesi yoga untuk menenangkan pikiran, diikuti oleh sarapan cepat sambil meninjau laporan bursa efek global. Pukul 07.30, ia sudah berada di meja kerjanya, menenggelamkan diri dalam tumpukan dokumen akuisisi, strategi pemasaran, dan analisis kompetitor.

"Nona Asuka, laporan kuartal ketiga untuk divisi otomotif sudah siap," ucap Sarah, asisten pribadinya yang kini ikut bersamanya ke Jepang, menggantikan tim lama yang dianggap Daichi terlalu lamban.

Hana mengambil dokumen itu tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitor yang menampilkan grafik pergerakan saham. "Bagaimana dengan sisa aset Shimada? Apakah kita sudah mengamankan jalur distribusinya?"

"Sudah, Nona. Perusahaan logistik mereka kini 90% di bawah kendali kita. Daichi-sama sangat puas dengan pergerakan Anda."

Hana tersenyum kecil, senyum yang dingin. Kepuasan ayahnya bukan lagi tujuannya. Tujuannya adalah membangun benteng yang tak tertembus, sebuah kekaisaran bisnis yang cukup kuat untuk melindunginya dari ambisi ayahnya dan takhta Hohenzollern. Di dalam laci mejanya, kunci bengkel Ota masih tersimpan, sebuah jimat yang mengingatkannya pada malam di Paris—pada janji yang diucapkan di antara desahan kerinduan.

Setiap malam, sebelum tidur, Hana akan menatap bulan yang sama dengan yang mungkin ditatap oleh Ren di Eropa. Ia merindukan pria itu dengan rasa sakit yang tumpul di dadanya, namun ia menolak untuk hancur. Ia harus berlari menuju puncak, seperti perintah Ren.

Tiga bulan setelah kepulangannya, sebuah gangguan muncul dalam rutinitas Hana yang kaku. Namanya adalah Kaito Tanaka (bukan Kaito Shimada). Kaito Tanaka adalah pendiri Tanaka Tech, sebuah perusahaan rintisan di bidang kecerdasan buatan untuk kendaraan otonom yang sahamnya sedang melesat bak roket. Pria itu muda, cerdas, dan yang terpenting, ia tulus mencintai Hana.

Kaito pertama kali bertemu Hana di sebuah gala bisnis untuk pengusaha muda Tokyo. Ia tidak seperti pria-pria lain yang mendekati Hana dengan pandangan penuh ambisi korporat. Kaito melihat Hana sebagai seorang wanita yang tangguh namun memiliki kesedihan yang tersembunyi.

Kaito mulai mendekati Hana dengan sabar. Ia mengirimkan bunga lili putih (bukan mawar hitam) ke kantor Hana, mengajaknya makan siang di restoran-restoran kecil yang tenang, dan selalu mendengarkan Hana bicara mengenai visi bisnisnya tanpa mencoba mendominasi. Kaito mencintai Hana bukan karena ia putri Asuka Group, tapi karena ia adalah Hana.

Puncaknya, di suatu malam yang dingin di restoran atap gedung Tanaka Tech, Kaito berlutut di depan Hana. Ia memegang sebuah kotak beludru berisi cincin berlian yang sederhana namun elegan.

"Hana," suara Kaito bergetar, namun matanya memancarkan ketulusan yang murni. "Aku tahu kau memiliki masa lalu yang kompleks. Aku tahu kau sedang membangun kekaisaranmu sendiri. Tapi aku ingin menjadi pria yang berdiri di sampingmu saat kau lelah. Aku mencintaimu, Hana Asuka. Maukah kau menjadi istriku?"

Hana mematung. Angin malam Tokyo memainkan rambutnya. Ia menatap Kaito, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia melihat kejujuran di mata seorang pria. Kaito tidak menginginkan takhtanya; ia menginginkan hatinya.

Hana terdiam lama. Pikirannya melayang ke Eropa. Ke Ren yang sedang memakai topeng di depan Sophia. Ke janji mereka untuk bertemu di puncak.

Tunggu aku di puncak. Mainkan peranmu.

Kata-kata Ren bergema di kepalanya. Hana menyadari sesuatu yang krusial. Selama ini, meskipun dunia tidak tahu hubungan mereka, dunia tahu bahwa Hana Asuka bebas dari Kaito Shimada berkat campur tangan Hohenzollern. Ada gosip liar yang beredar bahwa Hana adalah "mainan" Aurelius. Jika ia menerima lamaran Kaito Tanaka, dunia akan tahu bahwa Hana Asuka tidak memiliki hubungan apapun dengan Aurelius. Ia akan benar-benar bebas. Ia akan menunjukkan pada Maximilian Hohenzollern bahwa dia bukan bidak yang bisa diancam.

Ini adalah catur. Ini adalah peran yang harus ia mainkan untuk melindungi Ren dan dirinya sendiri. Ia harus memotong benang merah yang terlihat oleh dunia, agar benang merah yang sesungguhnya di antara mereka tetap tersembunyi.

