NovelToon NovelToon
After Love

After Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Ketos
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Ini rumah, bukan sekolah. Tugas lo sekarang sebagai istri, bukan sekretaris lagi." Galvin menyudutkan Khaira di balik pintu kamar mereka.

"Aku juga udah ngelakuin tugas aku sebagai istri, kan? Kecuali—"

"Kecuali apa, hm?"

Khaira langsung menunduk, menggigit bibir bawahnya di balik cadar. Dia juga meremas sebuah proposal yang sejak tadi dia pegang. Jantungnya berdebar, saat Galvin semakin mendekat dan mengikis jarak di antara mereka.

✧✧✧

Khaira Mafaza Lavsha—Sekretaris Glory High School, tiba-tiba dijodohkan dengan Galvin Shaka Athariz—Ketua Osis yang terkenal tampan, dingin dan penuh kharisma.

Perjodohan itu membuat mereka harus menjalani pernikahan rahasia di masa SMA.

Bagaimanakah kehidupan mereka yang semula hanya sebatas Sekretaris dan Ketua Osis, kini berubah menjadi sepasang suami istri? Mampukah mereka menjalaniinya?

*** WARNING ! STOP PLAGIAT !!! ***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

♦*** ♦ ***

"Wa'alaikumsalam."

Jawaban salam dari Khaira,

berhasil kembali menyadarkan

Galvin dari lamunanya.

"Ehm!" Galvin berdeham pelan,

untuk menghilangkan pikiran yang

tanpa permisi melintas di

benaknya.

Bisanya-bisanya dia berpikir

untuk mencium kening Khaira

sebagai tanda pamit, karena malam

ini dia akan pergi ke luar.

Dia geli sendiri, setelah

menyadari pikirannya yang

ternyata bisa seromantis itu.

Walaupun romantisnya itu

hanya ada di benaknya, dan tidak

mungkin dia realisasikan dalam

dunia nyata.

Untuk saat ini, dia memang

tidak bisa merealisasikan apa yang

dia pikiran. Namun untuk ke

depannya, tidak ada yang bisa

menjamin jika dia akan bisa

merealisasikannya atau justru

sebaliknya, yaitu tetap tidak bisa.

"Kenapa, Gal?" tanya Khaira,

karena Galvin tiba-tiba berdeham

seperti itu.

"Apa kamu mau minum?"

tanyanya kembali.

Menurutnya, bisa jadi Galvin

tiba-tiba serak, dan perlu minum.

Namun, pikiran Khaira

langsung terpatakkan, saat Galvin

menggelengkan kepalanya dengan

pelan. "Gue ga haus, Khaira."

"Aku pikir kamu haus," gumam

Khaira, begitu pelan, tetapi masih

bisa terdengar jelas di telinga

Galvin.

Namun meskipun dia

mendengar gumaman Khaira, dia

memilih untuk tidak

menanggapiya.

"Gue pergi sekarang," ucapnya

kembali, yang entah sudah berapa

kali dia berpamitan. Namun tidak

kunjung juga pergi dari hadapan

Khaira.

Hingga akhirnya, kali ini dia

langsung berlalu pergi dari

hadapan Khaira.

Khaira setia melihat kepergian

Galvin, hingga punggung Galvin

seluruhnya menghilang di balik

pintu.

"Semoga Allah selalu menjaga

kamu setiap waktu," gumam Khaira

pelan, memanjatkan doa.

Ingin hati dia melarang Galvin

untuk tidak keluar selarut itu,

tetapi dia sadar, bahwa dirinya

tidak memiliki hak untuk

melarang.

Mereka sudah sepakat untuk

tidak menggangganggu kehidupan

masing-masing.

Yang hanya bisa dia lakukan

adalah berdoa supaya Galvin baik-

baik saja.

 

Brumm!

Sebuah motor besar memasuki

bengkel yang bertuliskan 'Bengkel

Aratula'.

Bengkel yang didirikan Galvin

dan teman-temannya terlihat

megah dengan dominasi warna

hitam pekat yang menciptakan

kesan misterius dan maskulin.

Begitu melangkah masuk, luas

bengkel ini tampak

mencengangkan, menampung

berbagai peralatan dan mesin

canggih yang ditempatkan dengan

rapi di sudut-sudut ruangan

tertentu.

