Pembalasan Item Surgawi
"Sampah tidak berguna." Itulah julukan bagi Tian Feng. Di saat murid lain bertaruh nyawa demi setetes energi kultivasi, Feng justru memilih tidur malas sebagai pelayan di Paviliun Pengobatan.
Namun, dunia tidak tahu bahwa Feng menyembunyikan rahasia besar: Ia adalah keturunan terakhir Aliran Tao Terlarang yang diburu seluruh dunia.
Dengan bantuan Perkamen Alkimia Arus Balik, Feng mengambil jalan pintas mematikan. Ia bisa menjadi kuat dalam semalam tanpa latihan! Tapi, surga tidak memberi cuma-cuma. Setiap kekuatan instan menciptakan Hutang Karma—sebuah "penagihan" nyawa yang datang dalam bentuk petir bencana dan musuh-musuh haus darah.
Demi menyembunyikan identitasnya, Feng rela difitnah sebagai "Kelinci Percobaan Medis" yang sekarat. Namun, saat segel giok di dadanya retak dan para Tetua mulai mengincarnya, si pemalas ini terpaksa bangun.
Satu pil untuk menghancurkan pedang jenius. Satu teknik untuk membungkam langit.
Mampukah Tian Feng melunasi hutang karmanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TEKNIK LANGKAH BAYANGAN MABUK
Matahari baru saja naik se penggalah, tapi suasana di dapur Paviliun Pengobatan sudah kacau. Tian Feng sedang mencoba menggoreng telur dengan sisa api dari tungku alkimia, sebuah tindakan penistaan terhadap seni alkimia yang membuat Guru Lin nyaris meledak setiap kali melihatnya.
"Guru, jangan menatap saya seperti mau memakan saya hidup-hidup," kata Feng sambil membalik telurnya dengan lihai. "Telur ini butuh kasih sayang, bukan tekanan spiritual. Lagipula, sarapan adalah fondasi dari kemalasan yang berkualitas."
Guru Lin menggebrak meja kayu di depan Feng hingga piring-piring bergetar. "Berhenti memikirkan perutmu sejenak, Feng! Kau dengar apa yang dikatakan Tetua Lu kemarin? Bulan depan adalah Turnamen Awan Berdarah."
Feng mengunyah telurnya dengan santai. "Oh, itu. Bukankah itu acara di mana para murid elit saling pukul sampai giginya rontok demi memperebutkan gelar 'Si Paling Jenius'? Saya sudah memesan tempat terbaik untuk menonton dari jauh... sangat jauh, mungkin dari atas pohon persik di belakang paviliun."
"Kau tidak akan menonton, bodoh! Kau akan ikut!" bentak Guru Lin.
Feng tersedak. Telur di mulutnya nyaris meluncur keluar. "Uhuk! Guru, tolong jangan bercanda. Saya ini 'Kelinci Percobaan' yang sedang sekarat, ingat? Tubuh saya penuh residu kimia, napas saya pendek, dan saya sering merasa pusing kalau melihat orang latihan. Ikut turnamen? Itu sama saja dengan menyuruh kerupuk ikut lomba menahan palu!"
Guru Lin menarik kursi dan duduk di depan Feng, wajahnya berubah menjadi lebih serius. "Ini bukan sekadar pertarungan beladiri biasa antar murid. Turnamen Awan Berdarah adalah tradisi tahunan di mana tiap puncak harus mengirimkan perwakilannya untuk menunjukkan 'hasil latihan' mereka. Tahun ini, sekte kita juga mengundang klan-klan besar dari luar, termasuk Klan Lu dan Klan Han, untuk menyaksikan kemajuan generasi muda."
"Lalu apa hubungannya dengan saya yang hanya pelayan pembersih abu?" Feng mencoba melakukan pembelaan terakhir.
"Hubungannya adalah Puncak Utama ingin membubarkan Paviliun Pengobatan jika kita tidak bisa membuktikan kegunaan kita," desis Guru Lin. "Tetua Lu ingin mengubah tempat ini menjadi gudang persenjataan. Dia menganggap tabib hanya membuang-buang sumber daya. Satu-satunya cara agar tempat ini tetap berdiri adalah jika 'produk' dari paviliun ini—yaitu kau—bisa mengalahkan setidaknya tiga murid inti dalam turnamen."
