Katarina Ayudia adalah siswi genius penerima beasiswa yang hidup sederhana, sementara Alarick Valerius adalah putra tunggal konglomerat sekaligus ketua geng motor yang ditakuti. Cinta mereka yang membara harus menghadapi tembok besar bernama Victoria Valerius, ibu Alarick, yang merancang fitnah keji untuk memisahkan mereka. Victoria mengancam masa depan Kate dan memanipulasi Alarick hingga pria itu percaya bahwa Kate adalah gadis oportunis yang telah mengkhianatinya dengan banyak pria.
Perpisahan pahit selama bertahun-tahun meninggalkan luka mendalam, Kate hidup dalam kemiskinan dan kerja keras demi bertahan hidup, sementara Alarick tumbuh menjadi CEO dingin yang menderita trauma psikologis berupa rasa mual hebat setiap kali menyentuh Kate karena bayangan fitnah masa lalu.
langsung baca aja dear😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahkota Tak Kasat Mata
Udara di dalam gymnasium SMA Pelita terasa makin panas, seolah oksigen telah habis disedot oleh antusiasme ratusan siswa. Pertandingan persahabatan antara SMA Pelita dan SMA Garuda bukan sekadar ajang olahraga, ini adalah ajang pembuktian kasta antara anak-anak elit kota.
Di barisan tribun ketiga, Katarina Ayudia duduk dengan punggung tegak. Tangannya memangku sebuah buku tebal, sebuah kamuflase sempurna agar Maya tidak curiga mengapa ia begitu bersemangat hadir di pertandingan basket yang biasanya ia hindari.
"Kate, tutup dulu bukunya! Lihat itu, Alarick Valerius di lapangan!" Maya berteriak tepat di telinga Kate, membuat gadis itu tersentak.
Melihat beberapa luka goresan di lengannya Alarick, sisa-sisa pertempuran jalanan tiga malam lalu yang Kate obati sendiri.
Rambut hitamnya yang berantakan dibiarkan jatuh menutupi sebagian kening, memberikan kesan liar yang sangat kontras dengan Bara Mahendra yang berdiri di sisi lain lapangan dengan seragam basket rapi, rambut klimis, dan senyum yang dipaksakan untuk para penggemarnya.
"Kenapa dia nggak pakai seragam sekolah?" tanya seorang siswi di belakang Kate.
"Katanya dia nggak mau terikat aturan sekolah. Dia main atas namanya sendiri," sahut yang lain dengan nada memuja.
Kate hanya tersenyum tipis dalam hati. Ia tahu alasan sebenarnya, Alarick tidak suka memakai baju yang pernah dipakai orang lain, dan ia terlalu sombong untuk tunduk pada protokol pertandingan.
Tiba-Tiba Ia mengingat kejadian dua malam lalu, saat Alarick mengeluh betapa berisiknya Elara di sekolah dan betapa ia membenci aroma parfum Elara yang terlalu menyengat. Di kamar Kate, Alarick selalu bilang bahwa ia hanya menyukai aroma sabun bayi dan lavender yang menguar dari rambut Kate.
Melihat Elara yang bersusah payah mencari perhatian Alarick, Kate merasa ada kepuasan aneh yang membuncah. Kasihan sekali, batin Kate. Dia mengejar bayangan, sementara pemilik bayangan itu sedang memikirkan cara untuk memanjat balkon kamarku nanti malam.
Peluit dibunyikan. Pertandingan dimulai dengan tensi tinggi. Bara Mahendra, yang merasa sebagai penguasa SMA Pelita, mencoba menunjukkan dominasinya. Ia melakukan dribble cepat dan mencoba melewati Alarick.
"Lo pikir lo hebat karena menang di jalanan, Valerius?" bisik Bara saat mereka saling beradu bahu dalam posisi defense. "Di sini, di lapangan ini, lo cuma tamu yang bakal gue permalukan."
Alarick menyeringai, sebuah ekspresi yang justru terlihat mengerikan daripada ramah. "Lapangan basket atau jalanan... hasilnya sama, Mahendra. Lo bakal tetep ada di bawah kaki gue."
Dengan satu gerakan cepat yang hampir tidak tertangkap mata, Alarick mencuri bola dari tangan Bara. Ia berlari secepat kilat menuju ring lawan. Bara mencoba mengejar, namun tubuh atletis Alarick menghalangnya dengan kokoh. Alarick melompat tinggi, tubuhnya seolah melayang di udara sesaat, sebelum menghantamkan bola ke dalam ring dengan kekuatan yang luar biasa.
