"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.
Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Dara masuk ke kamarnya dan berjalan pelan menuju ranjang. Dia tiba-tiba mendengar suara yang dia sangat tahu apa itu.
Dara mengedarkan cahaya lampu dari ponselnya untuk mencari sumber suara. Alangkah terkejutnya dia saat melihat kecoa terbang dan hampir mengenai wajahnya.
"Aaaaaa!" Dara berteriak dan berlari kembali keluar kamar.
Dia langsung saja masuk ke kamar Rafa yang pintunya terbuka dengan Rafa sendiri yang masih berdiri di depan pintu. Menatapnya dengan tatapan heran.
"Ada apa?" tanya Rafa pada Dara yang sudah duduk meringkuk di ranjangnya.
"A-ada kecoa," jawab Dara ketakutan.
"Kecoa? Gak mungkin."
"Iih. Beneran ada lho. Kayaknya kecoa jantan lagih, dia terbang hampir kena muka aku," jawab Dara.
Rafa tertawa mendengar jawaban Dara. "Emang kamu tau dari mana itu kecoa jantan? Jangan-jangan..."
"U-ukurannya gede," jawab Dara.
"Apanya yang gede?" tanya Rafa masih mengusili Dara.
"Ih. Kecoa nya lah! Memangnya apa lagi?" Dara kesal.
Rafa berdiri di samping ranjang, memperhatikan wajah cantik Dara yang tampak memelas minta tidur di sana. Wajah Dara keliatan karena terkena cahaya lampu emergency yang terpasang di kamar Rafa.
"Jadi, kamu mau tidur di sini?" tanya Rafa.
"Malam iniiii aja ya. Plisss. Kalau di sana, aku takut nanti kecoa nya pipis ke mata aku gimana?"
Rafa kembali tertawa. Hidupnya benar-benar lebih berwarna sejak ada Dara.
Rafa melirik ranjang dan sofa yang ada di kamarnya itu. Dia mengambil batal miliknya dan berjalan ke arah sofa.
"Eh, biar aku aja yang tidur di sofa. Mas di sini aja," ucap Dara yang sebenarnya hanya basa basi semata.
"Gak apa-apa. Kamu di sana aja," jawab Rafa.
"Oh, ya udah. Aku udah maksa lho ya," canda Dara.
Rafa yang sudah merebahkan tubuhnya ke sofa pun kembali tertawa. Maksa apanya, Dara hanya menawarkan satu kali.
Krik krik krik
Keduanya sama-sama tidak bisa tidur karena untuk pertama kalinya tidur di kamar yang sama meski beda tempat.
Rafa terus bergerak gelisah di sofa sedangkan Dara terus memperhatikan lampu yang lumayan untuk menerangi kamar itu.
"Di kamarku kok gak ada lampu ini ya? Tetep gelap," ucap Dara dengan suara pelan.
Rafa yang mendengarnya pun menyahut, "Besok kita ganti," ucapnya.
"Eh, Mas belum tidur? Pasti gak nyaman banget ya di sana?" tanya Dara.
"Gak apa-apa."
Dara jadi merasa tidak enak hati. Dia duduk dan memperhatikan ranjang yang luas dan sebenarnya cukup untuk tiga orang.
Dara menggigit bibirnya, bingung cara mengajak Rafa seperti apa. Karena kalau dia yang tidur di sofa pun dia tidak mau.
Dia takut, parno sama film horor yang pernah dia tonton dan kejadiannya pas tokoh di filmnya tidur di sofa.
"Mas, tidur di sini aja," ucap Dara.
"Gak apa-apa, kamu tidur aja." Rafa menjawab sambil memejamkan mata.
"Ih kali ini aku beneran maksa lho. Ini luas banget ternyata. Cukup buat tiga orang."
Rafa yang memang tidak merasa nyaman di sofa pun bangun, mengambil bantalnya dan menyimpannya kembali di ranjang.
Dara sibuk menata guling di tengah-tengah ranjang. Katanya itu sebagai pembatas dan Rafa gak boleh ngelevatin itu.
Dara yang gugup pun memilih untuk berbaring menyamping membela kang Rafa. Sebenarnya dia tidak bisa tidur kalau tidak sambil memeluk guling, tapi kalau meluk guling, itu artinya dia tidur ngadep ke arah Rafa dong.
"Merem aja merem," batin Dara.
Rafa sendiri berbaring menyamping ke arah Dara, memandangi punggung gadis yang sudah sah menjadi istrinya itu.
