Malu memiliki suami seorang kuli bangunan, Nadira Maheswari terus mendesak Arga untuk menceraikannya.
Semula permintaan itu ditolak oleh Arga. Ia tidak ingin putri semata wayang mereka tumbuh tanpa orangtua yang lengkap.
Namun, setelah mengetahui istrinya ternyata telah memiliki pria lain, akhirnya Arga menyerah. Ia merasa egois karena menahan wanita yang tidak bisa dia bahagiakan, bahagia bersama pria lain.
"Kalau kamu merasa sanggup bertanggung jawab atas dia, datanglah kemari. Temui aku secara jantan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Nggak Enak Badan
"Andini, ayo pulang!"
Arga berjongkok dengan frustrasi sambil memegangi kepala. Putrinya menolak pulang, beralasan masih tidak enak badan.
"Besok kamu harus sekolah, Dini. Ayo, pulang. Ayah gendong di pundak," bujuk Arga sambil menepuk bahunya.
Andini menggeleng tegas. "Dini masih sakit, Ayah. Kenapa Ayah maksa Dini pulang. Kalo Dini demam lagi gimana?"
Arga membuang napas kasar. "Bu bidan bilang kamu sudah sehat. Lagian, demam kamu sudah turun. Ayolah, kita pulang. Ya?"
Andini bersikeras menolak. Ia membaringkan tubuh, membelakangi Arga dan memeluk boneka kelinci kesayangannya.
Rini tersenyum tipis menyaksikan interaksi keduanya. "Dini, masih nggak enak badan?" tanyanya sambil menyentuh kening Andini.
Andini mengangguk singkat. "Iya, Bu bidan. Kepala Dini masih pusing. Dini masih boleh di sini kan, sehari aja," kata Andini penuh harapan.
"Kamu ini, orang pengen sehat, kamu malah pengen sakit," omel Arga yang tak habis pikir dengan isi pikiran putrinya.
"Andini masih pusing, Ayah. Kalo Andini pingsan lagi gimana?" gertak gadis itu.
"Andini.."
"Kalo Ayah tetep maksa Andini pulang... harus ada Ibu dulu di rumah, baru Andini mau," kata Andini memberi syarat yang mustahil bagi Arga.
Arga seketika membeku. Syarat itu membuat dia tak berdaya. Perasaan bersalah menyeruak atas keputusannya bercerai dengan Nadira.
"Mas Arga, biarin Dini di sini aja dulu. Mas Arga boleh pulang," ujar Rini, dia bisa mengerti jika gadis itu tengah sedih dan kesepian.
"Tapi, Rin..."
"Nggak papa. Dia aman bersama saya di sini. Mas Arga bisa pulang dulu. Besok, jemput lagi. Saya akan coba bujuk dan bicara padanya nanti," tutur Rini, tidak tega memaksa Andini pulang.
Arga menghela napas panjang. Ia menatap punggung putri kecilnya dengan perasaan gundah.
"Dini, kamu beneran nggak mau pulang? Ayah pulang nih, ya. Kamu Ayah tinggal!" gertak Arga.
Andini tak memberi reaksi.
Arga pasrah. Ia menatap Rini dengan tatapan permohonan. "Nanti malem saya ke sini lagi buat jagain Dini. Saya pulang dulu," pamit Arga.
Rini mengangguk mengerti. "Iya, Mas. Nanti saya panggil Ibu juga buat nginep di sini."
Arga segera pergi sambil menghela napas berat. "Entah apa yang Andini inginkan," gumamnya, meskipun sadar yang diinginkan Andini hanya sosok seorang ibu.
Malam harinya...
Arga mengunci pintu rumah. Ia akan pergi ke rumah bidan Rini untuk menemani putrinya. Namun, saat melewati rumah Ruslan, pria itu keluar dan menyapanya.
"Mas Arga, mau ke mana? Dini udah sehat, kan?"
"Masih di rumah Bidan Rini, Mas. Katanya masih ngerasa nggak enak badan," jawab Arga. Wajahnya lesu, terlihat jelas tengah menanggung beban pikiran yang berat.
"Ada apa? Dini udah baik-baik aja, kan? Jangan terlalu dipikirkan," tanya Ruslan, bisa melihat kegundahan di wajah Arga.
Mereka memutuskan untuk duduk di warung dan memesan kopi.
"Kenapa, Mas? Apa Andini masih mikirin ibunya?" tanya Ruslan lagi.
Arga terdiam sesaat sebelum mengangguk pelan. "Andini sebenarnya udah baikan, Mas. Tapi, masa dia bilang masih nggak enak badan dan nggak mau pulang."
"Mau pulang, Nadira harus pulang dulu dan ada di rumah," cerita Arga, membagi beban yang menghimpit dadanya.
Ruslan tersenyum kecil. "Andini masih kecil, Mas. Dia pasti butuh sosok seorang ibu. Ibu itu, seseorang yang nggak pernah bisa tergantikan."
"Meskipun mereka sering ngomel-ngomel, tapi ya... namanya anak, pasti lebih lengket ke ibunya," ujar Ruslan memberi sedikit wejangan.
"Saya juga berpikir begitu, Mas. Tapi, Nadira... dia terlalu keras kepala dan egonya tinggi. Saya udah ngehubungi dia berkali-kali, tapi nomornya memang nggak aktif dua minggu ini."
"Padahal, tadinya saya pikir, sekalipun dia ninggalin kami, tapi dia masih bisa nyempetin buat anaknya. Tapi, kayaknya... harta udah nutup pintu hatinya," tutur Arga, tangannya terkepal erat.
Pilihan Nadira yang lebih memilih meninggalkan putri mereka dengan pria kaya membuat dia geram.