BUM!
Ring basket itu bergetar hebat. Seluruh stadion hening sesaat sebelum pecah dalam gemuruh teriakan. Alarick mendarat dengan ringan. Ia tidak merayakan golnya dengan gaya sombong seperti Bara. Ia hanya mengusap keringat di lehernya, leher yang sama yang semalam Kate ciumi dengan ragu-ragu dan matanya langsung melesat ke arah tribun.
Tepat ke arah Kate.
Wajah Kate memanas. Ia segera menundukkan kepala, pura-pura membaca bukunya lagi. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Maya bisa mendengarnya.
Pertandingan berakhir dengan kemenangan telak bagi SMA Garuda. Bara Mahendra keluar lapangan dengan wajah merah padam, menendang botol minum yang ada di jalannya. Sementara itu, Elara langsung berlari mendekati Alarick, mencoba memberikan handuk lagi. Kali ini, Alarick menerimanya hanya untuk mengelap wajahnya, lalu melemparkannya kembali ke arah Elara tanpa sepatah kata pun.
"Alarick! Kita mau ngerayain kemenangan di kafe biasa, kamu ikut kan?" seru Elara sambil mencoba meraih lengan Alarick.
"Gue ada urusan," jawab Alarick pendek. Suaranya yang berat dan dingin terdengar hingga ke barisan depan tribun tempat Kate bersiap pergi.
Kate bergegas keluar lewat pintu belakang agar tidak berpapasan dengan kerumunan. Namun, saat ia melewati lorong sepi menuju gerbang samping, sebuah tangan kuat menariknya masuk ke dalam ruang penyimpanan peralatan olahraga yang remang-remang.
Kate hampir berteriak sebelum aroma hujan dan tembakau mahal yang familiar menyapa indranya.
"Alarick!" bisik Kate terkejut.
Alarick mengunci pintu dari dalam. Ia masih terengah, keringat membasahi kaus hitamnya, membuatnya terlihat sepuluh kali lebih maskulin. Ia menyudutkan Kate ke tumpukan matras senam.
"Gimana permainan gue?" tanya Alarick, suaranya parau. Ia tidak menunggu jawaban, ia langsung membenamkan wajahnya di ceruk leher Kate, menghirup aroma gadis itu dengan rakus.
"Kamu gila! Elara atau Bara bisa saja lewat sini!" Kate mencoba mendorong dada Alarick, namun pegangan cowok itu di pinggangnya justru menguat.
"Biarin mereka lihat," gumam Alarick. "Biar mereka tahu siapa yang bikin gue nggak bisa tidur tiap malem."
Alarick mengangkat wajahnya, menatap Kate dengan tatapan yang kini dipenuhi oleh obsesi yang tidak bisa lagi ia sembunyikan. "Tadi lo lihat Elara, kan? Dia nggak berarti apa-apa buat gue, Kate. Jangan pernah lo ngerasa cemburu sama dia."
Kate tersenyum kecil, tangannya perlahan naik untuk merapikan rambut Alarick yang basah. "Siapa yang cemburu? Aku malah kasihan sama dia. Dia berjuang buat dapet perhatian kamu di depan umum, padahal kamu malah sembunyi-sembunyi di kamar aku."
Alarick terkekeh, suara tawa yang sangat langka yang hanya bisa didengar oleh Kate. Ia mencium kening Kate dengan lembut, sebuah kontras yang luar biasa dari sifat liarnya di luar sana. "Itu karena lo lebih berharga daripada semua pengakuan di dunia ini, Kate."
Namun, di luar ruangan, suara langkah kaki terdengar mendekat. Suara sepatu basket yang berdecit di lantai koridor. Itu suara Bara Mahendra.
"Kate? Lo di dalem?" suara Bara terdengar curiga.
Kate membeku. Alarick menyipitkan mata, tangannya mengepal siap untuk membuka pintu dan menghajar siapa pun yang mengganggu mereka. Namun Kate menggeleng cepat, memohon dengan matanya agar Alarick tetap diam.
Rahasia ini harus tetap terjaga, setidaknya untuk saat ini. Karena jika dunia tahu tentang mereka, ketenangan Kate akan hancur, dan Alarick akan menjadi sasaran empuk bagi semua musuhnya yang ingin menjatuhkannya lewat gadis yang ia cintai.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
happy reading😍😍