NovelToon NovelToon
DETERMINED

DETERMINED

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik / Playboy / Anak Genius / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Murid Genius
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

"Di antara dinginnya sebuah pelindung dan hangatnya sebuah tawa, ada hati yang bertekad untuk tidak lagi hancur." - Meira tidak pernah percaya bahwa tragedi yang merenggut nyawa Papanya hanyalah kecelakaan biasa. Didorong oleh rasa kehilangan yang amat dalam dan teka-teki hilangnya sang Mama tanpa jejak, Meira berangkat menuju Lampung dengan satu tekad bulat, menguak tabir gelap yang selama ini menutupi sejarah keluarganya. Namun, menginjakkan kaki di SMA Trisakti ternyata menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Jalannya tidak mudah. Meira harus berhadapan dengan tembok tinggi yang dibangun oleh rahasia yang terkubur dalam, hingga trauma yang nyaris membuatnya menyerah di setiap langkah. Setelah satu demi satu rahasia terbongkar, Meira pikir perjuangannya telah usai. Namun, kebenaran itu justru membawa badai baru. Ia kembali dihadapkan pada persoalan hati yang pelik. Antara rasa bersalah, janji masa lalu, dan jarak. Kini, Meira harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Bukan lagi tentang siapa yang bersalah atau siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang berhak menjadi tempatnya bersandar selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga puluh

Meira, Ilham dan Rey duduk berkumpul pada satu meja di ruang belajar yang disediakan sekolah. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Meira dan Rey sedang berkutat dengan kumpulan rumus-rumus yang ada pada buku paket, sedangkan Ilham asyik memainkan pulpen di tangannya. Sesekali cowok itu mengetuk-etuk meja, membuat nada asal dari pulpen itu.

"Oh iya, aku lupa kalo tadi pagi sempet beli cemilan di kantin buat temenin kita belajar."

Ilham dan Rey menghentikan sejenak kegiatan belajar mereka dan menoleh pada Meira yang baru saja mengeluarkan tiga bungkus keripik dari dalam tasnya lalu meletakkannya di atas meja.

"Gak usah repot-repot loh, Mei." kata Ilham sedikit sungkan.

"Nggak ngerepotin kok. Biar nggak terlalu jenuh aja belajarnya." Meira terkekeh pelan.

Ilham ikut tersenyum lalu mengambil satu bungkus keripik itu dan membukanya. "Ini aku buka ya." izinnya yang langsung dipersilahkan oleh Meira.

Baru saja tangan Meira bergerak untuk mengambil satu keripik dari bungkusnya yang sudah dibuka oleh Ilham, tetapi tangan Rey yang dari tadi terlihat cuek lebih cepat meraih keripik incaran Meira, kemudian memakannya dengan cepat.

Meira mematung dengan tangan yang masih menggantung di udara. Ia menatap Rey dengan dahi berkerut, sementara yang ditatap justru kembali fokus pada buku paketnya seolah tidak sadar kalau dirinya baru saja melakukan aksi pencurian makanan secara terang-terangan.

"Rey, itu kan punyaku!" protes Meira kesal.

Rey hanya bergumam pelan tanpa menoleh, "Tangan lo lambat."

Ilham yang melihat interaksi itu hanya bisa menggelengkan kepala. "Kebiasaan si es batu. Kalau mau bilang laper tuh ya bilang aja, jangan kayak bocah rebutan mainan."

"Gue nggak laper." sahut Rey datar, suaranya tetap sedingin es meski tangannya kembali bergerak mengambil keripik kedua.

Meira mendengus, memutuskan untuk tidak memperpanjang urusan keripik itu. Namun, suasana belajar yang tadinya tegang karena rumus-rumus Matematika itu perlahan mencair. Di tengah keheningan yang kini terasa lebih nyaman, Meira teringat sesuatu. Pandangannya beralih pada Ilham yang sejak tadi terlihat lebih banyak melamun daripada mengerjakan soal.

"Ilham." panggil Meira pelan.

Ilham tersentak, hampir menjatuhkan pulpennya. "Ya, Mei?"

"Kamu gapapa? Dari tadi kayaknya kamu banyak pikiran. Apa ada soal yang susah?" tanya Meira tulus.

Ilham terdiam cukup lama. Ia melirik Rey yang ternyata juga sedang memperhatikannya lewat sudut mata. Rahasia tentang wanita di ruang 028 terasa seperti bom waktu yang siap meledak di lidahnya. Ia ingin bicara, ingin memberi tahu Meira bahwa wanita itu adalah sosok yang selama ini Meira cari, sedang berjuang antara hidup dan mati. Tapi ada alasan lain yang harus menahannya untuk tidak melakukan itu dalam waktu dekat.

"Gue cuma kurang tidur, Mei. Biasa, begadang nonton bola." bohong Ilham sambil memamerkan cengiran khasnya yang terasa dipaksakan.

Meira mengangguk, meski hatinya tidak sepenuhnya percaya. "Jangan terlalu sering begadang, Ham. Kesehatan itu mahal."

