"Ini rumah, bukan sekolah. Tugas lo sekarang sebagai istri, bukan sekretaris lagi." Galvin menyudutkan Khaira di balik pintu kamar mereka.
"Aku juga udah ngelakuin tugas aku sebagai istri, kan? Kecuali—"
"Kecuali apa, hm?"
Khaira langsung menunduk, menggigit bibir bawahnya di balik cadar. Dia juga meremas sebuah proposal yang sejak tadi dia pegang. Jantungnya berdebar, saat Galvin semakin mendekat dan mengikis jarak di antara mereka.
✧✧✧
Khaira Mafaza Lavsha—Sekretaris Glory High School, tiba-tiba dijodohkan dengan Galvin Shaka Athariz—Ketua Osis yang terkenal tampan, dingin dan penuh kharisma.
Perjodohan itu membuat mereka harus menjalani pernikahan rahasia di masa SMA.
Bagaimanakah kehidupan mereka yang semula hanya sebatas Sekretaris dan Ketua Osis, kini berubah menjadi sepasang suami istri? Mampukah mereka menjalaniinya?
*** WARNING ! STOP PLAGIAT !!! ***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
♦*** ♦ ***
"Wa'alaikumsalam."
Jawaban salam dari Khaira,
berhasil kembali menyadarkan
Galvin dari lamunanya.
"Ehm!" Galvin berdeham pelan,
untuk menghilangkan pikiran yang
tanpa permisi melintas di
benaknya.
Bisanya-bisanya dia berpikir
untuk mencium kening Khaira
sebagai tanda pamit, karena malam
ini dia akan pergi ke luar.
Dia geli sendiri, setelah
menyadari pikirannya yang
ternyata bisa seromantis itu.
Walaupun romantisnya itu
hanya ada di benaknya, dan tidak
mungkin dia realisasikan dalam
dunia nyata.
Untuk saat ini, dia memang
tidak bisa merealisasikan apa yang
dia pikiran. Namun untuk ke
depannya, tidak ada yang bisa
menjamin jika dia akan bisa
merealisasikannya atau justru
sebaliknya, yaitu tetap tidak bisa.
"Kenapa, Gal?" tanya Khaira,
karena Galvin tiba-tiba berdeham
seperti itu.
"Apa kamu mau minum?"
tanyanya kembali.
Menurutnya, bisa jadi Galvin
tiba-tiba serak, dan perlu minum.
Namun, pikiran Khaira
langsung terpatakkan, saat Galvin
menggelengkan kepalanya dengan
pelan. "Gue ga haus, Khaira."
"Aku pikir kamu haus," gumam
Khaira, begitu pelan, tetapi masih
bisa terdengar jelas di telinga
Galvin.
Namun meskipun dia
mendengar gumaman Khaira, dia
memilih untuk tidak
menanggapiya.
"Gue pergi sekarang," ucapnya
kembali, yang entah sudah berapa
kali dia berpamitan. Namun tidak
kunjung juga pergi dari hadapan
Khaira.
Hingga akhirnya, kali ini dia
langsung berlalu pergi dari
hadapan Khaira.
Khaira setia melihat kepergian
Galvin, hingga punggung Galvin
seluruhnya menghilang di balik
pintu.
"Semoga Allah selalu menjaga
kamu setiap waktu," gumam Khaira
pelan, memanjatkan doa.
Ingin hati dia melarang Galvin
untuk tidak keluar selarut itu,
tetapi dia sadar, bahwa dirinya
tidak memiliki hak untuk
melarang.
Mereka sudah sepakat untuk
tidak menggangganggu kehidupan
masing-masing.
Yang hanya bisa dia lakukan
adalah berdoa supaya Galvin baik-
baik saja.
Brumm!
Sebuah motor besar memasuki
bengkel yang bertuliskan 'Bengkel
Aratula'.
Bengkel yang didirikan Galvin
dan teman-temannya terlihat
megah dengan dominasi warna
hitam pekat yang menciptakan
kesan misterius dan maskulin.
Begitu melangkah masuk, luas
bengkel ini tampak
mencengangkan, menampung
berbagai peralatan dan mesin
canggih yang ditempatkan dengan
rapi di sudut-sudut ruangan
tertentu.