Lantai bengkel yang mengkilap

mencerminkan sinar lampu yang

terpasang di langit-langit tinggi,

memberikan penerangan yang

cukup untuk menerangi setiap inci

ruangan.

Motor besar Galvin terasa

cocok di tengah-tengah bengkel ini,

dikelilingi oleh deretan motor lain

yang juga tampak gagah.

"Matikan lampu!" perintah

Galvin, sebelum meninggalkan

ruangan depan bengkel itu.

Lampu di ruangan itu akan

otomatis mati, setelah

mendapatkan intruksi.

Galvin melangkah masuk ke

dalam sebuah lift yang mengarah

menuju ruang bawah tanah, di

mana di sana merupakan ruangan

yang digunakan untuk

mengerjakan pekerjaan Bengkel

Aratula.

Tring!

Kurang dari satu menit, pintu

lift itu terbuka, dan dia sudah tiba

di ruang bawah tanah.

Ruangan itu jauh lebih luas

dibanding dengan ruangan yang

terlihat di permukaan.

"Eh, Gal. Baru sampai?" tanya

Ezar, yang kebetulan berpapasan

dengan Galvin di depan pintu lift

itu.

"Iya. Gue baru sampai," jawab

Galvin, sambil mengulurkan

tangannya, sebagai tanda jabat

tangan pertemuan mereka, yang

biasa mereka lakukan.

"Lo mau ke mana?" tanya

Galvin.

"Gue mau ke atas, ngambil

beberapa alat yang gue simpel di

sana," jawab Ezar.

"Gue ke atas dulu, ya," sambung

Ezar, sambil menekan pintu lift

supaya terbuka.

Galvin langsung mengangguk

paham dan membiarkan Ezar

memasuki pintu lift itu, sementara

dirinya melanjutkan langkah ke

area kerja.

Aroma oli mesin dan bau karet

ban bercampur dengan udara di

dalam bengkel, menciptakan

sensasi yang khas dan familiar bagi

mereka yang sering berkecimpung

di dunia otomotif.

Di dinding bengkel, terpajang

berbagai poster dan gambar

inspiratif yang menunjukkan

semangat persahabatan dan

kecintaan terhadap dunia motor.

Bengkel ini bukan hanya

tempat untuk memperbaiki dan

merawat kendaraan, tetapi juga

menjadi simbol persatuan dan

kebersamaan antara Galvin dan

teman-temannya.

"Akhirnya lo datang juga, Bos!"

Daris menyambut kedatangan

Galvin dengan sangat antusias.

Dia memegang berbagai jenis

kunci yang dia gunakan untuk

membongkar pasang kendaraan yang sedang dia modifikasi

bersama Faiz.

"Gimana, aman?" tanya Galvin,

memastikan bahwa tidak ada

kendala dalam pekerjaan mereka.

Jika sampai ada kendala, dia

akan membantu untuk segera

memperbaikinya.

"Sejauh ini, aman, Bos. Iya,

kan, Fai?" tanya Daris, meminta

persetujuan Faiz.

Faiz langsung mengangkat

kedua jempol tangannya, sebagai

tanda setuju atas perkataan Daris.

Faiz tidak bisa menjawab

dengan suara, karena dia sedang

menggunakan penutup wajahnya

yang melindungi wajahnya dari

percikan api akibat gesekan benda-

benda yang sedang dia modifikasi.

"Bagus kalau gitu. Kalau ada

apa-apa, langsung kasih tau gue

atau yang lain," ucap Galvin.

Daris langsung mengangguk

paham, kemudian melanjutkan

kembali pekerjaannya.

Galvin menerapkan sistem

kerja yang tidak hanya bertanggung

jawab terhadap tugas mereka

masing-masing, tetapi mereka juga

harus saling membantu satu sama

lain.

Maka dari itu, mereka dituntut

untuk menguasai semua jenis

pekerjaan yang berbeda, sehingga

mereka bisa saling membantu

antara satu dan lainnya.

"Tumben banget lo datang

sampai malem banget kaya gini."

Fardan menghampiri Galvin, yang

duduk di sebuah kursi bulat, sambil

memantau teman-temannya yang

tengah sibuk mengerjakan tugas

mereka masing-masing.

"Ada hal lain yang harus gue

urus," jawab Galvin.

