Buku ini gua tulis sebagai perwujudan eksistensional gua di dunia ini. Karena gua pikir, sebelum gua mati, gua harus ninggalin sesuatu. Untuk bilang ke orang² yang baca buku gua ini: "Ini gua pernah hidup di dunia, dan gua juga punya cerita." Pada dasarnya, buku ini berisi rangkuman hal² penting yang terjadi dalam hidup gua, yang coba gua ingat² kembali, gua gali kembali, di tengah kondisi gua yang sulit mengingat segala hal yang rumit. Juga, kalau² kelak nanti gua lupa dengan semua hal yang tertulis di buku ini, dan gua baca ulang, terus gua bisa bilang: "Oh... ternyata gua pernah begini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lilbonpcs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Online
Vati... siapakah dia? Gua sebenernya enggak tahu apa² soal dia, bahkan sampai sekarang. Ini juga baru gua sadari beberapa bulan lalu, sebelum gua mulai nulis ini.
Intinya... Vati itu dulu sekolah di salah satu SMA swasta di deket sekolah SMK gua. Lalu tiba² aja dia muncul gitu aja dalam hidup gua, menemani masa SMA gua.
Gua bener² berpikir ulang pas gua mutusin untuk nulis part-nya dia di buku gua ini. Gua sempet berpikir: "Ah... enggak aja kali ya." Soalnya dimata gua yang sekarang, cerita gua sama dia bener² terlalu memalukan.
Tapi, gua harus jujur, kalau dia emang part of story of my life, jadi gua akhirnya masukin dia.
Tentang dia... gua enggak bisa ngomong banyak, cause semua terasa abu². Dia ini kayak sosok yang ngetriger sisi dewasa gua sebagai seorang cowok.
Ini gua lanjut enggak yak?!
Gini deh, mulai dari kenapa cerita tentang dia itu memalukan buat gua?
Alasannya karena sampai detik gua nulis ini, gua belum benar² pernah bertemu tatap muka dengan dia. Ini serius, dia seperti sosok bayangan.
Awalnya kita itu cuman sekedar "say hay" di SMS, tapi berlangsung secara terus menerus, sampai akhirnya jadi kebiasaan. Tanpa rasa, karena seperti yang gua bilang di bab sebelumnya: "Gua enggak akan jatuh cinta ke cewek yang belum gua temui." Itu bener² udah jadi prinsip gua.
Sampai di titik kita berdua saling curhat soal romansa. Ini keknya menjadi triger, gua mulai merasa nyaman sama dia, kek kehadiran dia dalam hidup gua, itu menjadi semacam lengkap, kalau dia ada. Gua tahu ini cuman sugesti gua. Gua juga enggak pernah nyangka, kalau pemikiran dia jauh lebih dewasa dari gua, oh... umurnya juga satu tahun lebih tua dari gua.
Yang enggak gua tahu, ternyata Vati masih berhubungan baik sama temen gua yang ngenalin dia ke gua. Dia juga ada di posisi sama kek gua, sering SMS-an sama dia, pas tahu itu... gua cemburu...
Hubungan gua sama temen gua itu memburuk, kita sekelas tapi kita diem²an. Gua konfirmasi ke Vati, dan dia bilang sejujurnya ke gua, kalau dia juga ada hubungan sama temen gua itu.
Gua tanya ke dia: "Lu pilih mana?"
Jawaban yang cukup menohok, katanya: "Gua nyaman ngobrol sama lu, lu orangnya asyik, tapi si A dia orangnya baik, dan gua lebih dulu kenal dia dari pada lu."
Ah... patah hati hebat, ini aneh, padahal gua belum pernah ketemu sama dia, tapi rasa patah hani ini, lebih dari perasaan saat gua patah hati sama si Vita.
Dan duar...!!!
Kebiasaan baru gua muncul, gua ngebanting handphone gua. Seperti gua harus melampiaskan perasaan kecewa gua ini ke sesuatu. Dan handphone gua selalu menjadi korbannya.
But... pada akhirnya gua selalu luluh kembali. Vati, dia emang pintar meredam kemarahan pria. Gua kembali berhubungan lagi sama dia. Hubungan yang aneh, belum pernah ketemu, tanpa status apa², but ada rasa di dalamnya, bahkan lebih jauh lagi.
Gua merasa nyaman ada dia di hidup gua, gua merasa nyaman SMS-an sama dia. Bahkan, gua mulai enggak peduli dengan wujudnya yang sebenernya, gua enggak peduli, mau dia jelek, cantik, kurus, karena gua benar² telah jatuh ke jurang gelap cinta online yang enggak ada ujungnya.