Lantai bengkel yang mengkilap
mencerminkan sinar lampu yang
terpasang di langit-langit tinggi,
memberikan penerangan yang
cukup untuk menerangi setiap inci
ruangan.
Motor besar Galvin terasa
cocok di tengah-tengah bengkel ini,
dikelilingi oleh deretan motor lain
yang juga tampak gagah.
"Matikan lampu!" perintah
Galvin, sebelum meninggalkan
ruangan depan bengkel itu.
Lampu di ruangan itu akan
otomatis mati, setelah
mendapatkan intruksi.
Galvin melangkah masuk ke
dalam sebuah lift yang mengarah
menuju ruang bawah tanah, di
mana di sana merupakan ruangan
yang digunakan untuk
mengerjakan pekerjaan Bengkel
Aratula.
Tring!
Kurang dari satu menit, pintu
lift itu terbuka, dan dia sudah tiba
di ruang bawah tanah.
Ruangan itu jauh lebih luas
dibanding dengan ruangan yang
terlihat di permukaan.
"Eh, Gal. Baru sampai?" tanya
Ezar, yang kebetulan berpapasan
dengan Galvin di depan pintu lift
itu.
"Iya. Gue baru sampai," jawab
Galvin, sambil mengulurkan
tangannya, sebagai tanda jabat
tangan pertemuan mereka, yang
biasa mereka lakukan.
"Lo mau ke mana?" tanya
Galvin.
"Gue mau ke atas, ngambil
beberapa alat yang gue simpel di
sana," jawab Ezar.
"Gue ke atas dulu, ya," sambung
Ezar, sambil menekan pintu lift
supaya terbuka.
Galvin langsung mengangguk
paham dan membiarkan Ezar
memasuki pintu lift itu, sementara
dirinya melanjutkan langkah ke
area kerja.
Aroma oli mesin dan bau karet
ban bercampur dengan udara di
dalam bengkel, menciptakan
sensasi yang khas dan familiar bagi
mereka yang sering berkecimpung
di dunia otomotif.
Di dinding bengkel, terpajang
berbagai poster dan gambar
inspiratif yang menunjukkan
semangat persahabatan dan
kecintaan terhadap dunia motor.
Bengkel ini bukan hanya
tempat untuk memperbaiki dan
merawat kendaraan, tetapi juga
menjadi simbol persatuan dan
kebersamaan antara Galvin dan
teman-temannya.
"Akhirnya lo datang juga, Bos!"
Daris menyambut kedatangan
Galvin dengan sangat antusias.
Dia memegang berbagai jenis
kunci yang dia gunakan untuk
membongkar pasang kendaraan yang sedang dia modifikasi
bersama Faiz.
"Gimana, aman?" tanya Galvin,
memastikan bahwa tidak ada
kendala dalam pekerjaan mereka.
Jika sampai ada kendala, dia
akan membantu untuk segera
memperbaikinya.
"Sejauh ini, aman, Bos. Iya,
kan, Fai?" tanya Daris, meminta
persetujuan Faiz.
Faiz langsung mengangkat
kedua jempol tangannya, sebagai
tanda setuju atas perkataan Daris.
Faiz tidak bisa menjawab
dengan suara, karena dia sedang
menggunakan penutup wajahnya
yang melindungi wajahnya dari
percikan api akibat gesekan benda-
benda yang sedang dia modifikasi.
"Bagus kalau gitu. Kalau ada
apa-apa, langsung kasih tau gue
atau yang lain," ucap Galvin.
Daris langsung mengangguk
paham, kemudian melanjutkan
kembali pekerjaannya.
Galvin menerapkan sistem
kerja yang tidak hanya bertanggung
jawab terhadap tugas mereka
masing-masing, tetapi mereka juga
harus saling membantu satu sama
lain.
Maka dari itu, mereka dituntut
untuk menguasai semua jenis
pekerjaan yang berbeda, sehingga
mereka bisa saling membantu
antara satu dan lainnya.
"Tumben banget lo datang
sampai malem banget kaya gini."
Fardan menghampiri Galvin, yang
duduk di sebuah kursi bulat, sambil
memantau teman-temannya yang
tengah sibuk mengerjakan tugas
mereka masing-masing.
"Ada hal lain yang harus gue
urus," jawab Galvin.