Feng membelalakkan matanya. "Tiga murid inti?! Guru, mereka itu monster yang bisa membelah batu dengan dahi! Sedangkan saya? Saya hanya bisa membelah tahu, itu pun kalau tahunya sudah agak lembek!"
"Kau punya Tulang Besi dan Alkimia Arus Balik, Feng," Guru Lin merendahkan suaranya. "Kau akan bertarung bukan sebagai pendekar, tapi sebagai 'Anomali Medis'. Biarkan mereka mengira kau memenangkan pertarungan karena efek samping obat-obatan liarku. Dengan begitu, rahasia Tao-mu tetap aman, dan paviliun ini tetap berdiri."
Feng menyandarkan punggungnya ke dinding, merasa dunianya yang damai baru saja runtuh. "Jadi, saya harus menjadi samsak hidup di depan ribuan orang, termasuk klan-klan luar yang haus darah itu? Surga, kenapa kau tidak kirimkan saja petir penagih hutang sekarang? Itu rasanya lebih manusiawi daripada harus menghadapi Lu Chen di arena."
"Jangan mengeluh! Kita punya waktu satu bulan," Guru Lin mengeluarkan sebuah kotak kayu hitam dari balik jubahnya. "Di dalamnya ada Sari Kayu Terkutuk. Ini sangat pahit, sangat bau, dan akan membuat kulitmu terasa seperti ditusuk ribuan jarum selama enam jam sehari. Tapi, ini akan memperkuat lapisan kulitmu agar tidak mudah sobek saat kau dipukuli nanti."
Feng mencium aroma dari kotak itu dan langsung menutup hidungnya. "Huekk! Guru, ini baunya lebih parah dari ramuan kemarin! Apa ini terbuat dari fermentasi kaus kaki dewa perang yang tidak pernah mandi?"
"Mungkin," jawab Guru Lin singkat. "Mulai malam ini, kau akan berlatih teknik Langkah Bayangan Mabuk. Itu adalah teknik menghindar yang terlihat seperti orang linglung yang mau jatuh. Sangat cocok dengan citra 'murid bodoh'-mu. Ingat, kuncinya bukan memukul lawan, tapi membuat mereka kelelahan karena memukul angin, lalu kau berikan satu serangan kimia yang mematikan."
Feng mendesah pasrah, mengambil kotak itu dengan ujung jarinya. "Langkah Bayangan Mabuk... anomali medis... kelinci percobaan yang ditendang surga. Karir saya sebagai pemalas profesional benar-benar tamat. Baiklah, Guru. Tapi kalau saya mati di arena, pastikan batu nisan saya bertuliskan: 'Di sini berbaring Tian Feng, dia hanya ingin tidur, tapi gurunya tidak mengizinkan.'"
Guru Lin hanya mendengus, namun di matanya ada kilat harapan. "Tidurlah sepuasmu setelah kau menghancurkan wajah sombong Lu Chen di depan ayahnya. Sekarang, pergi ke belakang paviliun! Latihan dimulai sekarang!"
Feng berjalan gontai menuju halaman belakang, sambil memegangi kotak obat yang berbau busuk itu. "Hutang karma, oh hutang karma... kalau tahu bunganya sesadis ini, mendingan saya tidak usah jadi kuat sekalian. Jadi kaya lewat jalur warisan sepertinya lebih masuk akal."
Tiba-tiba, perkamen di balik jubahnya bergetar.
> "Tugas Baru Terdeteksi: Bertahan di Turnamen Awan Berdarah."
> "Hadiah: Pengurangan Hutang Karma sebesar 20%."
> "Kegagalan: Penagihan Hutang secara instan dan menyeluruh (Kematian)."
Feng berhenti melangkah, menatap langit biru dengan wajah datar. "Oh, hebat. Sekarang Surga pun ikut menjadi bandar taruhan. Benar-benar hari yang indah untuk menjadi sampah."