Rhea Celeste hanyalah mahasiswi jurusan pendidikan biasa yang malas, sampai sebuah panci listrik meledak dan merenggut nyawanya.
Saat membuka mata, ia terbangun di dunia fantasi sebagai Rhea Celeste lain.
Dia adalah seorang archmage berbakat dan guru sihir putra mahkota Kerajaan Sihir. Tanpa ingatan pemilik tubuh asli, Rhea harus berpura-pura kehilangan ingatan dan mencoba melanjutkan kariernya sebagai guru putra mahkota dengan baik untuk hidup damai.
Namun, kehidupan damainya hanyalah angan-angan setelah mengetahui identitas tersembunyi pemilik tubuh aslinya yang lain.
“Rhea-ku, sayang... Kenapa kau melupakanku? Kekasihmu?”
Seorang pria tampan dari kekaisaran suci mengaku sebagai kekasihnya dan menangis.
Sedangkan di sisi lain, muridnya yang keras kepala, merengek, mengajaknya tinggal.
“Guru! Ayo pulang! Buatkan aku kue ulang tahun!”
Lebih baik tidak ikut campur, atau kedua kekaisaran akan musnah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit
Keesokan harinya, Rhea terbangun dengan perasaan lemas.
Malam itu, setelah makan malam sesuai keinginannya, dia mendengarkan petualangan pemilik asli tubuh ini selama enam bulan di istana hingga akhirnya mengetahui alasan di balik sikap aneh para pelayan pria.
Mungkin saja dia syok. Setelah mendengar cerita itu, Rhea tidak bisa berkonsentrasi membaca buku dan kepalanya berdenyut hingga mual.
Tidur biasanya cukup untuk menghilangkan stresnya, namun kondisinya sekarang justru bertambah parah. Dengan kata lain, ini bukan karena dia terkena serangan mental.
Rhea memegang jantungnya yang berdebar hingga terasa menyakitkan dan merasa sesak napas.
Setelah belajar tentang konsep dasar sihir dan sedikit sejarah sihir kemarin, pemahamannya sedikit meluas dan ia kini mampu melihat lingkaran sihir di jantungnya.
Rhea menyadari aliran sihir dari jantung yang seharusnya berputar pelan mengelilingi jantung malah berputar sangat kencang. Setelah berputar, jika tidak digunakan, aliran sihir itu normalnya tetap berputar mengikuti lingkarannya. Namun sekarang, energi itu justru melintasi garis batas dan terus mengalir menuju bagian perutnya.
Rasa sakit di jantung itu hampir mirip dengan kondisi kehabisan energi sihir yang biasa dialami para mage setelah menggunakan sihir selama berjam-jam melebihi kapasitasnya.
Melihat aliran sihir yang terus-menerus menuju perutnya tanpa perintah atau kendalinya, Rhea teringat steak sapi premium yang dia makan kemarin malam.
Tiba-tiba, sebuah pemikiran absurd melintas. Rhea menarik napas sambil menahan rasa sesak di jantungnya, namun tetap tak bisa menahan diri untuk tertawa.
John baru saja masuk untuk membawa sarapan ketika melihat kondisi Rhea yang memprihatinkan.
Panik, John mendekat untuk memeriksa dan bertanya dengan cemas, “A-apa Anda baik-baik saja?”
Begitu mendengar pertanyaan John yang penuh kekhawatiran, Rhea tak kuasa menahan diri untuk mengeluh.
“Sakit sekali, John… Hatiku terasa seperti dicabik-cabik.”
“Ke-kenapa? Apa yang terjadi?” tanya John panik. “Bukannya kemarin Anda baik-baik saja?”
Rhea meringis menahan sesak di dadanya dan berkata pelan, “Sepertinya… ini pembalasan atas kejahatanku.”
“Hah?” John tampak linglung.
Rhea tak kuasa menahan tawanya, namun berhenti ketika rasa sakitnya makin bertambah.
“Inilah balasan karena memakan saudara sapi. Aku benar-benar jahat dan rakus, memakan daging saudaraku sendiri. Inilah karma yang harus kubayar.”
John membeku, merasa otaknya tak lagi berfungsi dengan baik, lalu bertanya tanpa sadar, “Saudara sapi?”
Ia teringat steak sapi yang dia berikan kepada Rhea kemarin malam, juga pernyataan konyol Rhea Celeste sebelum kehilangan ingatan.
“Jadi… sapi adalah saudara Anda?” tanyanya tak percaya. Ia menatap Rhea dengan pandangan baru, seolah melihat makhluk asing yang tak dikenal.
“Hahaha…” Rhea mencoba menghentikan tawanya, tetapi ekspresi John terlalu lucu.
“Aku makan daging saudaraku kemarin, jadi… hari ini jantungku saki—”
Rhea terhenti lalu terbatuk-batuk karena kehabisan napas.
“Nyonya!”
Di bawah tatapan cemas John, batuk Rhea tak kunjung berhenti. John segera memanggil pelayan di luar pintu untuk memanggil dokter, lalu membantu Rhea menyesuaikan posisinya agar bisa bernapas.
Setelah batuknya mereda, Rhea kehilangan tenaga dan bersandar di bantal.
Ia mengedipkan mata yang terasa kabur. Energi dari lingkaran sihirnya sudah menipis sehingga tidak ada lagi yang bisa dikeluarkan. Pada akhirnya, jantungnya berhenti memuntahkan sihir dan kembali menyerap energi dari luar.