Fardan mengangguk paham.
Dia tidak bertanya lebih lanjut
tentang urusan apa yang Galvin
lakukan, karena itu sudah menjadi
batasan pembicaraan, sehingga
Galvin tidak mengatakannya.
"Motor kemarin udah gue uji.
Semuanya udah beres," ucap
Fardan, memberikan laporan.
"Bagus kalau gitu. Langsung
minta mereka buat kirim laporan
ke pemiliknya," ucap Galvin.
Yang dia maksudkan di sini
adalah mengirim laporan kepada
Izzan dan juga Dafa, karena mereka
yang bertugas dalam penerimaan
dan pengembalian barang. Juga
data, termasuk data tagihan
pembayaran ke bengkel mereka.
"Kapan kita uji mobil yang
minggu lalu?" tanya Fardan,
membicarakan kendaraan lain yang
belum selesai mereka kerjakan.
"Malam ini. Katanya dua hari
lagi mobil itu bakal dipake," jawab
Galvin, sambil beranjak berdiri dari
tempat duduknya.
Dia melangkah ke arah deretan
lift yang disisi oleh banyak sekali
kendaraan.
"Buat balapan di wilayah
barat?" tanya Fardan, memastikan.
"Hm," gumam Galvin,
membenarkan.
Informasi balapan mobil di
wilayah barat memang sudah
tersebar dari satu bulan yang lalu.
Itu merupakan acara besar dan
hanya orang-orang tertentu saja
yang bisa mendaftar di ajang
bergengsi itu.
Acara itu adalah acara yang
legal, karena sudah diakui oleh
hukum yang ada di sana. Bahkan
banyak keluarga petinggi yang
mengikuti balapan itu.
Selian karena untuk
menyalurkan hobi mereka, mereka
yang memenangkan ajak itu bisa
mendapatkan pengakuan dan
hadiah yang cukup besar.
"Kenapa lo ga ada niatan buat
ngikutin ajang itu? Padahal lo ahli
dalam mengendalikan mobil," tanya
Fardan, ikut bangkit dari
duduknya.
"Kenapa lo ja ga masuk ke dunia
itu?" Galvin berbalik memberikan
pertanyaan yang sama, tanpa
menoleh ke arah Fardan.
"Dunia gue cuma dunia motor,"
jawab Fardan.
Dia yang semula berdiri di
belakang Galvin, kini
men sejajarkan dirinya, hingga
berdiri tepat di samping Galvin.
"Ck!" Galvin berdecak seraya
tertawa pelan.
Dia melirik sekilas ke arah
Fardan. "Kalau gitu, alasan gue juga
sama," ucapnya, dan langsung
mendapat sambutan tawa pelan
dari Fardan.
Mereka berada di bengkel yang
selalu ramai dengan pesanan, suara
mesin dan ketukan peralatan mesin
menghiasi suasana malam bengkel
mereka.
Ceklek!
Salah satu pintu di ruangan itu
terbuka. Kemudian munculah Izzan
dari dalam sana.
Izzan mendekati Galvin dan
Fardan sambil membawa laptop
yang menunjukkan daftar email
dari klien yang ingin menggunakan
jasa bengkel mereka.
"Ada masalah?" tanya Fardan,
begitu melihat wajah Izzan yang
tampak bingung dan kewalahan.
Izzan langsung mengangguk
yakin. "Klien yang mengajukan
laporan semakin banyak. Kita mau
terima atau tolak aja?" tanyanya,
dengan nada khawatir.
Galvin yang tengah fokus
melihat pekerjaan Daris dan Faiz
yang sedang memodifikasi desain
mobil, mengalihkan wajahnya
hingga menatap ke arah Izzan.
Fardan juga ikut menoleh,
menunggu keputusan Galvin.
"Gimana, Gal?" tanyanya.
Setelah berpikir sejenak,
Galvin menjawab dengan tegas,
"Terima. Dengan syarat, mereka
bersedia tunggu dalam tempok
waktu yang udah kita tentukan."
"Kita juga harus memforsir
diri, jangan terlalu lelah," ucapnya
kembali.
Dengan berbagai
pertimbangan, dia mengambil
keputusan seperti itu.
Izzan mengangguk paham. Dia
bernafas lega mendengar
keputusan Galvin. "Oke kalau gitu,
gue negosiasi sekarang sama
mereka."
