Di usia 24-th Paroline Benedicta adalah wanita yang paling banyak dibicarakan di kampusnya di Los Angeles. Menawan, kaya, dan penuh teka-teki, ia menyusuri lorong kampus bukan dengan tas desainer, melainkan dengan kereta bayi yang membawa Andreas Sunny yang berusia dua tahun. Rumor yang beredar sangat kejam, mereka bilang dia adalah sosialita yang jatuh, seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya setelah melakukan kesalahan yang ceroboh.
Kenyataannya, Paroline adalah wanita yang memegang teguh janjinya, membesarkan putra yatim piatu dari mendiang sahabatnya seolah anaknya sendiri. Ia telah menukar malam-malam liarnya dan gaun pesta sutranya dengan kekuatan tenang dari seorang ibu, mengubur masa lalu pemberontaknya demi memberikan kehidupan yang sempurna bagi Andreas.
Masuklah Fharell Desmon, mahasiswa baru berusia sembilan belas tahun sekaligus pewaris karismatik dari Desmon Group.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#1
Matahari sore menyelinap di antara celah gedung fakultas, memantulkan cahaya keemasan pada rambut panjang Paroline Benedicta yang tergerai indah. Di usianya yang ke-24, Paro begitu ia akrab disapa, memiliki kecantikan yang sanggup menghentikan detak jantung siapa pun yang memandang. Tubuhnya yang proporsional dibalut blazer linen berwarna krem, memberikan kesan dewasa sekaligus elegan. Namun, bukan kecantikannya yang menjadi topik hangat di kantin universitas hari ini, melainkan sosok mungil yang sedang tertidur pulas di dalam stroller mahal di samping kursinya.
Andreas Sunny. Bayi laki-laki berusia dua tahun itu adalah definisi kesempurnaan. Bulu matanya lentik dan panjang, pipinya kemerahan seperti apel musim gugur, dan bibirnya mungil. Banyak orang sering salah sangka, mengira Andreas adalah bayi perempuan karena wajahnya yang terlalu cantik untuk ukuran anak laki-laki.
"Lihat itu," bisik seorang mahasiswi dari meja seberang, suaranya cukup keras untuk menembus keheningan namun cukup pelan untuk dianggap sebagai rahasia umum. "Si cantik Paroline. Sayang sekali, ya. Kaya, pintar, tapi produk gagal. Kabarnya dia hamil duluan dan ditinggal lari pacarnya karena keluarga besarnya tidak sudi memberi restu."
Paroline hanya mengaduk kopi susunya dengan tenang. Ia mendengar setiap kata, setiap hinaan, dan setiap asumsi sampah yang dilemparkan padanya sejak ia kembali dari cuti dua tahunnya. Baginya, suara-suara itu hanyalah angin lalu yang tidak lebih penting dari jadwal imunisasi Andreas.
Kenyataan adalah rahasia yang tersimpan rapat di balik pintu Mansion keluarga Benedicta. Andreas bukanlah darah daging Paroline. Dia adalah peninggalan terakhir dari Sania, sahabat karib Paroline sejak SMA. Sania, seorang yatim piatu yang malang, meninggal dunia sesaat setelah menghirup napas pertama Andreas di dunia ini. Pria yang menghamili Sania menghilang bak ditelan bumi saat mengetahui kehamilan itu.
Tanpa ragu, Paroline mengambil alih tanggung jawab itu. Ia mengorbankan dua tahun masa mudanya, mengambil cuti kuliah, dan belajar menjadi ibu di usia yang sangat belia. Orang tua Paroline, yang sudah menganggap Sania seperti anak sendiri, tidak keberatan. Mereka menyayangi Andreas seperti cucu kandung. Di mata dunia, Paroline adalah single parent dengan masa lalu kelam. Di mata Andreas, Paroline adalah seluruh dunianya.
"Eungh..." Andreas menggeliat. Mata besarnya terbuka, menatap Paroline dengan binar polos yang begitu jernih.
"Hai, Sayang. Sudah bangun?" Paroline tersenyum, sebuah senyuman tulus yang jarang ia tunjukkan pada dunia luar. Ia menggendong Andreas, membiarkan jemari mungil bayi itu memainkan kancing bajunya.
Di sudut lain kampus, suasana jauh lebih riuh. Seorang pemuda berusia 19 tahun sedang dikerumuni rekan-rekan angkatannya. Fharell Desmon, pewaris tunggal Desmon Group yang legendaris, ternyata jauh dari kesan kaku atau sombong. Dengan kaus oversized dan tawa yang renyah, ia baru saja menceritakan lelucon konyol tentang dosen penguji yang lupa memakai kaos kaki.
