Di mata keluarga suaminya, Arunika hanyalah istri biasa. Perempuan lembut yang dianggap tak punya ambisi, tak punya pencapaian, dan terlalu diam untuk dibanggakan. Setiap hari ia diremehkan, dibanding-bandingkan, bahkan nyaris tak dianggap ada dalam rumah tangganya sendiri.
Suaminya, seorang pengusaha ambisius yang haus pengakuan, tak pernah benar-benar melihat siapa wanita yang berdiri di sampingnya. Ia mengira Arunika hanya bergantung pada namanya. Padahal, tanpa seorang pun tahu, Arunika menyimpan identitas yang tak pernah ia pamerkan.
Di balik jas laboratorium dan sorot mata tenangnya, Arunika adalah dokter jenius, ahli bedah berbakat yang namanya disegani di dunia medis internasional. Tangannya telah menyelamatkan banyak nyawa.
Keputusan-keputusannya menjadi penentu hidup dan mati seseorang. Namun ia memilih tetap rendah hati, menyembunyikan kejeniusannya demi menjaga rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati yang sayangnya disia-siakan oleh suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 27.
Arunika menatap Angkasa beberapa detik, lalu berkata dengan nada santai yang jarang ia gunakan.
“Direktur Angkasa.”
Angkasa mengangkat sedikit alisnya. “Ya?”
Biasanya Arunika akan langsung berbicara tentang pekerjaan. Namun kali ini ia justru berkata, “Apakah Anda sudah makan malam?”
Pertanyaan itu membuat Angkasa sedikit terdiam.
“Belum.” Ia menatap wanita itu dengan penasaran. “Kenapa?”
Arunika terlihat berpikir sebentar, lalu berkata. “Kebetulan saya juga belum makan.”
“Kalau begitu mari makan di kantin.” Angkasa tersenyum tipis.
Namun Arunika justru menggeleng pelan. “Kantin sudah hampir tutup.”
Ia berhenti sejenak sebelum berkata lagi dengan nada ringan, “Kalau Anda tidak keberatan… kita bisa makan di apartemen saya.”
Angkasa benar-benar terdiam kali ini.
Beberapa detik ia bahkan tidak menjawab.
Arunika mengangkat alis. “Direktur Angkasa?”
Baru saat itu Angkasa tersadar, Angkasa tertawa kecil. “Ini pertama kalinya kamu tidak menjaga jarak dariku. Aku hanya… sedikit terkejut.”
Arunika menjawab datar, “Kalau Anda menolak juga tidak apa-apa.”
“Tidak.” Jawab Angkasa cepat. “Kenapa aku harus menolak?”
Ia menatap Arunika dengan senyum kecil. “Aku akan merasa terhormat.”
—
Setengah jam kemudian, di Apartemen Arunika.
Apartemen itu berada di lantai atas sebuah gedung modern tidak jauh dari rumah sakit. Begitu pintu terbuka, Angkasa sedikit terkejut. Interior apartemen itu sangat sederhana, hampir tidak ada dekorasi pribadi. Seolah tempat itu hanya digunakan untuk beristirahat.
“Silakan duduk,” kata Arunika.
Angkasa melepas jasnya dan duduk di sofa. Sementara itu Arunika langsung berjalan ke dapur.
“Direktur Angkasa tidak keberatan dengan makanan sederhana, kan?”
Angkasa bersandar santai di kursi. “Selama itu bukan racun.”
Arunika menoleh sedikit. “Kalau racun, Anda pasti sudah mati saat pesta kemarin.”
Angkasa tertawa pelan.
Beberapa menit kemudian suara kegiatan memasak terdengar dari dapur, Angkasa memperhatikan wanita itu dari kursinya.
Arunika mengenakan kemeja putih sederhana, lengan bajunya digulung sedikit saat ia memotong sayuran. Gerakannya tenang, dan terlatih.
Angkasa akhirnya berkata, “Aku tidak menyangka kau bisa memasak.”
“Anda mungkin lupa, selama tiga tahun saya pernah menjadi seorang istri. Sejak usia belasan tahun pun saya sudah tinggal di asrama dan belajar hidup mandiri.” Arunika bicara tanpa menoleh.
“Pantas saja kau terlihat sudah terbiasa.”
Arunika sedikit tersenyum tipis. “Direktur Angkasa… Anda terlihat seperti pria yang tidak pernah masuk dapur.”
“Kau benar.” Angkasa tertawa kecil.
Beberapa saat mereka diam.
