NovelToon NovelToon
Aku Kembali

Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Keluarga / Trauma masa lalu / Kebangkitan pecundang / Antagonis Jahat / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yourfee

Ervana yang lahir dari keluarga Moses merasa hidupnya berubah setelah kehadiran anak angkat keluarganya yang begitu disayang semua anggota keluarganya. Orang tuanya dan kakak laki-lakinya lalu memperlakukan Renita, adik angkatnya dengan penuh kasih sayang. Ia diasingkan, semua hal yang menjadi miliknya kini direbut perlahan oleh Renita Moses. Air mata dan kesakitan itu membuatnya nyaris gila. Ervana kalah dan memilih mengakhiri hidupnya dengan cara yang tak biasa, bunuh diri. Namun, jiwanya yang terperangkap dalam kegelapan sepertinya masih enggan untuk meninggalkan dunia penuh dosa ini. Ervana lalu kembali dengan versi baru yang membuat keluarganya tercengang.
"Aku kembali hanya untuk memberi pelajaran pada mereka bahwa aku tidak pantas diperlakukan seburuk ini". Persis ketika ia membuka matanya, kehidupan baru menyambutnya. Ervana lalu hidup menurut kepercayaannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 Seperti badut

Ervana menahan napasnya ketika beberapa pasang mata memandang ke arahnya dan Morgan dengan tatapan menilai. Ini terlalu mencolok! Morgan Aston menghadiri sebuah acara bisnis dengan didampingi seorang wanita. Beberapa kamera menyorot momen langka itu, membuat Ervana semakin merasa kecil. Di sudut ruangan, Lucas yang sedang menyesap minumannya tersenyum miring melihat adegan itu. Dugaannya benar bukan? Adiknya yang munafik itu menggoda Morgan Aston demi mempertahankan posisinya sebagai karyawan di perusahaan raksasa milik keluarga Aston.

" Tuan Morgan, siapa gadis ini?" Seorang pria paruh baya mendekat lalu menjabat tangan Morgan dengan gerakan yang terlalu akrab, sedikit dibuat-buat. Ervana mendesah pelan, gadis sepertinya benar-benar tidak cocok berada di tempat terkutuk ini. Terlalu penuh dengan drama dan kepalsuan.

"Dia Ervana, putri kandung-"..

"Aku karyawan Tuan Morgan". Senyum licik terbit di sudut bibir seorang Morgan. Lihatlah, gadis di sebelahnya ini bahkan sangat takut untuk mengakui statusnya sebagai anak kandung keluarga Moses yang begitu gemilang malam ini. Lampu-lampu kristal bergilaun, menambah kesan mewah dalam ruangan besar itu. Ervana begitu menikmati keindahan ini walaupun hati kecilnya berbisik pelan, gadis sepertimu tidak pernah pantas berada di tempat seperti ini!

"Karyawan Tuan Morgan? Wah, aku tidak menyangka jika pria sepertimu begitu perhatian". Pria tua berperut buncit itu lalu menatap intens wajah cantik Ervana, membuat sang gadis ingin sekali mengutuknya.

"Berapa usiamu?" Pria itu mendekat lalu menyentuh pelan bahu kiri Ervana, seolah begitu akrab.

"Jaga batasanmu, Tuan!" Suara bariton itu sukses membuat sang pria tua memundurkan tubuhnya. Sedikit menyesal karena telah mengusik seorang Morgan Aston.

"Ini terakhir kalinya kau bersikap kurang ajar". Morgan menggenggam erat tangan dingin Ervana. Pemandangan itu membuat seorang gadis di depan sana terbakar amarah.

Perempuan murahan itu, batin sang gadis penuh kebencian. Morgan Aston melangkahkan kakinya ke arah sang pemilik acara. Renita sontak merapikan rambutnya dengan gerakan anggun, siap menjerat seorang Morgan dengan pesonanya.

"Selamat malam, Tuan Morgan! Aku Renita putri kandung Tuan Efendi". Renita menyodorkan tangannya dengan sedikit angkuh.

"Aku hanya ingin berbicara dengan pemilik acara ini". Sial dia memperlakukanku, Renita memaksakan diri untuk tersenyum.

"Tuan Morgan". Efendi mendekat lalu menjabat erat pria berkuasa di depannya, mengabaikan dengan siapa pria itu datang.

"Selamat atas pencapaianmu, Tuan Efendi!" Morgan mengangguk, berusaha menunjukkan sikap profesional walaupun terlalu muak dengan cara pria itu menjilatnya.

"Ini benar- benar sebuah prestasi bagiku! Pria sepertimu mau menjadi tamu di acara keluargaku? Perkenalkan, ini Renita putriku". Sang pemilik nama tersenyum manis sekali lagi walaupun Morgan mengabaikannya. Morgan Wilson mengabaikan drama kecil yang dibuat oleh gadis tak tau malu di depannya ini. Hei, bukankah ia tunangan Kevin Baskara? Kenapa gadis itu masih saja mencari perhatian pada pria lain?

"Aku hanya ingin berkenalan pada putri kandungmu". Ervana menunduk, mengabaikan tatapan tajam orang tua dan kakak sulungnya yang baru saja bergabung.