Galvin dan Fardan langsung
mempersilahkan dirinya untuk kembali ke ruangannya.
Dia segera kembali ke
ruangannya untuk menghubungi
para calon klien tersebut, berharap
mereka bisa memahami situasi
bengkel yang sedang sibuk dan
selalu sibuk.
"Bagus juga desain ruangan
yang Ezar buat," puji Fardan untuk
Ezar, yang memiliki keahlian dalam
hal desain mendesain.
"Dia emang berbakat," sahut
Galvin, setuju.
"Faktor utama dari semua yang
udah tercipta, adalah lo. Lo keren
memperhitungkan semua ini," puji
Fardan, kini pujian itu dia tujukkan
untuk Galvin.
"Tumben banget puji gue,"
sindir Galvin, sambil meliriknya
dengan penuh curiga.
Fardan memang tipikal orang
yang sulit memuji kehebatan orang
lain. Sehingga saat Fardan
melakukan itu, siapa pun yang
mendengar pujiannya akan merasa
heran, termasuk Galvin.
"Lo mau gue puji tiap waktu?"
tanya Fardan, sambil tertawa.
"Silahkan kalau lo mampu,"
balas Galvin, ringan.
"Tugas kita belum selesai.
Buruan kita ke ruangan," ajak
Fardan.
Galvin langsung
menyetujuinya.
Mereka berdua berpamitan
kepada teman-temannya yang lain
untuk ke ruangan yang berisi
pekerjaan yang memang
dikususkan untuk mereka
kerjakan.
Di samping itu, ruangan khusus
yang terletak di sudut bengkel itu
tampak tertutup rapat, dindingnya
dilapisi dengan material yang
mampu meredam suara dan
melindungi dari radiasi yang
mungkin berasal dari peralatan
elektronik yang digunakan di
dalamnya.
Begitu memasuki ruangan,
Izzan kembali disambut oleh jajaran
monitor yang menampilkan
berbagai data dan statistik
mengenai kendaraan-kendaraan
yang telah dimodifikasi di bengkel
mereka.
Suasana ruangan itu hening,
hanya terdengar suara mesin
pendingin udara yang berfungsi
menjaga suhu ruangan agar
peralatan elektronik tetap stabil
dan tidak mudah rusak.
"Gimana keputusannya?" tanya
Dafa yang sudah menunggu
keputusan dari Galvin.
Dafa yang semula fokus pada
layar monitornya, kini teralihkan
oleh kehadiran Izzan.
"Dia suruh kita terima pesanan
itu, kalau mereka setuju dengan
tempo waktu yang kita tentukan,"
jawab Izzan, menyampaikan
kembali apa yang Galvin sampaikan
tadi.
Dafa langsung mengangguk
setuju. "Oke, kalau gitu. Kita urus
sekarang," ajaknya, dan langsung
mendapat anggukkan setuju dari
Izzan.
Mereka duduk di hadapan
komputer mereka masing-masing.
Memfokuskan diri untuk
mengerjakan tugas yang harus
segera mereka selesaikan.
Di bagian lain di sudut bengkel
yang berbeda, Ezar tampak serius
mendesain model kendaraan yang
akan dimodifikasi.
Layar komputer yang besar
dihadapannya menampilkan sketsa
dan ilustrasi 3D dari kendaraan
yang sedang dikerjakannya.
Enter!
"Akhirnya... desain ini selesai."
Ezar menghembuskan napasnya
dengan lega.
Dia sangat puas dengan hasil
akhir dari desain yang dia buat.
Desain itu cukup sulit dan
rumit, sehingga dia membutuhkan
waktu beberapa hari untuk
menyelesaikannya.
Apalagi satu minggu ke
belakang dia tidak menyentuh
pekerjaan itu, karena dia dalam
masa pemulihan, pasca kecelakaan.
Hal itu membuat pekerjaannya
terhambat cukup lama.
"Untung aja pemilik motor ini
ga minta modifikasinya buru-buru
selesai," gumamnya, pelan.
Sementara itu, di sudut lain,
Daris dan Faiz bekerja di area
khusus yang dilengkapi dengan
alat-alat mekanik dan
perlengkapan modifikasi yang
canggih, siap untuk merealisasikan
desain yang telah dibuat oleh Ezar.
