Kirana adalah gadis ceria, polos dan kebal bully apa jadinya kalau ia bertemu dengan seorang pemuda raja bully yang tidak sengaja mobilnya ia tabrak saat pulang dari kampus, dan parahnya ia harus rela menjadi pelayan dirumah pemuda itu, karena sang pemuda dendam gara-gara kejadian itu ia diputuskan pacarnya, baca keseruan, kekonyolan dan kekocakan mereka berdua di novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia X, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi ke kota
Dewa merogoh ponsel yang berada dalam saku celananya, membuka galeri ponselnya.
“Namanya Kirana Putri Renjani,” jawab Dewa membaca nama yang tertera dalam KTP yang sudah ia foto.
“Wiih.. lihat fotonya.” pinta Aldo hendak mengambil ponsel Dewa namun dengan gesit Dewa langsung menyembunyikan nya kembali kedalam saku celananya.
“Pelit loe, Cuma lihat doang.” ucap Aldo kesal.
“Jelek gak usah dilihat, gak penting juga bikin kesel aja, gara-gara dia gue diputusin, awas aja kalau ketemu gue akan buat perhitungan pokoknya.” Dewa mendengus kesal.
“Lagian loe aneh, kok bisa kunci mobil masuk dalam Tas tuh cewek.” tanya Aldi yang masih kepo.
“Ya gue gak sengaja lah tadi nya kan gue rebut tas dia buat lihat KTP nya, setelah itu si Oliv telfon terus, jadilah gak sengaja mungkin masuk kunci gue, emang bikin apes tuh pendek, rasanya pengen tak jadi in paku aja buat majang foto, kesel gue dah lah gak usah dibahas.” ucap Dewa yang masih dengan wajah suram, sesuram hatinya kalau ingat dia diputusin Oliv hanya gara-gara tidak bawa mobil barunya. Sementara ketiga temannya hanya saling lirik, sebenarnya yang salah Dewa, tapi karena kesal jadi mencari kambing hitam dan teman-temannya hanya bisa saling kode tidak ada yang berani menyalahkan, karena bagi mereka apa yang diucapkan ketua mereka itu yang benar, walau pun salah, itu lah ke somplakan geng mereka yang selalu bikin ulah dan bully anak lain hanya gara-gara gabut, walau begitu Genk mereka sangat diidolakan cewek-cewek karena anggotanya memiliki wajah yang tampan walau pun somplak, aneh memang, setelah mereka ngobrol ngalor ngidul yang tidak berfaedah akhirnya mereka pun bubar pulang masing-masing tinggallah Dewa yang merasa kesepian, karena ia tinggal sendiri hanya bersama para pelayan dirumah yang megah itu, kedua orang tuanya selalu sibuk pergi keluar negeri, hanya kirim uang, bahkan mungkin juga sudah lupa kalau punya anak yang harusnya diberi kasih sayang bukan hanya uang, jadilah anaknya sifatnya agak-agak gesrek dan keras kepala, Dewa masuk kedalam kamarnya dan langsung berbaring, tidak lama ia pun tertidur.
Dua hari berlalu Ana sudah bersiap untuk berangkat ke kota, ia akan mencari kost sekalian mengembalikan kunci mobil milik Dewa.
“Hati-hati disana jangan lupa nelpon bapak kalau sudah sampai dan dapat kost, ingat cari yang dekat kampus.” ucap pak Adam sebelum Ana masuk kedalam travel.
“Iya pak, tenang aja, gini-gini Ana bisa diandalkan.” balas Ana cengengesan dan langsung mendapatkan tonyoran dari sang emak.
“Baru pergi sehari saja udah luka, bilang bisa diandalkan, hemat-hemat, jangan boros, tapi jangan sampe gak makan nanti mag kamu kambuh.” peringat emak Ningsih. Ana pun mengerucutkan bibirnya emak nya itu sebenarnya sayang tapi gengsi kalau memperlihatkan perhatian jadi selalu membalut perhatian dengan sindiran.
“Iya Mak, beres, Ana berangkat dulu.” pamit Ana menyalami kedua orangtuanya dengan takzim dan masuk kedalam mobil, pak Adam merangkul bahu sang istri ia tahu sang istri sedih, walau setiap hari mereka berdua berantem tapi mereka saling menyayangi layaknya anak dan orang tua hanya cara mereka berdua yang berbeda dalam memberikan kasih sayang agak ekstrem dan nyeleneh.
