Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 : Observasi dan Wanita Misterius
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi, menandakan berakhirnya siksaan akademis hari ini. Tapi bagiku, ujian sesungguhnya baru saja dimulai.
Sesuai janji—atau lebih tepatnya paksaan halus—kemarin, aku harus ikut observasi lapangan bersama kelompok Geografi.
Titik kumpulnya di belakang sekolah, dekat area kantin yang teduh. Saat aku sampai di sana sambil menuntun sepeda bututku, tiga srikandi itu sudah menunggu. Rara dan Dinda sedang sibuk membetulkan bedak di wajah mereka, sementara Zea...
Zea berdiri tegak sambil mengecek jam tangan, wajahnya terlihat tidak sabaran. Tapi begitu matanya menangkap sosokku, ekspresi jutek itu lenyap seketika.
"Cal! Sini!" panggilnya sambil melambaikan tangan. Senyumnya lebar sekali, sampai-sampai Rara dan Dinda yang ada di sebelahnya berhenti berdandan dan menatapnya aneh.
Aku memarkir sepeda di tempat aman, lalu menghampiri mereka.
"Kita mau jalan kaki?" tanyaku datar, menunjuk matahari yang masih terik di atas kepala.
"Lokasinya deket kok, cuma di komplek perumahan belakang sekolah. Di sana kan sering banjir kalau hujan," jawab Zea antusias. Dia mengeluarkan buku catatan kecil. "Lagian kalau jalan kaki kita bisa lihat detail paritnya lebih jelas, kan? Sesuai saran kamu kemarin."
Aku hanya mengangguk pasrah. "Ya sudah. Ayo."
Kami berempat mulai berjalan menyusuri trotoar di luar gerbang sekolah. Formasi jalannya agak aneh. Rara dan Dinda berjalan beriringan di belakang sambil berbisik-bisik, sementara aku berjalan di depan. Dan Zea... dia bersikeras berjalan tepat di sampingku.
"Eh, Cal, kamu dulu SMP di mana sih? Kok aku nggak pernah denger nama kamu pas lomba-lomba sains?" tanya Zea membuka obrolan. Langkah kakinya ringan, seolah panasnya aspal Pontianak tidak memengaruhinya.
"SMP Negeri biasa," jawabku singkat. "Dan aku nggak suka ikut lomba."
"Masa sih? Padahal analisis kamu kemarin tajam banget lho. Itu bukan level anak biasa," kejar Zea lagi, matanya menatapku penuh selidik tapi dengan binar kekaguman. "Kamu pasti hobi baca buku teknik ya?"
"Cuma kebetulan baca artikel di internet," elakku.
"Bohong," Zea terkekeh pelan. "Orang yang cuma baca artikel nggak bakal tahu soal sedimentasi lumpur sedetail itu."
Di belakang kami, Rara menyikut lengan Dinda.
"Din, liat deh," bisik Rara, suaranya pelan tapi telingaku yang tajam masih bisa menangkapnya. "Si Zea kenapa sih? Tumben banget dia ramah sama cowok. Biasanya kan galak kayak singa laper."
"Iya ya," balas Dinda sambil membetulkan kacamatanya. "Kemarin aja si Callen dimarah-marahin. Sekarang kok nempel terus kayak perangko? Jangan-jangan Zea naksir?"
"Hush! Ngaco kamu. Zea kan seleranya tinggi. Masa sama Callen yang... ya, gitu deh," Rara tertawa kecil.
Aku pura-pura tidak dengar, tetap fokus menatap jalanan berlubang di depan. Tapi Zea sepertinya benar-benar tidak peduli dengan teman-temannya di belakang. Dia terus memborbardirku dengan pertanyaan. Mulai dari kenapa aku suka sop ayam, kenapa aku naik sepeda, sampai pertanyaan acak soal cuaca.
Anehnya, aku tidak merasa terganggu. Zea yang cerewet ini terasa lebih... manusiawi daripada Zea yang bossy di kelas.
Kami sampai di area perumahan elite lama yang menjadi target observasi. Sesuai dugaanku, sistem drainasenya kacau. Parit-parit besar tertutup beton jalan masuk rumah tanpa lubang kontrol yang memadai.
"Nah, lihat itu," tunjukku pada sebuah selokan di persimpangan jalan. "Betonnya terlalu rendah. Kalau air pasang dari sungai naik, air di parit ini bakal terjebak dan meluap ke jalan karena nggak bisa ngalir balik."
Zea mengangguk-angguk cepat sambil mencatat di bukunya. "Oke, oke. Terus solusinya gimana, Cal?"
"Harus ada pintu air satu arah di ujung muara paritnya," jelasku sambil jongkok untuk melihat kedalaman air.
Zea ikutan jongkok di sebelahku, tidak peduli rok abu-abunya menyentuh debu jalanan. Jarak wajah kami cukup dekat. Aku bisa melihat butiran keringat kecil di dahinya.
"Kamu pinter banget sih, Cal," gumamnya pelan, tanpa sadar.
Aku terdiam, sedikit salah tingkah dipuji secara langsung begitu. Aku buru-buru berdiri. "Udah dicatet kan? Ayo lanjut ke blok sebelah."
Kami berjalan lagi. Kali ini melewati sebuah minimarket yang cukup besar di pinggir jalan utama komplek.
Tiba-tiba langkahku terhenti.
