Nara Setianingrum, guru SMA berusia 25 tahun yang cantik, anggun, dan teguh berprinsip, menghadapi murid bermasalah bernama Karin Setiawan. Karin adalah adik dari Danu Setiawan, seorang CEO muda berusia 28 tahun yang berpengaruh di dunia bisnis. Karena dimanjakan, Karin tumbuh sombong, seenaknya, dan sering membuat kekacauan di sekolah bersama gengnya: bolos, membully, hingga berkelahi. Banyak guru tak sanggup menghadapi Karin, karena masalah selalu diselesaikan dengan uang atau campur tangan Danu yang dingin dan berkuasa. Namun, Nara berbeda—ia menolak kompromi dan sogokan. Merasa dipermalukan, Karin melapor pada kakaknya. Danu pun bersekongkol menjebak Nara agar malu, namun rencana itu justru terbongkar oleh orang tua Danu. Mereka memaksa Danu menikahi Nara. Dari pernikahan penuh intrik ini, lahirlah perjalanan emosional: keteguhan hati Nara, usaha Danu menemukan cinta sejati, dan akhirnya kesadaran Karin yang berbalik menyayangi kakak iparnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8: Perlakuan Karina
Pintu jati raksasa itu terbuka dengan suara desis halus, seolah-olah sedang menghisap udara segar dari luar dan menggantinya dengan atmosfer yang berat dan dingin. Nara melangkah masuk, kakinya yang hanya berbalas kaos kaki tipis karena ia baru saja melepas sepatunya di teras merasakan dinginnya lantai marmer Italia yang mengkilap seperti cermin.
Di atasnya, sebuah lampu gantung kristal sebesar mobil kecil berpijar menyilaukan, membiaskan cahaya ke segala penjuru ruangan yang luasnya mungkin setara dengan seluruh luas tanah rumah Nara di kampung. Namun, keindahan ini tidak membuat Nara kagum. Baginya, setiap ukiran emas di dinding itu adalah simbol dari kesombongan yang telah menjeratnya.
"Jangan hanya berdiri di sana seperti patung, Bu guru. Masuklah. Anggap saja rumah sendiri... kalau ibu sanggup membayar pajaknya," suara Karin melengking, memecah keheningan.
Karin duduk di sofa beludru merah darah, kakinya disilangkan dengan angkuh. Di tangannya ada sebuah kikir kuku elektrik yang mengeluarkan bunyi berdengung halus.
Di sudut ruangan, di balik sebuah meja bar yang elegan, Danu berdiri diam. Ia sedang menuangkan air mineral ke dalam gelas kristal, gerakannya tenang namun presisi. Ia tidak menyapa Nara, namun tatapan matanya yang tajam sempat melirik ke arah koper tua yang dibawa Nara melalui pantulan cermin dinding.
Nara meletakkan kopernya di dekat pintu. Ia berdiri tegak, merapikan jilbabnya yang sedikit miring.
"Saya sudah sampai, Pak Danu. Apa tugas pertama saya sebagai pendamping Karin?"
Danu menyesap airnya, lalu berjalan perlahan mendekati mereka. Ia berhenti tepat di samping sofa Karin, meletakkan tangannya di sandaran sofa seolah-olah sedang memamerkan wilayah kekuasaannya.
"Tugasmu bukan hanya mengajar, Nara. Tugasmu adalah memperbaiki apa yang sudah kamu rusak," jawab Danu dingin.
"Karin merasa trauma setiap kali melihat guru. Dia butuh bukti bahwa kamu bukan lagi 'penguasa' di atasnya. Dia perlu tahu bahwa di rumah ini, posisimu berada di bawahnya."
Karin tiba-tiba tersenyum lebar. Ia mematikan kikir kukunya dan berteriak kecil, "Oh, aku hampir lupa! Kak, tadi aku habis jalan-jalan di taman belakang, lalu sepatu limited edition-ku kena lumpur gara-gara tukang kebun lupa menyiram rumput dengan benar."
Karin mengangkat kakinya, menunjukkan sepasang sepatu kets putih bermerek ternama yang kini ternoda oleh sisa tanah basah dan rumput yang menempel di bagian bawah serta pinggirannya.
"Bu Nara," panggil Karin dengan nada memerintah yang dibuat-buat. "Bersihkan. Sekarang. Aku mau pakai sepatu itu sepuluh menit lagi untuk pergi ke rumah teman."
Nara tertegun. Jantungnya berdegup kencang. Ia adalah seorang guru yang selalu mengajarkan tentang adab dan martabat manusia. Kini, ia diminta membersihkan sepatu seorang siswi yang baru kemarin ia beri sanksi di sekolah.
"Karin, bukankah ada petugas kebersihan di rumah ini?" Nara mencoba bicara setenang mungkin, meski suaranya sedikit bergetar.
"Ada. Banyak malah," sahut Karin santai. "Tapi aku ingin ibu yang melakukannya. Bukankah Kak Danu sudah bilang? ibu di sini untuk menuruti permintaanku. Kalau ibu menolak... ya sudah. Kak, tolong telepon rumah sakit sekarang. Bilang kalau dana untuk pasien bernama Rahardi ditarik kembali."
Mendengar nama ayahnya disebut, lutut Nara terasa lemas. Ia menatap Danu, berharap menemukan secercah rasa kemanusiaan di mata pria itu. Namun, Danu hanya menatapnya datar, seolah-olah sedang menyaksikan sebuah drama yang membosankan.
"Keputusan ada di tanganmu, Nara," ucap Danu pendek.
