Janu Manggala adalah seorang pemuda polos yang tak menyadari bahwa dirinya memiliki kesaktian Tiada Tanding... Segala jenis pusaka tunduk di hadapannya, ucapannya langsung menjadi kenyataan, dan orang orang yang menunjukan kesaktiannya di mata Janu mereka hanyalah orang gila...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manusia Mengerikan
Tanpa basa basi lagi dia kembali berubah menjadi selendang dan terbang ke udara mencari tempat yang aman.
Koooeeeggg!!
Suara kodok terdengar cukup keras.
"Kodok? Di gunung memangnya ada kodok?" Tanya Janu dengan heran, ia yakin sekali habitat kodok seharusnya berada di dekat sawah.
"Sebaiknya aku periksa."
Sementara itu di tempat yang sedikit jauh dari tempat Janu berada, terlihat sebuah kolam air yang terdapat seekor kodok yang terlihat sangat tua.
Uniknya adalah separuh wajah kodok itu sudah menjadi tulang. Dia adalah salah satu penghuni dunia lain ini yang kerap menyerang siapapun masuk ke dalam daerah kekuasaanya.
Koooeeeegg!!!
Kodok itu kembali bersuara. Tiba tiba kodok itu memasang ekspresi kaget ketika melihat sosok yang datang ke tempatnya berada.
Kodok itu menjatuhkan rahangnya dan patah begitu saja. Buru buru kodok itu langsung masuk ke dalam kolam yang sangat bening itu.
Tidak lama kemudian Janu tiba di tempat itu, "dimana kodoknya?" Tanya Janu sambil memandangi kolam kecil namun tidak ada kodoknya.
Kemudian Janu menyipitkan matanya memandangi air, "kodok mati?" Tanya Janu yang sedikit kaget melihat bangkai kodok mati yang tenggelam di air, "namun mengapa hanya separuh saja bagian tubuhnya yang busuk?"
Janu bingung, namun dengan cepat ia mengangkat kedua bahunya, cuek dengan hal ini.
Janu tiba tiba mendengar suara tongkat kayu. Janu mencoba mencari tahu dan mendatangi sumber suara, namun ketika Janu mendekat lagi lagi tak ada siapapun di sana.
"Mengapa tidak ada apapun?" Tanya Janu sambil melangkah pergi, meninggalkan sebuah tongkat kayu jelek yang patah di tanah karena terinjak kakinya.
Ketika Janu berjalan, Janu mendengar suara klening gamelan.
"Apakah ada pesta peresmian?" Tanya Janu dengan ekspresi sedikit terkejut. Biasanya pesta peresmian memang menggunakan klening gamelan, namun sangat jarang. Janu menjadi sedikit bersemangat, ia buru buru mempercepat langkah kakinya mengikuti suara itu.
"Kabur! Cepat kabur! Manusia mengerikan itu kemari!" Berbagai macam alat musik mistis tiba tiba menjelma menjadi lelembut dengan tubuh seperti manusia namun bertelinga panjang, mereka langsung lari kocar kacir ketika merasakan Janu mendekati tempat mereka.
***
Sementara itu di sebuah goa kecil, terlihat seorang pria paruh baya duduk di bibir goa seraya memandangi langit yang mulai menggelap, padahal masih siang hari.
Dia terlihat memasang ekspresi kebingungan.
"Hmm... langit sudah mulai gelap, namun ini bukan jadwal para hantu itu keluar. Lupakan saatnya aku bersembunyi!" Dia adalah Tarjo, salah satu tahanan tahanan yang di tahan di dunia lain tanpa jalan keluar ini.
Sebagai seseorang yang sudah terjebak selama 10 tahun di tempat ini Tarjo sangat hafal betul dengan suasana di tempat ini.
Langit yang mulai menggelap ini bukan pertanda akan berganti sore atau malam.. namun pertanda penghuni dunia lain ini akan keluar dan berkeliaran di mana mana.
"Untungnya aku sudah mengumpulkan beberapa kentang liar dan buah aneh.." ucap Tarjo penuh dengan sukacita..
Untuk bertahan di tempat ini selama 10 tahun meditasi tapa saja tak cukup, bagaimana pun seseorang tetap membutuhkan makan.
Oleh karena itu ia mencoba mencari cara untuk bertahan hidup, dan dia mendapatkan sedikit cara untuk bertahan hidup, yaitu memakan tumbuhan liar yang tumbuh di sekitar sini.