Rafa menarik tubuh Dara jadi menghadap ke arahnya dan itu sukses membuat jantung Dara hampir melompat keluar dari tempatnya.
"Peluk aja gulingnya. Gak bisa tidur kalau gak meluk guling, 'kan?" ucap Rafa.
Kedua mata Dara yang awalnya dia pejamkan erat itu pun terbuka seketika. "Mas tau dari mana?" tanyanya heran.
Masih dengan posisi menghadap ke arah Dara, Rafa pun menjawab dan mengatakan kalau Ibu Erina lah yang memberitahunya.
"Kapan Ibu cerita?" tanya Dara.
"Udah lama. Pas Oma nyuruh saya buat nganterin makanan ke sana. Saya malah ngeliat juga album foto kamu dari bayi sampai kamu remaja seperti sekarang," jawab Rafa.
Makin melebarlah mata Dara. Dia bangun dan duduk sambil menatap tak percaya ke arah sang suami. "Mas liat foto aku pas masih kecil?" tanyanya.
Rafa mengangguk. "Emangnya kenapa?"
"Aduh. Dia liat juga gak ya foto aku pas rambutnya kek daun kelapa karena salah posisi berdiriya?" batin Dara.
Jadi, dulu tuh dia pernah difoto. Belakangnya ada lukisan pantai dan pohon kelapa. Salahnya, dia malah berdiri didepan lukisan pohon kelapa itu. Jadilah, pohonnya ketutup oleh badannya, tapi daunnya pas di kepala Dara.
"Termasuk foto kamu yang rambutnya kayak daun kelapa," ucap Rafa.
Dara langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia merasa malu luar biasa karena Rafa mengetahui aib masa kecilnya itu.
Rafa terbahak melihat reaksi Dara. "Emang kenapa sih? Lucu lho itu. Tadinya mau saya minta buat dipajang di dompet saya," ucapnya.
"Iiih. Jangan ih!" Dara merengek dan itu makin membuat Rafa tidak bisa menahan tawanya.
Kalian pernah gak malah merasa bahagia di saat ada seseorang yang menertawakan kalian?
Itulah yang Dara rasakan sekarang. Meski dia tahu kalau Rafa sedang menertawakan tingkahnya, dia malah merasa senang karena jarang sekali melihat Rafa tertawa seperti itu.
"Apakah aku sudah mulai menyukainya? Atau malah jatuh cinta padanya?" batin Dara dengan dada yang berdebar kencang.
"Maaf, kamu lucu," ucap Rafa saat sudah menghentikan tawanya.
"Baru nyadar emangnya?" tanya Dara kemudian kembali merebahkan tubuhnya.
Dara langsung memeluk guling dan kini jantungnya kembali berdetak lebih cepat saat melihat wajah Rafa dari dekat.
Begitu juga dengan Rafa. Dia merasa debar di dadanya menyepat saat melihat wajah cantik Dara.
Dara kini merasa gugup luar biasa saat melihat tatapan Rafa yang berbeda dari biasanya. Dia bahkan sampai memegang selimut dengan erat saat Rafa malah mendekatkan wajahnya.
"Ya ampun, dia mau apa?" batin Dara. Dia langsung memejamkan matanya saat wajah Rafa makin mendekat. Dara bahkan bisa merasakan hembusan hangat dari napas Rafa ke wajahnya.
"Jangan bilang.. Dia bakal minta itu malam ini." Dara mulai cemas.
"A-aku lagi datang bulan lho," ucap Dara.
"Lalu?" tanya Rafa.
"Y-ya kan gak boleh gituan pas istrinya lagi datang bulan," jawab Dara.
Kening Rafa mengkerut, dia yang awalnya bingung pun langsung tertawa saat paham apa yang dimaksudkan oleh istri kecilnya itu.
Mendengar Rafa yang kembali tertawa, Dara langsung membuka matanya dan menatap heran ke arah suami tampannya itu.
"Kok ketawa?" tanya Dara.
Rafa mengetuk kening juga mencubit hidung mancung Dara dengan perasaan gemas. "Kamu kira saya bakal minta itu sama kamu?" tanyanya.
"Y-ya terus, apa lagi dong? Kenapa Mas terus deke-deket kayak tadi?" Dara balik bertanya.
"Saya cuman mastiin kalau saya gak salah liat," jawab Rafa.
"Liat apaan?" tanya Dara.
"Di rambut kamu, kayaknya ada sayap kecoa," jawab Rafa.
"Hah?!" pekik Dara. Dia langsung bangun, turun dari ranjang dan mengibaskan rambutnya.
