Tentang Sasa yang jatuh cinta dengan Arif Wiguna,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dutta Story_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
"Bibi," Laras berbicara sambil menghela napas.
"Iya, Mbak, biasanya Mbak Sasa itu sukanya kacang hijau tapi enggak pakai santan," suara Bu Ani terdengar dari telepon genggam.
"Kalau yang lain?"
"Martabak kacang hijau, roti kacang hijau, jus kacang hijau, pokoknya yang hijau-hijau."
"Oke, Bi, makasih," Laras lalu mematikan panggilan telepon itu. Senyuman hadir di wajahnya sambil mengalihkan tatapan ke Arif.
Arif merasa penasaran. Lalu, dia bertanya, "Kesukaan mama kamu apa?"
"Kacang hijau."
"Jadi kita beli kacang ijo doang?"
"enggak, tapi beli martabak kacang hijau, jus kacang hijau, itu saja, bagaimana?"
"Ya sudah, ayo. Kalau begitu, nanti kita mampir dulu ke ATM ya, buat mengambil uangnya."
"Oh iya, aku enggak ada uang. Makasih sudah mengingatkan. Ya sudah, ayo," kata Laras sambil tersenyum.
"Iya dong, aku orangnya enggak pernah lupa. Ayo, Sayang," Arif sambil tersenyum, lalu menarik tangan Laras dan membawanya pergi.
***
Sementara itu, di dalam mobil, Sasa sedang mengemudikan kendaraannya untuk pulang ke rumah.
Sepanjang jalan, dia fokus. Saat akan melewati lampu merah, Sasa memberhentikan kendaraannya untuk menunggu lampu hijau.
Sasa menarik napas karena harus menunggu bersama kendaraan-kendaraan orang lain yang berhenti di depan lampu merah.
Karena merasa bosan menunggu, dia perlahan mengambil telepon genggam yang berada di dalam tasnya.
Saat telepon genggam itu sudah di tangannya, dia menyalakan dan membuka kuncinya.
Di layar telepon genggam itu, dengan jarinya dia membuka aplikasi pesan. Begitu dia masuk ke aplikasi tersebut, sebuah panggilan masuk dari Wita muncul.
Sasa langsung menerima panggilan telepon itu. dia pun mendekatkan telepon ke telinganya, sambil berbicara,
"Halo, Wit," ucap Sasa melalui telepon genggam itu, dengan tatapan ke kaca depan sesekali melihat ke arah lampu merah.
"Lagi di mana, Mbak?" suara Wita dari telepon genggam itu.
"Lagi di jalan."
"Mbak, nanti malam bisa ketemu enggak?"
"Nanti malam jam berapa? Kalau jam setengah sembilan, saya sempatkan untuk datang."
"Baiklah, ya sudah nanti jam setengah sembilan, kita ketemu di Coffee shop."
"Baiklah, kalau begitu, saya tutup dulu teleponnya," ucap Sasa. Lalu, dia pun mematikan panggilan telepon dari Wita.
dIa pun menaruh telepon genggamnya di tempat penyimpanan di dekat kemudi. Saat lampu merah berubah menjadi hijau, dia langsung melanjutkan perjalanannya untuk pulang.
***
Sedangkan Arif, yang sedang bersama Laras, selesai dari ATM, dia sedang berada di depan penjual martabak. Mobilnya terparkir di pinggir jalan.
Di depan kasir, mereka memesan martabak kacang hijau dan jus kacang hijau. Saat pesanan sedang dibuat oleh penjual, mereka berdua duduk di kursi yang menghadap ke jalan.
Laras yang duduk, sesekali menatap ke arah Arif. lalu Laras berbicara, "Makasih ya," ucapnya.
"Makasih buat apa?" Arif merasa bingung mendengar ucapan Laras.
"Udah mau sama aku," Laras tersenyum, walaupun dia merasa malu.
"Sama-sama. Aku malah lebih senang banget," jawab Arif sambil tersenyum, sedikit menghela napas, lalu kembali berbicara, "Aku..." Ucapnya terhenti.
"Mas, ini pesanannya," ucap penjual sambil menaruh kantong berisi martabak dan jus di atas etalase.
"Oh iya, Mas, semuanya jadi berapa?" Arif sambil berdiri dari kursi itu, dia melangkah ke depan etalase. Dari belakang, Laras mengikutinya.
"Totalnya sembilan puluh ribu," jawabnya sambil memberikan faktur pembelian.
Arif mengambil uang dari sakunya, yang sebelumnya dia ambil di ATM, lalu memberikannya kepada penjual makanan.
"Sebentar ya, Mas, kembaliannya," ucap penjual. Lalu, ia mengambil kembalian dan memberikannya kepada Arif.
Arif menerima. "Makasih, Mas," ucapnya terhenti. Lalu, dia mengalihkan pandangan ke Laras sambil kembali berbicara, "Ayo, Sayang."
"Ayo," jawab Laras sambil menganggukkan kepalanya.
Mereka berdua pun melangkah pergi menuju ke mobil yang terparkir di pinggir jalan. Lalu, mereka pun masuk ke dalam mobil.
Hingga mereka masuk ke dalam mobil itu, lalu Arif pun melajukan kendaraannya untuk mengantarkan Laras pulang ke rumahnya.
Sepanjang perjalanan, Arif yang sedang mengemudi kendaraannya sesekali melirik ke arah Laras. Senyum hadir di wajahnya.