Fharell adalah magnet. Ia hangat, pintar, dan sangat humoris. Ia bisa berteman dengan siapa saja, mulai dari penjaga parkir hingga anak dekan. Namun, di balik sikap ramahnya, ada tembok tinggi yang ia bangun. Fharell bukan tipe pria yang mudah jatuh hati. Baginya, cinta seringkali terasa seperti transaksi bisnis yang membosankan—hingga sore itu.
"Woah, siapa wanita itu?" Fharell mendadak berhenti bicara. Matanya tertuju pada sosok wanita yang sedang berjalan menuju parkiran sambil menggendong seorang anak kecil.
"Itu Paroline, anak semester akhir yang baru balik cuti. Cantik, kan? Tapi jangan macam-macam, Rell. Dia itu single parent. Rumornya sih dia kecelakaan pas kuliah dulu," sahut salah satu teman Fharell dengan nada meremehkan.
Fharell tidak menjawab. Ia memperhatikan cara Paroline mencium kening anak itu. Ada ketenangan dan ketegasan dalam tatapan mata wanita itu yang tidak cocok dengan rumor murahan yang baru saja ia dengar. Baginya, wanita itu tidak terlihat seperti seseorang yang sedang menanggung malu; ia terlihat seperti seorang pejuang.
***
Dua minggu berlalu. Fharell semakin sering melihat Paroline. Ia mulai memperhatikan detail-detail kecil, bagaimana Paroline selalu membawa tas bayi yang senada dengan bajunya, bagaimana ia tetap fokus belajar di perpustakaan meski Andreas sesekali merengek, dan bagaimana ia tidak pernah membalas tatapan sinis orang lain.
Suatu hari, hujan turun dengan derasnya di area kampus. Paroline tampak kesulitan di lobi gedung utama. Ia menggendong Andreas di tangan kiri, sementara tangan kanannya berusaha membuka payung besar sambil menjaga tas kuliahnya agar tidak basah. Andreas mulai menangis, merasa tidak nyaman dengan suara petir yang menggelegar.
"Sini, biar saya bantu."
Sebuah tangan kekar mengambil alih payung itu. Paroline mendongak, menemukan wajah jenaka yang kini tampak sangat serius. Fharell berdiri di sana, memayungi mereka berdua, sementara separuh bahunya sendiri mulai basah terkena tempias hujan.
"Terima kasih," ujar Paroline singkat. Ia hendak berjalan menuju mobilnya, namun Fharell tetap mengikuti, memastikan tidak ada satu tetes air pun yang mengenai Andreas.
"Dia ganteng sekali. Seperti boneka hidup," puji Fharell tulus, menatap Andreas yang tiba-tiba berhenti menangis dan malah menatap Fharell dengan rasa ingin tahu.
Paroline menatap pemuda itu dengan saksama. "Namanya Andreas. Dan dia memang anak yang luar biasa."
"Aku Fharell," pemuda itu mengulurkan tangan bebasnya dengan cengiran khas. "Mahasiswa baru yang belum sempat ikut orientasi karena malas bangun pagi."
Paroline tidak bisa menahan senyum tipisnya. Humor pemuda ini terasa seperti udara segar di tengah sesaknya gosip kampus. "Aku Paroline. Dan sepertinya kau harus segera lari ke kelasmu sebelum kau basah kuyup, Fharell."
"Demi membantu seorang ibu dan pangeran kecil, basah kuyup adalah harga yang murah," balas Fharell ringan.
Sejak hari itu, Fharell menjadi gangguan yang menyenangkan bagi Paroline. Ia sering tiba-tiba muncul di kantin hanya untuk membawakan Andreas mainan kayu atau sekadar duduk sebentar menceritakan hal-hal lucu yang terjadi di kelasnya.
Fharell tidak peduli dengan rumor. Ia memiliki insting yang tajam. Ia melihat cara Paroline berbicara dengan ibunya di telepon, cara ia memperlakukan Andreas dengan penuh dedikasi, itu bukan perilaku seseorang yang ceroboh. Ada martabat yang sangat tinggi di balik sosok Paroline Benedicta.
Bagi Paroline, kehadiran Fharell adalah sesuatu yang aneh. Ia terbiasa dengan pria yang mendekatinya karena nafsu atau pria yang menjauhinya karena status ibu tunggal. Namun Fharell berbeda. Pemuda 19 tahun itu melihatnya sebagai manusia, bukan sebagai objek gosip.
Perjalanan mereka baru saja dimulai. Di antara tawa Fharell yang hangat dan keteguhan hati Paroline yang dingin, ada sebuah cerita yang perlahan tersusun. Sebuah cerita tentang bagaimana sebuah tanggung jawab yang dianggap beban oleh dunia, justru menjadi anugerah yang menyatukan dua jiwa yang tak terduga.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