Fardan mengangguk paham.

Dia tidak bertanya lebih lanjut

tentang urusan apa yang Galvin

lakukan, karena itu sudah menjadi

batasan pembicaraan, sehingga

Galvin tidak mengatakannya.

"Motor kemarin udah gue uji.

Semuanya udah beres," ucap

Fardan, memberikan laporan.

"Bagus kalau gitu. Langsung

minta mereka buat kirim laporan

ke pemiliknya," ucap Galvin.

Yang dia maksudkan di sini

adalah mengirim laporan kepada

Izzan dan juga Dafa, karena mereka

yang bertugas dalam penerimaan

dan pengembalian barang. Juga

data, termasuk data tagihan

pembayaran ke bengkel mereka.

"Kapan kita uji mobil yang

minggu lalu?" tanya Fardan,

membicarakan kendaraan lain yang

belum selesai mereka kerjakan.

"Malam ini. Katanya dua hari

lagi mobil itu bakal dipake," jawab

Galvin, sambil beranjak berdiri dari

tempat duduknya.

Dia melangkah ke arah deretan

lift yang disisi oleh banyak sekali

kendaraan.

"Buat balapan di wilayah

barat?" tanya Fardan, memastikan.

"Hm," gumam Galvin,

membenarkan.

Informasi balapan mobil di

wilayah barat memang sudah

tersebar dari satu bulan yang lalu.

Itu merupakan acara besar dan

hanya orang-orang tertentu saja

yang bisa mendaftar di ajang

bergengsi itu.

Acara itu adalah acara yang

legal, karena sudah diakui oleh

hukum yang ada di sana. Bahkan

banyak keluarga petinggi yang

mengikuti balapan itu.

Selian karena untuk

menyalurkan hobi mereka, mereka

yang memenangkan ajak itu bisa

mendapatkan pengakuan dan

hadiah yang cukup besar.

"Kenapa lo ga ada niatan buat

ngikutin ajang itu? Padahal lo ahli

dalam mengendalikan mobil," tanya

Fardan, ikut bangkit dari

duduknya.

"Kenapa lo ja ga masuk ke dunia

itu?" Galvin berbalik memberikan

pertanyaan yang sama, tanpa

menoleh ke arah Fardan.

"Dunia gue cuma dunia motor,"

jawab Fardan.

Dia yang semula berdiri di

belakang Galvin, kini

men sejajarkan dirinya, hingga

berdiri tepat di samping Galvin.

"Ck!" Galvin berdecak seraya

tertawa pelan.

Dia melirik sekilas ke arah

Fardan. "Kalau gitu, alasan gue juga

sama," ucapnya, dan langsung

mendapat sambutan tawa pelan

dari Fardan.

Mereka berada di bengkel yang

selalu ramai dengan pesanan, suara

mesin dan ketukan peralatan mesin

menghiasi suasana malam bengkel

mereka.

Ceklek!

Salah satu pintu di ruangan itu

terbuka. Kemudian munculah Izzan

dari dalam sana.

Izzan mendekati Galvin dan

Fardan sambil membawa laptop

yang menunjukkan daftar email

dari klien yang ingin menggunakan

jasa bengkel mereka.

"Ada masalah?" tanya Fardan,

begitu melihat wajah Izzan yang

tampak bingung dan kewalahan.

Izzan langsung mengangguk

yakin. "Klien yang mengajukan

laporan semakin banyak. Kita mau

terima atau tolak aja?" tanyanya,

dengan nada khawatir.

Galvin yang tengah fokus

melihat pekerjaan Daris dan Faiz

yang sedang memodifikasi desain

mobil, mengalihkan wajahnya

hingga menatap ke arah Izzan.

Fardan juga ikut menoleh,

menunggu keputusan Galvin.

"Gimana, Gal?" tanyanya.

Setelah berpikir sejenak,

Galvin menjawab dengan tegas,

"Terima. Dengan syarat, mereka

bersedia tunggu dalam tempok

waktu yang udah kita tentukan."

"Kita juga harus memforsir

diri, jangan terlalu lelah," ucapnya

kembali.

Dengan berbagai

pertimbangan, dia mengambil

keputusan seperti itu.