"Di mana? Masih ada gak?" tanya Dara heboh.
Bukannya menjawab, Rafa malah kembali tertawa dan itu berhasil menyita perhatian Dara.
Dara memincingkan matanya menuduh Rafa berbohong dan sedang mengerjainya.
"Maaf, maaf," ucap Rafa. Pria itu sampai mengusap sudut matanya yang berair karena sejak tadi terus tertawa.
Dara mengambil bantal dan memukulkannya pada tubuh Rafa. "Iiih. Dasar Mas Rafa ngeseliin!"
Rafa melindungi wajahnya dengan kedua tangan saat Dara terus melayangkan bantal tersebut padanya.
"Ngeselin! Nyebelin!" seru Dara.
"Aaaa!" Dara berteriak saat Rafa memegang kedua tangannya dan menariknya.
Rafa membaringkan Dara dengan posisi dia yang kini berada di atas istrinya itu.
Napas keduanya terdengar memburu akibat kelakuan mereka barusan. Rafa masih memegang kedua tangan Dara dan kini dia kembali fokus menatap wajah cantik Dara.
Begitu juga dengan Dara yang fokus menatap wajah tampan Rafa. Keduanya tiba-tiba merasa kikuk dengan posisi mereka sekarang.
Rafa mendekatkan wajahnya, berniat untuk menci-um kening Dara. Namun, suara petir yang kembali menggelegar membuat dia tersadar dan berguling lalu kembali berbaring di samping Dara.
Keduanya jadi canggung, Dara kembali ke tempatnya dan terlentang dengan guling yang masih jadi pembatas antara dia dan Rafa.
Suara petir terus terdengar namun hujan tidak kunjung turun.
Dara melirik ke arah Rafa yang nampak memejamkan mata dengan jakun yang terlihat bergerak naik turun.
Takut trauma Rafa datang kembali karena hujan mulai turun dan langsung deras, Dara pun menyingkirkan guling yang jadi pembatas dan mendekatkan tubuhnya ke arah Rafa.
Dara menghela napas sejenak sebelum memberanikan diri memeluk Rafa dan itu membuat Rafa terkesiap karena jujur saja, barusan kenangan pahit itu kembali bermunculan di ingatannya.
"A-apa kamu mengetahuinya?" tanya Rafa.
Dara mengangguk. "Oma udah cerita semuanya."
"Saat mati lampu di malam itu pun, kamu sudah tau?" tanya Rafa.
Kali ini Dara menggeleng. "Besoknya aku baru tau."
"Apa kamu mau mendengar semuanya dari saya?" tanya Rafa.
Dara menjawab dengan ragu. "Jangan diceritakan kalau Mas gak sanggup," ucapnya.
"Enggak. Justru saya merasa harus mengeluarkan semua yang saya pendam selama ini. Kamu orang pertama yang akan mendengarnya dari saya. Orang pertama yang saya jadikan tempat bercerita," ucap Rafa.
Dara merasa terharu mendengar pengakuan dari Rafa. Dia pun menyuruh Rafa untuk mulai bercerita kalau memang Rafa sanggup.
Lima tahun yang lalu ...
Rafa dan Khaylila sedang berada di sebuah warung makan pinggir jalan. Tidak seperti wanita kebanyakan yang ingin makan di restoran mewah, Khaylila ingin makan pecel lele yang katanya enak dan sudah menjadi langganannya.
Mereka baru selesai mengerjakan tugas kelompok di rumah salah satu teman kuliah mereka dan pulang saat langit sudah berubah gelap.
"Udah mau jam 8, pulang aja yuk! Besok aku ngajar," ucap Khaylila.
Meski masih kuliah, Khaylila sudah mengajar di sebuah sekolah SMK menggantikan temannya yang cuti melahirkan. Juga menjadi guru les matematika di beberapa tempat.
"Tapi masih ujan, aku 'kan gak bawa mobil," sahut Rafa.
"Justru itu. Kayaknya seru naik motor sambil ujan-ujanan."
"Enggak, bahaya juga karena kita gak pake helm," tolak Rafa.
Wajah Khaylila langsung cemberut dan itu membuat Rafa tidak tega. Ditambah hujan yang entah kapan akan reda nya sedangkan Khaylila sudah diminta pulang oleh ibunya.
"Aku yang bawa ya," pinta Khaylila saat Rafa setuju untuk pulang meski hujan masih turun.
"Enggak. Aku aja, kamu nanti di belakang nunduk nempel ke punggung aku biar gak terlalu kena air ujan," tolak Rafa.