Vati... cewek ini juga yang ngenalin gua sama "SMS esek²", gua bener² polos soal HS, bahkan saat SMK. Tapi, cewek ini ngenalin gua sesuatu yang asing. Sesuatu yang enggak lazim pada zamannya. Gua bener² polos waktu itu, gua kek bocah yang lagi dituntun sama cewek dewasa. Gua inget² ini bener² ngebuat gua malu.
But, obrolan gua sama Vati, enggak selalu soal HS. Kita pernah ngobrolin masa depan... hahaha. Masa depan yang faktanya, sekarang enggak pernah terwujud sama sekali. Kita pernah berkhayal, seandainya kita punya anak cewek, so emang dari dulu gua pengen banget punya anak cewek, dia pun juga begitu, kita bahkan punya nama untuk anak khayalan kita itu, namanya Ica. Ada sebuah alasan kenapa gua dan dia kasih nama Ica, tapi alasan itu benar² udah terlupakan, gua cuman inget nama Ica aja.
Hufh... pada akhirnya, semua yang kita ucapin dulu, tinggal kenangan, tidak ada satupun yang benar² terwujud.
Gua coba ingat² alasan kenapa pada akhirnya, kita berhenti untuk saling berhubungan.
Hubungan ini, bukan hubungan yang benar² gua enggak pernah ungkapin perasaan gua ke dia, gua pernah ngobrol serius perkara cinta sama dia, dia punya perasaan aneh dan cinta secara bersamaan sama kek gua.
Ah, meski enggak pernah ketemu sama sekali, ada momen romantis menurut gua...
Gua bukan yang benar² belum pernah ngelihat dia. Tanpa sengaja, gua pernah berpapasan sama dia, di jalan, dia lagi sama temen ceweknya, gua liat dia, berlalu gitu aja. But, gua waktu itu masih terlalu naif untuk manggil dia.
Satu lagi, lewat temen gua, yang kebetulan pacarnya satu sekolah sama dia, dia nitipin gantungan kunci couple gitu. Gua pegang yang bentuk love, dia pegang yang bentuk panahnya. Jadi semacam bukti, kalau kita berdua beneran saling mencintai, tapi dalam keadaan yang aneh.
Gua mulai ingat...
Alasan kenapa pada akhirnya hubungan ini berakhir total. Jadi, gua mulai posesif, terlalu banyak perasaan curiga dan cemburu di otak gua. Ngebuat semua hal yang kita bicarakan, selalu berakhir dengan perdebatan, lama² kita jadi sama² capek.
Endingnya...
Dia ketahuan ada couplean akun facebook sama cowok. Gua kecewa, sempet marah, tapi enggak ada gunanya lagi. Satu kalimat pernah dia bilang ke gua: "Pasir kalau lu genggam erat, pasir itu akan hilang."
Gua yang terlalu posesif, dan malah jadi toxic pada akhirnya, ujung²nya ngebuat dia mulai jengah. Dan hubungan kita berakhir dengan cukup mudah. Gua berhenti ngehubungi dia lagi, bahkan gua sempet ganti nomer.
Cara gua ngelupain dia, lumayan diluar nalar...
Gua mulai tenggelam dalam rasa cinta gua ke musik. Waktu itu gua inget banget, enggak ada hari yang gua laluin tanpa ngulik lagu. Sampai akhirnya gua bener² lupa tentang perasaan, lupa tentang semua hal yang pernah kita obrolin di SMS itu.
Tapi, faktor paling besar, yang ngebuat gua pada akhirnya benar² bisa lepas dari bayang² dia waktu itu, karena Veny dan Vita mulai berhubungan baik lagi sama gua.
Vita... meski gua kubur perasaan itu, gua sejujurnya masih menyimpan perasaan sayang itu, but hubungan gua sama dia cuman sebatas Patrick dan Sponsbob aja, dan enggak lebih.
Sementara Veny??
Dia unik... gua akan ceritain part penuh dari Veny.
Tidak ada tujuan akhir disana. Tidak ada hadiah menanti. Tapi justru saat dia menyadari absurditas itu dan tetap memilih untuk mendorong batu, di situlah kebebasannya muncul.
Bahkan dalam penderitaan, Sisyphus bahagia
bukan karena penderitaannya menyenangkan,
melainkan karena penderitaan itu tidak lagi menguasainya🔥