Lalu Arunika berkata santai sambil mengaduk masakan. “Direktur Angkasa sebenarnya orang yang menarik.”
“Menarik?” Angkasa mengangkat alis.
“Ya.” Arunika menoleh sebentar. ”Direktur rumah sakit yang juga... memiliki insting seperti seorang tentara.”
Beberapa detik ruangan itu menjadi sunyi.
Namun Angkasa tetap terlihat santai. “Insting tentara?”
Arunika kembali fokus memasak.
“Cara Anda mengamati orang.”
“Cara Anda bereaksi terhadap bahaya.”
Wanita itu berhenti sebentar. “Bukan sesuatu yang biasa dimiliki seorang pengusaha.”
Angkasa tersenyum tipis. “Dokter Arunika ternyata sangat jeli.”
“Aku hanya mengamati.” Arunika lalu menaruh sayuran ke dalam wajan.
Angkasa berdiri dan berjalan mendekat ke dapur, ia bersandar pada meja dapur.
“Lalu apa lagi yang kau amati?”
Arunika menoleh sedikit, tatapan mereka bertemu. ”Misalnya… Anda selalu muncul di saat yang tepat.”
Ia menaruh sendok kayu di meja. “Seolah-olah... Anda selalu siap menghadapi sesuatu yang terjadi padaku.”
Angkasa menatapnya beberapa detik. Namun bukannya terlihat terpojok, ia justru tersenyum. “Kau sedang menginterogasiku?”
“Tidak.” Arunika mengangkat bahu, ia mengambil piring. “Saya hanya penasaran.”
Angkasa menatap wanita itu lebih lama, ia tidak merasa terganggu. Sebaliknya, ia justru menikmati percakapan ini. Karena ini pertama kalinya... Arunika berbicara begitu santai dengannya.
“Kalau begitu, apa kau sudah mendapatkan jawabanmu?” Tanya Angkasa santai.
Arunika meletakkan dua piring makanan di meja makan kecil, ia duduk di kursinya. Lalu menatap Angkasa dengan ekspresi tenang. “Belum.”
“Kenapa?” Angkasa ikut duduk.
Arunika berkata pelan, “Karena saya masih mengamati.”
Jawaban itu membuat Angkasa tertawa kecil, dia mengambil sendok.
“Kalau begitu… aku merasa sedang berada di bawah penelitian dokter jenius.”
Arunika menjawab santai, “Anggap saja begitu.”
Di balik sikap santainya, Arunika sebenarnya sedang mengamati setiap reaksi pria di depannya.
Apakah Angkasa gugup?
Apakah pria itu sedang menyembunyikan sesuatu?
Namun pria itu justru terlihat sangat tenang. Bahkan malah terlihat… senang.
Angkasa menatap Arunika sambil tersenyum kecil. “Arunika.”
“Hm?”
“Aku senang kau mengundangku malam ini.”
Arunika menatapnya. “Kenapa?”
“Karena akhirnya kau tidak memperlakukanku seperti atasanmu.” Angkasa menjawab jujur, Ia berhenti sebentar. “Melainkan seperti… pria biasa.”
Arunika terdiam beberapa detik, ia lalu berkata ringan, “Mungkin saya hanya ingin mengenal Anda lebih baik.”
Jawaban itu membuat mata Angkasa sedikit berbinar. “Kalau begitu, saat hanya ada kita berdua… bisakah kamu tidak berbicara terlalu formal? Aku tidak suka cara bicaramu yang kaku seperti itu padaku.”
Arunika terdiam sejenak, tapi demi membongkar permainan Angkasa, ia akhirnya mengangguk pelan. “Baiklah... saat kita hanya berdua, aku akan bersikap lebih santai.”
Senyum Angkasa pun semakin lebar, ia tidak tahu apa yang sebenarnya berubah pada Arunika secara tiba-tiba. Namun, itu tidak penting baginya. Yang terpenting... wanita itu mulai membuka diri padanya.
Angkasa, kau masih ingin bermain denganku? Baiklah… aku akan menuruti permainanmu.
/Chuckle//Chuckle//Chuckle/ ,,
Masih byk misteri ny niih ,,
next kakak
terkadang yg terlalu baik yg Manis tu yg lebih berbahaya ,,
km harus lebih hati2 arunika ,,
musuh jaman sekarang byk yg cosplay jd org baik ,,
org yg peduli ,,
tu yg lebih bahaya dr pda org yg terang2an emnk gx suka sama qta ,,
dtggu next ny yx kak ,,
☺️☺️