"Iih. Sekaliii aja. Plissss." Khaylila malah memohon dan mau tidak mau, Rafa pun kembali mengabulkannya.
"Jangan ngebut!" seru Rafa saat motor yang dikemudikan oleh Khaylila mulai melaju dengan dia yang duduk di belakang wanita itu.
"Seru banget, 'kan?" tanya Khaylila setengah teriak.
"Khay, hujannya makin deres. Kita neduh aja dulu!" teriak Rafa.
"Tanggung, baju kita juga udah basah." Lagi dan lagi Khaylila menolak usul Rafa.
Melihat ada genangan air di depan sana, Khaylila malah menambah kecepatannya. Katanya seru nanti airnya meleber ke samping mereka.
"Khay! Jangan!" teriak Rafa namun tidak digubris oleh Khaylila.
Tiba di pertigaan, cahaya lampu mobil yang terang dari depan mereka membuat Khaylila merasa silau. Dia terus melaju meski Rafa menyuruhnya untuk berhenti karena melihat kendaraan di belakang mereka berhenti.
Khaylila malah menambah kecepatan karena tidak tahu kalau lampu berubah merah dan ada mobil yang melaju kencang dari arah kanan.
BRAK!
Tabrakan pun tidak bisa terhindarkan. Rafa terlempar sedangkan Khaylila terseret bersama motor milik Rafa dan berhenti saat kepala wanita itu terbentur trotoar jalan.
"KHAYLILA!" teriak Rafa. Dia berlari kencang mengabaikan rasa sakit di kepala, tangan dan kakinya yang terluka.
Rafa bersimpuh di depan Khaylila yang sudah tidak sadarkan diri dengan cairan merah segar yang mengalir dari kepala kekasihnya itu.
Tidak berani memegang karena takut ada cedera tulang dan sebagainya. Rafa terus memanggil Khaylila namun tidak ada respon sama sekali dari wanita cantik tersebut.
Tangan kanan Rafa bergetar saat dia hendak mengecek denyut nadi di leher Khaylila.
"Enggak. Enggak mungkin! Kamu gak boleh ninggalin aku! Bangun, Khay!" seru Rafa saat dia tidak menemukan denyut nadi Khaylila.
"Panggil ambulance! Tolong panggil ambulance!" teriak Rafa.
Sampai di rumah sakit, Khaylila tidak tertolong. Dokter mengatakan Khaylila sudah meninggal di tempat kejadian.
Sari langsung menangis histeris dengan Varyo yang memeluknya. Sedangkan Rafa, luka di tubuhnya saja belum diobati dan dia membiarkan ibu kandung Khaylila terus memukulinya.
"Dasar pembu-nuh! Kamu yang udah bikin Khaylila meninggal! Kamu penyebabnya!" amuk Sari.
"Mama sama Papa juga meninggal karena kecelakaan mobil saat sedang hujan," ucap Rafa.
Air mata Dara sampai menetes mendengar cerita dari Rafa. Dia mengusap rambut dan punggung Rafa dengan lembut.
Pantas saja Rafa merasa trauma tiap kali ada hujan. Ternyata dua kejadian yang tentunya sangat menyakitkan bagi Rafa itu terjadi saat hujan sedang turun.
Belum lagi, tuduhan dan tekanan dari orang tua Khaylila yang semakin memperparah trauma Rafa.
Rafa balas memeluk erat Dara, dia bahkan menangis di pelukan istri kecilnya itu. Tangis yang untuk pertama kalinya dia tunjukkan di depan seorang wanita selain sang oma dan ibu kandung Khaylila.
"Semua itu salahku! Khaylila meninggal karena salahku," ucap Rafa.
"Tidak ada yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Kecelakaan itu musibah, bukan salah Mas Rafa," sahut Dara.
"Tapi, andai saja malam itu aku tidak mengizinkannya, mungkin dia masih ada dan... dan kecelakaan itu tidak akan terjadi."
Dara merasa hatinya berdenyut agak nyeri saat Rafa mengatakan hal barusan. Ucapan Rafa terkesan kalau pria itu tidak menginginkan Khaylila pergi. "Dan kalau itu tidak terjadi, kita tidak akan pernah seperti sekarang," batinnya.
Dara menggelengkan kepalanya pelan. Sekarang bukan waktunya untuk dia merasa cemburu. Apalagi cemburu kepada seseorang yang sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Dara menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan, berusaha mengusir rasa sesak yang malah menyelimuti hatinya.
