Sinopsis: Penyesalan Sang Penguasa
Aku terbangun di masa mudaku yang miskin tepat setelah Seeula pergi selamanya dalam penyesalan. Berbekal memori masa depan, aku bertekad membangun kembali kekaisaran bisnisku dari titik nol. Bukan sekadar harta, tujuanku adalah menjadi pria paling layak untuk melindungi istri yang dulu kusia-siakan. Sebelum menjemput cintaku, aku harus memenangkan perang bisnis yang kejam dan menghancurkan para musuh lama. Perjalanan penebusan dosaku dimulai sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Singgasana untuk Sang Ratu
Gautama tidak pernah menyangka bahwa ponselnya akan menjadi hakim garis yang menentukan akhir dari kekuasaannya malam ini. Aku memperhatikan setiap perubahan otot di wajah pria tua itu saat dia menatap layar gawai yang terus bergetar hebat di atas meja marmer. Kemenangan tanpa Seeula di sampingku hanyalah deretan angka kosong yang mati di atas kertas saham, sehingga aku memastikan setiap langkahku malam ini benar-benar menghancurkan fondasi kekuatannya.
"Duduklah dengan tenang, Gautama, karena jantungmu akan berdetak dua kali lebih cepat dalam beberapa detik ke depan," tantangku sambil mengetuk layar jam tanganku dengan santai.
Pria itu mengerutkan kening. Sebuah reaksi refleks yang menunjukkan bahwa dia mulai merasa tidak nyaman dengan rasa percayadiriku yang begitu mutlak. Para pengawal di belakangnya bergerak maju seolah ingin mengintimidasi, namun Gautama mengangkat tangan kanannya untuk menghentikan mereka. Dia adalah tipe predator yang lebih suka menghancurkan lawan lewat kata-kata sebelum menggunakan otot, dan itulah celah logika yang aku manfaatkan untuk mengunci pergerakannya.
Tepat saat kalimat itu selesai diucapkan, notifikasi darurat dari sistem keamanan perbankan pribadinya muncul secara beruntun. Aku bisa melihat otot rahang Gautama mengeras seketika. Dia meraih ponsel itu dengan tangan yang sedikit gemetar, matanya bergerak cepat membaca deretan angka yang baru saja merosot tajam di akun deposit lepas pantainya.
"Apa yang kau lakukan?!" bentak Gautama dengan suara yang memenuhi ruang VIP tersebut.
Aku menyandarkan punggung pada kursi kulit yang empuk. Aku sangat menikmati manifestasi kehancuran mental yang sedang dialaminya sekarang. Kekuatan Gautama terletak pada aliran dana gelapnya yang selama ini tersimpan rapi, namun berkat bantuan Rian dan pengetahuan teknis yang aku bawa dari masa depan, aku baru saja membekukan aset itu dalam sebuah protokol enkripsi yang tidak bisa dia sentuh tanpa persetujuanku.
"Aku hanya memberikan demonstrasi kecil tentang apa yang terjadi jika kau masih berani mengirimkan ancaman mawar hitam ke kamar Seeula," jelasku dengan nada bicara yang sangat formal.
Gautama membanting ponselnya ke atas meja hingga menimbulkan bunyi dentuman yang keras. Wajahnya yang semula tenang kini tampak memerah karena amarah yang memuncak hingga ke ubun-ubun. Namun, dia cukup cerdas untuk sadar bahwa satu gerakan salah darinya akan membuat uang triliunan rupiah itu lenyap selamanya dalam sistem. Aku tidak punya niat untuk membunuhnya sekarang, aku hanya butuh dia menarik semua taringnya dari kehidupan Seeula secara permanen.
"Tarik semua orangmu dari hotel Seeula malam ini juga, atau besok pagi kau akan bangun sebagai pria termiskin di kota ini," ancamku dengan suara yang sangat tenang namun memiliki bobot yang mematikan.
Pria tua itu akhirnya terpaksa memberikan instruksi lewat telepon untuk membubarkan semua mata-mata yang mengawasi hotel. Setelah memastikan kesepakatan itu terpenuhi lewat pesan singkat dari tim keamananku, aku segera meninggalkan Klub Merah Delima. Aku tidak butuh basa-basi lebih lama dengan predator yang sudah kehilangan taringnya. Pikiranku kini hanya tertuju pada satu titik koordinat, yaitu kamar nomor tujuh nol satu.