Tarjo sendiri bersembunyi bukan tanpa alasan pasalnya ketika langit gelap bukan semacam hantu biasa yang berkeliaran di tempat ini, namun berbagai macam hantu dengan rupa yang sangat mengerikan dan menyeramkan, Tarjo yakin hantu hantu itu adalah hantu yang lahir dan menetap di tempat ini... ia juga sangat yakin bahwa mereka adalah anak anak dari Sang Bethari Panggodo Pangrencono.
Mereka tak bisa di kalahkan apalagi di musnahkan, mereka hanya bisa di hindari. Hanya itu cara bertahan hidup di tempat yang keras ini.
"Eh?" Tiba tiba pada saat ini Tarjo menegang, mendapati para hantu mengerikan yang tak bisa di bunuh itu mulai terlihat berkeliaran di luar.
"Sialan! Ini masih siang dan mereka sudah berkeliaran!" Ucap Tarjo dengan panik..
Seketika itu juga Tarjo langsung bertambah panik ketika melihat sebuah selendang merah terbang di udara.
"A.. aku harus pergi!" Ucap Tarjo yang langsung masuk ke dalam goanya. Di mulut goa itu ia langsung menggeser batu besar yang ada di sana untuk menghalangi para hantu melihatnya.
Namun Tarjo tak menutup sepenuhnya, ia membuat celah kecil untuk mengintip apa yang terjadi di luar.
Tarjo sedikit heran, seharusnya ini bukanlah jadwal para hantu keluar.. namun bagaimana mungkin tiba tiba mereka keluar?
"Dalam sepuluh tahun ini baru kali ini aku melihatnya!" Ucap Tarjo dalam hatinya.
Tiba tiba terdengar suara di belakang Tarjo, "bung, bisa kau tutup sekalian celah kecil itu? Aku takut kalau manusia mengerikan itu menangkapku, dan menjadikan kulitku sebagai hiasan!"
"Sialan, jangan berisik! Apakah kamu tidak tahu di luar sana banyak hantu mengerikan! Aku bisa mati kalau kamu berisik!" Bantah Tarjo.
"Aku juga bisa mati kalau manusia mengerikan itu menangkapku! Ayolah bung, aku benar benar takut! Cepat tutup pintu goa itu."
Tarjo langsung berucap, "beris--" ia menghentikan kalimatnya kala menyadari ada suatu keanehan.. seketika itu juga Tarjo berkeringat deras.
Dia sudah sepuluh tahun berada di sini, bagaimana mungkin tiba tiba ada yang mengajaknya berbicara?
Dengan tubuh yang gemetar Tarjo langsung menoleh kebelakang. Ia langsung terkejut bukan main melihat sesosok siluman buaya putih raksasa dengan tubuh manusia, memiliki ekor panjang dan mata bersinar kuning terang duduk di pojok goa seraya mengigit ekornya.
"Ha.. Hantu!!!" Tarjo teramat terkejut hingga tak menyadari bahwa siluman buaya putih itu juga sedang mengigit ekornya sendiri dengan ekspresi panik ketakutan..
Tarjo yang panik dan ketakutan langsung menggeser kembali batu besar itu untuk membuka pintu goa dan langsung lari terbiri birit.
Drrttt!
Dum!
Siluman buaya putih raksasa itu bergegas menutup pintu goa itu, ia langsung meringkuk di dalam goa penuh dengan ketakutan.
***
Tarjo lari terbirit birit..
"Ahhh... mengapa tiba tiba para penghuni tempat ini berkeliaran bukan pada jadwalnya?" Tarjo berlari kesana kemari, untungnya ia tak sedang mencari alamat.
Sayang seribu sayang Tarjo begitu panik saat ini hingga ia tak menyadari bahwa semua penghuni tempat ini juga sedang panik mencari tempat bersembunyi yang aman.
Siapa sangka langkah kaki Tarjo terhenti ketika melihat sebuah pondok kayu yang berada di pinggir danau.
"Ah.. mengapa aku bisa tiba di tempat ini?" Ucap Tarjo dengan penuh ketakutan. Di seluruh tempat di dunia lain ini, hanya pondok kayu itu yang konon paling mengerikan.
Di situ konon adalah tempat tinggal dari Sang Bethari Panggodo Pangrencono dan para penyembahnya..