"Cantik banget, walaupun aku pernah terluka. Saat aku bertemu denganmu, luka yang pernah hadir hilang begitu saja. Makasih, Sayang," gumam Arif dengan helaan napas panjang.
Laras mengalihkan tatapannya ke Arif. Lalu, dia berbicara, "Arif," ucapnya pelan.
"Eum," jawab Arif sesekali melirik ke arah Laras. dIa kembali berbicara, "Oh iya, Laras, nanti malam aku jemput atau bagaimana?" tanyanya.
"Jemput saja, tapi kamu chat aku dulu biar aku bisa siap-siap dulu," jawab Laras.
"Iya, Sayang, nanti aku chat kamu."
"Iya, Sa-sayang," Laras sedikit malu-malu, sementara Arif tersenyum sambil menatap ke arahnya.
***
Sedangkan Sasa, dia sedang mengemudi kendaraannya masuk ke halaman rumah. Setelah memberhentikan dan memarkirkan kendaraannya, dia pun turun dan langsung masuk ke rumah.
Di depan pintu, dia membukanya lalu melangkah masuk. Saat di dalam, dengan langkah menuju ke ruangan keluarga sambil memanggil, "Bibi!" dengan keras.
Dari ruang dapur, Bu Ani melangkah terburu-buru menghampiri Sasa. Di depan Sasa, Bu Ani pun bertanya, "Iya, Mbak? mbak Sasa baru pulang," sambil berdiri di depan Sasa.
"iya, Laras masih belum pulang, kah?" tanyanya sambil menatap Bu Ani.
"Belum, Mbak."
"Ya sudah, Bi, kalau Laras sudah pulang, bilang saya mencarinya. Kalau begitu, saya mau ke kamar dulu."
"Iya, Mbak," Bu Ani sambil menganggukkan kepalanya.
Sasa pun melangkah pergi menuju kamarnya, sedangkan Bu Ani masih berdiri menatap Sasa. Saat Bu Ani akan melangkah kembali menuju ke ruang dapur, dari arah depan terdengar suara klakson mobil.
Bu Ani kembali membalikkan badannya, lalu melangkah ke depan rumah. Di depan pintu rumah, Bu Ani membukanya dan melihat dua mobil terparkir di halaman rumah.
"Mbak Laras sama siapa, ya?" bisiknya pelan, langkahnya terhenti di depan rumah. Tatapan Bu Ani tertuju ke mobil Ferrari biru itu.
Laras dan Arif keluar dari mobil. Saat Arif berada di samping Laras, dia bertanya pelan, "Itu mama kamu, kah, Sayang?"
"Ssst, bukan," Laras menatap Arif, lalu mengalihkan tatapannya ke Bu Ani sambil tersenyum. dia kembali berbicara, "Bibi!" ucap Laras, lalu melangkah mendekat dan memberikan kantong berisi martabak dan jus.
"Mbak Laras sama siapa?" tanya Bu Ani sambil menatap Arif.
Laras terdiam, sesekali menatap Arif. Dalam hatinya, Laras merasa bingung harus berbicara apa.
Arif memberikan kode dengan senyuman dan kedua alis yang diangkatnya. Laras lalu berbicara, "I-Ini pacar aku, Bi, namanya Arif," ucap Laras terbata-bata.
"Mbak Laras pacaran? Sejak kapan?" tanya Bu Ani, merasa penasaran.
Arif ikut berbicara, "Sudah lama, Bi, hampir satu bulan," katanya sambil tersenyum.
"Kenapa Mbak Laras enggak bilang sama Bibi kalau punya pacar? Ya sudah, ayo masuk, kita ngobrol di dalam." ucap Bu Ani, mengajak mereka untuk masuk ke dalam.
"Ayo, Sayang," Laras menatap Arif. Lalu, mereka pun melangkah masuk ke rumah, menuju ruang tamu.
Langkah mereka terhenti. Bu Ani mengalihkan tatapannya ke Arif dan Laras, lalu langsung berbicara, "Mari duduk, Nak Arif, biar Bibi buatkan minum dulu," ucapnya.
Arif mengangguk. dia pun melangkah dan duduk di kursi sofa, sedangkan Laras yang masih berdiri berbicara, "Kamu tunggu ya, aku ganti pakaian dulu," ucapnya.
"Jangan lama-lama ya, Sayang," kata Arif dengan tatapan ke Laras.
"Enggak lama, kok. Ya sudah, kamu tunggu ya, Sayang," ucapnya lalu melangkah pergi menuju kamarnya.
Di ruang tamu, Arif duduk sendirian. Sesekali dia melihat sekeliling ruangan itu, namun terkejut saat mendengar suara dari telepon genggamnya.
Kring, kring, kring.
Arif mengambil telepon genggamnya, lalu melihat layar. Terlihat panggilan masuk dari Felix.
Tatapan Arif lekat ke telepon genggamnya. dia pun mengangkat panggilan telepon itu.
"Rif, Abdul sama Ryuken..." Suaranya terhenti.
Bahkan, Arif merasa bingung. dia langsung berbicara, "Kenapa Abdul sama Ryuken?" tanya Arif begitu penasaran.
"Mereka sudah enggak ada."
"Apa maksudmu?"
"Mereka mati, Rif."
"Jangan bercanda, lo, Bre."
"Beneran. Sekarang gue lagi di rumah sakit, mau mengantarkan mereka pulang."
"Ya sudah, gue ke sana sekarang. Share lokasi rumah sakitnya."
"Oke."