"Kaito," suara Hana pelan, matanya berkaca-kaca karena rasa bersalah, namun tekadnya sudah bulat. Ia tahu dia sedang memanfaatkan ketulusan Kaito, namun ini adalah harga yang harus dibayar untuk kebebasan mereka. "Aku... aku menerimanya."

Kaito tersenyum sangat lebar, matanya berbinar bahagia. Ia menyematkan cincin itu di jari manis Hana. Hana merasakan berat logam dingin itu, sebuah borgol baru yang ia pasang sendiri demi sebuah kemenangan jangka panjang.

Berita pertunangan Hana Asuka dan Kaito Tanaka mengguncang dunia bisnis Jepang. Daichi Asuka sangat antusias, melihat aliansi Asuka Group dan Tanaka Tech sebagai kombinasi mematikan untuk menguasai pasar mobil otonom.

Hana menggelar sebuah pernikahan mewah di Hotel Imperial Tokyo. Ia ingin pernikahan ini menjadi sorotan dunia, sebuah pernyataan publik yang tak terbantahkan. Ia mengenakan gaun pengantin sutra putih yang megah, dirancang oleh desainer terbaik Paris, dengan mahkota berlian yang berkilau di rambutnya.

Saat mempersiapkan daftar undangan, jari Hana berhenti di sebuah nama. Aurelius Renzo von Hohenzollern.

"Sarah," panggil Hana, suaranya dingin dan stabil. "Kirim undangan ini ke Berlin. Secara pribadi, ke tangan Aurelius."

"Tuan Muda Aurelius? Nona, apakah Anda yakin? Ini bisa memicu..."

"Lakukan saja, Sarah. Ini adalah bagian dari peran," potong Hana tajam. Ia ingin Ren melihatnya di pelaminan. Ia ingin Ren tahu bahwa dia sudah memainkan perannya dengan sempurna. Ia ingin Ren merasakan kepedihan yang ia rasakan saat melihatnya bersama Sophia di televisi, sebagai bahan bakar untuk mempercepat perlawanan Ren di Eropa. Ia ingin Ren tahu bahwa dia sudah "memotong benang" agar Ren bisa bergerak lebih bebas di Eropa tanpa khawatir akan ancaman ayahnya padanya.

Berlin, Eropa.

Aurelius sedang berada di ruang rapat markas besar Hohenzollern-Sophia Capital, mendengarkan presentasi mengenai ekspansi ke Amerika Selatan yang membosankan. Wajahnya datar seperti es, pikirannya sedang memikirkan strategi untuk mengambil alih aset bank keluarga Sophia secara diam-diam.

Julian masuk ke ruang rapat dengan wajah pucat. Ia memegang sebuah amplop undangan putih yang elegan dengan inisial H.A.

Julian mendekati Aurelius dan berbisik, "Kak... ada kiriman dari Jepang. Undangan pernikahan."

Aurelius tersentak. Gelas wiski di tangannya bergetar. Ia mengambil undangan itu dan membukanya dengan tangan gemetar.

Di sana, tertulis dengan tinta emas: Pernikahan Hana Asuka & Kaito Tanaka.

Dunia Aurelius seketika runtuh. Rasa sakit yang tajam menghantam dadanya, lebih menyakitkan dari luka fisik mana pun. Ia menatap undangan itu berulang kali, memastikan bahwa matanya tidak berbohong.

Hana... menikahi pria lain?

Aurelius tidak tahu niat Hana yang sesungguhnya. Ia tidak tahu bahwa Hana sedang "memainkan peran". Yang ia lihat hanyalah seorang wanita yang ia cintai, wanita yang ia korbankan jiwanya untuk dilindungi, kini sedang berjalan menuju pelaminan bersama pria lain.

Ia merasa dikhianati. Ia merasa semua pengorbanannya di Eropa, semua topeng yang ia pakai di depan Sophia dan ayahnya, semua rasa jijik yang ia tahan setiap malam, kini sia-sia. Hana Asuka, ratu yang ia tunggu di puncak, telah meninggalkannya di tengah jalan.

"Aurelius? Ada apa?" tanya Sophia, melihat perubahan wajah tunangannya.

Aurelius tidak menjawab. Ia meremas undangan itu hingga hancur di tangannya. Matanya berkilat penuh amarah dan dendam yang murni. Topeng kaisar yang dingin runtuh, digantikan oleh monster yang terluka.

"Siapkan pesawat pribadi, Julian," suara Aurelius menggelegar di ruang rapat, begitu rendah dan mematikan hingga Sophia tersentak ketakutan. "Kita pergi ke Tokyo. Malam ini juga."

Aurelius berdiri dan melangkah keluar dari ruang rapat, meninggalkan para direktur dan Sophia yang terpaku dalam ketakutan. Di dalam hatinya, sebuah badai api sedang mengamuk. Jika Hana Asuka ingin memutuskan benang merah di antara mereka, maka ia sendiri yang akan datang untuk menghancurkan pernikahan itu dan memastikan bahwa tidak ada pria lain yang bisa memilikinya. Kaisar telah meninggalkan sangkar emasnya, dan kali ini, ia datang tidak sebagai Ren sang mekanik, tapi sebagai monster yang akan merebut kembali apa yang menjadi miliknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!