Rasa sakit di jantungnya menghilang, tetapi tubuhnya masih terasa lemas akibat kekurangan energi. Begitu dokter tua itu masuk dan mendengar situasinya dari John, Rhea memasang wajah gugup.
Dokter tua itu tak mengatakan apa-apa, hanya menatap Rhea dengan ekspresi tak berdaya.
Setelah beberapa saat berada dalam situasi canggung, Rhea membuka percakapan.
“Tidak adakah cara agar aku bisa makan daging dengan aman?” tanyanya dengan ekspresi menyesal.
“Saya tidak tahu, Nyonya Celeste,” jawab dokter tua itu tanpa ragu, lalu menyerahkan sebuah botol kaca berisi cairan kebiruan. “Ini ramuan ajaib. Dapat menambah energi sihir dengan cepat.”
Rhea menatap cairan biru itu dengan saksama, merasakan kepadatan energi luar biasa di dalamnya.
Ia mengambil botol itu dari tangan dokter, tetapi tidak segera meminumnya.
“Benarkah tidak ada cara lain?” tanyanya lagi.
Dokter tua itu mengerutkan kening, tampak kesal. “Saya tidak tahu. Mungkin Anda sendiri yang tahu,” balasnya tajam.
Rhea terdiam, lalu bergumam dengan ekspresi kecewa,“Hidupku sudah tak berarti apa-apa.”
Dia pun menenggak ramuan itu dalam sekali teguk.
Melihat kondisi Rhea yang mulai pulih, dokter tua itu menghela napas lega dan memulai nasihatnya.
“Nyonya Celeste, Anda mungkin gelisah karena kehilangan ingatan. Namun mencoba mengubah kebiasaan lama seolah itu bukan diri Anda yang sekarang sangat berbahaya.”
“Anda mungkin merasa sifat Anda sebelum kehilangan ingatan menjijikkan dan mencoba menyangkalnya demi membangun citra baru. Itu sebenarnya tidak masalah, bahkan saya mendukungnya.”
“Tetapi menganggap masa lalu sepenuhnya tak ada hubungannya dengan diri Anda sekarang, itu bukan hal yang baik.”
“Bukan seperti itu…” Rhea mencoba menyangkal. Karena Rhea yang sekarang memang benar-benar orang yang berbeda.
Tetapi semua orang disana, khususnya dokter tua yang mencoba menasehatinya, memang benar-benar tidak tahu. Rhea hanya bisa menelan rahasianya mentah-mentah seorang diri.
Karena biarpun dia berkata jujur, siapa yang bakal percaya?
“Ketika John kecil menjelaskan bahwa Anda tidak bisa makan daging, kenapa masih bersikeras?” bentak dokter tua itu. “Apa Anda ingin mati muda?!”
“Kakek, jangan salahkan Nyonya Celeste,” ucap John lembut. “Ini salahku karena tidak menjelaskan alasannya dengan benar dan tetap menuruti permintaannya.”
“Jangan membelanya, John. Ini masalah serius,” geram sang dokter. “Bukankah tragis jika dia meninggal hanya karena hal konyol?”
“Tapi Nyonya Celeste tidak tahu efeknya!” John membalas dengan tegas.
“Kalau dia mati, tahukah kau apa yang akan terjadi pada kita?” bentak dokter tua itu. “Yang Mulia bisa memenggal kepala kita karena tuduhan pembunuhan!”
Pertengkaran keduanya membuat Rhea mengetahui bahwa dokter tua itu adalah kakek John. Namun, isi percakapan tersebut justru menusuk hatinya dengan perasaan bersalah yang lebih dalam dibandingkan masalah tadi malam.
“Maafkan aku,” bisik Rhea pelan. “Aku akan lebih berhati-hati lain kali dan tidak akan menyusahkan kalian lagi.”
“Ah…” Dokter tua itu mendesah.
“Se-sepertinya kami yang melewati batas,” kata John tergagap. “It-itu bukan salah Anda… Tidak perlu me-meminta maaf!”
“Aku akan mandi, lalu menemui Putra Mahkota,” ucap Rhea datar. “Sudah hampir setengah jam. Aku sudah berjanji padanya kemarin.”
Dokter tua itu hendak melarangnya bangun dan memintanya beristirahat lebih lama, tetapi Rhea sudah lebih dulu berlari ke kamar mandi.
John menoleh ke arah dokter tua itu dan bertanya dengan khawatir, “Apa tubuh Nyonya Celeste sudah pulih? Kenapa Kakek tidak menghentikannya?”
“Kau kira aku bisa menghentikannya?” jawab dokter tua itu. “Ekspresinya sudah berubah dingin. Jangan buat masalah. Biarkan dia melakukan apa pun, selama tidak membahayakan tubuhnya untuk saat ini.”
John cemberut, menatap dokter tua itu yang sedang mengemasi barang-barangnya dengan tangan gemetar.
“Kukira Kakek sudah tidak punya rasa takut, menasihati seorang archmage berbahaya sepertinya.”
“Heh, hati-hati saja…” balas dokter tua itu pelan.
John meliriknya sinis, tetapi tak mengatakan apapun. Kemudian saat memikirkan perdebatan mereka dan permintaan maaf Rhea, jantungnya menegang ketakutan.
Dia kembali tenang setelah melihat sosok Rhea yang keluar dari kamar mandi, buru-buru memanggil pelayan wanita dan keluar dari kamar.