"Mas nggak bisa terus hidup dalam bayang-bayang kata 'andai saja'. Mbak Khaylila pasti gak bakal suka ngeliat Mas Rafa yang terus menyiksa diri seperti ini. Wajar kalau Mas merasa kehilangan, tapi tidak akan bisa menyalahkan diri sendiri tidak akan bisa mengubah apa yang udah terjadi," ucap Dara.
Rafa terdiam mendengar ucapan Dara yang memang ada benarnya. Selama ini, dia selalu mendengar nasehat yang isinya kurang lebih sama dari sang oma. Tapi mengapa terasa sulit untuk masuk ke hatinya.
Sedangkan Dara, ucapannya langsung ngena ke hati Rafa.
Rafa melepaskan pelukannya. Sedikit menjauhkan tubuhnya hingga kini dia bisa melihat wajah Dara yang sembab.
"Kamu menangis?" tanya Rafa.
"Mas juga nangis," jawab Dara.
Rafa mengatur posisi bantal, membuatnya sedikit lebih tinggi di dekat kepala ranjang, lalu berbaring dengan bersandar pada bantal tersebut.
Dia menarik tubuh Dara, dan memeluk erat istri kecilnya itu. Dara bisa merasakan denyutan jantung Rafa yang lembut, menenangkan hatinya.
Rafa mengecup puncak kepala Dara dengan lembut, "Maaf kalau barusan ada kata-kata yang mungkin sedikit menyakiti hati kamu," ucapnya dengan nada yang lembut dan tulus.
Dara mengangguk. Dia merasa sangat nyaman berada di pelukan Rafa dan itu membuatnya mulai merasa mengantuk. Maklum saja, waktu sudah menunjukkan jam dua belas malam sekarang.
Keduanya tertidur dan seolah langsung melupakan guling yang semula jadi pembatas kini sudah terasing berada dipaling pinggir.
Dini hari, hujan kembali turun dengan deras disertai petir yang menggelegar. Kening Rafa nampak berkeringat dan kedua tangannya mengepal kala kejadian menyakitkan itu malah datang ke mimpinya.
Hanya sebentar, karena setelahnya kepalan tangan itu perlahan mengendur dan kening Rafa yang semula mengkerut dengan wajah yang semula gelisah itu pun kini terlihat tenang.
Dalam mimpinya, Rafa melihat Khaylila tersenyum penuh kehangatan sambil mengibaskan tangannya pelan ke arahnya. Langkah Khaylila mendekat dan wajahnya semakin jelas terlihat.
Kemudian, dengan lembut ia membisikkan kata-kata yang mengusir kegelisahan Rafa, "Berbahagialah, Rafa. Jangan lagi larut dalam rasa bersalahmu. Semua itu bukan salahmu, dan aku telah menemukan kedamaian di sini. Gadis itu cantik dan memiliki hati yang tulus. Bahagialah dengannya, jaga dan sayangi dia, jangan pernah lukai hatinya," bisik Khaylila itu penuh keikhlasan.
Setelah itu, wanita itu perlahan mengecil dan tenggelam di balik cahaya putih yang memancar terang, membuat pandangan Rafa kian silau.
Kelopak mata Rafa perlahan terbuka, lampu sudah menyala dan itu membuatnya merasa silau karena Rafa terbiasa tidur dengan kondisi lampu utama yang dimatikan.
Rafa melirik ke arah Dara yang nyenyak tidur di pelukannya. Perasaannya sungguh jauh lebih tenang mungkin karena dia sudah menceritakan semuanya kepada Dara. Hatinya jadi lega dan beban yang selama ini dia pendam terasa langsung terangkat tanpa sisa.
"Terima kasih karena sudah hadir dalam hidupku," gumam Rafa.
--- ❤️ ---
Paginya, Dara bangun lebih dulu dan awalnya dia kaget karena tidur di pelukan Rafa. Dara memandang wajah Rafa yang tetap terlihat tampan saat pria itu terlelap.
Merasa ada desakkan yang ingin segera dikeluarkan, Dara perlahan mengangkat tangan Rafa yang memeluknya, kemudian turun perlahan dari ranjang karena tidak ingin membuat suaminya terbangun.
Dara tersenyum tipis, dia mengambil ponsel miliknya yang ada di atas nakas dan keluar dari kamar Rafa menuju ke kamar miliknya.
Namun, alangkah terkejutnya dia saat melihat Oma Atira dan Suster Tiara yang berada di tangga sana.
"Ya ampun, Oma pasti ngeliat aku keluar dari kamar Mas Rafa," batin Dara.