Izzan mengangguk paham. Dia

bernafas lega mendengar

keputusan Galvin. "Oke kalau gitu,

gue negosiasi sekarang sama

mereka."

Galvin dan Fardan langsung

mempersilahkan dirinya untuk kembali ke ruangannya.

Dia segera kembali ke

ruangannya untuk menghubungi

para calon klien tersebut, berharap

mereka bisa memahami situasi

bengkel yang sedang sibuk dan

selalu sibuk.

"Bagus juga desain ruangan

yang Ezar buat," puji Fardan untuk

Ezar, yang memiliki keahlian dalam

hal desain mendesain.

"Dia emang berbakat," sahut

Galvin, setuju.

"Faktor utama dari semua yang

udah tercipta, adalah lo. Lo keren

memperhitungkan semua ini," puji

Fardan, kini pujian itu dia tujukkan

untuk Galvin.

"Tumben banget puji gue,"

sindir Galvin, sambil meliriknya

dengan penuh curiga.

Fardan memang tipikal orang

yang sulit memuji kehebatan orang

lain. Sehingga saat Fardan

melakukan itu, siapa pun yang

mendengar pujiannya akan merasa

heran, termasuk Galvin.

"Lo mau gue puji tiap waktu?"

tanya Fardan, sambil tertawa.

"Silahkan kalau lo mampu,"

balas Galvin, ringan.

"Tugas kita belum selesai.

Buruan kita ke ruangan," ajak

Fardan.

Galvin langsung

menyetujuinya.

Mereka berdua berpamitan

kepada teman-temannya yang lain

untuk ke ruangan yang berisi

pekerjaan yang memang

dikususkan untuk mereka

kerjakan.

 

Di samping itu, ruangan khusus

yang terletak di sudut bengkel itu

tampak tertutup rapat, dindingnya

dilapisi dengan material yang

mampu meredam suara dan

melindungi dari radiasi yang

mungkin berasal dari peralatan

elektronik yang digunakan di

dalamnya.

Begitu memasuki ruangan,

Izzan kembali disambut oleh jajaran

monitor yang menampilkan

berbagai data dan statistik

mengenai kendaraan-kendaraan

yang telah dimodifikasi di bengkel

mereka.

Suasana ruangan itu hening,

hanya terdengar suara mesin

pendingin udara yang berfungsi

menjaga suhu ruangan agar

peralatan elektronik tetap stabil

dan tidak mudah rusak.

"Gimana keputusannya?" tanya

Dafa yang sudah menunggu

keputusan dari Galvin.

Dafa yang semula fokus pada

layar monitornya, kini teralihkan

oleh kehadiran Izzan.

"Dia suruh kita terima pesanan

itu, kalau mereka setuju dengan

tempo waktu yang kita tentukan,"

jawab Izzan, menyampaikan

kembali apa yang Galvin sampaikan

tadi.

Dafa langsung mengangguk

setuju. "Oke, kalau gitu. Kita urus

sekarang," ajaknya, dan langsung

mendapat anggukkan setuju dari

Izzan.

Mereka duduk di hadapan

komputer mereka masing-masing.

Memfokuskan diri untuk

mengerjakan tugas yang harus

segera mereka selesaikan.

Di bagian lain di sudut bengkel

yang berbeda, Ezar tampak serius

mendesain model kendaraan yang

akan dimodifikasi.

Layar komputer yang besar

dihadapannya menampilkan sketsa

dan ilustrasi 3D dari kendaraan

yang sedang dikerjakannya.

Enter!

"Akhirnya... desain ini selesai."

Ezar menghembuskan napasnya

dengan lega.

Dia sangat puas dengan hasil

akhir dari desain yang dia buat.

Desain itu cukup sulit dan

rumit, sehingga dia membutuhkan

waktu beberapa hari untuk

menyelesaikannya.

Apalagi satu minggu ke

belakang dia tidak menyentuh

pekerjaan itu, karena dia dalam

masa pemulihan, pasca kecelakaan.

Hal itu membuat pekerjaannya

terhambat cukup lama.

"Untung aja pemilik motor ini

ga minta modifikasinya buru-buru

selesai," gumamnya, pelan.

Sementara itu, di sudut lain,

Daris dan Faiz bekerja di area

khusus yang dilengkapi dengan

alat-alat mekanik dan

perlengkapan modifikasi yang

canggih, siap untuk merealisasikan

desain yang telah dibuat oleh Ezar.