Ruangan itu adalah ruangan
yang tadi Galvin dan Fardan
datangi, saat Galvin baru saja tiba
ke bengkel itu.
Sementara saat ini, baik itu
Galvin ataupun Fardan, keduanya
sudah berada di ruangan mereka.
Mereka berada di ruang yang
berbeda, terpisah oleh dinding yang
kedap suara.
Di ruangan ini, mereka fokus
mengatur kecepatan dan performa
kendaraan yang telah dimodifikasi.
Suara mesin kendaraan yang
diuji berjalan cepat dan bersuara
keras, namun tak satupun suara itu
sampai ke luar ruangan berkat
teknologi yang canggih yang
digunakan untuk meredam suara
tersebut.
Ruangan yang saat ini Galvin
dan Fardan tempati, dipenuhi
dengan berbagai jenis kendaraan
yang sudah selesai dimodifikasi di
bagian desainnya.
"Gue baru selesai uji motor
yang itu," tunjuk Fardan, ke arah
motor yang terletak di atas lift,
dengan posisi lift itu berada di
posisi pertama.
"Hasil akhirnya jauh berbeda
dibanding kondisi awal," sambung
Fardan, menjelaskan performa
motor itu.
"Itu emang tujuan kita," sahut
Galvin.
Memang benar, tujuan dan
tugas mereka adalah meningkatkan
kualitas kendaraan itu supaya jauh
lebih baik dari semula kendaraan
itu tiba di bengkel mereka.
"Sekarang bagian gue tingkatin
performa mobil itu." Galvin
menunjuk ke arah sebuah mobil yang terletak di antara deretan
mobil mewah lainnya.
Sekarang adalah tugasnya
untuk meningkatkan performa
mesin dan kekuatan kendaraan itu.
Di setiap sisi ruangan itu,
terdapat lift bertingkat yang
digunakan untuk menyimpan
motor dan mobil dengan efisien.
Ketika Fardan menekan tuas
pengendali, lift tersebut mulai
bergerak naik turun perlahan,
membawa motor dari tingkat
tertinggi ke tingkat terendah,
begitu juga sebaliknya.
"Gue mau urus yang itu aja,"
tunjuk Fardan, pada sebuah motor
besar yang tersimpan di antara
motor besar lainnya.
Fardan memang terbiasa
meningkatkan performa mesin
motor, sementara Galvin terbiasa
meningkatkan performa mesin
mobil.
Namun meskipun mereka
terbiasa mengerjakan dua
kendaraan yang berbeda, tetapi
mereka tetap saling bekerja sama.
"Kita harus memperluas
ruangan, karena ruangan ini
hampir penuh," ucap Galvin, begitu
melihat ke sekelilingnya yang hanya
dipenuhi oleh berbagai jenis
kendaraan.
"Lo bener. Kapan kita mau
renovasi bengkel?" tanya Fardan.
"Tunggu sampai seluruh
kerjaan selesai," jawab Galvin,
sekenanya.
"Itu ga mungkin. Kecuali kalau
kita tutup bengkelnya," sahut
Fardan, dan itu fakta.
Galvin tidak lagi merespon
Fardan. Dia memilih untuk segera
melakukan tugasnya.
"Gue ragu kalau kendaraan-
kendaraan ini bakal selesai tahun
ini," gumam Fardan sambil melihat
ke sekeliling.
Di sekeliling bengkel, deretan
motor dan mobil yang beragam
terparkir dengan rapi,
menciptakan suasana yang dinamis
dan penuh energi.
Bau oli mesin dan bahan bakar
tercium di udara, mencampur
dengan suara mesin kendaraan
yang menyala.
Suara mesin yang dinyalakan
dan alat-alat yang digunakan oleh
mekanik menciptakan irama
industri yang khas.
Di dinding, terdapat rak-rak
berisi peralatan dan suku cadang
yang diperlukan untuk melakukan
berbagai modifikasi, mulai dari
knalpot hingga suspensi.
Sementara itu, poster-poster
bergambar kendaraan modifikasi
yang mengesankan terpampang di
dinding, menjadi sumber inspirasi
bagi mereka, selaku para mekanik
yang bekerja di bengkel ini.