Ilham kembali menutup mulutnya yang hendak menjawab ketika mendengar ponselnya berdering. Ia buru-buru mengambil ponsel itu dari saku celananya. "Mei, bentar ya. Aku angkat telepon dulu." pamitnya pada Meira yang masih memperhatikannya.

"Iya, santai aja kali. Nggak perlu izin gitu." jawab Meira.

Ilham segera bangkit dan menjauh beberapa langkah menuju sudut ruangan yang lebih sepi. Ia menempelkan ponselnya ke telinga dengan tangan yang sedikit gemetar. Di meja belajar, suasana kembali menjadi sunyi, hanya menyisakan Meira dan Rey yang terjebak dalam kecanggungan yang kental.

Rey tampak menghela napas kasar. Di depannya, selembar kertas penuh dengan coretan rumus yang berantakan. Ia terlihat beberapa kali menghapus jawabannya hingga kertas itu hampir robek di bagian pojok. Meski otaknya dikenal encer, tampaknya salah satu soal tentang polinomial kali ini benar-benar menguji kesabarannya, atau mungkin, konsentrasinya memang sedang terpecah sejak kejadian di rooftop kemarin.

Meira yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Rey dari sudut mata, akhirnya tidak tahan juga. Ia tahu Rey sedang buntu, tapi harga diri cowok itu jelas setinggi langit hanya untuk sekadar bertanya 'bagaimana caranya?'.

Meira sedikit menggeser kursinya, mendekat ke arah Rey hingga aroma parfum musk tipis dari cowok itu tercium olehnya. Tanpa aba-aba, Meira mengulurkan tangannya dan merebut pensil yang tengah digenggam erat oleh Rey.

"Sini, biar aku yang kerjain. Kalau pakai logikamu yang itu, sampai sekolah ini bubar juga nggak bakal ketemu jawabannya." ucap Meira santai, mencoba mencairkan suasana.

Rey sempat tersentak. Ia ingin menarik kembali pensilnya, namun urung saat melihat jari Meira sudah mulai menari-nari di atas kertasnya.

"Gue bisa sendiri." gumam Rey rendah, meskipun ia tidak melakukan gerakan untuk menjauh.

"Iya, bisa sendiri tapi mukanya udah kayak mau makan orang gitu?" sahut Meira tanpa menoleh. Jari-jemarinya dengan cekatan menuliskan deretan variabel. "Kamu salah di bagian integrasinya, Rey. Harusnya pakai substitusi di sini."

Meira fokus menjelaskan langkah demi langkah. Suaranya yang lembut mengisi keheningan di antara mereka. Namun, di sisi lain, fokus Rey justru benar-benar buyar. Alih-alih memperhatikan angka-angka yang ditulis Meira, matanya justru tertuju pada wajah gadis di sampingnya.

Dari jarak sedekat ini, Rey bisa melihat bagaimana bulu mata Meira yang lentik bergerak setiap kali ia berkedip dan bagaimana dahi gadis itu sedikit berkerut tanda sedang berpikir serius. Sinar matahari yang masuk dari celah jendela ruang belajar seolah memberikan highlight pada wajah Meira, membuatnya tampak begitu tenang, sangat berbeda dengan bayangan hukuman atau hantu masa lalu yang selama ini Rey sematkan padanya.

Ada perasaan aneh yang berdesir di dadanya. Rasa bersalah yang biasanya mencekik setiap kali ia melihat wajah yang mirip Lyra itu, mendadak terasa sedikit lebih ringan, berganti dengan rasa ingin tahu yang dalam tentang sosok di hadapannya saat ini. Gadis ini bukan Lyra. Ia Meira. Gadis yang berani merebut pensilnya dan mengomelinya soal rumus.

"Nah, ketemu kan jawabannya? Ini tuh cuma dasar, kamu harusnya lebih teliti di bagian konstanta ini..." Meira menoleh ke arah Rey untuk memastikan cowok itu mengerti.

Deg.

Meira terdiam saat menyadari Rey sama sekali tidak melihat ke arah kertas, melainkan sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Dalam, namun tidak sedingin biasanya. Jarak wajah mereka yang hanya terpaut beberapa belas sentimeter membuat Meira refleks menahan napas.

"Rey? Kamu ngedengerin nggak sih?" bisik Meira pelan, suaranya mendadak hilang keberanian.

Rey tidak menjawab. Ia masih terpaku, seolah sedang mencari sesuatu di dalam manik mata Meira. Dunianya seakan melambat dan untuk saat ini, Rey tidak ingin memalingkan wajah.

...\~\~\~...

1
Zanahhan226
ups, penuh misteri sekali ini..
listia_putu
ceritanya bagus kok, udah melewati 10 bab yg aku baca. tp kenapa pembacanya sedikit??? heran....
Zanahhan226
menarik dan misterius..
Zanahhan226
halo, aku mampir, Kak..
semangat, ya..
kita saling dukung ya..
🥰🥰
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
anggita
mampir ng👍like aja☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!