Di depan minimarket itu, ada sebuah mobil sedan putih terparkir. Dan berdiri di sampingnya, seorang wanita yang membuat siapa pun yang lewat pasti menoleh dua kali.
Wanita itu mengenakan blus putih sederhana dan rok abu-abu selutut. Rambutnya pirang keemasan, panjang dan bergelombang, berkilauan ditimpa cahaya matahari. Kulitnya putih pucat khas Eropa, kontras dengan suasana tropis di sekitarnya. Wajahnya... sangat cantik. Dia terlihat seperti model majalah yang sedang melakukan pemotretan candid.
Jika ditebak dari fisiknya, usianya mungkin baru 20-an awal. Sangat muda dan segar.
Zea, Rara, dan Dinda ikut berhenti.
"Gila... cantik banget itu cewek," bisik Rara takjub. "Bule ya? Artis kali?"
"Model kayanya," sahut Dinda.
Zea menyipitkan mata. "Bajunya simpel banget, tapi auranya mahal."
Wanita itu sedang sibuk mengecek ponselnya dengan wajah bingung, seolah sedang mencari alamat. Lalu, dia mendongak. Mata biru terangnya menyapu jalanan, dan akhirnya tatapan itu terkunci padaku.
Wajah bingungnya seketika berubah cerah. Dia tersenyum lebar, melambaikan tangan dengan antusias.
"Nak Cal!" panggilnya dengan suara merdu yang memiliki aksen unik—campuran logat asing dan Indonesia yang fasih.
Aku menghela napas panjang. Mati aku. Kenapa dia bisa ada di sini?
Zea menoleh padaku dengan kening berkerut. "Hah? Dia manggil siapa? Cal... kamu?"
Tanpa menjawab pertanyaan Zea, aku melangkah menghampiri wanita itu. Rara dan Dinda melongo di belakang.
"Nak Cal, itu kamu kan?" tanya wanita itu lagi saat aku sudah dekat. Dia langsung memelukku singkat, aroma parfum mawar yang mahal langsung tercium. "Mam cariin dari tadi lho. Katanya pulang sekolah mau langsung ke rumah, kok malah keluyuran di sini?"
Aku melepaskan pelukan itu dengan lembut, sedikit malu dilihat orang di pinggir jalan.
"Aku ada tugas kelompok, Mam," jawabku tenang. "Kan tadi pagi udah bilang di WA."
"Oh iya? Mam lupa baca, hehe," dia tertawa renyah, tawa yang terdengar sangat muda.
Di belakangku, aku mendengar suara langkah kaki mendekat. Zea, Rara, dan Dinda sudah berdiri di sana dengan wajah shock berat. Mulut Rara bahkan sedikit terbuka.
Wanita itu menoleh ke arah teman-temanku, lalu tersenyum ramah.
"Halo! Teman-temannya Cal ya?" sapanya ceria.
Zea yang pertama kali sadar dari keterkejutannya. Dia menatap wanita cantik itu, lalu menatapku, lalu kembali ke wanita itu.
"Ehm... i-iya, Kak. Kami teman sekelompoknya," jawab Zea sopan, berasumsi wanita ini adalah kakakku. "Maaf, Kakak ini... kakaknya Callen ya? Atau... sepupunya?"
Wanita itu mengerjap, lalu tertawa geli. "Kakak? Aduh, senengnya dipanggil Kakak."
Dia merangkul bahuku dengan akrab.
"Kenalin, saya Ibunya Callen," ucapnya santai sambil tersenyum manis. "Panggil aja Tante Genevieve."
HENING.
Suasana di depan minimarket itu mendadak sunyi senyap seolah ada yang menekan tombol mute.
Mata Zea membulat sempurna. Rara tersedak ludahnya sendiri. Dinda membetulkan letak kacamatanya yang tidak miring.
"HAH?!" Teriak mereka bertiga nyaris bersamaan.
"I-Ibu?!" pekik Rara tidak percaya, matanya menatap wanita yang terlihat seumuran dengan kakaknya yang kuliah itu. "Tapi... tapi Tante kelihatan masih muda banget! Kayak umur 25!"
"Masa sih? Ah, kamu bisa aja," Mam Genevieve mengibaskan tangannya malu-malu, tapi jelas terlihat senang. "Padahal anak bujang Tante udah segede ini lho."
Aku hanya memijat pelipis yang mulai berdenyut. Ini dia alasan kenapa aku malas mengajak Mam ke sekolah atau bertemu teman-teman.
"Mam, udah deh. Jangan bikin heboh," tegurku pelan.
"Siapa yang bikin heboh? Mam kan cuma mau jemput," belanya manja. "Ya udah, kalian masih lama nggak observasinya? Kalau udah selesai, Tante traktir es krim di dalem yuk? Panas banget lho ini."
Zea masih menatapku dengan pandangan kosong, seolah otaknya sedang rebooting memproses informasi: Callen si pendiam ranking 30 + Ibu super cantik berwajah Eropa = Siapa sebenarnya cowok ini?
Aku menatap Zea pasrah.
"Udah, ikut aja," kataku pada mereka. "Kalau dia udah nawarin, nggak bakal bisa ditolak."
Dan sore itu, observasi drainase kami berakhir dengan duduk di teras minimarket, ditraktir es krim mahal oleh seorang wanita bule cantik yang ternyata adalah ibu kandung dari teman sekelasku yang paling misterius.