Nara memejamkan mata. Di balik kelopak matanya, ia melihat wajah ayahnya yang tersenyum saat ia lulus kuliah. "Jaga kehormatanmu, Nduk," suara ayahnya terngiang. Namun, ia juga melihat wajah ayahnya yang pucat saat berjuang mendapatkan oksigen pagi tadi.
Maafkan Nara, Pak...
Nara perlahan berlutut di lantai marmer yang dingin. Gerakannya pelan, seolah setiap inci tubuhnya menolak untuk merendah. Ia merogoh tasnya, mengambil selembar tisu basah yang selalu ia bawa.
Karin tertawa kecil, suara tawa yang penuh kemenangan. Ia menjulurkan kakinya lebih dekat ke arah wajah Nara. "Pelan-pelan ya, jangan sampai lecet. Sepatu ini harganya lebih mahal dari total gajimu setahun."
Nara mulai mengusap lumpur itu. Tangannya gemetar. Setiap usapan pada sepatu itu terasa seperti usapan pada harga dirinya yang kini terkoyak. Ia bisa merasakan tatapan Danu dari atas, menatap punggungnya yang membungkuk.
Nara tidak bersuara. Ia fokus pada tugas hina itu, menekan seluruh egonya hingga ke dasar bumi. Ia ingat bahwa setiap inci kotoran yang ia bersihkan adalah satu menit tambahan napas bagi ayahnya di ruang ICU.
Danu memperhatikan Nara dari posisinya yang lebih tinggi. Ia melihat bagaimana jemari Nara yang ramping dan bersih itu dengan telaten membersihkan sisa tanah dari sepatu adiknya. Ia mengharapkan melihat kemarahan yang meledak, atau tangisan histeris yang memohon ampun. Tapi ia justru menemukan sesuatu yang lain: Keteguhan.
Nara tidak menangis. Meski matanya berkaca-kaca, ia tidak membiarkan satu tetes air mata pun jatuh di depan mereka. Wajahnya tetap menunjukkan ekspresi seorang guru yang sedang menjalankan tugas, bukan seorang pelayan yang ketakutan.
"Sudah selesai," ucap Nara setelah beberapa menit. Ia berdiri kembali, napasnya sedikit memburu. Ia meletakkan tisu kotor itu di sebuah wadah plastik kecil yang ia bawa. "Sepatunya sudah bersih, Karin. Ada lagi?"
Karin tampak sedikit kecewa karena Nara tidak hancur seperti yang ia bayangkan. "Cih, ternyata mental ibu kuat juga ya. Baiklah, bawa koper sendri. Bi Inah akan menunjukkan kamarmu. Itu di paviliun belakang, dekat gudang. Jangan harap ibu dapat kamar seperti di hotel."
Nara mengangguk kecil. Ia mengambil kopernya, lalu menatap Danu sejenak. "Terima kasih atas 'pelajaran' pertamanya, Pak Danu. Saya permisi."
Saat Nara berjalan mengikuti Bi Inah menuju bagian belakang rumah, Danu tetap berdiri di tempatnya. Ia menatap sisa-sisa tisu kotor di meja, lalu beralih ke punggung Nara yang tetap tegak meski baru saja dihinakan.
"Kenapa, Kak? Puas kan?" tanya Karin sambil bangkit dari sofa. "Besok aku punya rencana yang lebih seru lagi buat dia."
Danu tidak menjawab. Ia justru merasa ada sesuatu yang tidak nyaman di dadanya. Sebuah gangguan kecil yang ia sendiri tidak tahu apa namanya.
Kamar yang ditunjuk Bi Inah benar-benar jauh dari kesan mewah. Ruangan itu kecil, hanya berisi satu tempat tidur tunggal yang keras, sebuah lemari kayu tua, dan sebuah meja kecil. Jendelanya menghadap langsung ke arah tembok pembatas mansion yang tinggi.
"Maaf ya, Non Nara. Ini kamar yang diperintahkan Nona Karin," ucap Bi Inah dengan nada kasihan. Wanita tua itu telah bekerja lama di sana dan tahu betapa nakalnya Karin.
"Tidak apa-apa, Bi. Ini sudah lebih dari cukup. Terima kasih," jawab Nara tulus.
Begitu Bi Inah keluar dan pintu tertutup, Nara terduduk di tepi tempat tidur. Kekuatannya yang ia pamerkan di depan Danu dan Karin runtuh seketika. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan tangisnya pecah tanpa suara. Bahunya berguncang hebat.
Ia merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel. Ada pesan dari ibunya yang mengirimkan foto ayahnya yang sedang tidur di ruang VVIP rumah sakit dengan peralatan yang lengkap.
“Terima kasih ya, Nara. Bapak sudah ditangani dokter terbaik. Ibu nggak tahu harus balas kebaikan orang yang kasih kerjaan ke kamu gimana. Mereka pasti orang-orang yang mulia.”
Nara tersenyum pahit membaca kata "mulia". Ia meletakkan ponselnya, lalu bangkit untuk mengambil air wudhu di kamar mandi kecil di pojok kamar. Ia perlu bersujud. Ia perlu mengadu pada satu-satunya Zat yang tidak akan pernah menghinakannya.
Di saat yang sama, di ruang kerjanya yang luas, Danu duduk menghadap monitor CCTV. Layar itu menampilkan koridor paviliun belakang. Ia melihat pintu kamar Nara yang tertutup rapat.
Ia mengambil sebatang rokok, namun urung menyalakannya. Pikirannya melayang pada adegan Nara yang berlutut tadi. Bukankah itu yang ia inginkan? Melihat wanita itu tak berdaya? Tapi mengapa kemenangan ini terasa begitu tawar?