"Istri kamu itu salah gaul, Mas. Gaul sama orang kaya yang hobi pamer, ya ketularan pasti. Apalagi sebelumnya dia itu gadis polos, pasti gampang dicuci otaknya," timpal Ruslan.
Arga mengangguk, membenarkan. Ingatannya kembali ke masa, dia melamar Nadira yang saat itu begitu polos.
Gadis cantik berpenampilan sederhana yang senang berada di rumah, dan memiliki hobi memasak itu bahkan tidak meminta mas kawin yang memberatkan baginya.
Arga menghembuskan napas.
"Saya akan coba bujuk Dini lagi supaya mau pulang. Saya nggak enak sama bidan Rini kalo terus ngerepotin."
"Mas Arga nggak ada niat nyari ibu baru buat Dini? Bisa aja itu jadi solusi terbaik," usul Ruslan.
Arga tertawa kecil. Pria itu bersandar di tiang rumah.
"Siapa yang mau nikah sama duda, Mas? Mungkin kalo posisinya saya banyak uang, bisa jadi pertimbangan buat para wanita, tapi... saya cuma kuli, punya anak lagi."
"Minus semua yang ada di diri saya," kekeh Arga, menanggapi dengan gurauan.
"Nggak ada yang tau nasib dan jodoh, Mas. Ini demi Andini. Cari wanita yang siap menyayangi anak kamu." Ruslan menyesap kopinya dan mengamati Arga yang nampak berpikir keras.
Setelah percakapan berat itu, Arga melanjutkan perjalanannya menuju kediaman Rini. Tiba ruang pemeriksaan, ia melihat bidan itu tengah membacakan dongeng untuk Andini yang tidur di pangkuannya.
"Akhirnya... putri dan pangeran hidup dengan bahagia..."
Suara Rini terdengar begitu tulus.
Arga, di ambang pintu terenyuh melihat pemandangan tersebut. "Andai Ayah bisa kasih Bidan Rini jadi ibu kamu, Dini. Kamu pasti akan sangat bahagia dan nggak perlu nangisin ibu kamu lagi."
"Tapi, Ayah cukup tau diri," batin Arga sambil tersenyum getir.
"Mas Arga, udah datang." Rini baru menyadari kehadiran Arga.
Arga melempar senyuman tipis. "Andini pasti ngerepotin, ya?" tanya Arga canggung.
"Nggak kok, Mas. Cuma baca cerita," jawab Rini sembari turun dari ranjang.
"Dulu, pas saya masih kecil... hal seperti ini selalu jadi impian saya. Dibacain buku cerita sebelum tidur. Tapi, itu cuma mimpi, nggak pernah kesampaian."
"Jadi, begitu liat Andini, saya jadi ingin melakukan semua itu untuknya. Keinginan anak kecil, biasanya sama," kata Rini sedikit menceritakan masa kecilnya.
Ia berjalan menuju kursi di luar rumah, dan membuatkan teh manis untuk Arga.
"Minum dulu, Mas."
Arga mengangguk dan ikut duduk di sebelah Rini dengan kikuk. Entah mengapa, ia merasa ada yang aneh dari dirinya kini, saat berdekatan dengan bidan itu. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang.
Arga meraih cangkir teh yang masih mengepul itu dengan tangan gemetar, membuat air beriak dan cipratannya mengenai tangan.
"Eh!" pekik Arga.
"Hati-hati, Mas, masih panas!" ujar Rini dengan spontan memegang tangan Arga.
Tubuh Arga seketika menegang. Dunia di depannya terasa berhenti berputar untuk beberapa saat. Kalimat-kalimat Andini tentang Rini berputar dalam benaknya.
Rini, matanya membulat saat merasakan sengatan listrik yang menjalar dari tangan Arga. Ia langsung menarik tangannya.
"M-maaf... Mas Arga nggak papa?" tanya Rini mendadak gugup.
Arga menggeleng kikuk.
"Nggak papa, cuma terkena tumpahan sedikit," jawab Arga sambil tersenyum kaku. Ia meminum teh tersebut sambil menatap ke arah lain, berusaha menyembunyikan kegugupannya.
Rini memperhatikan pria itu dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan. "Kenapa jadi kayaknya gini?"
"Padahal ini bukan pertama kali aku nyediain teh buat Mas Arga. Dulu saat dia kerja juga, aku sering melakukannya dan nggak ada yang aneh dengan perasaanku?" batin Rini bergemuruh.
"Apa ini karena pertanyaan Andini tadi, ya?"
"Bu bidan, Bu bidan baik deh. Dini jadi pengen punya ibu kayak Bu bidan. Bu bidan mau nggak?"
"Astaghfirullah, Rini... apa yang kamu pikirkan? Mas Arga pasti masih cinta sama mantan istrinya," ujarnya dalam hati.
"M-mas, saya tinggal masuk dulu, ya. Kalo mau minum ambil aja di dalam," pamit Rini cepat, meninggalkan situasi yang canggung itu.
"Kenapa dia tiba-tiba pergi? Pasti ngerasa nggak nyaman karena sikapku. Kenapa juga aku malah berharap dia mau jadi ibu buat Andini?"
"Ini gara-gara Mas Ruslan yang ngasih saran buat nikah lagi. Siapa yang mau jadi istriku? Aku bahkan nggak deket sama siapa-siapa," gumam Arga, pahit.
Namun, sorot matanya tak bisa berbohong saat menatap ke arah pintu, di mana Rini tadi masuk. Secercah harapan terpancar dari matanya.
Suara ringtone Nokia Tune memecah keheningan malam. Arga tersadar dan segera merogoh saku celananya.
Matanya berbinar cerah saat melihat sebuah nama yang terpampang di layar ponsel. Seseorang yang beberapa minggu ini selalu coba dia hubungi.
"Nadira."
Bersambung...