Ruangan itu adalah ruangan

yang tadi Galvin dan Fardan

datangi, saat Galvin baru saja tiba

ke bengkel itu.

Sementara saat ini, baik itu

Galvin ataupun Fardan, keduanya

sudah berada di ruangan mereka.

Mereka berada di ruang yang

berbeda, terpisah oleh dinding yang

kedap suara.

Di ruangan ini, mereka fokus

mengatur kecepatan dan performa

kendaraan yang telah dimodifikasi.

Suara mesin kendaraan yang

diuji berjalan cepat dan bersuara

keras, namun tak satupun suara itu

sampai ke luar ruangan berkat

teknologi yang canggih yang

digunakan untuk meredam suara

tersebut.

Ruangan yang saat ini Galvin

dan Fardan tempati, dipenuhi

dengan berbagai jenis kendaraan

yang sudah selesai dimodifikasi di

bagian desainnya.

"Gue baru selesai uji motor

yang itu," tunjuk Fardan, ke arah

motor yang terletak di atas lift,

dengan posisi lift itu berada di

posisi pertama.

"Hasil akhirnya jauh berbeda

dibanding kondisi awal," sambung

Fardan, menjelaskan performa

motor itu.

"Itu emang tujuan kita," sahut

Galvin.

Memang benar, tujuan dan

tugas mereka adalah meningkatkan

kualitas kendaraan itu supaya jauh

lebih baik dari semula kendaraan

itu tiba di bengkel mereka.

"Sekarang bagian gue tingkatin

performa mobil itu." Galvin

menunjuk ke arah sebuah mobil yang terletak di antara deretan

mobil mewah lainnya.

Sekarang adalah tugasnya

untuk meningkatkan performa

mesin dan kekuatan kendaraan itu.

Di setiap sisi ruangan itu,

terdapat lift bertingkat yang

digunakan untuk menyimpan

motor dan mobil dengan efisien.

Ketika Fardan menekan tuas

pengendali, lift tersebut mulai

bergerak naik turun perlahan,

membawa motor dari tingkat

tertinggi ke tingkat terendah,

begitu juga sebaliknya.

"Gue mau urus yang itu aja,"

tunjuk Fardan, pada sebuah motor

besar yang tersimpan di antara

motor besar lainnya.

Fardan memang terbiasa

meningkatkan performa mesin

motor, sementara Galvin terbiasa

meningkatkan performa mesin

mobil.

Namun meskipun mereka

terbiasa mengerjakan dua

kendaraan yang berbeda, tetapi

mereka tetap saling bekerja sama.

"Kita harus memperluas

ruangan, karena ruangan ini

hampir penuh," ucap Galvin, begitu

melihat ke sekelilingnya yang hanya

dipenuhi oleh berbagai jenis

kendaraan.

"Lo bener. Kapan kita mau

renovasi bengkel?" tanya Fardan.

"Tunggu sampai seluruh

kerjaan selesai," jawab Galvin,

sekenanya.

"Itu ga mungkin. Kecuali kalau

kita tutup bengkelnya," sahut

Fardan, dan itu fakta.

Galvin tidak lagi merespon

Fardan. Dia memilih untuk segera

melakukan tugasnya.

"Gue ragu kalau kendaraan-

kendaraan ini bakal selesai tahun

ini," gumam Fardan sambil melihat

ke sekeliling.

Di sekeliling bengkel, deretan

motor dan mobil yang beragam

terparkir dengan rapi,

menciptakan suasana yang dinamis

dan penuh energi.

Bau oli mesin dan bahan bakar

tercium di udara, mencampur

dengan suara mesin kendaraan

yang menyala.

Suara mesin yang dinyalakan

dan alat-alat yang digunakan oleh

mekanik menciptakan irama

industri yang khas.

Di dinding, terdapat rak-rak

berisi peralatan dan suku cadang

yang diperlukan untuk melakukan

berbagai modifikasi, mulai dari

knalpot hingga suspensi.

Sementara itu, poster-poster

bergambar kendaraan modifikasi

yang mengesankan terpampang di

dinding, menjadi sumber inspirasi

bagi mereka, selaku para mekanik

yang bekerja di bengkel ini.

 

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!