"Bukankah kalian sudah saling mengenal, Tuan Morgan? Adikku ini memang pandai sekali mencari mangsa". Morgan menautkan kedua alisnya, menunggu ucapan selanjutnya dari pria di depannya ini. Lucas memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, seolah menunjukkan siapa dirinya sekarang.

"Terlihat seperti badut". Lucas terkekeh pelan, mengabaikan raut marah adik kandungnya.

"Badut?"

"Dan seperti yang sering kukatakan sebelumnya, Tuan Morgan. Berhati- hatilah dengan perempuan ini". Lucas berbisik pelan di telinga pria itu.

Ervana menerka-nerka, mengamati tingkah laku kakaknya. Gerakan pelannya selalu saja seperti sebuah hinaan bagi Ervana. Cara pria itu menatapnya juga seperti sedang menyimpan dendam dan amarah yang membara. Merasa gentar dengan tatapan itu, Ervana memilih melepaskan tangannya dari genggaman sang atasan lalu memilih pergi dari tempat itu.

Benar-benar tak tau sopan santun! Eva Moses menatap kepergian putrinya dengan senyuman penuh kepalsuan.

Ervana memilih duduk di pinggiran kolam renang yang jauh dari hingar-bingar manusia malam itu.

"Tempat itu tidak cocok untukku". Ervana mendesah, di dalam ruangan para konglomerat saling memuji, menambah daftar kepalsuan malam itu. Kepergian Ervana menambah sebuah daftar kesalahpahaman di kepala sang kakak. Lucas Moses masih beranggapan jika sang adik adalah sosok penggoda yang rela melakukan apapun demi mempertahankan posisinya di perusahaan raksasa milik keluarga Aston. Kesalahpahaman tak beralasan itu muncul karena Renita. Gadis licik itu berkali-kali mempengaruhi Lucas, kemampuan berbicaranya membuat pria secerdas Lucas mempercayainya begitu saja. Menurut Lucas, mungkin Renita benar! 10 tahun terakhir, hubungannya dengan sang adik begitu buruk. Dalam kurun waktu tersebut, Ervana tak henti-hentinya mencari perhatiannya. Suatu ketika Renita bahkan hampir kehilangan nyawa karena perbuatan bodoh Ervana. Gadis itu menarik tangan adiknya sampai keduanya nyaris tenggelam.

"Kakak sengaja mendorongku hanya karena ingin tau siapa yang lebih duluan ditolong Kak Lucas", Renita berucap dengan air mata berderai. Ceritanya malam itu membuat Lucas menganggap adiknya hanyalah orang bodoh yang haus akan perhatiannya. Malam itu semua orang pergi, meninggalkan Ervana yang menggigil kedinginan di pinggiran kolam renang.

"Hah, itu hanya masa lalu tapi selalu saja menyakitiku". Gadis itu mendesah putus asa. Di depannya terdapat sebuah kolam renang yang cukup besar. Ini semakin mengingatkannya pada kejadian menyedihkan beberapa tahun silam. Renita yang pandai bersilat lidah tentu saja selalu menang apalagi Eva Moses mendukungnya sekuat tenaga. Bagaimana bisa seorang ibu lebih mempercayai anak yang lahir dari rahim perempuan lain daripada putri kandungnya? Ini menjengkelkan sekaligus menyedihkan! Tangan Ervana terkatup sempurna. Gadis itu mulai merapalkan berbagai macam doa yang dulu diajari ibunya. Ia hanya minta kekuatan dan ketabahan. Lampu di sisi kolam renang itu berpendar indah, membuat pencahayaan menjadi remang-remang. Untuk ke sekian kalinya dalam hidup, Ervana menikmati kesunyian. Momen sederhana ini akan selalu menjadi miliknya sampai kapanpun. Tidak ada Renita yang sok suci, tidak ada tatapan menghakimi ayahnya, tidak ada kebencian ibunya, tidak ada kalimat tak mengenakkan yang keluar dari bibir kakak sulungnya. Yang ada hanya dirinya, Ervana dan segala kerapuhannya. Yang berusaha didekap erat oleh semilir angin malam itu. Sementara itu, di dalam ruangan semua orang masih asyik menikmati perayaan agung itu. Keluarga Moses masih menerima berbagai macam pujian yang terlalu berlebihan itu. Miris sekali, Efendi Moses bahkan tidak bisa membedakan antara pujian dan sindiran. Semua orang bersedia hadir di tempat itu karena kekuatan keluarga Baskara. Ervana tidak peduli, ia hanya fokus menenangkan dirinya. Entah apa lagi yang menunggunya setelah ini. Yang jelas Renita tidak akan membiarkannya hidup tenang walaupun hanya sebentar. Gadis itu terlalu penuh dengan dendam dan amarah tak beralasan.

1
EMA
Semangat kk lanjut nya 💪 💪
EMA
Semangat kk 💪💪💪
Afee: Makasih kaaa🥰
total 1 replies
EMA
Lanjut kk
Alvi
lanjut thorrrr🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!