Sementara Ana yang berada dalam mobil hanya bisa menghela nafas panjang, ia akan sangat kangen dengan Omelan emak nya, masakan pedas cumi emaknya yang bikin liur menetes, namun ia menyemangati dirinya sendiri agar menjadi anak yang sukses, ia akan buktikan walau ia tidak juara satu di sekolahan nya ia akan tetap bisa jadi orang sukses. Perjalanan panjang itu Ana lewati dengan melamun sampai ia tiba didepan kampus yang akan ia timba ilmunya empat tahun kedepan, ia turun membawa kopernya, berdiri dipinggir jalan, menunggu Dewa yang katanya mau menemuinya, sekitar sepuluh menit ia dipajang dipinggir jalan seperti gelandangan akhirnya pemuda yang sudah ia sumpahi dari tadi pun datang, mobil mewah itu berhenti disampingnya, Dewa turun dari dalam mobil dengan wajah angkuh dan songong, melihat Ana dengan senyuman licik, karena ia sudah mempunyai rencana.
“Loe kuliah disini juga.” tanya Dewa sembari mengernyitkan alisnya.
“Iya kenapa?,” jawab Ana datar mengusir kejengkelannya melihat wajah Dewa yang songong.
“Nanya aja.” jawab Dewa santai, membuat Ana mendengus kesal.
“Sini kembaliin kunci gue, loe udah ada duitnya kan?” tanya Dewa setengah menyelidik.
“Duit apaan, nih kunci loe.” Ana memberikan kunci mobil Dewa dan langsung disambar oleh Dewa dengan cepat.
“Duit ganti rugi lah lima ratus juta, jangan pura-pura amnesia ya loe pendek.” cerca Dewa dengan muka garang. Ana menelan salivanya susah payah, menatap Dewa penuh pertimbangan.
“Aku gak punya duit segitu, kuliah aja maksa emak, kamu kan orang kaya masa perhitungan.” ucap Ana sembari nyengir, membuat Dewa melotot seketika.
“Bukan masalah gue kaya ya, ini masalah tanggung jawab, kalau gak mau tanggung jawab gue laporin ke polisi ya.” gertak Dewa dengan berkacak pinggang, sebenarnya uang segitu bagi Dewa hal yang kecil, tapi semua itu dipermasalahkan karena ia kadung kesal gara-gara diputusin oleh Oliv sang anak dewan, jadi ia ingin balas dendam, menjadikan Ana jongosnya yang bisa ia bully sewaktu-waktu.
“Tapi beneran aku emang gak ada uang, ini uang tinggal buat cari kos-kosan saja.” jawab Ana melas.
“Ok, kalau gitu loe harus ikut gue kerumah jadi babu gue empat tahun, kalau gak mau gue masukin loe ke penjara.” ucap Dewa semena-mena, membuat Ana seketika melongo cengo dengan ucapan pemuda dihadapannya.
“Empat tahun, lama banget, kamu sengaja mau ngejebak aku.” jawab Ana tidak terima.
“Karena membantah jadi lima tahun.” ucap Dewa dengan wajah serius.
“Ha! Kok bertambah.” sela Ana bingung.
“Gak mau kalau begitu en..”
“Ok, iya lima tahun.” sahut Ana cepat tidak mau bertambah ganti ruginya, setidaknya untuk sementara ia tidak bingung mencari tempat tinggal, bagaimana pun ia tidak mau menambah beban pikiran kedua orangtuanya kalau sampai tahu, Dewa tersenyum puas, karena misi balas dendam nya akan segera dimulai, sedangkan Ana hanya bisa pasrah, anggap saja ia bekerja selama kuliah, Ana pun masuk kedalam mobil mewah Dewa, yang hanya mempunyai kursi Dua. Mobil itu meluncur dengan kecepatan sedang melewati perkotaan yang berjalan tanpa hambatan dan memasuki perumahan elit. Ana hanya bisa berdecak kagum dengan rumah-rumah besar yang berjajar rapi.
“Beneran kamu tinggal disini, jangan-jangan kamu penculik.” tuduh Ana bergidik ngeri, Dewa yang mendapat tuduhan itu malah tersenyum devil.
“Wah ide loe bagus, setidaknya gue jual loe dulu ke om-om, loe masih perawan kan, setidaknya lakulah kalau seratus juta, setelah itu baru deh gue jual organ-organ tubuh loe, wah tajir deh gue.” ucap Dewa terkekeh. Dengan reflek Ana menggeplak bahu Dewa, membuat pemuda itu meringis.
“Asu, sakit tahu, wah parah loe, udah KDRT, gue tambah hukuman loe mau.” ucap Dewa kesal.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