Aku sampai di hotel dalam waktu singkat. Aku mengabaikan protokol keamanan yang biasa dan langsung menuju lantai atas menggunakan lift VIP. Saat pintu lift terbuka, aku melihat lorong sudah bersih dari orang-orang asing yang mencurigakan. Aku mengetuk pintu kamar Seeula dengan ritme yang lembut agar tidak mengejutkannya secara tiba-tiba.
"Yansya, kau sudah kembali," sambut Seeula saat pintu terbuka.
Gadis itu menatapku dengan binar mata yang penuh kecemasan yang tidak bisa disembunyikan. Aku bisa melihat bahwa dia belum tidur sejak tadi. Wajahnya tampak sedikit lelah namun tetap memancarkan keanggunan yang selalu berhasil membuat fokusku teralihkan. Aku melangkah masuk dan memastikan semua kunci elektronik telah aktif secara otomatis di belakangku.
"Semuanya sudah berakhir, Seeula. Tidak akan ada lagi orang yang berani mengganggumu atau mengirimkan ancaman terselubung dalam bentuk apa pun," ucapku sambil berdiri tepat di hadapannya.
Seeula menarik napas panjang. Tampak beban berat yang menghimpit pundaknya baru saja diangkat secara paksa oleh kata-kataku. Dia menatapku cukup lama seolah sedang mencari kejujuran di balik sorot mataku yang biasanya hanya berisi perhitungan bisnis yang dingin. Aku memberikan senyum tipis sebagai jaminan keamanan untuknya.
"Kenapa kau mempertaruhkan nyawamu hanya untuk menghadap pria berbahaya seperti Gautama?" tanya Seeula dengan nada suara yang penuh dengan rasa penasaran.
Aku tidak menjawabnya dengan teori bisnis yang rumit atau ambisi kekuasaan yang haus darah. Aku hanya mengambil jemarinya dan merasakan kehangatan yang dulu sering aku abaikan di kehidupan lamaku yang berantakan. Genggaman tangan ini adalah pengingat bahwa aku memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar menjadi orang terkaya di negeri ini.
"Karena duniaku tidak akan memiliki arti jika kau tidak merasa aman di dalamnya, Seeula," jawabku dengan kejujuran yang mutlak tanpa ada keraguan sedikit pun.
Seeula terdiam dengan wajah yang sedikit merona karena pernyataan yang begitu intim dariku. Kami berdiri di depan jendela besar yang memperlihatkan lampu-lampu kota yang menyala. Kali ini, keheningan di antara kami terasa sangat hangat dan penuh dengan harapan baru yang nyata.
Aku membimbingnya untuk duduk di sofa dan memastikan dia merasa nyaman sepenuhnya di ruang pribadinya. Aku tidak ingin membicarakan tentang saham, akuisisi, atau musuh-musuh bisnisku malam ini. Aku hanya ingin menikmati setiap detik keberadaannya yang masih sangat nyata di hadapanku sekarang. Aku menyadari bahwa akumulasi kekayaan yang aku kumpulkan hanyalah alat, dan Seeula adalah tujuan akhirnya.
"Istirahatlah sekarang, besok pagi aku akan membawamu melihat kantor barumu di Widowati Group," pesanku sambil merapikan helai rambutnya yang sedikit berantakan karena angin lift tadi.
Seeula memberikan anggukan kecil sebagai tanda setuju. Lalu dia menyandarkan kepalanya di bahuku dengan sangat alami seolah itu adalah tempat paling nyaman di dunia. Aku merasa seluruh kelelahan setelah perang saraf dengan Gautama lenyap seketika hanya dengan kehadirannya. Di dalam kamar hotel yang mewah ini, aku berjanji bahwa singgasana yang sedang aku bangun akan menjadi tempat paling aman baginya.
Aku terus menjaganya hingga dia tertidur pulas di sampingku. Aku menatap profil wajahnya yang damai di bawah cahaya lampu tidur yang tidak terlalu terang. Dengan Seeula di sisiku, aku merasa mampu meruntuhkan gunung mana pun yang berani menghalangi jalan kami. Dan kali ini, aku akan menjadi raja yang layak untuk ratuku di Widowati Group.